Jangan Bebani Hati dengan Dengki

“Selamat atas keberhasilannyamu ya…” Ucapan itu saya luncurkan dengan nada sebaik dan seindah mungkin, walau hati ini merasa perih. Semoga tertutupi dengan senyumanku dan aku berharap dia tidak mengetahui perasaanku sebenarnya.

“Sabar ya janganlah putus asa, jodoh itu ketentuan Allah SWT dan jangan berhenti ikhtiar dan doa”. Sambil kutepuk-tepuk pundaknya. Semoga dia tidak mengetahui perasaanku sebenarnya, karena aku tidak ingin ada yang mendahuluiku menikah dan aku tidak senang jika dia menikah dengan calon yang melebihi kriteria calonku.

Kasus diatas adalah contoh dari sebuah amalan hati. Tampak tak terlihat dan hanya pelaku dan Tuhan-Nya yang tahu. Syetan selalu dan selalu menyisipkan perasaan dengki kepada siapapun, karena yakin bahwa kebersatuan dalam Islam tidak akan pernah tercapai sungguh-sungguh jika ada perasaan dengki di setiap hati diri. Berbeda dengan amalan fisik, manusia akan menjadi berpikir lebih banyak, apalagi ketika akan melanggar sebuah syariat.

Dengki atau Al Hasadu adalah sebuah penyakit ‘berbahaya’ yang bibitnya hidup dalam tubuh manusia. Dia akan senang sekali ketika menjumpai pemicu sifat hidupnya mulai hidup kembali. Ketika saudara, teman atau tetangganya tersenyum senang maka sang pendengki akan kusut muka, sedih, pusing kepala dan dongkol menyesali kebahagiaan teman yang didengkinya.

Sebaliknya ketika terdengar kabar buruk, kesedihan atau musibah maka sang pendengki puas bersorak bahagia walau kadang-kadang menutupinya agar terkesan tidak terlihat, bahkan terlihat simpatik.

Kedengkian tidak akan muncul di hati manusia beriman yang selalu berusaha menuju taqwa, setiap waktu diguyur ilmu, mewujudkan amal dan berada dalam lingkaran persaudaraan yang ikhlas terpimpin. Bercirikan selalu siap dalam membantu dan menasehati sesama saudara.



وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ



“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.”
(QS.Al Baqarah :120)

Didalam masalah kerukunan ber-ukhuwwah, penyakit yang satu ini selalu saja berusaha menyelinap dan muncul untuk mengadu domba menghancurkan sebuah ikatan perjuangan. Bagi yang tidak peka dan tidak berusaha melawan gejolak ini, maka dirinya akan terjerumus dalam kedengkian yang tiada akhir (kasihan deh!).

Bahkan dirinya tidak merasa “dengki” sedang hidup subur menyelimuti dirinya. Hidup terasa berat dan susah, mengingat dan bertemu kepada yang sedang didengkipun menjadikan gelisah apalagi bertemu pula.

Dengki Penghambat ketaqwaan



عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ تَحَاسَدُوْا، وَ لاَ تَنَاجَشُوْا، وَ لاَ تَبَاغَضُوْا، وَ لاَ تَدَابَرُوْا، وَ لاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَ كُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ اِخْوَانًا. اَلْمُسْلِمُ اَخُو اْلمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ وَ لاَ يَخْذُلُهُ وَ لاَ يَحْقِرُهُ. اَلتَّقْوَى ههُنَا. وَ يُشِيْرُ اِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ. بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرّ اَنْ يَحْقِرَ اَخَاهُ اْلمُسْلِمَ. كُلُّ اْلمُسْلِمِ عَلَى اْلمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَ مَالُهُ وَ عِرْضُهُ. مسلم



Dari Abu Hurairah, ia berkat : Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling menjerumuskan, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian menjual atas jualan sebagian yang lain. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim lainnya. Dia tidak boleh menganiaya, membiarkannya dan menghinanya. Taqwa itu ada di sini”, sambil beliau menunjuk ke dadanya, tiga kali. “Cukuplah seseorang dianggap jahat apabila menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1986]

Sudah jelas banget khan? Bahwa sesama muslim dilarang mendengki, membohongi, membenci, mencuri dan saling memusuhi. Jika itu tak ada dalam diri kita semua, maka jaminan muncul kekuatan dari sebuah ukhuwwah Islam bukanlah mimpi lagi.

Al Hasadu Menyerang Siapapun

Iri dengki tidak hanya menyangkut hal-hal yang bersifat duniawi, seperti rumah dan kendaraan, melainkan juga menyangkut capaian-capaian di lingkup ke-Islaman, misalnya dakwah. Dan ini membuktikan bahwa penyakit dengki bukan hanya menjangkiti kalangan biasa.

Iri dengki itu ternyata dapat menjalar dan menjangkiti kalangan apapun. Dari kategori berilmu, pejuang, dan bahkan da’i kondang sekalipun. Misalnya : seorang da’i atau mubalig.

Seorang yang mengikuti kelompok atau jama’ah tertentu sangat benci kepada kelompok atau jama’ah lain yang mendapatkan kemenangan-kemenangan terus-terusan. Dan masih banyak lagi bentuk lainnya dari sikap iri dengki di kalangan para “pejuang”. Tapi bagaimana ini bisa terjadi?

Jadi, dalam konteks perjuangan, dengki dapat merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popularitas, kalah pengaruh, kalah pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggapnya lebih dalam hal wibawa, polularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut itu.

Merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah adalah kecil, tapi bisa jadi mucul sebaliknya. Kedengkian luar biasa dalam wujud kebahagiaan karena melihat yang didengki susah, kalah dan terkena musibah.

Kedengkian Menyantap Habis Kebaikan.



عَنْ اَنَسٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَلْحَسَدُ يَأْكُلُ اْلحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ اْلحَطَبَ. وَ الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ اْلخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ اْلمَاءُ النَّارَ. وَ الصَّلاَةُ نُوْرُ اْلمُؤْمِنِ وَ الصّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ. ابن ماجه، ضعيف لانه فى اسناده عيسى بن عيسى


Dari Anas RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Dengki itu bisa memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. Shadaqah itu bisa menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api, shalat itu adalah cahayanya orang mukmin dan puasa itu adalah perisai (bisa menjauhkan) dari neraka”. [HR. Ibnu Majah, dlaif karena di dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Isa bin ‘Isa]

Jangan lupa bahwa sebuah dosa kedengkian tidak akan berhenti. Dia akan mengantar kepada dosa-dosa berantai berikutnya seperti fitnah, gunjing, bohong, merampas dst. Maka sangatlah benar ketika kedengkian menyelimuti, bersiap-siaplah pahala akan pergi menjauh dan dosa-dosa akan berdatangan memenuhi catatan amalnya.

Waspadai ini : Sikap dengki akan membebani psikologis pelakunya sehingga tidak produktif (malas) didunia apalagi akherat, cenderung tidak disukai orang lain, merasa berkehidupan sempit dan lupa untuk memperbaiki diri. Naudzubillah

Ya Allah jauhkanlah hati kami dari sifat dengki ini ….

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *