Kepak Sayap Merpati

SINOPSIS

Aku yang sendiri. Gejolak jiwa remaja yang menuntut diperhatikan kedua orang tuanya bergemuruh dalam diri ini. Jauh di kedalaman hatiku, aku menuntut. Namun sisi kedewasaanku berbicara, sehingga dapat kuterima sikap mereka sebagai sebuah bentuk lain pengungkapan kasih sayang. Aku tahu mereka menyayangiku. Aku berusaha mengalahkan egoku yang menuntut perhatian. Biarlah Ayah Bundaku bekerja. Biarlah mereka mengaktualisasikan diri mereka tanpa harus terganggu oleh kehadiran anak semata wayangnya ini. Dapat kupahami obsesi mereka dan aku tidak akan menuntut lebih. Aku berusaha memahami bahwa mereka melakukan itu semua demi aku juga. Aku sudah cukup bahagia dapat memiliki kedua orang tuaku secara utuh.

Namun harapan itu hancur. Perceraian kedua orang tuaku membuat jiwaku tercabik dalam serpihan-serpihan kecil yang membuat jiwaku kerdil. Sebuah pelampiasan bodoh kupilih sebagai kompensasi kehampaan jiwa. Narkotika, obat-obatan terlarang serta minuman keras adalah kebahagiaan semu yang menjeratku. Aku terperosok dalam, dan semakin dalam.

Di sebuah titik kejenuhan pencarian kebahagiaan semu, cahaya Ilahi itu datang. Membalikkan hati yang berpaling. Mengembalikannya kepada hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebuah tekad untuk kembali kepada-Nya berkobar membara di dada ini. Aku ingin bertaubat, ya Allah. Terimalah tobat hambamu yang khilaf ini.

***

Sunyi. Tak satupun mahluk, benda, atau pun suara yang berada di sini bersamaku. Kulihat sekeliling, tak lebih dari hamparan kelam tanpa ujung. Kutarik nafas dalam.

“Di sinilah aku.�

Aku berusaha memahami keberadaanku. Ku coba berdiri, merapihkan pakaianku, serta kukibaskan beberapa bagian yang kurasa ada ‘debu’ di sana. Ku arahkan mataku tajam ke depan. Aku harus berjalan. Tak peduli ke mana. Satu yang pasti, akan kucoba menata langkah untuk sebuah arah yang kuyakini terdapat cahaya di sana. Sebuah tempat dimana dapat kulihat segala sesuatu dan dapat kujumpai seseorang atau sesuatu yang membuatku merasa tidak sendri.

Dalam gelap kulangkahkan kaki ini dengan hati-hati, pelan dan perlahan.

“Ups! Apa ini? Apa yang ku injak?�

Belum lagi dua langkah kuayunkan kaki ini, kurasakan ada sesuatu di bawah telapak kaki kananku. Aku menginjak sesuatu. Perlahan ku angkat kakiku. Kuamati ke bawah, namun yang ada hanya gelap.

“Tapi, tadi aku marasakan sesuatu.�

Penasaran aku pun merunduk untuk memastikan. Benar saja, ada sebuah benda yang tadi kuinjak. Benda itu berbentuk bintang lima. Kuraih benda itu dan kudekatkan ke mataku.

“Ini dia. Bintang? Benda ini mengeluarkan cahaya walaupun redup. Aneh!�

Kulihat sekelilingku dan ketika ku dongkkan kepalaku ke atas, setitik cahaya jatuh dari ketinggian yang tak dapat kuketahui jaraknya.

Tring….

Perlahan setitik cahaya itu melayang ke bawah menuju ke arahku. Takjub kulihat titik cahaya itu. Makin lama makin dekat, dan…..

Tring….

Titik cahaya itu menimpa bintang yang aku pegang. Bintang itu berkilau. Kemudian, walaupun lambat, cahaya redup bintang itu berubah benderang. Benar, benda itu perlahan mengeluarkan cahaya yang lebih kemilau dari sebelumnya. Kian lama kian bercahaya. Cahayanya menerangi semesta di sekelilingku.

Kemudian semesta dipenuhi cahaya. Aku takjub. Kuamati sekitarku dan kekagumanku bertambah setiap kali kuedarkan pandanganku. Segenap penjuru kini diterangi cahaya.

“Ya, semua dipenuhi cahaya.�

Kulihat benda berbentuk bintang di tanganku. Tersadar dari kekagumanku, segera kumasukkan bintang itu ke balik bajuku. Aku harus melanjutkan langkahku. Aku penasaran, dan kan ku cari sumber setitik cahaya yang menimpa bintangku tadi. Kulihat ke atas.

“Aku ingin ke sana. Kesumber cahaya itu. Tapi bagaimana caranya?�

Kulangkahkan kakiku, barangkali di depan sana kutemukan sesuatu yang membawaku ke sumber cahaya itu.

Hei, lihat! Setiap kali kulangkahkan kaki ini, cahaya di kelilingku berubah warna. Mulai putih, krem, kuning, oranye, nila, merah, dan beragam warna lain secara bergantian dan berulang. Aku seperti berada dalam sebuah glitter tak bertepi.

Kemudian, semua berwarna biru. Lama aku berada dalam nuansa biru ini. Kemudian di kanan, kiri, depan serta belakangku secara perlahan namun pasti muncul sebentuk persegi empat berwarna putih. Lama kutunggu, tidak ada yang berubah hingga akhirnya keempat persegi disekelilingku memunculkan gambar seorang anak lelaki yang sedang duduk sendiri di taman sebuah rumah mewah.

“Tunggu! Anak laki-laki itu seperti ku kenal. Wajahnya, postur tubuhnya, serta kebiasaannya duduk pada batu di pinggir kolam ikan itu seperti…. Seperti aku. Ya, anak laki-laki itu adalah aku.�

Dia adalah aku. Aku yang sendiri, aku yang kesepian, aku yang tidak terperhatikan oleh kedua orang tuaku. Namun aku dapat menerima keadaan tersebut.

“Biarlah Ayah Bundaku bekerja. Biarlah mereka mengaktualisasikan diri mereka tanpa harus terganggu oleh kehadiran anak semata wayang mereka ini. Dapat kupahami obsesi mereka dan aku tidak akan menuntut lebih. Aku berusaha memahami bahwa mereka melakukan itu semua demi aku juga. Lihat, tak satu pun kebutuhanku yang tak terpehuni dan itu cukup menghiburku.�

Aku dalam empat persegi itu seperti bebicara denganku tanpa menggerakkan mulutnya. Melalui sorot matanya, aku – yang berada dalam empat persegi itu – dan aku berkomunikasi.

Aku dalam empat persegi itu terlihat bahagia. Tak sedikitpun pemberontakan atas keadaan yang ada. Tak sedikitpun sesal pada yang terjadi. Tak pernah sedikitpun ada keinginan untuk berbuat yang tidak baik. Rupanya aku segera menjadi matang oleh keadaan.

Layar disekelilingku perlahan meredup sebelum akhirnya hilang sama sekali. Nuansa biru disekelilingku kini perlahan berubah menjadi putih. Tempat aku berpijak sekarang seolah adalah sebuah lapisan awan tanpa batas, dan lihat apa yang ada di punggungku ini.

“Apa ini?�

Sesuatu muncul dari punggunggku. Semakin besar dan akhirnya membentuk sebuah…. Sayap?

“Sayap!?�

Ya, kini aku memiliki sepasang sayap putih merpati. Kucoba menggerakkan sayap-sayap itu.

“Ya, sayap ini dapat kugerakkan. Coba lihat, apakah aku dapat terbang menggunakan kedua sayapku ini seperti merpati-merpati yang pernah kulihat?�

Kukepak-kepakkan sayap itu, dan…. Aku pun bisa terbang.

“Aku terbang….�

Terbang bebas tanpa terbelenggu oleh ketidaksempurnaan hidup yang lebih dikarenakan cara pandang yang salah. Tak kan kubiarkan sesuatu pun membebaniku. Aku pun melayang dan melayang membelah putih di depanku. Aku senang walaupun tak seekor merpati pun menemaniku terbang, tak apalah.

Setelah lelah mengarungi nuansa putih tak berbatas, aku pun memijakkan kakiku di dataran awan yang lembut. Aku lelah dan kurebahkan tubuhku di hamparan awan putih. Namun tiba-tiba sekelilingku berubah warna. Kali ini warna yang muncul adalah warna merah, menyala.

“Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba aku merasa udara begitu pengap?�

Aku kegerahan. Aku bangkit duduk dari rebahku. Kulihat sekeliling. Semua bernuansa merah. Tiba-tiba aku khawatir, jantungku berdebar, dan beberapa tetes keringat mulai menetes dari pori-pori kulitku.

Dari arah depan, kanan, kiri, dan belakang kembali muncul empat buah persegi berwarna putih. Kemudian muncul gambar dua orang – laki-laki dan perempuan – yang sangat aku kenal. Mereka adalah Ayah dan Bundaku. Sosok orang tua yang selama ini kuharapkan mampu memperhatikan dan membimbingku namun tak pernah mereka lakukan. Mereka lebih sering berada di luar rumah dengan berbagai urusan mereka. Jauh dikedalaman hatiku aku menuntut. Namun kemudian dapat kuterima sikap mereka sebagai sebuah bentuk lain pengungkapan kasih sayang. Aku tahu mereka menyayangiku. Aku berusaha mengalahkan egoku yang menuntut perhatian, sampai suatu saat ketika mereka bertengkar hebat. Ya, seperti adegan di empat persegi itu. Mereka bertengkar. Aku tidak mengerti apa yang mereka pertengkarkan. Hingga akhirnya pertengkaran tersebut berakhir pada sebuah poin final tentang perceraian. Aku kaget. Aku bingung. Aku tidak mengerti.

“Cukup!�

Cukup sudah! Kesabaranku sudah habis. Aku yang tidak diperhatikan ini tidak terlalu menuntut banyak dari mereka. Aku hanya ingin memiliki kedua orang tuaku secara utuh. Sebuah perceraian akan membuat genangan-genangan kesabaran dan pengertianku mengering. Apakah perceraian adalah harga mati untuk sebuah ketidak cocokan dalam berumah tangga? Bagaimana dengan aku – anak mereka? Apakah mereka memikirka aku? Aku benci. Aku dikhianati. Aku dendam.

“Aaagh…….�

Teriakku kesal.

Aku tak peduli. Hingga akhirnya mereka pun benar-benar berpisah, aku tak peduli. Kini aku sendiri. Benar-benar sendiri dan ini sangat menyakitkanku. Kekosongan dalam jiwa ini semakin terasa manakala teringat sedikit harapanku – yang walaupun sepele – tak terpenuhi. Aku yang terpuruk pun kemudian mencoba memaknai arti kebahagiaan dan kesempurnaan hidup dengan caraku sendiri.

Tak usah lagi kuhiraukan norma, etika, dan berbagai aturan yang kupatuhi selama ini. Aku telah terluka, dan untuk mengobatinya, tak seorangpun mampu melakukannya walaupun diriku sendiri. Kulihat keempat persegi itu mulai menipis dan akhirnya hilang sama sekali.

Tharrrrr….

Kudengar suara geledek menggelegar. Aku menggigil. Gambar dalam keempat persegi itu berubah. Nampak dalam empat persegi itu berserakan butiran kecil pil berwarna putih dan kuning, beberapa serbuk putih dalam kemasan plastik transparan – salah satu dari plastik tersebut telah tersobek pinggirnya – lengkap dengan peralatan hisapnya, alat-alat suntik, dan berbotol-botol minuman beralkohol. Benda-benda itulah yang kupilih untuk kukonsumsi. Inilah kebahagiaan itu. Dan aku pun tenggelam didalamnya.

“Ha….ha…ha… Lihat! Aku dapat tertawa. Aku bahagia.�

Tiba-tiba kurasakan sesuatu di punggungku. Sesuatu yang berubah. Sayap merpatiku berubah. Berubah dan berubah. Sayap itu kini nampak menghitam dan ujungnya meruncing.

“Sayap ini….., sayap ini adalah sayap kelelawar?�

Sayap merpatiku yang putih kini berubah hitam sayap kelelawar.

“Ha… ha… ha… lihat aku. Kini aku pun bisa melakukan sulap. Aku bisa mengubah sayapku.�

Sekarang seluruh tubuhku menghitam.

“Lihat aku! Lihat! Sekarang aku nampak sangat………, menakutkan! Ha… ha… ha… “

Aku terus tertawa dan tertawa. Keras, dan kemudian senyap. Sekitar berubah menjadi hitam. Gelap. Tak terdengar apa pun. Tak terlihat sesuatu pun. Aku diam mematung. Lama. Lama sekali. Perlahan kurasakan dataran tempatku berpijak melembek dan kemudian mencair perlahan. Dari ujung kaki, mata kaki, dan inchi demi inchi betisku terasa terbenam dalam sebuah media yang semakin mencair.

“Oh tidak! Aku akan tenggelam. Aku tenggelam….�

Kini setengah tubuhku telah terbenam dalam media cair hitam pekat ini. Apa yang harus aku lakukan? Tolong, pertolongan dari siapa yang dapat kuandalkan sedangkan tak seorang pun di sini. Sesak dadaku. Kurasakan ngilu di sekujur tubuhku. Sakit, sakit sekali. Kucoba menggapai-gapaikan tanganku ke atas berharap kutemukan sesuatu yang dapat menarikku. Namun sia-sia. Tak satupun benda yang dapat teraih. Apakah ini takdirku? Apakah ini waktuku? Apakah telah datang ajalku? Tidak! Aku tidak ingin mati dengan cara seperti ini. Betapa menyedihkannya diriku ini. Menjelang ajalku pun tiada yang peduli. Ada dan tiada ku pun tak berarti apa-apa. Benarkah? Tidak, aku tidak ingin mati dulu. Tangguhkanlah ya Allah!

“Allah?�

Nama itu begitu agung. Tak pantas rasanya kusebut dengan mulutku yang penuh dosa. Namun bukankan Dia Maha Pengampun bagi setiap hambanya yang bertaubat.

“Taubat?�

Ya, aku harus bertaubat. Aku ingin kembali kepada-Nya dalam keadaan telah bertaubat. Tapi sekarang ini apa mungkin? Dalam kehancuran dan kenistaanku, semua tampak tak termaafkan.

Hampir seluruh tubuhku telah terbenam tinggal kepalaku yang masih dipermukaan. Kusembulkan wajahku dengan penuh harap. Harapan datangnya keajaiban yang dapat menolongku di detik-detik terakhir sebelum aku tenggelam lebih dalam. Degup jantungku berpacu lebih keras. Suaranya seperti dapat kudengar. Tapi tunggu dulu.

“Apa itu?�

Sebentuk cahaya memancar dari atas sana dan cahaya tersebut membentuk sebuah anak tangga yang menjuntai menuju ke arahku. Semakin dekat dan dekat. Akhirnya tangga itu pun dapat tergapai olehku. Perlahan kutarik tubuh ini dari benaman hitam yang menyesakkan itu. Susah, susah sekali. Namun aku harus keluar dari kubangan hitam ini. Ku kuras seluruh sisa tenaga untuk sampai pada tangga cahaya itu. Aku berhasil.

“Hosh…hosh… hosh… Aku lelah….�

Kudongakkan wajahku menatap sinar terang di atas sana.

“Ada apakah di sana? Mengapa cahaya di atas sana begitu gemilang? Mengapa hitam di bawah sana begitu pekat? Mengapa?�

Tak ada jalan lain. Aku tak ingin tetap berada di sini dalam keterasingan. Terlebih lagi berada di bawah sana, dalam pekat hitam yang menyiksa. Aku akan ke sana. Ke atas sana, dalam limpahan cahaya yang benderang. Tak kan kupedilikan berapa banyak anak tangga yang harus ku lalui untuk sampai ke sana. Aku akan ke sana. Aku berjanji.

Satu, dua, tiga anak tangga sudah kulalui. Dengan langkah tertatih ku tetap menaiki satu persatu anak tangga dengan keyakinan menggapai cahaya.

Sembilan belas, dua puluh, dua puluh satu anak tangga. Kini aku berada di sini. Kuhentikan sejenak langkahku sekedar mengatur nafas. Aku dongakkan lagi wajahku ke atas. Masih cukup jauh. Perlahan semilir angin berhembus memasukki indra penciumanku. Wangi kasturi yang begitu menyegarkan. Serpihan semangat yang tersisa kembali menggumpal. Aku harus ke sana.

Entahlah, anak tangga yang sekarang ku pijak adalah anak tangga ke berapa. Yang jelas, aku merasa sangat lelah sementara sumber cahaya itu nampak masih jauh. Kuarahkan pandanganku ke bawah sana. Oh tidak! Aku tak akan kembali lagi ke sana. Perlahan kuraba sesuatu di balik bajuku.

“Bintangku!�

Untunglah bintang ini tidak hilang. Lihat apakah bintangku masih memancarkan keajaibannya.

Perlahan kukeluarkan benda itu dari balik bajuku. Bintangku masih bercahaya. Kuusap permukaannya. Aku menyayangi benda ini. Dialah hartaku satu-satunya. Kan kujaga benda ini. Kan kubawa serta kemana pun aku pergi.

Tiba-tiba cahaya bintangku memancar begitu indahnya. Cahayanya serasa menyelimuti seluruh tubuhku. Cahaya itu menyelimutiku untuk beberapa saat sebelum kemudian kembali seperti semula. Aneh, aku seperti lahir kembali. Inilah aku. Aku yang baru, aku yang telah kembali dari gelap lumpur dosa, dan aku yang akan berusaha menggapai cahaya agung di atas sana. Dan…. Kini aku bersayapkan merpati. Sayap merpatiku telah kembali. Aku akan ke sana. Menuju cahaya itu dengan sayap merpatiku.

Aku terbang. Tinggi dan semakin tinggi menggapai cahaya yang agung.

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *