Saatnya Kembali ke Dinar-Dirham

Uang, dalam perekonomian mempunyai arti sangat penting. Ketidakadilan alat ukur ini, karena instabilitas nilai tukar, akan mengakibatkan perekonomian suatu bangsa bahkan dunia, tidak berjalan pada titik keseimbangan. Akibatnya, akan semakin sulit merealisasikan keadilan sosial, ekonomi, dan kesejahteraan rakyat. Inilah yang menimpa system uang kertas yang kita anut saat ini. Uang kertas yang pada dasarnya hanya berupa kertas, ternyata tidak memiliki nilai intrinsik yang murni. Akibatnya, fluktuasi nilai tukarnya terus terjadi. Baik karena gangguan sektor riil maupun gangguan sektor moneter yang berpeluang menciptakan system ribawi. ( Sabili,No 11 Tahun 2002).



Penutupan Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin ( Tempo, 8/9) harus dilihat sebagai fakta keras bahwa uang kertas nilainya fluktuatif dan tidak universal. Kalau kita runut asal masalahnya, ternyata Turbulensi krisis financial ini terjadi sebagai efek domino dari runtuhnya kejayaan Wall Street di Amerika. Menurut Ekonom Indef Dradjat Wibowo (MI, 9/10) kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam persentase yang signifikan, likuiditas yang mengetat di pasar uang antar bank, depresiasi rupiah, dan kenaikan suku bunga yang terjadi saat ini merupakan indikasi awal krisis satu dasawarsa yang lalu. Dalam kondisi rakyat Indonesia yang semakin memprihatinkan ini, membayangkan krismon terjadi lagi sungguh menakutkan.

Mengapa uang kertas yang digunakan dan diberlakukan saat ini? Jawabnya karena peradaban saat ini merupakan miliknya Barat. Kebijakan penerapan uang kertas merupakan salah satu kebijakan yang lahir dari system yang diadopsi oleh bangsa Barat yaitu Kapitalisme. Karenanya boleh curiga, sekiranya suatu Negara menggunakan uang kertas sebagai alat transaksinya, bisa jadi para petinggi negara tersebut sudah terkontaminasi pikirannya dengan pemikiran barat sehingga melahirkan kebijakan-kebijakan ala barat. Oleh karenanya, permasalahan yang mendera dunia di saat yang lalu dan juga kali ini merupakan fakta tidak layaknya system kapitalis untuk diterapkan dalam sebuah institusi bernama Negara, baik di sebuah Negara maupun di seluruh dunia.

Sekiranya mengharapkan solusi yang terbaik untuk keluar dari permasalahan saat ini dan tidak mengulangi keadaan seperti ini, kuncinya hanya satu yaitu buang system yang rusak tersebut –kapitalisme-, dan ganti dengan system yang tepat, yaitu system yang berasal dari yang Maha Benar, Sistem Islam.

Kemampuan Islam untuk menjaga sektor moneter salah satunya dengan diterapkannya dinar dan dirham sebagai alat tukar-menukar. Argumentasi pengganti system kapitalis dengan islam dapat dibuktikan secara normative, histories dan tentunya secara empiris.
Secara Normatif, kemampuan Islam sebagai pusat solusi di segala permasalahan, tentunya termasuk ekonomi didalamnya telah dijamin oleh sang pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan ini. Allah Swt berfirman :

Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagimu. (QS.Al-Maidah :3)

Adapun secara historis, Zaim Saidi, Direktur Eksekutif PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) menjelaskan tentang Dinar dan Diram.
“ Uang emas sudah dibuktikan sejak jaman Nabi Muhammad saw sebagai alat tukar yang punya nilai intrinsik murni. Nabi pernah mengutus sahabatnya membeli seekor kambing dengan harga satu dinar. Hari ini, 1500 tahun kemudian, sekeping dinar tetap bisa dapat seekor kambing. Jadi,nilainya tetap. Begitu juga dirham. Satu dirham dari dulu sampai sekarang kira-kira dapat seekor ayam kecil, sedangkan ayam besar dua dirham. Jadi, emas dan perak adalah penyimpanan nilai yang tetap dan dijamin oleh dirinya sendiri.”(Sabili, No.11/12/2002).



Adapun secara empiris, Mata uang kertas dolar dan sebangsanya tidak bersifat universal, bukan milik semua Negara. Sehinga ia selalu mempunyai masalah dengan kurs. Sedangkan kebijakan sistem ekonomi Islam dengan menerapkan dinar dan dirham, melahirkan kebalikannya. Jika emas dan perak berlaku sebagai mata uang maka ia menjadi mata uang yang universal. Karena emas dan perak diterima semua Negara. Sebagai mata uang universal ia tidak mempunyai masalah dengan kurs. Sehingga, harga 1 dinar di Amerika Serikat sama dengan harga 1 dinar di Indonesia. Tidak seperti sekarang, $1 US tiba-tiba 9000 kali lipat rupiah, dan ini tiap kali bisa dimainkan.

Lebih jauh Zaim Saidi menyampaikan bahwa apabila kita menerapkan dinar dan dirham berarti kita telah berskap adil. Karena, begitu kita bertransaksi dengan dinar berarti kita telah melakukan tukar menukar harta dengan harta lain yang nilainya sepadan. Misalnya, kita menjual hasil hutan berupa kayu, kita akan mendapatkan emas dalam bentuk dinar. Kelebihan lainnya, jika kita mempunyai cadangan emas yang banyak, kita tidak mudah diguncang krisis. Tidak seperti saat ini. Kita mengekspor minyak, kayu, elektronik, dan lainnya hanya untuk ditukar dengan kertas yang nggak ada apa-apanya. Hanya kertas dengan angka-angka yang dipaksakan oleh hukum dan politik Negara untuk mempercayainya.

[Ibnu Khaldun Aljabari, 9 Syawal 1429 H]

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *