Ilmu Sabar dan Tawakal

Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata : Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi, ia telah berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain hasan shahih. Dalam riwayat selain Tirmidzi : “Hendaklah kamu selalu mengingat Allah, pasti kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Hendaklah kamu mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingat kamu di waktu sempit (susah). Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu. Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan”) [Tirmidzi no. 2516]

Ini kisah mungkin bukan kisah yang luar biasa dari sisi kehidupan manusia, namun ini memang terjadi! diantara kita, sekeliling kita atau bahkan mungkin kita sendiri yang mengalaminya. Sebuah perjuangan hidup, sebuah keputus-asaan, sebuah definisi dari kesabaran.
Sore itu dikala senja datang dengan lembayung menghiasi langit, seorang pemuda anak pertama dari tiga bersaudara menjadi tulang punggung keluarganya.

Pemuda itu baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas dengan hasil predikat sangat memuaskan. Dia menjadi anak kesayangan bapak dan ibu guru di sekolah karena prestasi yang dia raih, meskipun terkadang menjengkelkan para staf guru disekolahnya dengan kejailan dan ide-idenya yang kritis dalam mengkritik pengembangan ilmu.

Tersirat dalam hatinya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, tapi di satu sisi lain masih ada kedua adiknya yang harus dia fikirkan. Inilah saat pertama kali pergejolakan terjadi. Namun, berkat dukungan sang bunda, yang sangat mementingkan pendidikan akhirnya pemuda itu mengambil keputusan untuk melanjutkan sekolahnya ke tingkat Universitas.

Setahun berlalu tak ada aral yang melintang, hingga suatu saat pemuda itu melihat ibunya sedang membawa sekantung besar yang ternyata isinya adalah tiada lain baju-baju, sprei, gelas-gelas dan piring. pemuda itu mengikutinya sampai dia melihat ternyata barang-barang itu dijualnya untuk mendapatkan lembar-lembar rupiah. Ketika sampai dirumah ditanyalah sang ibu, “darimana?” ibu itu dengan nada sedikit bergetar menjawab “dari warung, membeli sesuatu.” kebohongan itu membuat pemuda itu menangis dan merangkul sang ibu dengan erat.

Ternyata selama satu tahun itu, untuk membiayai anak-anaknya sekolah sang ibu bekerja siang dan malam, menjual apa yang dia bisa jual, kebungkamannya semata-mata agar anak-anaknya selalu konsentrasi dengan belajarnya. Sungguh inilah kasih sayang ibu, yang takkan habis sepanjang jaman.

Singkat cerita akhirnya pemuda itu memutuskan untuk cuti dari kuliahnya dan bekerja untuk membantu keuangan keluarganya yang semakin hari semakin buruk. Pemuda itu bekerja di sebuah swalayan, sebagai staf gudang. Pergi pagi pulang malam, tak ada waktu baginya lagi untuk belajar, membaca buku apalagi untuk sekedar menonton TV.

Badannya mulai kurus, seperti tak pernah ada makanan yang masuk. Sang ibu berdoa dari setiap sujudnya tak pernah lelah dan tak pernah letih. Sebuah doa yang tulus untuk anak-anaknya “Ya Rabb, Tuhanku yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang. Engkau yang menguasai langit dan bumi, Engkau yang Maha bekehendak. Ya Allah, cukuplah diriku yang merasakan sakitnya menahan laparnya perut, cukuplah diriku yang merasakan pahitnya kehidupan, dan cukuplah diriku yang menaggung semua ini.

Jangan Kau biarkan anak-anakku merasakannya, berikanlah mereka selalu kebahagiaan, jangan kau biarkan senyum cerianya diwaktu kecil memudar setelah mengenal kehidupan…..” Begitulah sepenggal doa dari seorang ibu yang begitu tulus dan sangat menyayangi anak-anaknya.

Satu tahun berlalu, kehidupan mulai terangkat dan akhirnya pemuda itu kembali kuliah dan mengambil kelas ekstensi atau kelas karyawan, namun keadaan mulai berbeda, dia sudah tak pintar lagi seperti dulu. fikirannya mulai terfokus untuk mencari uang, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Namun, dia tetap melanjutkan kuliahnya demi meraih impiannya menjadi seorang sarjana.

Kehidupan pemuda itu terus bergulir bak sebuah roda kehidupan. Suatu saat dia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, menjadi seorang ekspedisi kendaraan besar yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah yang cukup lumayan untuk satu kali jalan. Mulai saat itu, rumah kecil itu terasa sinar kebahagiaan. Tak ada lagi raut muka sedih menahan lapar… Namun, saat itu pula ujian yang sesungguhnya dimulai.

Kebahagiaan itu tak bertahan lama, ujianpun datang terus menerus seolah tak pernah berhenti. Hingga akhirnya seorang pemuda yang sebentar lagi meraih gelar sarjana itupun menjadi seorang kuli panggul, seorang buruh bangunan hingga seolah-olah kehidupan sedang mempermainkannya. Tapi, pemuda itu tak pernah goyah.. semangatnya tak pernah luluh, dia yakin bahwa ini adalah kasih sayang Allah, dia yakin bahwa Allah sedang berbicara langsung kepadanya.

Detik-detik wisuda akan datang, saat-saat dia disyahkan menjadi seorang sarjana akan tiba, namun itu akan menjadi sebuah mimpi jika dalam waktu dekat dia tidak bisa melunasi biaya wisudanya. Pemuda itu hanya tinggal bisa berpasrah, menyerahkan segalanya kepada sang Pencipta, dia yakin Allah memiliki rencana yang terbaik untuknya.

Ibu dari pemuda itu kini berdoa dengan doa yang berbeda dari sebelumnya. “Ya Rabb, aku tau Engkaulah yang Maha mengetahui apa-apa yang terbaik untuk kami. Ya Allah ya Tuhanku, Jikalah ini jalan yang harus aku dan anak-anakku jalani, maka berikanlah kami hati sekuat baja yang dilebur oleh api untuk menjadi sebuah pedang. Sesabar mutiara yang terus menerus dimasuki pasir hingga akhirnya menjadi mutiara yang indah. Cukuplah ketaqwaan dan kesabaran menjadi harta kami. Jadikanlah ini sebagai jalan menuju keridhaanMu ya Rabb….”

“Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan”,

Allah akan menguji setiap manusia dengan sedikit kesusahan dan kebahagiaan, kesusahan dan kebahagiaan bisa menjadi suatu ujian yang menghasilkan nilai baik pada Rapor kita atau menjadi nilai merah pada Rapor kita, kesusahan dan kebahagiaan bisa menjadikan kita lebih dekat denganNya, atau bisa menjadikan kita lebih jauh denganNya.


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ


“Sungguh Kami pasti memberi cobaan kepada kamu sekalian dengan sesuatu berupa rasa takut, kelaparan, berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Dan gembirakanlah orang-orang yang bersabar, yaitu mereka yang bila ditimpa musibah, mereka berkata : ‘Sungguh kami semua adalah milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nyalah kami kembali’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan limpahan karunia dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang terpimpin”. (QS. 2 : 155-157)

Bagaimanapun keadaan kita mintalah pertolongan kepada Allah. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah”, memberikan petunjuk supaya bertawakkal kepada Allah, tidak bertuhan kepada selain-Nya, tidak menggantungkan nasibnya kepada siapa pun baik sedikit ataupun banyak.

Pemuda itu yakin bahwa Allah sedang berbicara langsung dengannya mengenai ilmu sabar dan tawaqal, Ibu tersebut yakin bahwa Allah selalu bersamaNya, dia yakin bahwa Allah memiliki rencana yang hebat dalam skenario kehidupannya.

Seperti dalam film sang pemimpi, dua orang guru yang memberikan cara didikan yang berbeda, yang satu memberikan pendidikan dengan cara yang halus, memberikan impian-impian bahwa kita bisa melakukan apa saja asal ada tekad dan kemauan yang keras dan guru yang satunya memberikan didikan yang sangat keras kepada murid-muridnya, tiada lain maksudnya adalah untuk mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa untuk mengejar mimpi-mimpi itu tidak mudah, banyak rintangan dan godaan yang menghadang.

Harus memiliki jiwa yang kuat dan pemberani, tidak mudah menyerah dan memiliki semangat yang luar biasa. Namun, kita juga harus siap ketika mimpi itu tak tercapai. Iringilah selalu dengan keimanan dan ketaqwaan dalam meraih sesuatu, yakinlah bahwa setiap ujian yang datang adalah proses ??? menjadi lebih baik, dan terkahir serahkanlah semuanya kepada Sang Pencipta dengan keikhlasan dan kerendahan hati. Semoga tulisan ini bermanfaat dalam kehidupan anda.
Wallahu a’lam bishawab. iRm@

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *