Mengurus Jenazah Yang Terkena AIDS

AIDS adalah kependekan dari Aquired Immuno Diffeciency Syndrome. Penyakit tersebut berasal dari virus HIV (Human Imuno Diffenciency Virus) atau virus penyebab menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia.

Virus HIV menginfeksi suatu kelompok dari sel darah putih yang disebut helper T-Cells atau sel T pembantu. Sel T pembantu mempunyai pengaturan yang sangat penting dalam sistem kekebalan tubuh manusia. Penyakit ini adalah penyakit yang sangat berbahaya dan dapat menular kepada orang yang sehat, bahkan bisa menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia.

Sampai saat ini, belum ada seorang dokter ataupun lembaga kesehatan internasional –WHO sekalipun- yang sudah menemukan obat mujarab untuk menghancurkan penyakit tersebut. Cara penularan virus HIV atau penyakit AIDS diantaranya melalui jalan hubungan seksual, jarum suntuk, dan penularan pada janin sebelum kelahiran. Apakah AIDS termasuk azab? Ini sangat tergantung pada siapa yang ditimpanya.

Apabila menimpa ahli maksiat, itu bisa merupakan azab. Namun, apabila yang ditimpa penyakit tersebut adalah orang baik-baik atau orang shaleh, itu merupakan ujian. Cara penularan AIDS yang bukan hanya melalui hubungan sex, memungkinkan penyakit tersebut tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat maksiat (berperilaku sex bebas), malainkan dapat pula menimpa orang baik-baik.

Karena itulah, kalau ada seseorang yang terkena AIDS, kita jangan langsung berperasangka negatif terhadapnya. Apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang terkena AIDS? Pertama, ia wajib berobat. Walau sampai saat ini belum ditemukan obat yang akurat untuk penyakit tersebut, namun kewajiban untuk berobat harus tetap dilaksankan karena Islam memerintahkan untuk berupaya mengobati setiap penyakit.

Membiarkan penyakit bersarang dalam tubuh, berari membiarkan diri terjerumus pada kematian, dan Islam mengharamkan hal tersebut. “…dan janganlah kamu membunuh dirimu! Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An Nisa 4:29)

Maksudnya, apabila sakit, berobatlah secara optimal sesuai dengan kemampuan karena setiap penyakit sudah ditentukan obatnya. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa seorang Arab Badui mendatangi Rasulullah saw. Seraya bertanya, “Apakah kita harus berobat?” Rasulullah menjawab, “Hai hamba Allah, berobatlah kamu, sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan juga (menurunkan) obatnya, kecuali untuk satu penyakit.” Para sahabat bertanya, “Apa itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Penyakit tua.” (HR. Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Kedua, berupaya agar penyakit tersebut tidak menular pada orang lain. Ustadz Sayyid Sabiq di dalam kitab Fiqus Sunah mengatakan bahwa barangsiapa yang diuji Allah swt. dengan penyakit menular, sebaiknya ia menahan diri untuk tidak tinggal dengan orang yang sehat dan tidak pula menemani orang yang sehat karena Muhammad saw. telah bersabda, “Tidak boleh masuk orang yang berpenyakit (menular) kepada orang yang sehat.”

Dalam hadits lain diriwayatkan, ketika datang seorang yang berpenyakit patek (nama salah satu penyakit menular saat itu) untuk berbaiat kepada Rasulullah saw., Rasulullah kemudian mengutus seorang untuk membaiatnya dan nabi tidak mengizinkan oran gitu memasuki Madinah.

Bagaimana sikap kita terhadap orang yang terkena AIDS? Seperti dikemukakan di atas, penyakit AIDS tidak hanya menyerang ahli maksiat, tapi juga bisa menyerang orang baik-baik. Kerena itulah, apabila ada seseorang yang terkena AIDS, kita wajib memberikan motivasi kepadanya untuk berobat dan bersabar. Andai dalam keluarga kita ada yang terkena AIDS (Naudzubillah!), kita tidak perlu mengucilkannya.

Kita masih dapat bergaul dengan mereka dalam batas-batas tertentu. Berkonsultasilah dengan ahli kesehatan tentang hal apa yang tidak dilakukan saat kita bergaul dengan mereka. Orang yang terkena AIDS sudah pasti menderita, alangkah pedihnya kalau penderitaan mereka ditambah lagi dengan pengucilan oleh keluarga atau masyarakat.


Apabila penderita AIDS meninggal, bagaimana cara memandikannya?

Cara memandikannya sama saja dengan memandikan jenazah yang tidak terkena AIDS. Namun, karena AIDS tersebut tergolong penyakit menular dan sangat berbahaya, alangkah baiknya kalau sebelum memandikannya kita berkonsultasi terlebih dahulu pada ahli kesehatan, apabila virus HIV dapat menular saat kita memandikannya atau tidak. Kalau jawabannya tidak, tentunya tidak ada masalah. Namun, kalau jawabannya dapat menular, jenazah tersebut harus ditangani secar khusus oleh orang yang dianggap mengantisipasi penularan tersebut. Kalau sudah jelas dapat menular, namun kita tetap memaksa memandikannya, hal itu sama saja dengan menjerumuskan diri pada kebinasaan. Firman Allah: “Janganlah sekali-kali kamu mencampakkah diri kamu ke dalam kebinasaan…” (QS. AL Baqarah:195)

Kesimpulannya, penyakit AIDS dapat merupakan azab kalau menimpa ahli maksiat, namun merupakan ujian bila menimpa orang baik-baik atau shaleh. Orang yang terkena AIDS harus kita bantu dengan memotivasinya untuk berobat dan bersabar. Apabila ia meninggal, jenazahnya ditangani sebagaiman kita menagani jenazah-jenazah lainnya, namun kalau menurut ahli kesehatan hal itu dapat menyebabkan penularan, kita harus menyerahkannya pada orang yang memang berkompeten menanganinya. Wallahu a’lam.


Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *