V-Day, Bukan Kasih Sayang Belaka

Salah satu potensi yang Allah sematkan dalam diri manusia yaitu keinginan dan kemampuan untuk menduplikasi/meniru perbuatan atau tingkah laku seseorang.

Proses duplikasi seorang muslim yang menjadikan Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai Nabinya adalah dengan senantiasa berpegang teguh kepada aturan syariat yang telah dicontohkan Rasul-Nya. Apabila keluar dari itu akibat terkontaminasi oleh cara pandang yang lain (yaitu sekulerisme atau ateisme), maka duplikasi yang dilakukan bisa jatuh menjadi perkara yang makruh bahkan haram.

Allah Berfirman :
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”(TQS.Al-An’am :116)

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (TQS.Al-Isra : 36)

“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (TQS.Ali Imran: 85)

Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. Tirmidzi)


***

Pada Ahad malam, 17 Februari 2008 dalam acara “judi modern”, Deal or no Deal, Valentine’s Day (V-Day) dipromosikan juga di sana, pasangan penjudi telah memperoleh tawaran dari bankir sejumlah di atas Rp.300-juta, akhirnya jatuh menjadi Rp.1-juta.

Apa itu V-Day , yang diramaikan setiap 14 Februari ?

Ada beberapa catatan berkenaan tanggal 14 Februari. Pertama, bangsa Romawi merayakan acara untuk memperingati suatu hari besar mereka, yang jatuh setiap 14 Februari, yang mereka namakan Lupercalia. Peringatan ini dirayakan guna menghormati Juno (Tuhan Wanita) dan Perkawinan. Pada saat itu, pasangan kekasih saling tukar bertukar hadiah sebagai pernyataan cinta kasih. Acara ini dilanjutkan dengan pesta pora seksual/hura-hura/mabuk-mabukan bersama pasangan masing-masing.

Kedua, adalah konon seorang Bishop di Terni, satu tempat sekitar 60 mil dari Roma melawan Pemerintah Imperum Romawi karena mengawinkan seorang serdadu Romawi. Pasalnya itu adalah pelanggaran karena menurut undang-undang Imperium Romawi serdadu itu tidak boleh kawin. Bishop itupun ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara, yang kemudian menjalani hukuman dipancung di Roma sekitar tahun 273 Masehi. Sebelum kepalanya dipenggal, Bishop itu mengirim surat kepada para penjaga-penjaga penjara dengan mendo’akan semoga bisa melihat dan mendapat kasih sayang Tuhan dan kasih sayang manusia.

“Dari Valentinemu” demikian tulis Bishop yang bernama Valentine itu pada akhir suratnya, yang bertanggal 14 Februari 270 M, sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang.

Ketiga, Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang berarti ‘galant atau cinta’. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Dengan berkembangnya zaman, seorang ‘martyr’ bernama St. Valentino mungkin akan terus bergeser jauh pengertiannya(jauh dari arti yang sebenarnya). Manusia pada zaman sekarang tidak lagi mengetahui dengan jelas asal usul hari Valentine. Di mana pada zaman sekarang ini orang mengenal Valentine lewat (melalui) greeting card, pesta persaudaraan, tukar kado(bertukar-tukar memberi hadiah) dan sebagainya tanpa ingin mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1700 tahun yang lalu.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa moment (hal/saat/waktu) ini hanyalah tidak lebih bercorak kepercayaan atau animisme belaka yang berusaha merusak ‘akidah’ muslim dan muslimah sekaligus memperkenalkan gaya hidup barat dengan kedok percintaan, perjodohan dan kasih sayang.

Adalah fakta bahwa secara global perayaan Hari Valentin itu lebih banyak dipengaruhi oleh perayaan Lupercalia bangsa Romawi berupa pesta seksual/hura-hura/mabuk-mabukan tersebut. Bahkan ditimba dari oyr79.com: Pemerintah kota New York menyemarakkan Valentine’s day dengan membagi-bagi kondom gratis, pakai bungkus resmi Pemda. Disain bungkusnya disertai kalimat pemikat, “Get Some”. Demikian tampilan baru Kondom NYC (New York City) yang meliputi disain bungkus yang lebih segar, dan tempat.

Bagimana Muslim harus bersikap?

Valentine’s Day (bahasa remajanya : V-Day) sangat jelas bukan berasal dari Islam.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, “Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram.”

Abu Waqid meriwayatkan bahwa, Rasulullah SAW saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah SAW berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah bersabda, “Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian.” (Riwayat Tirmidzi, ia berkata, Hasan Sahih).

Syeikh Muhammad al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan,
“Merayakan Hari Valentine itu tidak boleh, kerana alasan berikut:
Pertama; ia merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syariat Islam.
Kedua; ia akan menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara yang tidak berguna seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para Salafus Sholeh.

Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling bertukar hadiah atau selainnya. Hendaklah setiap Muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah SWT melindungi kaum Muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.”

Sebuah catatan tambahan ingin saya sampaikan pula,
Berkata penyanyi Zulkifli Nordin (Penyanyi di Malaysia) di dalam kaset ‘MURTAD’:

“Valentine” adalah nama seorang paderi (dalam islam : ‘Syuhada’). Namanya Pedro St. Valentino. 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Spanyol. Paderi ini umumkan hari tersebut sebagai hari ‘kasih sayang’ karena pada nya Islam adalah ZALIM!!! Tumbangnya Kerajaan Islam Sepanyol dirayakan sebagai Hari Valentine. Semoga Anda Semua Ambil Pengajaran!!! Jadi.. mengapa kita ingin menyambut Hari Valentine ini karena hari itu adalah hari jatuhnya kerajaan Islam kita di Spanyol.

Dari pembahasan di atas, saya ingin memberikan catatan penutup :
1. Seorang Muslim haruslah berprilaku sesuai dengan tuntunan Islam saja, dan tidak meniru suatu perbuatan yang berasal dari cara pandang hidup umat lain (sekulerisme atau atheisme)

2. Valentine’s Day adalah perayaan yang berasal dari luar Islam. Ia adalah perayaan untuk memperingati pendeta St. Valentin yang dihukum mati karena menentang Kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda, juga dicatatan lain perayaan itu ditujukkan untuk mengenang Kemenangan Nasrani terhadap Islam di Spanyol.

3. Kaum muslimin harus berjuang (dengan da’wah) membersihkan racun ini –pemikiran & ritualnya- dari tubuh kaum muslim lainnya dengan menggiatkan kajian-kajian yang bisa melemahkan virus ini bahkan kalau bisa mematikannya.







* * *
[Ibnu Khaldun Aljabari, 10/02/09]

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *