SAKIT YANG MENYEMBUHKAN


وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ



“dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku,” (Q.S. Asy-Syu’araa [26] :80)

Ayat ini sering terpasang di dinding rumah sakit Islam dan menjadi ayat favorit di fakultas kedokteran Islam. Sebuah ayat yang membesarkan hati pasien dengan harapan akan disembuhkan oleh Allah.

Az-Zamakhsary dalam Tafsir Al-Kasyaaf mengatakan bahwa sakit itu akibat ulah manusia sendiri yang bersumber dari makanan dan minuman yang dikonsumsi dan kemudian Allah lah yang menyembuhkan.

Al-Qurthuby dalam Jami’ul Ahkam mengungkap sebuah makna lain, yaitu bahwa sakit itu datang dari setan sedangkan sembuh datang dari Allah. Al-Alusy dalam Ruhul Ma’any berpendapat bahwa hakikatnya sakit juga takdir dari Allah. Tapi demi adab kesopanan, hal-hal buruk tidak pantas disandangkan penyebabnya kepada Allah Swt.

Apakah benar bahwa sakit itu buruk? Dr. Andrew Weil, M.D. (dokter lulusan Harvard) dalam buku Spontaneous Healing mengatakan bahwa rasa sakit itu bagus karena ia menunjukkan bahwa ada gangguan di suatu tempat sehingga bisa dilakukan penyembuhan.

Penyakit tidak harus dihadapi dengan berperang atau digempur dengan obat antibiotik yang justru menjadikan bakteri dan virus bermutasi menjadi jenis baru yang lebih bandel dan ganas.

Penyakit harus dihadapi dengan upaya peningkatan daya tahan tubuh secara sabar dan terus menerus. Dengan pola makan serta gaya hidup jasmani dan ruhani yang baik, tubuh bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Kecuali untuk kasus-kasus gawat darurat yang memerlukan tindakan medis tertentu.

Dengan demikian, ayat tersebut di atas bisa ditafsirkan ke dalam beberapa pengertian.

Pertama, Allah menyembuhkan suatu penyakit secara langsung sehingga membuat penyakit tersebut tiba-tiba hilang secara ajaib, baik dengan doa atau pun tidak. Kesembuhan seperti ini lebih bersifat pasif, untung-untungan, dan menunggu mukjizat.

Kedua, Allah menyembuhkan melalui faktor di luar diri penderita sakit (semisal dokter, tabib, terapis) dan benda (semisal obat, ramuan, alat-alat). Ini berarti kesembuhan diraih melalui perantara dan ikhtiar tertentu.

Ketiga, Allah sudah menitipkan kekuatan-Nya dalam tubuh manusia untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Penyembuhan dengan cara self-healing ini bisa dipelajari oleh semua manusia.

DR. A. M. Isran MBA, (penemu senam Perkasa yang didasarkan pada gerakan shalat) memaknai ayat di atas secara berbeda. Ia berpendapat bahwa apabila aku sakit, maka dia (penyakit tersebut) lah yang menyembuhkan aku. Penjelasannya begini, adanya penyakit bisa diketahui melalui rasa sakit ketika simpul-simpul syaraf di tubuh dirangsang pijitan.

Kebanyakan simpul-simpul itu berada di ruas-ruas jari tangan dan kaki, pergelangan tangan dan matakaki, sambungan sikut dan dengkul, sekitar mata, serta cuping hidung dan daun telinga. Dengan terapi di titik-titik itu, endapan yang menyumbat syaraf bisa dibongkar sehingga aliran bio-elektrik lancar dan badan menjadi sehat kembali.

Proses terapinya memang menimbulkan rasa sakit dan nyeri hingga membuat badan berkeringat. Nah, rasa sakit waktu dipijit itulah yang menjadi sebab sembuhnya penyakit. Jadi, sakit itu menyembuhkan bukan? Wallahu a’lam.

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *