Islam Pilihan Hidup Saya

Nama saya Richi. Saat ini usia saya 19 tahun. Saya adalah seorang mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Jatinangor, Sumedang. Sebelumnya saya bergama Katolik. Sejak kecil saya beribadah di gereja. Selama saya memeluk agama Katolik, tidak ada keyakinan yang mantap untuk tetap memeluk agama tersebut. Saya masih bingung, apakah benar Tuhan saya adalah Yesus?

Sejak SMP, terjadi perubahan dalam hidup saya. Saya banyak bergaul dengan teman-teman yang beragama Islam. Saya tertarik dengan perilaku dan aktivitas teman-teman baru saya itu. Mereka begitu ramah dan selalu menghormati saya. Perilaku yang baik tersebut tidak saya peroleh dari teman-teman saya yang non-muslim. Semenjak itulah saya tertarik untuk mengetahui apa dan bagaimana agama Islam.

Sementara itu, saya tetap mempelajari agama lama saya (Katolik) sebagai bahan perbandingan. Saya sering berdiskusi dengan teman-teman yang beragama Islam. Penjelasan-penjelasan yang mereka utarakan selalu masuk akal. Ini berbanding terbalik jika saya bertanya kepada orang-orang dari agama lama saya, penjelasan mereka sangat membingungkan. Contohnya, saya pernah bertanya kepada guru agama Katolik mengenai konsep Trinitas. Apakah benar Yesus itu Tuhan? Yesus mati di tiang salib, sejak kapan Yesus menjadi Tuhan? Jawaban yang saya harapkan tidak saya dapat. Malah mereka menjawab dengan nada marah, bukannya dijawab dengan suatu teori yang bisa diterima dengan logika atau akal sehat. Guru agama saya bilang, “Kamu pasti mendapat pertanyaan dari orang muslim, wajar saja mereka (orang muslim) berkata seperti itu, karena mereka tidak tahu bahwa Yesus itu berkorban untuk dirinya sendiri dan mereka (orang muslim). Mereka tidak mau mengakui ketuhanan Yesus dan iman mereka tidak mengakui adanya Tuhan Yesus.” Jawaban ini tentu saja semakin menguatkan keraguan saya.

Ada kejadian unik mengapa saya tertarik masuk Islam, yaitu ketika saya berdoa meminta petunjuk kepada Tuhan agar diberi pilihan agama terbaik. Dalam tiga hari terjadi kejadian aneh yang datang secara berturut-turut. Hari pertama, saya merasakan beban yang berat menindih badan saya, ketika itu saya tidak bisa bangun, saya mengucapkan doa-doa agama Katolik, tetap saja saya tidak bisa bangun, namun ketika mengucapkan kalimat Bismillahirahmanirahhim, saya bisa bangun. Kejadian hari kedua, tiba-tiba ada makhluk besar dan seram, makhluk itu mencekik saya, saya berontak. Ketika doa-doa agama Katolik saya ucapkan, makhluk tersebut tidak bisa lepas, namun ketika saya baca Ta’awudz (audzubilah…) saya bisa melepaskan diri. Keyakinan saya bertambah ketika pada hari ketiga, adik saya bermimpi. Ia menceritakan bahwa ia mengalami suatu musibah dan saya menolongnya. Anehnya, ketika saya datang menolong, saya mengenakan pakaian muslim (baju koko dan peci). Setelah saya renungi, saya mempunyai keyakinan bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Sejak itu saya bertekad mempelajari agama Islam dengan benar.

Untuk merealisasikannya, saya bertemu DKM di Masjid Ibnu Sina. Di sana, saya mendapat respon sangat baik. Setelah mendapat penjelasan mengenai Islam secara kaffah, maka pada bulan Ramadhan tepatnya pada tanggal 3 Nopember 2004, saya mengikrarkan diri untuk masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Awalnya orangtua tidak tahu saya telah memeluk Islam. Namun, lama-kelamaan akhrinya tahu juga. Ini karena kecurigaan mereka dengan aktivitas baru saya, seperti setiap subuh saya selalu pergi ke kamar mandi, padahal menurut mereka waktu subuh merupakan waktu yang paling nikmat untuk tidur. Mereka melakukan investigasi, ketika saya sedang melaksanakan shalat subuh, mereka mengintip di balik pintu kamar. Betapa terkejutnya mereka. Mereka marah dan melakukan intimidasi berupa caci maki, pemukulan, bahkan pelemparan asbak kaca. Saya diinterograsi dan diancam akan diusir, juga tidak akan diakui sebagai anak. Saya sangat sedih, walaupun saya sudah menjelaskan dengan lemah lembut, mereka tidak bisa menerima.

Untuk meredakan situasi, saya berpura-pura patuh, saya tidak melawan agar situasi kembali normal. Dalam hati kecil, saya tetap memilih Islam. Walaupun saya dikucilkan keluarga, saya tetap berdoa agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah. Saya tetap menyayangi mereka, karena mereka adalah keluarga saya.

Setelah kejadian itu, saya diisolasi. Mereka takut jika saya keluar rumah, saya akan pergi menemui teman-teman muslim. Saya tidak boleh kos, hari Jumat tidak boleh keluar rumah, walaupun ada kegiatan di kampus, sedangkan hari minggu saya boleh keluar namun harus ke gereja. Hari minggu saya ke gereja, tetapi hanya duduk saja. Sepulangnya dari gereja, saya pura-pura main ke rumah teman, padahal saya ke masjid untuk memperkuat keyakinan saya terhadap Islam.

Walaupun selalu diawasi keluarga, saya berusaha untuk melakukan shalat. Untuk menyiasatinya, kadang-kadang saya shalat menggunakan isyarat, untuk Subuh sampai dengan Ashar biasanya saya tayamum, sedangkan Shalat Maghrib wudlunya setelah mandi dan berusaha untuk tidak batal sampai dengan Shalat Isya, bahkan Shalat Isya biasa saya lakukan ketika tengah malam, setelah keluarga terlelap tidur. Untuk pengganti Shalat Jumat, saya melakukan Shalat Zuhur.

Saya sangat ingin keluar dari rumah, tapi tidak tahu harus ke mana. Saya hanya bisa pasrah dan berdoa agar Allah memberikan hidayah kepada orangtua agar mereka bisa masuk Islam. Cita-cita saya saat ini adalah bertemu dengan Paman. Ia sudah lama masuk Islam, nasibnya tak jauh berbeda dengan saya, dikucilkan oleh keluarga. Mudah-mudahan lewat Majalah Percikan Iman, saya bisa bertemu dengan paman yang sampai saat ini keberadannya tidak diketahui.

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

There are 1 comments

  1. Saya masih seorang katolik tetapi saya sedang berada dalam pertengahan antara ingin menjadi islam. Saya sering bertanya mengenai trinitas yang sangat dasar karena saya tidak yakin, saya masih dicekoki pemahaman katolik oleh orang tua dan juga gereja saya karena saya pernah ketahuan belajar Al Quran, sebagai gantinya saya menyimak dengan smartphone. Saya merasa diambang pintu antara katolik dan islam, saya takut bila masuk islam saya dikucilkan sementara saya seorang perempuan dan belum masuk usia dewasa, apabila katolik hati saya gelisah dan tidak tenang. Rasanya jika setelah ibadah di gereja saya merasa kuat iman katoliknya, tapi setelah melihat beberapa pemahaman islam saya merasa goyah imannya. Apa yg harus saya lakukan?

    Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *