Istikharah Sebelum Memilih…

Ragu-ragu…bingung dan bingung… Banyak orang yang masih ragu dan bingung untuk memilih caleg di pemilu nanti, bahkan isu golput pun menjadi tajuk utama jelang pemilu. Banyak partai dan calon legislatif yang tampil dalam bursa pemilu, menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya fenomena ini. Di samping, ragam berita tentang oknum anggota dewan yang korup, suka berbuat kemudharatan, dan tidak aspiratif telah membuat telak umat apatis terhadap wakil rakyat.

Fenomena yang berhembus di tengah masyarakat ini sungguh memprihatinkan semua pihak. Di sisi lain rakyat semakin greget ingin mempunyai wakil rakyat dan pemimpin bangsa yang amanah, jujur, dan bertanggungjawab kepada rakyatnya. Sedangkan DPR masih dalam kondisi berbenah diri dalam memperbaiki lembaga perwakilan rakyat ini pada peran dan fungsinya yang sehat dan maslahat bagi umat.

Dengan adanya pemilu, 9 April 2009—yang tinggal hitungan hari lagi, diharapkan seluruh komponen bangsa, khususnya umat Muslim bisa ikut andil dalam memberikan haknya dalam pemilu untuk memilah dan memilih para wakil rakyat yang paripurna dalam memperjuangkan kepentingan bangsa dan agama. Diawali dengan penuh keyakinan bahwa dalam sekian banyak caleg, ada calon-calon yang diharapkan segenap umat.

Saking sangat strategisnya andil umat dalam pemilu, para ulama dan tokoh muslim yang peduli kepada masa depan bangsa pun ikut mengkampanyekan agar segenap umat bisa memberikan hak suaranya di pemilu nanti tanpa bingung dan ragu-ragu. Sebagaimana yang dinyatakan KH. Saiful Islam Mubarak, Lc., M.Ag, saat diminta tanggapannya tentang isu golput dan keraguan umat dalam memilih caleg.

“Banyak hal yang melatarbelakangi kenapa umat Muslim hari ini ragu, bingung, khususnya bagi mereka yang berniat golput. Bisa karena hal teknis, seperti tidak menerima surat pemilih, panggilan memilih tidak sampai, atau saat memilih tidak berada di tempat. Atau boleh jadi mereka yang golput itu tidak sengaja. Misalnya, pedagang. Karena takut kehilangan pelanggan, terpaksa tidak datang ke TPS dengan alasan tidak ada menjaga warung atau jongko dagangannya. Kalau ditinggal merasa rugi,” ujar Saiful Islam beberapa waktu lalu di kediamannya.

Selain itu, menurut Saiful, barangkali tidak ada yang dikenal calon yang akan dipilih. Dan ini bukan salah mereka, boleh jadi calonnya yang kurang bersosialisasi. “Tapi kalau memang ada orang-orang yang sengaja tidak ikut andil dalam pemilu. Barangkali mereka ini punya program lain yang tidak kita ketahui, tapi untuk kepentingan bangsa juga. Tentu hal ini perlu kita kaji lebih rinci apa yang menjadi penyebabnya,” lanjutnya.

Jalur yang Benar

Berkaitan dengan hal itu, dapat kita kaji (Q.S. An-Nisa’ [4]: 59), “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu….”. Berkaitan dengan ayat ini, Saiful menafsirkan, “Bagaimana mungkin bisa mentaati pemimpin, bila kita sendiri tidak memiliki pemimpin. Apalagi kepemimpinan ini diberikan kepada orang lain. Dengan demikian, jika kita perhatikan ayat ini, golput jelas telah mempersilahkan orang lain menjadi pemimpin dirinya (kaum muslim. red)”.

Selanjutnya, Saiful menegaskan bahwa bila yang terpilih dari kaum mukminin dan memilihnya dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt., maka tentunya pemimpin terpilih pun akan taat kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Jika kaum mukminin banyak yang golput, betapa hancur bangsa ini, dan dosanya kita karena negara akan dipimpin oleh orang yang tidak bertanggung jawab di hadapan Allah Swt.

Menurut Saiful, kita sebagai muslim, ada jalur untuk mencari yang benar. Yakni melalui istikaharah kalau memang dengan musyawarah belum ditemukan jawabnya. Kita punya ilmu dan iman. Memohon kepada Allah Swt. bimbingan dan petunjuk siapa kiranya yang harus kita pilih. Jika dari sekian banyak calon belum ada yang bisa dipercaya. Ya, tentu Allah Swt. Maha Tahu siapa yang tidak layak dipercaya dan siapa yang layak dipercaya. Jadi memohon bimbingan kepada Allah Swt. adalah kuncinya.

Caleg itu Amanah

Mencalonkan diri sebagai anggota legislatif harus didasari keimanan dan ketakwaan, diniatkan untuk jalan ibadah kepada Allah Swt. sebagaimana yang dinyatakan Saiful. “Sederhana saja, kita hanya ingin membina umat, ingin berdakwah, dan ingin memperbaiki kondisi dengan petunjuk Allah Swt. dan Rasul-Nya. Sederhana saja tapi prakteknya yang berat,” ujarnya seraya tersenyum.

Baginya, dengan menjadi caleg ini bukan berarti berpindah profesi melainkan menambah pekerjaan, menambah amanah. Caleg itu tugas, bukan tujuan. Sukses tidak sukses, harus dikerjakan secara istiqamah dan ikhlas. Yang utama bagi Saiful Islam adalah bisa sukses di hadapan Allah Swt.

“Tujuan saya bukan mencari kesuksesan demokrasi, tapi mencari ridha Allah Swt. Kita tidak dapat mengetahui hati para caleg. Buat kita harus meluruskan niatnya. Apalah artinya kita menjadi caleg, jika usia kita belum tentu sampai pada pemilu. Kalau tidak niat karena Allah kita akan rugi. Bila niat kita karena Allah, jadi tidak jadi, usaha kita tidak akan sia-sia karena semua atas nama Allah,” ungkap Saiful.

Kerjakanlah istikharah untuk menentukan siapa calon dan partai yang harus dipilih. Bagi yang senantiasa bangun malam, berdoalah bagi kaum muslimin agar mendapat bimbingan dari Allah Swt. siapa yang akan mereka pilih dan diridhai-Nya. Siapapun dan dari partai mana pun, mudah-mudahan orang yang dipilih adalah orang-orang yang memiliki tanggung jawab di hadapan Allah Swt. Apalagi pemimpin yang suka sujud, menangis di hadapan Allah Swt., dan apabila masyarakat memilih partai yang shaleh, insya Allah, negara menjadi baik.

Oleh : KH. Saiful Islam Mubarak, Lc., M.Ag

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *