Jujurlah Jika Engkau Mampu…

Dalam bulan Ramadhan yang lalu Ummat Islam telah melaksanakan ibadah puasa, yang bertujuan mengangkat insan ke derajat yang mulia yaitu taqwa.

Dalam bulan DzulHijjah ini, salah satu bukti ketaqwaan itu diaplikasikan dalam ibadah qurban bagi yang mampu, yang wujudnya taqarrub kepada Allah swt, mendekatkan diri kepadaNya. Pada hari Idul Qurban dan tiga hari (tasyrik) berikutnya ummat Islam dituntut menyembelih hewan kurban dengan semangat taqwa.

Qurban dapat diselami maknanya. Menurut bahasa asalnya yaitu bahasa Al Quran, yang dibentuk oleh 3 huruf Qaf, Ra, Ba, qarraba, artinya mendekatkan diri (kepada Allah swt.). Dalam Q.S. Al-Maidah ayat 27 terdapat ungkapan Qarraba Qurba-nan, yang artinya mendekatkan diri dengan berkurban.

Jadi upacara kurban adalah menyembelih binatang, dagingnya untuk dimakan sendiri dan dimakan oleh fakir miskin sebagai fungsi sosial, darahnya dibuang, tidak boleh dimakan karena najis, jadi sangat jauh dari sakral. Dan arti spiritualnya adalah mendekatkan diri, taqarrub kepada Allah swt. sebagai tanda berbakti kepadaNya, melaksanakan perintahnya dengan semangat taqwa. Demikianlah, menurut bahasa asalnya, yaitu bahasa Al Quran, berkurban bermakna mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan memberikan yang berkualitas kepada orang lain sebagai realisasi taqwa.

Ibadah qurban merupakan pendidikan keikhlasan dalam beramal. Seorang Muslim yang berqurban pada setiap tahunnya berarti ia telah melakukan sebuah latihan beramal yang diliputi oleh rasa ikhlas. Ikhlas dalam beramal merupakan salah satu kunci dalam beribadah qurban, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabiullah Ibrahim as.

Sejarah Nabi Ibrahim sudah seharusnyalah kita ketahui bersama dalam rangka memetik hikmah dari tauladan yang ditampakkan beliau. Sejarah yang peling penting yang patut kita contoh yakni sejarah kehidupan beliau bersama anaknya Ismail. Kenyataan ini menjadi contoh teladan yang baik sekali bagi manusia dan kemanusiaan yang secara fitrah manusia itu cenderung kepada penghambaan diri hanya kepada Allah, yang dimanifestasikan dalam bentuk ibadah. Karena untuk kepentingan ibadah itulah manusia itu diciptakan oleh Allah. Dan dengan jiwa keibadahan itulah manusia mampu mencapai kesucian jiwa.

Keberibadatan kita sebagai manusia tidaklah semata-mata dicapai dengan ibadah makhdah. Ibadah juga terkandung makna hubungan yang sangat erat dengan manusia dan kemanusiaan. Atau bahkan juga berhubungan dengan lingkungan. Itulah yang secara gamblang diisyaratkan dalam firman-Nya, “Mereka diliputi kehinaan dimanapun mereka berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.” (Ali Imran : 122)

Dari ayat di atas, Allah swt. mengajarkan kita bahwa dalam pengagungan Dzat Allah terletak kemuliaan dan kebahagiaan manusia. Bukan hanya kemuliaan dan kebahagiaan di akherat yang kekal abadi, yang setiap mukmin diperintahkan untuk menyiapkan diri. Ibadah qurban mengisyaratkan kepada kita bahwa kemampuan untuk berkorban sebagaimana yang diteladankan oleh keluarga Ibrahim a.s. Benar-benar untuk merealisasikan suatu perhatian manusia dan kemanusiaaan dengan saling tolong-menolong diantara sesama.



Dengan adanya Idul Qurban ini, setidaknya ada hikmah yang bisa kita ambil, yaitu:

Pertama, keikhlasan dalam beribadah merupakan hal yang sangat esensial. Tanpa keikhlasan ibadah akan sia-sia belaka. Bagi mereka yang berqurban tahun ini atau yang akan datang, agar senantiasa ikhlas sehingga amalnya tidak akan sia-sia.

Kedua, kecintaan kita kepada Allah hendaknya melebihi segalanya. Jangan sampai karena anak, istri, (wanita), harta, dan jabatan membuat kita lupa kepada Allah, atau ingat akan tetapi tidak dinomorsatukan. Ini memang berat, tapi jika kita mampu, maka Allah swt. akan membalasnya dengan sesuatu yang besar pula, artinya Allah Maha Adil.

Ketiga, kepatuhan seorang anak terhadap orang tuanya adalah merupakan hal yang sangat penting. Begitu pentingnya, sehingga Allah swt. memperlihatkan kepada kita sebuah pemandangan yang sangat indah, yakni sejarah penyembelihan orang tua terhadap anak kandungnya sendiri, yang mana sang anak “memperlihatkan” ketaatannya kepada kita semua. Sekarang ini, rasanya sangat sulit menemukan orang yang bermental seperti yang diperlihatkan Nabi Ismail as. Untuk itu, tugas para pendidik –terutama para ibu di rumah- untuk tetap istiqamah mencetak generasi-generasi yang cerdas dan Qur’ani.

Keempat, ibadah qurban merupakan ibadah sosial.
Dengan berqurban berarti kita sudah peduli dengan lingkungan disekitar kita, khususnya bagi mereka yang hampir sepanjang tahun tidak mampu menikmati daging, hanya karena tergolong fakir atau miskin. Berqurban berarti ikut membantu meringankan beban penderitaan orang lain. Mungkin saatnya kita senantiasa berempati kepada sesama agar hidup ini penuh berkah dan mempunyai arti tersendiri bagi orang lain dan tentunya bagi Allah swt. Amin…

Selamat Hari Raya Idul Adha 1430H

Penulis :
Teh Emilia

Referensi :
http://waii-hmna.blogspot.com/
http://www.syaharuddin.wordpress.com/

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *