Menguatkan Fondasi Spiritual Anak

Dalam salah satu kesempatan, saya pernah menghadiri perayaan ulang tahun seorang anak. Sebut saja Annisa namanya. Di usianya yang ke 10, Annisa merayakan ulang tahunnya di salah satu Panti Asuhan yang ada di Daerah Bandung.

Ada kalimat terlontar dari Annisa seputar alasan mengapa Ia merayakan ulang tahun di Panti Asuhan bersama anak-anak yatim piatu. Annisa ingin berbagi dengan anak-anak yang kurang beruntung. Daripada merayakan pesta dengan menghabiskan uang juta rupiah hanya untuk sewa acara dan senang-senang, mendingan berbagi dengan anak yatim piatu. Biar kita bisa merasakan arti berkekurangan itu dan melatih rasa syukur atas nikmat yang di berikan Allah.

Kurang lebih seperti itu harapan Annisa menggelar acara ulang tahun di Panti Asuhan. Fenomena anak merayakan ulang tahun di panti asuhan memang masih bisa dihitung jari. Tidak semua anak yang secara langsung menyadari motivasi dan harapan itu, bahkan mungkin sebagian dari mereka belum mengerti arti dari ulang tahun dan apakah memang harus dirayakan. Biasanya orang tua yang berinisiatif untuk merayakan ulang tahun anak-anaknya.

Terlepas dari kontroversi boleh tidaknya melangsungkan acara ulang tahun di kalangan umat Islam, setidaknya ada hal positif yang harus kita sambut dari fenomena ini.

Salah satunya adalah melatih anak untuk peka terhadap keadaan di sekitarnya. Anak akan melihat kenyataan bahwa tidak semua keadaan baik dan berkecukupan yang ia dapatkan dari keluarganya dimiliki pula oleh anak-anak yang lain. Mungkin anak juga akan mengenal konsep kaya dan miskin, susah dan mapan, dan sebagainya.

left Dalam prosesnya nanti anak mampu membuat relasi (hubungan) antara keberadaan dirinya dengan keadaan lain di sekitarnya. Misalnya, anak akan belajar bahwa ternyata kewajiban orang yang berkecukupan (kaya) memiliki kewajiban untuk membantu yang berkekurangan (miskin), anak yang bahagia karena masih memiliki ayah dan ibu memiliki kewajiban untuk peduli terhadap anak yang sejak kecil sudah ditinggal orang tuanya, dan mungkin juga hubungan hal yang lainnya.

Kemampuan anak untuk membuat berbagai relasi sudah mereka dapatkan sejak awal pertumbuhannya. Itulah sebabnya anak sering disebut-sebut sebagai pembelajar aktif. Mereka akan memroses, memperluas, serta merekrontruksi berbagai pengalamannya menjadi pengetahuan yang akan membentuk pemahaman mereka sendiri tentang dunia di sekitar mereka.

Sejak kelahirannya, anak secara aktif terlibat dalam menyusun pemahamannya sendiri melalui berbagai pengalaman yang mereka dapatkan. Anak akan melihat banyak objek, berbagai persitiwa, mengamati apa yang terjadi, merefleksikan dalam temuan-temuan mereka, mengajukan berbagai pertanyaan, dan memformulasikan jawaban-jawaban.

Meskipun anak-anak adalah pembelajar yang aktif, namun pada setiap anak terdapat perbedaan dalam menafsirkan apa yang mereka ketahui. Setiap anak akan menampilkan ekspresi yang berbeda-beda dari setiap hal yang dilihatnya. Masing-masing memiliki cara pandang sendiri terhadap setiap peristiwa yang dilihat dan dialaminya. Mungkin sebagian besar anak-anak merayakan ulang tahun, dan memaknainya sebagai ”pesta”, mengundang teman-temannya untuk sekedar makan-makan, nyanyi-nyanyi, dan bermain hingga memakan biaya yang besar. Berbeda sekali dengan acara ulang tahun yang dilaksanakan di panti asuhan bersama anak yatim piatu.

Kejadian di atas sungguh memberikan inspirasi bagi saya, bahwa ada hal-hal yang terkadang membutuhkan proses yang sedemikian berat – keadaan yang melebihi situasi normal – dan menuntut anak untuk berpikir lebih jauh dan lebih mendalam lagi. Inilah yang dikatakan Ratna Megawangi sebagai proses berpikir pada tahapan lebih tinggi (meta-cognition). Setiap anak punya potensi untuk berpikir pada tahapan ini dengan melibatkan anak berdiskusi dan berpikir (reasoning) dalam mempelajari segala kejadian, hingga mendorong anak untuk merefleksikan apa yang telah dikatakan atau diperbuatnya.

Anak akan belajar memberikan pemaknaan yang lebih mendalam lagi dalam setiap aktivitasnya. Ia akan melihat bahwa keberadaan dirinya diantara sekian banyak pertalian dengan lingkungannya bukan sekedar hubungan kebiasaan yang ”apa adanya” dan hampa makna. Ia akan ”menciptakan makna” dari hubungannya dengan Tuhan sebagai penciptanya, relasi dengan anggota keluarga, pertemanan yang dijalinnya selama ini, sekolah yang dijalaninya, serta kehidupan yang sedang dilaluinya. Sehingga diharapakan suatu saat nanti anak akan tumbuh menjadi orang yang mampu mengontrol tindakannya agar senantiasa bermakna (membawa kebaikan), dan tidak membuat kerusakan.

Inilah yang Saya maksud engan Penguatan Fondasi Spiritualitas anak. Menerapkan fondasi spiritual anak sangatlah penting di tengan krisis makna dunia anak dan remaja dewasa ini. Perilaku hedonisme, dan juga gejala lainnya yang mengarah pada krisis makna hidup anak dan remaja tentunya sangat ditentunkan oleh pendidikan spiritual seperti ini.

Jika anak-anak sejak kecil sudah dilatih untuk menemukan makna dalam setiap aktivitasnya secara positif seperti dilatih untuk berempati, mau berbagi, bertanggung jawab dan selalu ingin berguna bagi orang lain, serta diteguhkan keyakinan dalam hatinya dengan keimanan dan akhlak mulia, Insya Allah anak kita akan tumbuh menjadi remaja yang memiliki ketahanan yang kuat dalam menolak berbagai hal yang menjurus pada budaya hedonisme yang akan merugikan hidup dan kehidupannya dikemudian hari.


../images/yogisugiar.gif

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *