Kejujuran Itu Harga Mati

Ustadz Ibnu Katsir menyebutkan bahwa cara yang baik dan paling aman dalam menafsirkan Al Qur’an adalah :

Pertama, Menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an. Sesungguhnya antara satu ayat dengan ayat lainnya kadang saling menjelaskan, apa yang tidak jelas pada salah satu bagiannya akan dijelaskan pada bagian lainnya. Yang kita lakukan di sini adalah merujuk kepada Pemilik Al Qur’an dalam menafsirkan maksud dan kehendak-Nya yang tertera dalam firman-Nya. Sebab Dialah yang lebih tahu apa yang Ia sampaikan dan apa yang Ia inginkan.

Kedua, jika penjelasan itu tidak dapat kita temukan dalam Al Qur’an, langkah selanjutnya adalah Menafsirkan Al Qur’an dengan Sunnah Rasulullah saw. Rasulullah saw. adalah utusan Allah yang bertugas menyampaikan wahyu kemada umat manusia. Karena itulah ia lebih mengerti maksud dan kehendak-Nya. Allah swt. telah menjamin bahwa Rasulullah saw. tidak pernah mengucapkan sesuatu dari hawa nafsunya tapi selalu dengan bimbingan wahyu. Karena itu, merujuk pada tafsirnya tentu lebih utama dan lebih layak daripada yang lain. Sebagai penguat apa yang dikatakan di atas, silakan perhatikan firman-firman berikut,

“Agar kamu (Nabi Muhammad) menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (Q.S. An-Nahl 16:44). “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Muhammad 47:24).

Yang dimaksud dengan mengajarkan ayat-ayatnya kepada mereka adalah menjelaskan makna-makna dan hukum-hukumnya.

Ketiga, jika kita tidak menemukan penjelasan itu dalam sunnah Rasulullah saw., langkah selanjutnya adalah Menafsirkan Al Qur’an dengan pendapat para shahabat. Shahabat adalah umat Islam yang pernah bertemu dengan Rasulullah saw. para shahabat menyaksikan proses turunnya Al Qur’an kepada Rasulullah saw., mengetahui sebab-sebab, serta berbagai situasi dan peristiwa saat Al Qur’an diturunkan. Di samping itu, merekalah generasi yang lebih memahami pelik-pelik bahasa Al Qur’an sebab Al Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka. Di atas semua itu, mereka telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, percaya pada seluruh kandungan dan makna Al Qur’an, serius dalam memahami dan merenungi makna-maknanya, kemudian mengamalkannya secara konsisten, sepanjang hayat mereka.

Keempat, jika kita tidak menemukan penjelasan dari para sahabat Rasulullah saw., angkah selanjutnya adalah mencari penjelasan dari para tabi’in (Menafsirkan Al Qur’an dengan penjelasan para tabi’in). Tabi’in adalah murid para shahabat. Rasulullah saw. sendiri telah menyatakan bahwa mereka adalah generasi terbaik setelah generasi sahabat. Sabdanya: “Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian zaman sesudahku, kemudian zaman sesudahya lagi.” (H.R. Muslim dari Abdullah, Shahih Muslim, Fadhoilu al-Shahabat, vol.II, hal.503, Daar el-Fikr).

Itulah sebabnya, merujuk pada penjelasan dan tafsir mereka jauh lebih baik dan lebih layak dibandingkan tafsir yang lain. Bertolak dari analisa di atas, bisa kita simpulkan bahwa cara yang paling baik dalam menafsirkan Al Qur’an adalah dengan merujuk pada ayat Qur’an lagi, kalau kita tidak menemukan penjelasannya dalam ayat lain, kita rujuk pada sunah Rasul saw. Kalau dalam sunah Rasul pun kita tidak menemukan penjelasannya, kita rujuk pada pendapat para shahabat. Kalau kita tidak mendapatkan penjelasan dari mereka, maka kita merujuk pada para muridnya, yaitu para tabi’in. Dan kalau kita tidak mendapatkan penafsiran para tabi’in, maka kita diperbolehkan ber-ijtihad (mencurahkan segala potensi intelektual untuk memahaminya). Wallahu A’lam

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *