KETIKA MEMBUNUH MENJADI BUDAYA

Bisa jadi kita tidak sadar bahwa diri dan lingkungan kita praktis telah dikepung para pembunuh. Fakta pembunuhan, dengan kualitasnya yang amat menyeramkan, terjadi di mana-mana. Para pembunuh itu terus mengintai mangsanya dari setiap sudut dan setiap saat dan dengan entengnya pula mereka melakukan pembunuhan. Sepertinya tidak ada beban bahwa dirinya telah melakukan kejahatan besar.

Celakanya, kita pun dengan enteng pula memandang dan menyikapi peristiwa kejahatan atas kemanusiaan itu. Akibatnya segala bentuk agresi manusia atas manusia nyaris menjadi budaya populer yang sangat akrab bahkan cukup digemari khalayak ramai.

Agaknya pihak media, terutama televisi, telah memberikan kontribusi besar kepada penyebaran budaya membunuh. Lihat saja, peristiwa-peristiwa kriminal sengaja dikemas sedemikian rupa agar menjadi tontonan mengasyikkan. Akibatnya acara-acara laporan tentang kriminalitas yang melibatkan kekerasan dan pembunuhan sangat digemari para pemirsa. Film-film pembunuhan yang mengerikan laku keras dan menyedot iklan cukup besar. Demikian pula media cetak yang dalam beritanya mengambil porsi kejahatan dapat menyedot pembaca yang cukup besar.

Proses pembunuhan yang dilakukan orang-orang modern sekarang ini sangat beragam, tergantung kepemilikan alat, kelicikan, dan tingkat kepandaiannya. Kita dapat menemukan berbagai cara melakukan pembunuhan, dari yang paling primitif dengan menggunakan alat-alat sederhana seperti benda tumpul sampai ke cara yang paling modern dengan menggunakan mesin-mesin pembunuh massal canggih seperti yang sering dilakukan oleh bangsa Amerika dan Israel. Apapun cara yang digunakannya, yang pasti kepribadian para pembunuh itu sudah terasuki apa yang disebut budaya membunuh.

Ironisnya, budaya membunuh justru dipancarkan dari negara-negara kaya dan berteknologi maju serta tingkat budayanya, menurut pengakuan mereka, tinggi. Negara-negara itulah yang terus mengembangkan mesin-mesin pembunuh massal yang paling canggih dan mengembangbiakkan cara-cara membunuh yang efektif. Mesin-mesin pembunuh itu kemudian diproduksi secara massal pula hingga menjadi sebuah industri. Selanjutnya oleh negara atau perorangan mesin-mesin pembunuh itu dioperasikan ke seluruh dunia. Jadilah negara-negara industri mesin pembunuh sebagai negara pembunuh profesional. Tentu saja yang menjadi mangsanya adalah orang-orang, kelompok-kelompok, atau negara-negara lemah yang sengaja dikorbankan.

Maka demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dan mengembangkan budaya membunuh negara-negara industri itu merancang berbagai macam pembunuhan di seantero dunia. Tidak perduli apakah yang dibunuh itu orang lain ataukah bangsanya sendiri. Ribuan orang mati menjadi mangsa serangan terhadap gedung WTC di New York. Para pengamat umumnya menilai CIA dan MOSAD berada di belakang peristiwa mengenaskan itu. Untuk apa perbuatan keji seperti itu dilakukan? Jawabannya sangat mudah, untuk mencari pembenaran dalam melakukan pembunuhan-pembunuhan berikutnya.

Maka sesudah peristiwa yang menggegerkan dunia itu, kita menyaksikan bagaimana Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya membiakkan kesakitan dan histeria warga Afghanistan yang, entah apa dosanya, digempur habis dan dibantai secara massal dalam waktu yang sangat pendek. Tidak lama kemudian menyusul pembantaian di Iraq. Konon yang akan menjadi calon terbantai berikutnya adalah bangsa Suriah dan Iran. Menyesalkah Amerika atas perbuatannya itu? Saya kira tidak. Sebab membunuh sudah menjadi budaya yang melekat pada diri dan kepribadiannya. Bagi orang Amerika membunuh, terutama membunuh orang Islam, memiliki keasyikan tersendiri dan menjadi misi suci mereka. Di Amerika keberpihakan kepada manusia dan kemanusiaan akan selalu terberangus oleh ambisi penghancuran yang terus menggelegak dalam dada para pemimpinnya.

Bagi Amerika Serikat dan sekutunya, pembunuhan dan pemberangusan manusia dan kemanusiaan benar-benar telah menjadi realitas sosial yang sukar dibantah. Maka orang-orang yang tidak memiliki resistensi yang cukup bisa terserang fatalisme ketika melihat realitas yang mengerikan itu demikian mencengkeramnya. Konon, seorang pengikut Jenderal Franco, Millan Astray, menjelang perang saudara di Spanyol pada 1936, mengumandangkan sebuah slogan aneh, “Hidup kematian!”

Bisa jadi slogan itu berlebihan. Tetapi ini jelas cermin kemarahan seseorang atas sebuah budaya yang lebih mengedepankan pembunuhan dan pemberangusan manusia dan kemanusiaan seperti ditampilkan secara utuh oleh bangsa Amerika dan Israel belakangan ini.

Apa yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya dalam mengembangkan budaya membunuh, meminjam istilah filsafat, lahir dari sebuah keliaran pemikiran yang fatalis. Dalam benak dan emosi mereka tumbuh keinginan yang sangat kuat untuk mengetengahkan semangat atau hasrat menghancurkan segala sesuatu yang hidup menjadi mati, menghancurkan apa saja dan siapa saja, bahkan diri dan bangsa mereka sendiri. Sebab yang benar-benar menjadi musuh mereka adalah kehidupan, kemanusiaan, dan peradaban. Maka mereka dengan sangat antusias melakukan berbagai macam pembunuhan. Apatah lagi kemudian budaya membunuh itu dikristalisasi dengan “kultur dendam” dan tujuan penjajahan seperti yang terjadi pada para pemimpin Amerika. Kristalisasi kejiwaan ini kemudian membentuk situasi kemanusiaan Amerika Serikat yang khas sebagai bangsa pendendam; situasi kemanusiaan yang telah membakar ambisi imperialnya untuk melumpuhkan apa saja yang akan menjadi tantangannya, menghancurkan potensi umat dan peradabannya, mengeksploitasi sumber daya alamnya, menghinakan kaum muslimin, dan memantapkan hegemoni mereka atas dunia Islam.

Tetapi yang musykil, mereka tidak merasa bahwa dirinya telah melakukan penghancuran. Ketika Amerika Serikat terang-terangan di mata dunia menghancur leburkan rakyat dan sumber daya alam Afghanistan, mereka justru mengatakan sedang membangun Afghanistan. Ketika mereka menghancurkan peradaban di Iraq, mereka mengatakan sedang membangun kemanusiaan. “Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS, al-Baqarah [2]: 11-12)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengkhawatirkan enam hal kalau-kalau keenam hal itu terjadi pada umatnya. Salah satunya adalah “menganggap enteng terjadi pertumpahan darah (pembunuhan)”. Sekarang apa yang dikhawatirkan Nabi Muhammad tersebut justru telah menjadi kenyatan bahkan pada sebagian bangsa telah membudaya. Mereka tidak hanya terpaksa harus melakukan pembunuhan tetapi justru menikmatinya. Oleh karena itu, mereka tak henti-hentinya mencari mangsa untuk dibunuh serta pembenarannya. Maka pembunuhan demi pembunuhan, pembantaian demi pembantaian dilakukan dengan entengnya serta menggunakan berbagai seni membunuh. Banyak kalangan pemikir menyebut situasi terakhir manusia kini sebagai komunitas hidup yang sedang diuji oleh dilema terbesar, yaitu kriminalitas komunal dalam bentuk pembantaian perkelompok, pembunuhan secara massal, dan perkelahian yang dilakukan masyarakat atas masyarakat dengan ratusan bahkan ribuan jiwa yang jadi mangsanya.

Ketika peristiwa pembunuhan dan membunuh sesama manusia telah menjadi budaya maka ia akan semakin akrab dengan manusia itu sendiri. Keakraban inilah yang mempengaruhi persepsi dan sikap manusia terhadap peristiwa kejahatan kemanusiaan itu. Ia bisa mengubah pemahaman orang tentang agresi manusia atas manusia. Bahwa agresi dan kejahatan kemanusiaan dianggap sebagai kabar biasa dan telah menjadi rutinitas yang sudah, sedang dan akan terus berlangsung.

Menghadapi situasi kemanusiaan sedemikian mengerikannya perlu upaya intensif dalam membangun kesadaran kolektif untuk berpikir jernih tentang hak-hak universal manusia. Dengan kesadaran itu diharapkan setiap diri dapat mendengar bahasa kebenaran di sela pemikiran strategis tentang ekspansi, penguasaan, dan kepentingan ekonomi dan politik. Untuk selanjutnya kita secara bersama-sama berusaha menyelamatkan diri dari kemungkinan terjadinya malapetaka kemanusiaan yang lebih dahsyat.

Kendati demikian, setiap gerakan ishlah hendaknya memperhitungkan bahwa mengarahkan manausia pada pilihan kembali ke jalan kebenaran tidak selamanya mampu meredam hingar-bingar kaum perusak yang telah menjadikan perilaku agresif atas manusia, pembunuhan, dan pemusnahan sebagai budaya dan jalan hidupnya. Untuk itu perlu dipersiapkan kekuatan yang lebih dahsyat untuk meredamnya. Tanpa ini, agaknya kita akan terus ditindas oleh kekuatan-kekuatan perusak yang telah memiliki segala-galanya kecuali kekuatan kebenaran. Wallahu A’lam.

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *