Memprioritaskan Shaum Qadha atau Syawwal ?

Anda betul, kita disunahkan melaksanakan shaum enam hari di bulan Syawwal sebagaimana disabdakan Rasulullah saw. “Diriwayatkan dari Abu Ayyub r.a. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa shaum pada bulan Ramadan, kemudian diikuti dengan shaum (sunah) enam hari pada bulan Syawal, seolah-olah ia shaum sepanjang tahun.” (H.R.Muslim).

Hadis ini tidak menjelaskan apakah shaum tersebut dikerjakan harus berturut-turut atau terpisah-pisah. Ini menunjukkan bahwa kita diberi kebebasan untuk menentukan sendiri, apakah mau berturut-turut atau terpisah-pisah. Itu semua tergantung pada situasi dan kondisi per individu. Yang penting harus dilakukan pada bulan syawwal.

Lantas, mana yang harus kita dahulukan, Qadha atau Syawwal? Paling tidak, ada dua pendapat mengenai masalah ini. Pendapat pertama menyatakan harus memprioritaskan shaum qadha karena shaum qadha hukumnya wajib, sementara shaum Syawwal sunah. Kalau bentrok antara yang wajib dan yang sunah, tentu yang yang wajib harus diprioritaskan. Pendapat kedua menyatakan, shaum enam hari pada bulan Syawwal itu terikat waktu. Kalau bulan Syawwal habis, berarti habis juga kesempatan shaum sunah. Karena itu shaum Syawwal harus diprioritaskan. Sementara shaum Qadha walaupun wajib, namun waktunya leluasa, bulan apa saja bisa kita lakukan.

Mencermati kedua pendapat di atas, sesungguhnya kita bisa melakukan kompromi. Kalau mampu, alangkah baiknya pada bulan syawwal itu kita lakukan dulu shaum qadha kemudian dilanjutkan dengan shaum sunah Syawwal. Dengan demikian kedua-duannya bisa kita kerjakan dengan baik di bulan Syawwal. Ini kompromi yang paling ideal.

Kalau tidak memungkinkan, hal ini diserahkan pada kebijakan kita (per-individu). Tidak tercela kalau kita memprioritaskan shaum Syawwal. Insya Allah, kita akan mendapatkan pahala shaum sunah Syawwal walaupun masih punya utang shaum Qadha. Juga tidak tercela kalau kita memprioritaskan shaum qadha dengan pertimbangan yang wajib harus lebih diutamakan dari pada yang sunah. Insya Allah, kita akan mendapat pahala dari segi memprioritaskan yang wajib.    

Kesimpulannya, alangkah utama kalau shaum qadha dan Syawwal bisa kita laksanakan pada bulan Syawwal. Namun tidak salah kalau kita mau memprioritaskan salah satunya. Mengutamakan qadha akan mendapat pahala dari segi mengutamakan yang wajib. Mengutamakan Syawwal akan mendapat pahala dari aspek ibadah sunahnya.
Wallahu A’lam.

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Memprioritaskan Shaum Qadha atau Syawwal?

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Memprioritaskan Shaum Qadha atau Syawwal?

Anda betul, kita disunahkan melaksanakan shaum enam hari di bulan Syawwal sebagaimana disabdakan Rasulullah saw. “Diriwayatkan dari Abu Ayyub r.a. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa shaum pada bulan Ramadan, kemudian diikuti dengan shaum (sunah) enam hari pada bulan Syawal, seolah-olah ia shaum sepanjang tahun.� (H.R.Muslim).

Hadis ini tidak menjelaskan apakah shaum tersebut dikerjakan harus berturut-turut atau terpisah-pisah. Ini menunjukkan bahwa kita diberi kebebasan untuk menentukan sendiri, apakah mau berturut-turut atau terpisah-pisah. Itu semua tergantung pada situasi dan kondisi per individu. Yang penting harus dilakukan pada bulan syawwal.

Lantas, mana yang harus kita dahulukan, Qadha atau Syawwal? Paling tidak, ada dua pendapat mengenai masalah ini. Pendapat pertama menyatakan harus memprioritaskan shaum qadha karena shaum qadha hukumnya wajib, sementara shaum Syawwal sunah. Kalau bentrok antara yang wajib dan yang sunah, tentu yang yang wajib harus diprioritaskan. Pendapat kedua menyatakan, shaum enam hari pada bulan Syawwal itu terikat waktu. Kalau bulan Syawwal habis, berarti habis juga kesempatan shaum sunah. Karena itu shaum Syawwal harus diprioritaskan. Sementara shaum Qadha walaupun wajib, namun waktunya leluasa, bulan apa saja bisa kita lakukan.

Mencermati kedua pendapat di atas, sesungguhnya kita bisa melakukan kompromi. Kalau mampu, alangkah baiknya pada bulan syawwal itu kita lakukan dulu shaum qadha kemudian dilanjutkan dengan shaum sunah Syawwal. Dengan demikian kedua-duannya bisa kita kerjakan dengan baik di bulan Syawwal. Ini kompromi yang paling ideal.

Kalau tidak memungkinkan, hal ini diserahkan pada kebijakan kita (per-individu). Tidak tercela kalau kita memprioritaskan shaum Syawwal. Insya Allah, kita akan mendapatkan pahala shaum sunah Syawwal walaupun masih punya utang shaum Qadha. Juga tidak tercela kalau kita memprioritaskan shaum qadha dengan pertimbangan yang wajib harus lebih diutamakan dari pada yang sunah. Insya Allah, kita akan mendapat pahala dari segi memprioritaskan yang wajib.

Kesimpulannya, alangkah utama kalau shaum qadha dan Syawwal bisa kita laksanakan pada bulan Syawwal. Namun tidak salah kalau kita mau memprioritaskan salah satunya. Mengutamakan qadha akan mendapat pahala dari segi mengutamakan yang wajib. Mengutamakan Syawwal akan mendapat pahala dari aspek ibadah sunahnya.
Wallahu A’lam.

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *