Menjadi Dewasa

Suatu hal yang natural, yang semua kita pasti telah mengalaminya seiring dengan pertambahan usia dan berkurangnya jatah hidup dari Sang Kekasih. Tapi benarkah kita telah menjadi dewasa dalam arti sesungguhnya?
Orang Barat mengistilahkan dewasa dengan dua kata: adult dan mature. Adult lebih memaknai kedewasaan secara fisik, usia dan biologis, penggambaran tentang kedewasaan secara alamiah. Sedangkan mature lebih pada pematangan sikap dan pola pikir. Maturitas tiap orang belum tentu berbanding lurus dengan usianya. Toh, banyak orang-orang yang telah berusia jauh, bersikap dan berpikir masih seperti remaja, bahkan anak-anak.

Terlepas dari benar atau tidaknya tafsiran lughawiyah versi saya, perbedaan makna kedewasaan itu pasti telah pernah terpikirkan oleh kita. Mungkin kita pernah diam-diam menentukan kriteria mature itu. Setiap orang punya kriteria yang berbeda tentang itu, sah-sah saja. Lalu dengan kriteria-kriteria itu, kita menilai-nilai apakah diri kita bisa disebut sudah mature.

Percayakan Anda bahwa menuju maturitas itu dimulai justru dengan menyadari bahwa kita belum dewasa? Kata seorang sahabat, sangat baik bila seseorang menyadari poin-poin lemah dari dirinya sehingga lain kali, ia bisa me-warning dirinya ketika kelemahan-kelemahan itu muncul.
Maka saya mencoba menarik kesimpulan bahwa poin pertama menuju maturitas adalah keyakinan bahwa diri kita belum dewasa, belum matang. Tetapi jangan berhenti sampai disitu. Keyakinan itu harus diimbangi dengan kesadaran untuk melawan image yang ada. Tidak atau belum dewasa itu terkesan sebagai sebuah citra negatif. Maka mari kita menggali sisi positif untuk melawannya. Maka akan timbul keyakinan lain untuk belajar dewasa.

Bagaimana memulai belajar dewasa? Adalah dengan memandang setiap persoalan yang kita hadapi sebagai kajian untuk kita sendiri. Adalah tidak objektif, mengkaji persoalan yang teralami sendiri. Maka bisa dicoba untuk kita keluar dari diri kita sendiri dan memandang si ‘kita’ dalam belitan persoalan. Artinya kita memandang ‘diri kita’ yang tengah diuji dalam sudut pandang orang lain. Sehingga kita bisa menentukan dengan tenang, langkah-langkah apa yang akan kita ambil. Katanya, inilah yang disebut mengatasi masalah sendiri.

Jelas untuk ini diperlukan ketenangan yang luar biasa, dan ambang toleransi yang cukup besar dalam analisa-analisa kita. Kepanikan memang sering menyebabkan kita tak mampu berpikir jernih dan panjang. Modal ketenangan ini yang kemudian mengawali penyelesaian masalah itu., sehingga ketika masalah kita itu berhubungan dengan orang lain, kita pun akan mampu mengatasi pikiran orang tersebut. Ketenangan dapat membantu kita ‘membaca’ pikiran orang lain sehingga kita tidak terpancing oleh ‘ujian-ujian’ yang datang melalui orang tersebut.

Rantai kriteria ini masih harus dilengkapi lagi. Logis bila kemampuan mengatasi pikiran menyebabkan kita mampu melakukan manajemen prioritas. Setujukah Anda bila saya katakan bahwa mungkin saja prioritas Anda salah? Tapi Anda tak perlu merasa terlalu bersalah. Bukankah sudut pikir Anda tidak cuma satu? Anda kan bisa mengambil sudut-sudut lainnya, lalu menggabungkan dengan sudut pertama sehingga jawaban analisanya adalah: Anda mungkin saja kurang tepat dalam memilih, tapi Anda pasti melihat betapa beruntungnya Anda.

Keberuntungan pertama adalah ketika Anda melihat hikmah dibalik pilihan-pilihan Anda. Apa pun pilihan Anda, sepanjang tidak melanggar aturan-aturan yang prinsip, Anda akan menemukan pelajaran-pelajaran manis untuk memperkaya batin Anda. Langsung dari Sang Khalik. Keberuntungan kedua adalah ketika Anda melewati pilihan tadi, Anda akan menyadari bahwa Anda mampu dan kuat memikul konsekuensi dari pikiran Anda. Padahal sebelumnya, siapa yang kira? Lagipula, bukankah Allah tidak pernah membebani manusia diluar kesanggupannya? Insya Allah, Anda lulus ujian.

Jadi, untuk menjadi matang, kita perlu berdamai dengan diri sendiri dulu. Memandang diri sendiri dengan sportif dan adil. Bahwa kita tidak cuma punya kekurangan, tapi pasti punya kelebihan. Selalu ada dua sisi -positif dan negatif- dalam kepribadian kita. Yang penting adalah bagaimana kita selalu punya niat, janji, dan upaya untuk jadi lebih baik..

Rasanya tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa menjadi dewasa sama artinya dengan menjadi lebih baik. Atau, mungkin lebih manis, lebih menyenangkan, lebih bermanfaat bagi orang lain. Lebih penuh cinta, lebih peduli, dan lebih siap menghadapi apa pun dan siapa pun. Dengan berdamai terhadap diri sendiri, kita akan memperlebar ambang toleransi, sehingga kita jadi lebih sensitif, juga terhadap orang lain. Dengan berdamai terhadap diri sendiri, kita akan lebih sering berdialog dengan diri sendiri, berunding dalam menetapkan strategi-strategi dalam menempuh hidup. Dengan itu pula, kita jadi lebih bersyukur, lebih ingin jadi baik, dan lebih menghargai tiap detik kehidupan kita. Indah, bukan?

So, meskipun selalu ada jiwa kanak-kanak dalam diri tiap manusia, seperti jargon iklan handphone, kita sepertinya tidak terlalu sulit untuk menjadi dewasa. Tentu tanpa harus membunuh jiwa kanak-kanaknya. Toh, jiwa kanak-kanak itu membantu kita dalam memandang hidup lebih polos dan lebih sedikit ekspresif. Maka, siapa bilang menangis, takut, cemas, itu merupakan tanda-tanda belum dewasa? Siapa tahu itu hanya ekspresi spontan dalam menghadapi suatu masalah. Asal jangan keterusan saja…! Itu namanya belum matang…

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *