Waspadai Walid-walid Politik

Pada zaman Nabi SAW, pernah meletus konflik antara kubu Bani Al-Musthalik dengan kabilah Walid bin Uqbah. Rasa dendam Walid memuncak dan mendistorsi pandangannya. Ketika dia melihat Bani Al-Musthalik berkumpul untuk menyambut utusan Rasulullah SAW, dia mengira mereka akan menyerangnya. Walid pun segera kembali ke Madinah, melaporkan bahwa Bani Al-Musthalik murtad dan tengah mempersiapkan pemberontakan.

Hampir saja Rasul yang mulia menyerang Bani al-Musthalik. Lalu turunlah surat Al-Hujurat ayat 6, ‘Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik yang membawa berita, telitilah lebih dahulu supaya kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuanmu. Lalu kamu menyesali apa yang kamu lakukan.’

Tak ayal lagi, Walid pun dipersonifikasikan Al Qur’an sebagai orang fasik yang memiliki pekerjaan unik, yakni menyebarkan isu di kalangan kaum Muslim, entah itu mendiskreditkan suatu kelompok atau merusak citra seseorang. Di masa Nabi SAW, orang yang mendapat gelar fasik tidak hanya Walid. Ada pula Syas bin Qais, seorang Yahudi yang menyebarkan isu di antara kaum Anshor dan Muhajirin hingga kedua kubu berada dalam atmosfer ketegangan.

Tapi, mengapa ayat di atas turun untuk menyikapi kasus Walid seorang, padahal masih banyak ulah orang-orang fasik lainnya yang jelas-jelas merugikan umat Islam? Jawabannya cukup gamblang, Walid lebih berbahaya ketimbang Syas karena ia seorang Muslim, sehingga kefasikan dan muatan politisnya tidak mudah terbaca.

Beda dengan Syas yang posisinya diketahui berada di luar garis kaum Muslim, sehingga tujuan politis dari isu yang dilemparkannya tak lain adalah menghancurkan Islam. Di tengah kondisi bangsa yang sedang dilanda kemelut sosial, politik, dan ekonomi ini, manusia-manusia bermuka ‘walid’ pun tak terelakkan kemunculannya. Apalagi dalam waktu-waktu ini, pesta politik lima tahunan sedang digelar.

Walid-walid politik mulai beraksi, menjatuhkan kelompok-kelompok yang teridentifikasi sebagai lawan. Tujuannya cuma satu, yaitu kekuasaan; dan rakyat lagi-lagi menjadi korban. Dalam menyikapi permasalahan ini, umat Islam harus jeli dan waspada terhadap setiap informasi yang masuk ke telinga, entah sumbernya media elektronik atau cetak seperti televisi, koran, buletin, pamflet, dan sebagainya.

Lantas bagaimana bentuk kewaspadaannya? Surat Al-Hujurat ayat 6 di atas memerintahkan kita untuk mengklarifikasi atau meninjau ulang setiap berita yang sampai, terutama yang bersumber dari agen-agen ‘busuk’ di sekeliling kita. Perintah Alquran tentu membawa hikmah agar kita tidak mudah teradu domba dan terseret arus perpecahan.

Waspadalah3x..




Artikel Kiriman Jamaah MPI

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *