Agar ANGER Tidak Menjadi DANGER

Emosi memiliki jenis yang berbeda-beda. Emosi sendiri bias diwujudkan dengan marah, takut, jijik, sedih, terkejut dsb. Ragam emosi tidak memiliki acuan yang sama dan memiliki gradasi yang berbeda.

Emosi bukanlah marah, melainkan marah adalah bagian dari emosi. Emosi berkembang karena motif dan derjat perasaan. Emosi memiliki hubungan yang mempengaruhi terhadap kebudayaan.

Siapa yang tidak pernah marah?? Saya yakin semua orang pernah mengalami salah satu bentuk emosi itu. Amarah adalah salah satu bentuk emosi yang dimiliki oleh seseorang. Konon perasaan marah adalah manusiawi, muncul sebagai bagian dari usaha mempertahankan hidup. Orang tidak akan diam saja manakala dirinya diserang, diperlakukan tidak adil oleh pihak lain atau melihat sesuatu yang tidak benar. Sehingga secara reflek muncul sifat terebut.

Emosi sendiri memiliki kekuatan yang sangat dahsyat untuk membangun atau menghancurkan kehidupan seseorang. Ketika emosi dikelola dengan baik, kekuatannya dapat membangun kehidupan seseorang menjadi lebih baik, tetapi begitu juga sebaliknya ketika emosi tidak dikelola dengan baik maka akan membuat kehidupan seseorang menjadi tidak baik bahkan danger!!

Saat ini tampaknya banyak orang yang mudah marah atau terpancing emosinya. Bisa jadi marah karena masalah yang besar atau bahkan marah karena hal yang sepele.

Masih teringat dalam memori kita pada juni 2009 lalu, kejadian ibu karsih dan anaknya yang bernama Siti Khotijah yang berusia 12 tahun melakukan bunuh diri dengan membakar dirinya, karena merasa sakit hati oleh ibunya yang selalu memarahinya. Hanya gara-gara hal yang sepele ibunya mudah sekali marah-marah kepada anaknya hingga anaknya merasa kesal dan sakit hati hingga akhirnya melakukan bunuh diri.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan, “Bukanlah maksud beliau melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah sahabat bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan.” Seperti dalam cerita ibu karsih diatas.

Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, “Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani, Shohih)

Seringkali amarah mendekatkan diri kita kepada hal-hal yang berbahaya, ketika ada seorang preman pasar yang dalam keadaan mabuk berat kemudian dia ingin menghisap sebatang rokok, dan dia membeli sebatang rokok kepada pak tua pemiliki kios, kemudian preman tersebut bertanya “berapa harga rokok ini pak tua?” pa tua menjawab “lima ratus” kemudian preman itu mencari uang recehan dan memberikannya kepada pa tua itu, lalu kemudian pa tua itu menghitungnya dan ternyata uangnya hanya ada empat ratus.

Lalu pak tua itu bilang “seratus lagi!” preman itu menjawab “hah?” pak tua itu menjawab “seratus lagi!!” mulai kesal dan preman itu menjawab “seratus lagi?ya udah kasih aku permen kalo lebih seratus”!! pak tua itupun tertawa dan megikhlaskannya.

Bayangkan jiwa pak tua itu menghiraukan preman yang sedang mabuk itu. Mungkin yang terjadi adalah hanya karena uang 100 maka akan jadi 100.000 untuk biaya pengobatan akibat perkelahian…

Lalu bagaimana agar kita dapat memanage diri ketika sedang marah?

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad)

Berikut trik supaya tidak mudah marah :

Pertama, membaca ta’awudz ketika marah.

Rasulullah pernah mengajarkannya kepada dua orang sahabat yang saling mencaci dengan mengatakan, “Sesungguhnya aku akan ajarkan kalian suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilanglah kemarahan kalian, yaitu bacaan A’uudzubilaahi minasysyaithaanirrajiim. “ (HR. Bukhari)

Kedua, mengubah posisi ketika marah.

Jika posisi kita saat kemarahan itu datang adalah berdiri, dianjurkan untuk duduk. Namun ketika posisi marah kita sedang duduk, dianjurkan untuk berbaring. Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian marah, sedangkan dia dalam posisi berdiri, hendakhlah dia duduk. Kalau telah reda atau hilang marahnya (maka cukup dengan duduk saja), dan jika belum reda, hendaklah dia berbaring” (H.R Abu Daud)

Ketiga, diam atau tidak berbicara,
Rasulullah saw bersabda, “Apabila diantara kalian marah, amak diamlah” (HR. Ahmad).

Keempat, berwudhulah.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan itu diciptakan dari api, dan api itu bia padam jika diredam dengan air, maka apabila di antara kalian marah, berwudhulah” (HR. Ahmad)

Kelima, lakukan shalat.
Jika keempat langkah tadi belum mampu meredakan amarah, ambillah langkah pamungkas, yaitu dengan melaksanakan shalat dua rakaat.

Insya Allah dengan shalat kita akan mampu meredakan amarah, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw., “Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya?Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu (amarah), maka hendaklah dia bersujud (shalat)” (H.R Tirmidzi)

../images/mapi/mapi-12-1009.jpg Selain itu, kita juga harus mengetahui, apakah marah yang akan kita lakukan bermanfaat atau tidak. arah yang bermanfaat adalah marah yang tepat dan sudah dikelola dengan baik.

Hal ini jelas tidak mudah, butuh waktu, kesabaran dan hati yang lapang, tapi bukan berarti tidak dapat dilakukan. Seperti; memahami marah yang kemudian adalah mengevaluasi penyebab kemarahannya itu apa, mengelola atau mengekspresikan amarah dengan tepat.

Jika kita punya alasan yang tepat, misalnya bukan hanya meluapkan emosi, tetapi juga demi pembelajaran bagi orang lain, kita dapat mengungkapkan kemarahan kita.

Kemarahan yang bermanfaat tentu saja bukan kemarahan yang ingin membalas atau menyakiti orang lain, melainkan marah yang mendidik dan membangun.

Cara lain yang dapat kita lakukan adalah mengelola dengan mengubah amarah yang kita rasakan menjadi hal yang positif bagi diri kita. Kita juga dapat mengubah energi kemarahan yang kita rasakan menjadi energi yang dapat memotivasi kita melakukan hal yang bermanfaat.

Intinya adalah jangan terjebak pada kemarahan yang dapat merusak hari dan diri kita, tetapi manfaatkanlah kemarahan dengan cara yang tepat.
Sadari, pahami dan kelola dengan tepat emosi marah yang kita rasakan karena kemampuan ini adalah bagian dari kecerdasan emosi yang kita miliki.

Ingatlah “ANGER (amarah) kurang satu huruf dari DANGER (bahaya) dan kendalikan yang pertama (anger) untuk menghindari yang kedua (danger). Kenali sebelumnya tentang motif dan caramu menyalurkan emosi marah. Sudah benarkah? Sudah sesuaikah dijalan Allah?

Oleh: Irma homepi

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *