Berkorban di Jalan Allah

Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk meraih ridlo Allah. Dan Allah sangat mengasihi hamba-Nya.” (TQS al Baqoroh : 207)

Ketika Rasulullah melaksanakan hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar, Suhaib ar Rumi berencana untuk berangkat bersama mereka. Namun, kaum Quraish mengetahui keinginan Suhaib dan menghalangi rencananya. Mereka (kafir Quraish) menahan Suhaib terus-menerus untuk mencegahnya berhijrah dan membawa kekayaannya. Suhaib berusaha mencari kesempatan agar bisa melepaskan diri dari penjaganya.

Pada malam yang dingin, Suhaib berpura-pura sakit perut dan berulang kali buang hajat. Seorang penjaga mengatakan ke penjaga yang lain, “Jangan khawatir, Latta dan Uzza membuatnya menderita dengan sakit perut.” Mereka lalai dan jatuh tertidur. Suhaib mengambil kesempatan tersebut, mempersenjatai dirinya dan berangkat ke Madinah. Kemudian para penjaga terbangun dan mengejar Suhaib. Suhaib melihat mereka semakin mendekati dirinya, sehingga ia memanjat bukit dan berteriak, “Hai orang-orang Quraish! Kalian tahu, demi Allah, aku adalah salah satu pemanah terbaik dan bidikanku tidak pernah meleset.

Demi Allah, jika kalian mendekati aku, dengan setiap anak panah yang kumiliki, aku akan membunuh setiap diri kalian. Kemudian aku akan memukul kalian dengan pedangku.” Seorang penjaga mengatakan, “Demi Allah, kami tidak akan melepaskan engkau dengan hidup dan hartamu. Engkau datang ke Mekkah dalam keadaan miskin dan memiliki apa yang sekarang engkau miliki.” Suhaib menjawab, “Bagaimana jika aku tinggalkan hartaku kepada kalian ?” Si penjaga menjawab, “Ya.” Suhaib memberitahukan dimana mereka bisa menemukan uangnya di Mekkah dan dua budak wanita. Kemudian ia berangkat ke Madinah.

Ketika Suhaib sampai di luar Quba, Rasulullah mendekatinya. Rasulullah nampak gembira dan menyambut Suhaib dengan senyum. “Sungguh perniagaanmu menguntungkan hai Abu Yahya. Sungguh perniagaanmu menguntungkan.” Rasulullah mengulanginya tiga kali. Wajah Suhaib memerah, penuh kebahagiaan dan berkata, “Demi Allah, tidak seorang pun yang datang kepada engkau sebelum saya, ya Rasulullah dan hanya Jibril yang telah memberitahukan hal ini.” Kemudian turunlah ayat di atas (QS. al-Baqarah ayat 207).

Kisah Suhaib di atas menunjukkan bahwa Generasi Sahabat benar-benar melakukan pengorbanan demi hijrah. Suhaib seorang yang datang dari luar Mekkah dan mampu mengumpulkan kekayaan dengan bekerja keras selama di Mekkah. Para Sahabat juga mengorbankan apa saja yang ada pada diri mereka hanya untuk hidup dibawah naungan Islam.

Sekarang, kita seharusnya bertanya kepada diri kita: Apakah kita siap mengorbankan kehidupan kita dan meninggalkan kekayaan yang kita miliki untuk Islam.

Kita seharusnya selalu ingat bagaimana kehidupan Sahabat ketika berhijrah. Banyak kaum Muhajirin yang mengalami kesulitan materi ketika mereka tiba di Madinah. Mereka siap menerima kesulitan hidup ketika mereka berkorban hanya untuk Allah semata. Mereka tahu akan setiap kesulitan yang mereka alami dan mereka menyadari ganjaran yang akan mereka terima di hari Akhir.

Rasulullah telah memberitahukan hal ini kepada para Sahabat. Alqama ibn Waqqas al Laithi berkata, “Aku mendengar Umar ibn al Khattab, ketika berada di atas mimbar berkhutbah, mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Hai manusia, sesungguhnya setiap amal itu berdasarkan niatnya dan setiap manusia akan mendapatkan kecuali apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya dan barangsiapa berhijrah untuk mendapatkan keuntungan dunia atau mengikuti wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya bagi apa yang dinginkannya.”


* * *



[Ibnu Khaldun Aljabari, 25 Agustus’08]

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *