Hadiah Terindah Untuk Anak

Rosululloh SAW bersabda : “Tidaklah orangtua memberikan kepada anaknya pemberian yang lebih utama selain dari pendidikan yang baik “ (HR. Tirmidzi & Thabrani)

Meskipun hadist ini dinilai lemah (dhaif) namuan isinya tidaklah bertentangan dengan Al Qur’an maupun hadist-hadist lain. Bahkan sebaliknya, baik ayat Al Qur’an maupun hadist-hadist,mendukung makna hadist diatas. Hadist ini menegaskan bahwa penberian terbaik dari ayah dan ibu untuk anaknya adalah pendidikan yang baik. Artinya, hadiah apapun yang diperenbahkanoleh orang tua kepada anak seperti hp, motor, mobil, rumah dan hal material lainnya, belumlah bermakna sebelum si orangtua mendidik anaknya dengan pendidikan yang baik.



Rasululloh SAW juga bersabda, “Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan baik” (HR Ibnu Majah). Kita boleh bangga bahwa kita menjadi orangtua yang sholeh taat kepada Allah dan rajin beribadah. Akan tetapi pernahkah kita berpikir tentang generasi yang akan datang. Siapa yang akan melanjutkan kesalehan kita? siapa yang akan membuat kesalehan itu semakin menyebar sehingga kehidupan msyrakat menjadi lebih baik? Bagaiamana kondisi dan nasib kaum muslimin sepeninggal kita? Allah SWT menginformasikan kepada kita kegelisahan dan keresahan Nabi Zakaria saat menatap masa depan sementara dirinya saat itu belum diberikan keturunan yang akan melanjutkan jejak langkah perjuangannya.

Firman-Nya:
Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”. (QS.19 : 1-6)

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”. Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS.02 : 132-134)

Mari perhatikan ayat diatas, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ya’qub AS mewasiatkan kepada anak-anaknya dua hal : Bangga menjadi Muslim dan Istiqomah sebagai muslim hingga menjemput ajal menjemput. Bahkan Nabi Ya’qub melakukan tes kepada anak-anaknya tentang siapa yang akan mereka sembah setelah beliau tiada, “Apa yang akan sembah sepeninggalku?” Dengan lantang dan penuh dan penuh kepastian, hasil pendidikan orangtuanya, mereka mengatakan , “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Hadiah dari orangtua berupa pendidikan urusannya tidak hanya sampai di dunia melainkan tembus hingga akhirat. Benarlah Allah SWT mengingatkan para orangtua agar seluruh angota keluarga terselamatkan dari azab Allah di hari Akhirat.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. 66:6)

Agar mampu mempersembahkan hadiah terindah kepada anak, kita harus mampu menghilangkan segala kendala dan penghalang yang ada pada diri kita. Diantara kendala dan penghalang itu :

Pertama, pandangan materalistik terhadap kehidupan. Orang yang hanya memiliki pandangan materialis tentang kehidupan biasanya mengukur segala sesuatu dengan hitunagan materi, benda atau uang. Dia menilai sukses atau gagalnya seseorang termasuk anaknya semata-mata dengan hitungan materi, benda atau uang. Dia menilai anaknya sukses atau gagal dengan hitungan materi. Anaknya sukses ‘jadi manusia’ manakala si anak mampu mendapatkan kedudukan yang baik, uang yang banyak dan harta melimpah. Sementara anak yang miskin dianggap pasti gagal meskipun soleh.

Pandangan materialistik ini menyebabkan seseorang tidak peduli anaknya taat atau maksiyat kepada Allah SWT, tidak peduli berakhlak baik atau bururk yang penting uangnya banyak dan melimpah di kala telah dewasa.

Kedua, menjadi teladan yang buruk. Para ahli bijak mengatakan bahwa seribu nasihat tidaklah lebih berguna ketimbang satu kali perbuatan. Teladan menduduki posisi sangat penting dalam keberhasilan menddik anak. Bila seorag ayah bila setiap hari memberikan puluhan nasehat untuk berbuat jujur. Maka ribuan nasehat itu akan tumbang seketika ketika anaknya mendengar atau melihat langsung ayahnya berdusta.

Ketiga, kurang kesabaran. Perlu diingat bahwa pendidikan bukan dadakan. Perlu kesabaran yang prima dan besar untuk memberikan persembahan terindah kepada anak. Bukankah Rosukulloh SAW memerintahkan kita untuk mengajari anak shalat jauh sebelum masa dia menjadi mukallaf (terkena kewajiban) !

“Suruhlan anak-anak kalian shalat pada usia tujuh tahub dan ukulah bila sudah berusia sepuluh tahun (dan tidak mau melakukannya)” sabdanya. Jika kita mengitung perintah salat berdasarkan perintah nabi diatas, selama 3 tahun dan setiap waktu shalat berarti menghasilkan angka perintah yang sangat besar yakni : 5x365x3 = 5475 perintah/nasehat untuk salat.




Itulah urgensi pengulangan dalam pendidikan anak. Ada penelitian yang membuktikan bahwa informasi yang diulang satu kali hanya 10% saja yang bisa kita ingat akhir di bulan. Akan tetapi kalo informasi tersebut kita ulang sebanyak 6 kali dengan cara yang berbeda-beda maka kita akan mengingatnya 90%. Ini artinya anak akan senantiasa mengingat shalat dan urgensinya jika kita melakukan pentingnya melakukan ibadah shalat.

Dan hal ini tidak mungkin tercapai tanpa kesabaran. Jika setiap anak Indonesia mendapatkan hadiah terindah dari orangtuanya, yakni pendidikan yang baik, niscaya banyak persoalam yang akan dapat diselesaikan. Wallhu a’lam.

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *