DISAAT KEIMANAN MENURUN

Alhamdulillah, ada beberapa e-mail yang masuk ke saya, mereka bertanya tentang ‘Bagaimana trik yang harus kita lakukan ketika keimanan kita menurun?’.

Tulisan ini merupakan jawaban untuk para pembaca yang ingin meningkatkan keimanan, ketika keimanannya berada di garis bawah.
Dalam menjalani hidup, khususnya dalam beribadah, adakalanya keimanan kita meningkat, kita rajin shaum senin-kamis, rajin shalat tahajjud, rajin ke majelis taklim, selalu berbagi kepada sesama dan lain sebagainya (pokoknya kita rajin beramal!).

Namun, adakalanya keimanan kita menurun. Tidak pernah shaum senin – kamis, susah bangun malam untuk melaksanakan tahajjud, tidak pernah ke majelis taklim, dan lain sebagainya.

Dalam tulisan sebelumnya dijelaskan, bahwa keimanan kita selalu fluktuatif – terkadang naik, terkadang pula turun -. Syukur-syukur kalau keimanan kita selalu meningkat – walaupun kita sendiri susah untuk mengukurnya -. Namun, bagaimana jika keimanan kita selalu menurun. Apa yang harus kita lakukan? Amalan apa yang perlu kita kerjakan?

Dalam hal ini, Ada beberapa trik yang harus kita lakukan disaat keimanan kita menurun, yaitu:

1.    Tadabur Al-Qur’an

Hal ini termasuk amalan paling mulia yang dapat menyebabkan bertambah kokohnya keimanan. Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai penerang bagi hamba-hamba-Nya, sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira dan peringatan bagi orang-orang yang mengingat-Nya.

Didalam Al-Qur’an terdapat ayat yang menerangkan tentang perkara ini, yaitu, “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan sebuah Kitab (Al-Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami. Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-A’raf 7 : 52)

Ayat ini menerangkan keutamaan Al-Quran. Orang yang mentadaburi Al-Qur’an akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang menjadikan imannya semakin kokoh, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka dan kepada Rabblah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal 8 : 2)

Ayat di atas adalah dalil yang sangat jelas dalam menerangkan pentingnya mentadaburi Al-Quran. Inilah yang paling tinggi kedudukannya dan menyebabkan bertambahnya iman. Ibnul Qayyim pernah berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Quran dengan tadabur dan tafakur.”

Tadabbur sering diartikan “menganalisa kebenaran Al-Qur’an”, sedangkan tafakkur sering diartikan dengan “memikirkan kebenaran Al-Qur’an”. Bagi seorang muslim yang hidupnya selalu memikirkan dan menganalisa kebenaran Al-Qur’an, maka hidupnya akan dihiasi dengan keimanan, yang mampu menusuk kedalam jiwanya, dan diaktualisasikan dalam kehidupannya sehari-hari.

2.    Memperbanyak Do’a dan Zikir

Do’a adalah permohonan kepada Allah SWT., dan Allah Maha Tahu keinginan setiap hamba-Nya. Allah melimpahkan rahmat-Nya sebelum diminta, namun Allah menyuruh manusia agar berdo’a kepada-Nya.

Ini sebagai identifikasi bahwa manusia adalah makhluk Allah, sebagai hamba Allah yang harus memohon dan mengikuti aturan-Nya, agar dalam mencapai apa yang diinginkannya senantiasa berada dalam kebenaran.

Orang yang selalu berdo’a kepada Allah adalah sebagai indikator orang yang akrab (dekat) dengan Allah, dan Allah pun akan akrab bahkan akan mengabulkan do’a hamba-Nya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada-Ku tentang Aku. Maka (jawablah) bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia memohon kepada-Ku maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berdo’a dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah 2 : 186).

Sebaliknya orang yang malas/tidak berdo’a kepada Allah termasuk kategori orang-orang yang sombong. Allah tidak menyukai kepada orang-orang yang menyombongkan diri, “Berdo’alah kepada Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang meyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. Al-Mu’min 40 : 60).

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik) : “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada do’amu.” (Q.S. Al-Furqaan 25 : 77). Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa tidak (pernah) berdo’a kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.” (H.R. Muslim).

Orang yang menghindar dari rahmat Allah, hidupnya akan selalu ragu, penuh kekhawatiran, gelisah dan dihinggapi rasa takut, disebabkan oleh ketidakpastian dan buruk sangka kepada Allah.

Misalnya, seorang siswa yang tidak yakin dan meragukan terhadap kejujuran gurunya atau khawatir gurunya tidak berlaku adil didalam memberikan kelulusan, maka siswa tersebut akan selalu dilanda resah dan gelisah sebelum tes berakhir, walaupun sudah berusaha belajar semaksimal mungkin.

Orang yang yakin atau percaya kepada Allah Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana, maka kegelisahan dan ketakutan akan terangkat dan terhapuskan berganti dengan kenyamanan dan ketenangan. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (Q.S. Ar-Ra’d 13 : 28)

Sedangkan, Zikir artinya ingat atau mengingat. Dzikrullah artinya selalu mengingat Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam zikir.

Pertama, zikir lisan, artinya ingat kepada Allah dengan melafazkan ucapan-ucapan zikir seperti Subhannallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha illallah.

Kedua, zikir amali, artinya zikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk penerapan ajaran-ajaran Allah SWT dalam kehidupan. Misalnya, jujur dalam bisnis, tekun saat bekerja. Hati akan teguh kalau hidup selalu diisi dengan zikir lisan dan amal.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah dengan menyebut nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q.S. Al-Ahzab 33: 41 – 42).

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah 2 : 152)

Kalau hidup kita selalu dibarengi dengan do’a dan zikir, niscaya hidup kita akan selalu tenang dan tentram, dan hati kita akan selalu memancarkan keimanan.

3.    Selalu Muraqabah

Muroqobah adalah suatu kondisi psikis yang selalu merasa ditatap, diawasi dan dilihat oleh Allah, mempunyai jiwa ihsan sehingga hidupnya menjadi hati-hati dan selalu mawas diri, cepat menyadari kesalahan, kemudian mohon ampun atas dosa-dosa dan memperbaiki dirinya.

Allah SWT berfirman, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imran 3 : 135).

Apabila seseorang didalam menjalani kehidupan ini selalu merasakan bahwa Allah melihatnya, maka setiap perbuatannya akan selalu berada dijalan-Nya dan akan cepat melihat kesalahan dirinya apabila melakukan kesalahan dan kembali kepada jalan yang Allah ridlai, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hasyr 59 : 18)

4.    Menghadiri Majelis Taklim

Islam bukan saja mementingkan aspek lahiriyyah, tetapi juga mementingkan aspek ruhaniyyah. Tanpa ada kesinambungan di antara kedua aspek terebut, maka orang tersebut akan hidup dalam ketimpangan.

Terlebih musuh-musuh kita senantiasa berusaha untuk menyelewengkan diri kita dari ajaran yang sebenarnya. Untuk membentenginya, diperlukan upaya khusus secara berkesinambungan demi tercapainya kehidupan kita secara berimbang, berupa tarbiyyah ruhiyyah (pembinaan mental melalui ilmu-ilmu agama) sebagai penyucian diri serta membangun benteng keimanan dalam menghadang segala serangan yang dapat menjerumuskan diri kita kepada kenistaan.

Kita mesti menyadari pentingnya mengikuti majelis ta’lim, seiring kesadaran kita akan pentingnya ilmu, khususnya ilmu-ilmu agama.
Perintah dalam menuntut ilmu sangat banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits. Misalnya firman Allah SWT, “Maka bertanyalah kepada ahludz dzikir (ahli ilmu / ulama) jika kamu tidak mengetahui.” (Q.S. An-Nahl 16 : 43). “Ahludz-Dzikir” dalam ayat tersebut menurut Imam Ibnul Qayyim adalah, ” orang yang paham tentang apa-apa yang diturunkan Allah kepada para Nabi.”

Perintah bertanya dalam ayat tersebut menunjukkan pentingnya sebuah pertemuan dalam rangka pembelajaran antara orang yang berilmu dengan orang yang belajar ilmu dalam sebuah kelembagaan, baik formal maupun nonformal, berkala atau tidak, yang sering kita sebut dengan ”Majelis Dzikir”.

Namun sebagian besar ulama memaknai kata majelis dzikir bukan sebagai majelis untuk berdzikir secara lisan, tetapi dalam pandangan mereka majelis dzikir adalah majelis tempat diajarkannya ilmu agama.
Imam Asy-Syathibi menjelaskan, “Majelis dzikir yang sebenarnya adalah majelis yang mengajarkan Al-Qur-an, ilmu-ilmu syar’i (agama), mengingatkan umat tentang sunnah-sunnah Nabi agar mereka mengamalkannya, menjelaskan tentang bid’ah-bid’ah agar umat berhati-hati terhadapnya dan menjauhinya. Ini adalah majelis dzikir yang sebenarnya.”

5.    Memperbanyak Amalan-amalan Sunnah

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT berfirman: ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku (kekasih-Ku), maka sungguh! Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya, dan senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya; bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan; jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya”. (H.R. Bukhary)

Melakukan amalan-amalan shaleh, baik ibadah wajib maupun sunnah, dan menjauhi segala bentuk maksiat, baik yang kecil maupun yang besar, maka akan membuat seorang hamba pantas menjadi salah seorang wali Allah yang dicintai-Nya. Dalam ayat-Nya, Allah SWT berfirman, “Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”. (Q.S. Al-Mâ-idah 5 : 56).



Itulah lima amalan penting yang harus kita lakukan untuk meningkatkan keimanan, disaat keimanan kita mengalami penurunan. Bagaimana jika kita baru mampu mengamalkannya sebagian saja? Itu pun ga apa-apa, daripada tidak mengamalkan sama sekali (Syukur-syukur jika kita mampu meningkatkan keimanan kita secara drastis dengan melaksanakan kelima amalan diatas) .

Karena, dalam meningkatkan keimanan butuh proses alias bertahap, tidak mungkin keimanan kita secara otomatis berada di garis puncak. Wallaahu’alamu bish-shawab.




Pariwara KII :

1. Download Jadwal KII Agustus 2009
2. Bendel MaPI edisi Jan-Jun 2009

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *