Budaya Membebek

Ekor itu mengikuti kepalanya. Kemana kepala bergerak sang ekor akan mengikutinya. Mengekor adalah istilah untuk perilaku orang yang suka ikut-ikutan. Apa yang diikuti? ya semua apa saja perilaku atau gaya hidup sang pemimpinya. Siapa sang pemimpinnya itu? ya siapa saja yang dituruti perintahnya. Para remaja-remaja begitu gampang mengikuti perilaku maupun gaya hidup selebritis idolanya, entah dari model rambutnya, model bajunya, cara bicaranya, cara makannya, dan cara apa saja yang dilakukan oleh selebritis idolanya itu, maka akan dilakukannya. Apa yang diperintah oleh sang idola akan senantiasa diikutinya.

Bahkan (maaf, mungkin saja) para santri-santri di pondok-pondok pesantren, tidak jarang yang hanya mengikuti sang kyai. Kadang para santri itu tidak peduli dan tidak mempunyai kontrol terhadap apa yang dilakukan oleh sang kyainya. Apapun yang dilakukan oleh kyainya dianggap benar. Padahal kyai itu jaga manusia punya banyak sekali kesalahan. Mengekor dalam istilah bahasa jawa disebut sebagai ”perilaku mbebeki”.

Mengekor sebenarnya fitrah manusia, sehingga secara prinsip mengekor itu tidak haram. Karena asal muasalnya segala perbuatan itu adalah mengikuti perbuatan sebelumnya. Dengan demikian adat masyarakat sekarang tidak terlepas dari mengikuti kebiasaan perilaku hidup nenek moyangnya. Tetapi yang jadi masalah adalah perilaku apa dan siapa pemimpin yang benar diikuti itu?. Tentunya perilaku seorang pemimpin yang dapat dijadikan suri teladan. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS Al Ahzab : 21).

Bila anda seorang yang bersyahadat karena menyaksikan kebenaran Allah dan Rasul-Nya, maka bergaya hiduplah mengekor jejak Rasulullah yang telah membawa kitab kepada kalian dari Rabb pemelihara dan pemilik segala sesuatu. Dan janganlah kamu mengikuti peminpin-peminpin selain para Sahabat Rasulullah dan para Ulama Salaf, sehingga kamu menyimpang dari apa yang diajarkan Rasul kepada kalian. Allah mengajarkan kepada manusia dalam mengekor ini: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)”. (QS. Al-’Araf :3).

Jadi mengekor perilaku para pendahulu itu atau adat kebiasaan nenek moyang kita diperbolehkan selama mereka berjalan di jalan yang lurus, jalan yang menegakkan sunnah Rasul-Nya, dan tidak bertentangan dengan penegakkan hukum-Nya. Tetapi apabila orang-orang yang dijadikan panutan dan ikutan itu tidak mengetahui pemahaman yang benar dan petunjuk, hanya mengikuti hawa nafsunya maka agama melarangnya. Allah melarang mengekor siapapun yang mengikuti jalan dan langkah-langkah syetan yang menyimpang petunjuk-Nya. “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS Al Baqarah : 170).

Apakah mereka para remaja umat islam ini akan terjebak mengekor penyelenggaraan Pemilihan Ratu Kecantikan Dunia, Pemilihan Ratu Joged Dunia, Pemilihan Penyanyi Idola Dunia, dan perilaku penyelenggaraan apa saja yang tidak mendapat petunjuk dari Allah?. Sesungguhnya syetan itu hanya menyuruh umat manusia ini untuk terus menerus mengekor perbutaan jahat dan keji, yaitu perbuatan orang-orang kafir dan pelaku bid’ah.

Mengekor perbuatan orang lain, diperlukan cross cek dari Al-Quran dan hadist shahih. Kadang-kadang perbuatan orang lain itu nampak baik, tetapi sebenarnya jauh dari sunnah dan tuntunan Rasul-Nya. Syetan itu pandai menyesatkan manusia dan kepadaian syetanlah yang menjadikan orang memandang baik perbuatan buruk. Allah menjelaskan dalam firman-Nya: “Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka adzab yang sangat pedih”. (An-Nahl : 63).


Oleh : Muh Rum BS

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *