Etika Manusia Beriman

عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِيْ عَنْ أُمَّتِي : الْخَطَأُ وَالنِّسْيَانُ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ
[حديث حسن رواه ابن ماجة والبيهقي وغيرهما]


Dari Ibnu Abbas radiallahuanhuma : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah ta’ala memafkan umatku karena aku (disebabkan beberapa hal) : Kesalahan, lupa dan segala sesuatu yang dipaksa“ (Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi dan lainnya)

Maraji’ul Hadits (Referensi hadits)
– Shahih Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Kana Yu’minu… Hadits nomor 5672.
– Shahih Muslim, Kitabul Iman, Bab Al-Hatsu ‘Ala Ikrami… Hadits nomor 47.

Ahammiyatul Hadits (Urgensi Hadits)

Ibnu Hajar rahimahumullah berkata, “Hadits ini termasuk jawam’il Kalim (ucapan yang singkat dan padat). Mencakup tiga hal yang menghimpun berbagai akhlak terpuji, baik dalam perbuatan maupun ucapan.
Lebih lanjut, lihat kembali urgensi hadits yang ketiga belas.

Fiqhul Hadits (Kandungan Hadits)

1. Hubungan antar anggota masyarakat.

Manusia hidup di dunia berbaur dengan manusia lain. Satu sama lain tentunya terjalin berbagai hubungan, dan saling membutuhkan. Islam berusaha agar hubungan tersebut terjalin dengan baik dan benar. Ini akan terealisasi ketika antara satu dengan yang lainnya saling menghormati, dan komitmen terhadap adab pergaulan.

Termasuk dalam adab tersebut adalah perkataan baik, menghormati tetangga, menjamu tamu dengan baik. Inilah perkara-perkara yang dianjurkan oleh Rasulullah saw dalam hadits di atas.

2. Membatasi diri untuk berkata yang baik adalah di antara tanda kesempurnaan iman seseorang.

Dalam hadits ini, Rasulullah saw mendorong kita untuk komitmen terhadap etika-etika yang baik dan perbuatan yang bermanfaat. Dorongan tersebut dilakukan dengan cara menjelaskan kepada kita bahwa di antara tanda kesempurnaan iman seseorang adalah membatasi diri berbicara yang bermanfaat baginya, baik yang berhubungan dengan urusan dunia maupun urusan akhirat, dan hal-hal yang membawa manfaat bagi masyarakatnya.

Seorang muslim tidak akan berbicara seputar hal-hal yang bisa membuat rasa sakit dan mengarah pada kerusakan. Karena hal tersebut akan mendapatkan kemarahan dan kebencian Allah swt.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya, dari Anas ra., bahwa Nabi saw. bersabda, “tidak akan lurus (benar) keimanan seseorang, sehingga hatinya lurus, dan tidak akan lurus hati seseorang sehingga lisannya lurus.” Maksudnya, menjaga dari berbagai ucapan yang tidak ada kebaikan sama sekali.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Anas ra. bahwa Nabi saw., bersabda, “Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman, sehingga ia menjaga lisannya.”

3. Banyak bicara yang tidak bermanfaat, penyebab kehancuran.

Kita telah membahas hadits “Diantara kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak berguna”. Membicarakan hal-hal yang tidak ada gunanya, dapat menyebabkan tidak berpahalanya suatu amal perbuatan dan tidak masuk surga. Karena itu, sorang muslim, jika mau berbicara hendaklah berpikir terlebih dahulu.

Jika ia melihat apa yang akan diucapkan adalah kebaikan dan bisa mendatangkan pahala, barulah ia mengucapkannya. Namun, jika keburukan atau sifatnya tidak jelas, maka ia hendaklah menahan dan tidak mengucapkan.

Sikap seperti ini membawa kebaikan dan keselamatan baginya. Karena setiap lafadz yang ia ucapkan akan dihisab. Hanya ada dua kemungkinan, pahala atau disiksa.

Allah swt. berfirman, “Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS.Qaf:18).

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah swt. Ia tidak begitu memperhitungkan kata tersebut, akan tetapi satu kata itu sangat berharga disisi Allah. Seseorang mengucapkan satu kata yang dibenci Allah swt. I tidak begitu memperhitungkan kata tersebut, akan tetapi satu kata itu menyebabkannya masuk neraka.” (HR.Bukhari)

4. Adab Berbicara.

a. Seorang muslim hendaknya senantiasa berusaha membicarakan hal-hal yang mendatangkan manfaat, dan tidak mengucapkan ucapan yang tidak diperbolehkan.

Dalam mensifati orang mukmin, Allah swt berfirman,
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak berguna.” (Al-Mukminun:3)

Perkataan yang tidak berguna tersebut di antaranya ghibah, namimah, mencela orang lain, dan lain sebagainya.

b. Tidak banyak bicara

Seorang muslim hendaknya tidak banyak bicara. Karena dengan banyak bicara, meskipun dalam hal yang dibolehkan, bisa jadi menjerumuskan kepada hal yang dilarang ataupun makruh.

Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian banyak bicara, yang bukan zikir kepada Allah. Karena banyak bicara, yang bukan zikir kepada Allah, akan membuat hati keras. Dan manusia yang paling jauh dari Tuhannya adalah yang hatinya keras.”

Umar ra, berkata, “Barangsiapa yang banyak bicara, tentu banyak salahnya. Barangsiapa yang banyak salahnya, tentu banyak dosanya. Dan barangsiapa yang banyak dosanya maka neraka lebih pantas baginya.”

c. Wajib berbicara ketika diperlukan, terutama untuk menjelaskan kebenaran dan amar ma’ruf nahi munkar.

Ini adalah sikap mulia yang jika ditinggalkan termasuk pelanggaran dan berdosa karena orang yang mendiamkan kebenaran pada dasarnya adalah setan bisu.

5. Berlaku baik kepada tetangga.

Di antara tanda kesempurnaan Iman dan Islam adalah berlaku baik kepada tetangga dan tidak menyakitinya. Dalam firman-Nya, Allah swt telah mensejajarkan perintah berbuat baik kepada tetanga dengan perintah untuk beribadah kepda-Nya. “Dan beribadahlan kepada Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah terhadap orangtua, kerabat dekat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat.” (QS.An-Nisa:36).

Berbuat baik terhadap tetangga merupakan keharusan. Bahkan perhatian yang diberikan oleh Islam terhadap masalah ini, tidak ditemui diperadaban lain. Lihatlah apa yang diriwayatkan oleh Bukhari, dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jibril terus mewasiatiku perihal tetangga. Hingga saya menyangka bahwa tetangga akan menjadi ahli waris.”

6. Menyakiti tetangga merupakan penyakit iman yang dapat menyebabkan kehancuran.

Islam melarang kita menyakiti tetangga, dan mengkategorikannya sebagai dosa besar yang akan berbuah siksa yang pedih. Menyakiti tetangga juga merupakan penghalang untuk mencapai kesempurnaan iman.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa ketika Rasulullah saw. ditanya tentang dosa yang paling besar, Beliau menjawab, “Menjadikan Allah sekutu, padahal Dia yang menciptakanmu”, Beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?”, Beliau menjawab, “Engkau membunuh anakmu, karena engkau takut ia akan makan bersamamu”, Beliau bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Yakni merayu istri tetanggamu hingga ia bersedia melakukan zina denganmu.

Imam Ahmad dan Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, Fulanah selalu shalat malan dan puasa di siang harinya. Akan tetapi ia sering mencela tetangganya. Rasulullah menjawab, “Ia tidak baik, dan tempatnya adalah neraka.” Disebutkan kepada Nabi saw., bahwa Fulanah hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, dan bershadaqah secuil keju. Akan tetapi tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah saw bersabda, “Ia masuk surga.”

7. Cara berbuat baik kepada tetangga.

Ada banyak cara, diantaranya:

a. Membantu kebutuhannya

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Umar ra berkata, “Jangan sampai seorang mukmin kenyang sedang tetangganya kelaparan.” Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah sempurna Iman orang yang tidur dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahui.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar ra bahwa Rasulullah saw pernah berpesan kepadanya, “Jika kamu memasak masakan yang berkuah, maka banyakkanlah airnya. Lalu berilah mereka bagian.”

b. Memberikan sesuatu yang bermanfaat.

Meskipun harus mengorbankan haknya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jangan sampai kamu melarang tetanggamu memasang kayu pada dindingmu.”

c. Memberi hadiah

Memberi hadian termasuk cara untuk berbuat baik kepada tetangga. Terutama dalam event-event tertentu.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, janganlah merendahkan hadiah kepada tetangga meskipun hanya tulang yang sedikit sekali dagingnya.” Hadits ini merupakan anjuran untuk memberi hadiah kepada tetangga dalam keadaan apapun.

8. Menghormati tamu.


Menghormati tamu merupakan tanda kesempurnaan iman. Dalam hadits disebutkan bahwa barangsiapayang komitmen terhadap ajaran Islam dan mengikuti jejak orang-orang mukmin, maka ia harus menghormati tamu. Sikap ini merupakan bukti rasa percaya dan ketawakalan seseorang kepada Allah swt. karena itu Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah da hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamu.”
Apakah jamuan terhadap tamu, merupakan hak tamu atau bentuk kebaikan dari tuan rumah?

Imam Ahmad dan Laits berpendapat bahwa menjamu tamu adalah wajib, selama sehari semalam. Hal ini didasari oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Menjamu tamu sehari semalam, adalah kewajiban bagi setiap muslim.”

Berdasarkan hadits yang menjadi tema utama, “Maka hendaklah ia menghormati tamunya”. Gaya bahasa hadits ini berupa “peintah”, sedangkan perintah menunjukkan “wajib”.

Adapun jumhur ulama, mereka berpendapat bahwa menjamu tamu adalah sunah, termasuk akhlak mulia, dan bukan wajib. Ini didasari oleh sabda Rasulullah saw “Fal-yukrim” (maka hendaklah ia menghormati). Riwayat lain menyebutkan “Fal Yuhsin” (berlaku baiklah). Kedua ungkapan ini tidak menunjukkan wajib. Karena ikram (memuliakan) dan ihsan (berlaku baik) termasuk al-bir (kebaikan) dan akhlak yang terpuji.

9. Adab menerima tamu dan bertamu.

Menghormati bisa dalam bentuk bersikap ramah, berbicara dengan baik, bersegera menyajikan jamuan, termasuk menjamu dengan makanan yang ada atau lebih baik dari yang dimakan keluarganya, selama sehari semalam. Dua hari berikutnya dijamu dengan makanan yang dimakan keluarganya, dengan tidak memaksakan diri hingga membebani keluarganya.

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jamuan bagi tamu selama tiga hari, sedangkan jamuan yang lebih baik dari makanan yang dimakan anggota keluarga adalah sehari semalam, lebih dari itu maka dianggap shadaqah.”

Sedangkan sebagai tamu, hendaknya tidak memberatkan dan tidak mengganggu orang yang dikunjungi. Termasuk memberatkan orang yang dikunjungi adalah menginap lebih dari tiga hari, atau menginap di rumah orang yang dikunjungi, dan dia tahu bahwa orang yang dikunjungi itu tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Syuraih ra., bahwa Rasulullah saw bersabda, “Seorang muslim tidak diperbolehkan menginap di rumah saudaranya, hingga membuatny aberdosa.” Para sahabat bertanya, Bagaimana bisa membuatnya berdosa ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Menginap di rumahnya dan ia tidak memiliki sesuatu untuk menjamu.” Dalam keadaan seperti ini, tamu harus segera pergi, terlebih setelah tiga hari, karena orang yang dikunjungi telah menunaikan kewajibannya.

10. Urgensi penerapan hadits.

Menerapkan isi hadits ini sangat penting karena akan menciptakan persatuan dan persaudaraan, serta menyingkirkan semua perasaaan dendam dan dengki.

Manusia senantiasa hidup berdampingan satu sama lainnya. Hampir semuanya pernah bertamu ataupun kedatangan tamu. Jika setiap tetangga menghormati tetangganya, dan setiap orang memuliakan tamunya, niscaya masyarakat akan baik karena telah tercipta persaudaraan dan rasa saling menyayangi. Apalagi jika semua anggota masyarakat komitmen terhadap berbagai adab yang ada dalam hadits di atas, berbicara baik atau diam.


Referensi :
– Al Wafi Hadist Arbain.

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *