Pendidikan Seks yang Tepat bagi Anak-anak

Bagaimana Metodenya? Tiba saatnya kini untuk mencari bentuk pendidikan seks yang paling tepat bagi anak-anak. Tentu yang sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.

Pemisah Ranjang

Rasulullah saw mengutarakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim dan Abu Daud, “Suruhlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan jika mereka tidak mau melakukannya pada usia sepuluh tahun maka pukullah supaya melakukannya, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”

Intinya memisahkan pergaulan antara anak putri dan putra. Mulai membangun dinding pembatas sedikit demi sedikit hingga kelak ketika baligh mereka tidak susah untuk menghindari diri dari pergaulan bebas. Pada umur sepuluh tahun, nampaknya anak memang belum tahu apa-apa. Tetapi tidur dalam satu pembaringan bisa berperan untuk merangsang seksual mereka. Karena dalam keadaan tidur mudah terlihat aurat masing-masing, yang mudah menyentil gairah, terutama anak-anak laki-laki. Apalagi tidur dalam satu selimut..

Wah! Diantara orang-orang yang menyebut dirinya modern banyak yang menentang hal ini. Mereka berdalih, justru dengan membiasakan anak-anak bercampur semenjak kecil, akan menjinakkan gairah birahi mereka. Tetapi mana buktinya? Negara-negara barat yang menerapkan teori buatan sendiri itu kini malah kewalahan gara-gara nafsu seksual para remaja yang sungguh-sungguh tak terkendalikan.

Adab minta ijin

Diterangkan dalam Qs. 24:58-59 bahwa ada saat tertentu seorang anak harus minta ijin terlebih dahulu ketika akan masuk ke kamar orang tuanya.
Pertama, sebelum shalat fajar. Pada saat ini orang masih tidur.
Kedua, waktu dhuhur, saat orang menanggalkan pakaian mereka.
Ketiga, setelah shalat Isya, sebab kebanyakan orang tidur dan istirahat.

Hal ini dijelaskan juga dalam QS.24:59, maknanya agar anak-anak itu tidak melihat apa yang belum boleh mereka lihat. Yaitu aurat ibu atau ayahnya, juga praktek hubungan keduanya. Sama sekali berfaedah mengajarkan praktek tentang hubungan badan terhadap anak-anak pra pubertas dan masa pubertas sendiri. Kecuali terhadap dengan anak-anak yang berusia 15 -16 tahun yang siap menikah, barulah pengetahuan ini bisa diberikan.



Sementara bila anak-anak ingusan yang belum waktunya sudah mendapatkan tentang hal itu maka pikiran mereka yang masih sempit dan lugu bisa mencetak prilaku seks abnormal kelak ketika bila dewasa. Batasi pandangan Al-Qur’an surah An-Nuur:31 menyebutkan, seorang muslimah harus mengenakan kerudung kecuali di depan beberapa orang tertentu, termasuk anak-anak yang belum mengerti aurat wanita.

Kalimat ini menyiratkan, bahwa terhadap anak yang sudah mengerti aurat wanita berlaku pula syariah tutup aurat. Batasan kapan anak mengerti, memang berlainan tiap anak, tetapi pada umumnya menjelang masa pubertas mereka, maka sebaiknya, pada mereka diajarkan adab memandang lawan jenisnya. Selain tidak boleh tidur bersama mereka juga tidak juga boleh mandi bersama orang tuanya dalam keadaan telanjang.

Mereka juga harus diperingatkan jangan memasuki tempat-tempat berkumpulnya lawan jenis mereka. Katakan sebenarnya Dalam mengajarkan anak hendaknya tidak menggunakan bahasa perlambang namun katakanlah apa yang benar dan wajar sesuai dengan umur si anak, karena itu bukan suatu yang memalukan.

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *