“Dan Nikmat Tuhan Kamu Yang Manakah Yang Dapat kamu Dustakan?”

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau telapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan……..”

Suara itu mengalun dari seorang bocah kecil yang mengamen di perempatan Kantor Bersama, Sukarno-Hatta siang itu. Langit kota Bandung yang diselimuti awan hitam mewakili hatiku saat itu, kelabu, sungguh kelabu. Bait-bait lagu itu membawa ingatanku melayang sejenak mengingat kisah hidup Ibuku yang penuh dengan perjuangan. Hatiku yang sedang mendung semakin kelabu ketika mengingat bagaimana masa lalu yang ibuku alami, terutama semasa aku masih berada dalam kandungannya.
Saat usiaku kurang lebih tiga bulan dalam rahim ibuku, ayahku pergi meninggalkan ibu. Aku tak tahu secara pasti alasan pastinya, yang aku tahu hanya ibu membesarkanku dalam rahimnya tanpa kehadiran ayahku. Bukan hanya itu, bukan hanya aku yang berada dalam rahimnya yang menjadi tanggung jawabnya, tetapi kedua kakakku yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar dan kedua adiknya yang masih sekolah di SMP dan SPG saat itu menjadi tanggungannya. Berjualan mie goreng dan makanan menjadi sumber penghasilannya saat itu.
Seorang perempuan tinggal di sebuah kampung yang jauh dari kota, tak ada listrik, dalam keadaan hamil tanpa kehadiran seorang suami dan harus membiayai dua orang anak dan dua adiknya. Itulah ibuku, itulah sebagian dari jalan hidup yang telah dilaluinya. Bagian dari kisah perjuangan hidup seorang yang bagiku jauh lebih berjasa dari pada seorang R.A Kartini yang menjadi sosok perempuan Indonesia yang agung.
Alunan bait lagu Iwan Fals itu seakan membukakan mataku yang terlelap. Mata yang terlelap dengan masalah-masalah yang tengah aku alami. Aku benar-benar merasa saat ini masalah demi masalah tak berhenti berkunjung dalam kehidupanku. “Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintangan untuk aku anakmu…” kalimat itu yang membangunkanku untuk tak ikut terlelap dan terhanyut dengan arus masalah yang kualami.
Ya, aku benar-benar lupa dengan sosok yang yang selama ini hidup bersamaku, sosok perempuan yang tegar dan tabah menjalani kepahitan hidup yang harus dialaminya. Aku lupakan bahwa tak satupun musibah yang menimpa kepada kita melainkan atas izin Alloh, aku lupa bahwa Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kemampuannya.
Betapa malunya aku kepada Tuhanku, aku telah lupa dan sering berkeluh kesah dengan ujian-ujian kehidupan yang kualami. Kehidupanku masih jauh lebih nyaman dan kondusif jika kubandingkan dengan apa yang ibuku alami, apalagi dengan kehidupan para Rosul dan sahabat. Bahkan aku lupa bahwa ditempat lain masih banyak orang yang kehidupan tak seperti yang aku bayangkan, sebuah kehidupan yang jauh lebih rumit dan dengan ujian yang jauh lebih berat dari apa yang kualami.

“Dan nikmat Tuhan kamu yang manakah yang dapat kamu dustakan” (QS.Ar-Rahman:13)

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *