logo-percikan-iman-sementara

Pengawasan Melekat

Alkisah, suatu hari seorang pemuda tengah mengembalakan sejumlah biri-biri di sebuah padang rumput. Datang kepadanya Amirul Mukminin, Khalifah Umar bin Khathab. Menjadi kebiasaan Umar, sebagai pemimpin umat Islam, bepergian ke berbagai tempat untuk berjumpa secara langsung dengan rakyatnya. Ia ingin merekam denyut kehidupan masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya. Jangan-jangan, tanpa sepengetahuannya, terjadi ketidakberesan aparat dalam mengurusi negara ini. Ia tidak menginginkan ada sebagian umat Islam yang menderita karenanya.

Demikianlah, kali ini Umar menemui pemuda penggembala biri-biri. Tapi di luar dugaan, pemuda yang tampak amat sederhana dan pekerjaannya pun “hanya” menggembala biri-biri, ternyata menyimpan semangat keimanan yang luar biasa.

Hal itu tampak ketika Khalifah Umar hendak “menguji” kejujuran pemuda itu dengan mengatakan, “Wahai pemuda, serahkan seekor biri-birimu kepadaku”. Pemuda itu ternyata tidak begitu saja memenuhi permintaan Umar. Ia berkilah, “Biri-biri ini bukan milikku”. “Apa yang akan aku katakan kepada majikanku bila dilihat biri-biri kepunyaannya berkurang dari jumlah semula,” jelas pemuda itu. “Katakan saja kepada majikanmu, seekor serigala telah menerkam biri-biri itu,” kata Umar memberi jalan.

Apa komentar pemuda lugu mendengar siasat busuk yang diberikan Umar? “Fa aina Allah – lantas di mana Allah”, jawab pemuda itu tegas. Maksudnya, bisa saja ia membohongi majikannya, tapi tentu tidak terhadap Allah. Allah Yang Maha Melihat pasti akan tahu perbuatan curangnya itu. Umar tentu saja tidak bersungguh-sungguh mengajari pemuda itu untuk berlaku curang. Ia hanya bermaksud menguji iman pemuda itu. Dan kini ia begitu bangga dan bersyukur mendapati pemuda sederhana, bagian dari rakyatnya, yang hidup di pedesaan ternyata memiliki keteguhan iman yang mengagumkan.

Pemuda tadi telah mengajarkan kepada kita secara praktis apa yang disebut ihsan. Ihsan adalah keadaan pada diri seseorang yang dia merasa senantiasa diawasi Allah dalam segenap perbuatan lahir atau batin. Terdapat sebuah hadits sahih riwayat Bukhari dari Umar bin Khatab yang menjelaskan pengertian ihsan. Hadits ini merupakan jawaban Rasulullah tatkala malaikat Jibril datang kepadanya menanyakan tentang IHSAN. Dijawab oleh Rasul, ihsan adalah, “Anta’budallaha ka annaka tarahu. Fain lam takun tarahu, fa innahu yaraka (kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat Allah, yakinlah bahwa Ia melihatmu)”.

Kita jelas tidak dapat melihat Allah. Sebaliknya, Allah pastilah dapat melihat kita. Hanya saja, bagaimana cara Allah melihat kita, itu tidak penting dan tidak perlu, bahkan jangan sekali-kali mencari tahu karena usaha itu pasti akan sia-sia. Tentang bagaimana Allah melihat, mendengar, berkehendak dan sebagainya Al Qur’an hanya mengatakan “laysa ka mitslihi syaiun” (tidak ada sesuatupun yang menyerupainya)”.

Jadi, kita sama sekali tidak mampu menggambarkan sedikitpun tentang perbuatan-perbuatan Allah. Yang kita tahu adalah sifat-sifat Allah, itupun karena Allah sendiri yang mengabarkan – dengan Al Qur’an – kepada kita.

Kendati demikian Al Quran telah memberikan petunjuk, bahwa kita memang tidak sedikitpun bisa lepas dari pengawasan Allah. Untuk hal ini, Allah ternyata telah menciptakan anggota tubuh kita pandai berkata-kata di akhirat nanti untuk menceritakan semua yang kita lakukan selama hidup di dunia.

“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan” (TQS.Fushilat : 20)

“Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai pula berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepadaNyalah kamu dikembalikan” (Fushshilat 21)_

Manusia pada umumnya memang menyangka bahwa Allah tidak tahu apa yang mereka lakukan, khususnya bila itu menyangkut tindak maksiat yang sudah diusahakan sekuat mungkin agar tersembunyi dari pengamatan orang. Tapi ternyata justru mata, telinga, bahkan kulitnya sendiri itulah yang menjadi saksi atas perbuatannya. Inilah pengawasan melekat yang sungguh-sungguh melekat.

“Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu. Bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Fushshilat 23)
* * *



[Ibnu Khaldun Aljabari, 25 Agustus 2008 ]

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *