SEEKOR SAPI UNTUK GAZA

Di sebuah desa di Yaman, seorang nenek miskin sedang termenung memikirkan nasib rakyat Palestina di Gaza yang menderita karena kebiadaban zionis Israel. Sang nenek pun bertekad untuk membantu saudara seakidah di Gaza dengan memberikan harta terbaik yang dimilikinya, seekor sapi tua yang kurus, lemah, dan sering sakit-sakitan. Dengan semangat yang membumbung tinggi dan rasa simpati yang meluap, ia membawa sapinya menuju sebuah masjid.

Sesampainya di depan masjid, dia tak langsung masuk melainkan duduk di bawah pohon sambil menyaksikan para jamaah yang hendak menunaikan shalat Jumat. Di tengah teriknya sinar mentari, sang nenek tetap setia duduk sambil memegang tali yang mengikat leher sapinya dan berharap bisa bertemu dengan imam masjid seusai shalat Jumat. Nenek tersebut tidak menghiraukan tatapan jamaah yang hendak ke masjid. Beberapa dari mereka ada yang mengangguk, menggelengkan kepala, mengulum senyum ramah, dan tidak sedikit yang tersenyum sinis demi melihat nenek miskin yang duduk di samping sapinya.

Shalat Jumat pun usai. Jamaah mulai berhamburan keluar, begitu pula dengan imam masjid tersebut. Nenek itu pun langsung beranjak dari duduknya. Sambil menuntun sapi, nenek tersebut berjalan ke arah imam yang baru saja keluar. “Wahai imam, saya sangat sedih dengan penderitaan rakyat Gaza. Saya seorang nenek yang miskin, tapi saya bersimpati dan ingin membantu mereka. Mohon terimalah satu-satunya sapi ini untuk dibawa ke Gaza, berikanlah kepada orang-orang di sana,” ucap sang nenek begitu mereka berhadapan.

Mendengar permohonan nenek tersebut, sang imam terkejut. Ia tertegun sejenak sambil berpikir bagaimana cara membawa sapi itu ke Gaza. Sebenarnya dia enggan menerima sapi tersebut untuk dikirim ke Gaza. Ya, bagaimana mungkin membawa sapi yang kurus dan sudah renta seperti itu ke Gaza. Sebelum sampai ke Gaza, bisa jadi sapi tersebut mati terlebih dahulu saking lemahnya.

Melihat imam yang kebingungan, nenek tua itu memohon lagi dengan nada memelas, “Tolong, bawalah sapi ini ke Gaza. Ini satu-satunya yang saya miliki. Saya benar-benar ingin membantu mereka.” Namun demikian, sang imam masih tetap terdiam dalam bingung. Melihat respon imam yang dingin seperti itu, nenek itu pun bersedih. Matanya mulai sayu dan tidak lama kemudian air mata mulai menetes ke pipinya yang sudah keriput.

Menyaksikan suasana yang mengharukan tersebut, banyak di antara jamaah yang mulai iba. Seorang jamaah kemudian angkat suara, “Wahai Imam, saya punya usul. Bagaimana kalau sapi tersebut saya beli dengan harga sebesar 10.000 riyal dan kemudian uang itu disumbangkan kepada orang-orang Gaza.” Sang Imam tampaknya setuju atas usulan tersebut dan nenek yang tadinya sayu berubah gembira. Air mata yang tadi membasahi pipi keriputnya kini sudah diusap. Ia tampak senang karena sapinya yang yang sudah lemah masih berguna untuk meringankan penderitaan rakyat Gaza.

Tiba-tiba seorang pemuda berdiri dan menawarkan saran yang lain. “Bagaimana jika kita semua memberikan tawaran tertinggi dengan kontribusi uang itu untuk membeli sapi dan uang yang terkumpul akan dikirim ke Gaza?” Gagasan pemuda itu diterima oleh jamaah. Dalam beberapa menit, penawaran pun dibuka. Ada yang menawar 10.000 riyal, 30.000 riyal, dan bahkan ada pula yang berani menawar lebih dari itu. Suasana di kompleks masjid menjadi bising ketika proses tersebut berlangsung tanpa henti.

Selain menwar sapi, ada pula jamaah yang dengan suka rela menyumbangkan uang. Akhirnya, sapi kurus dan lemah milik nenek tersebut dibeli dengan harga sebesar 500.000 riyal (sekitar 148.000 USD atau sekitar Rp 1 milyar 600 juta)!
Melihat hal itu, sang nenek jelas sangat gembira dan terharu, ternyata sapinya berguna juga. Ketika uang sudah terkumpul, seorang jamaah (yang menangis karena kagum) mendekati wanita tua itu seraya berkata, “Imam telah memerintahkan kami untuk mengembalikan sapi ini kepada Anda.”

***

Sejak berdiri pada tahun 1948, tidak terhitung jumlah pelanggaran HAM yang dilakukan oleh tentara Israel. Pembantaian masyarakat sipil sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Para pemimpin Palestina yang diaggap berbahaya pun menjadi target pembunuhan tentara Israel. Tentu kita masih mengingat bagaimana pemimpin spritual tertinggi HAMAS (Syekh Ahmad Yasin) meninggal akibat tembakan rudal helikopter Israel pada sebuah mesjid di subuh hari. Selain Syekh Yasin, masih ada beberapa pemimpin Palestina yang lain yang gugur di tangan Israel.

Pelanggaran HAM terbaru yang dilakukan oleh pihak Israel adalah penyerangan kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang mengangkut ratusan relawan dari berbagai negara dan memuat bantuan kemanusiaan untuk Palestina. Sembilan belas orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Walau seluruh dunia mengecam aksi brutal tersebut, tak ada sanksi tegas dari dewan keamanan PBB selaku penanggung jawab keamanan international. Yang ada hanyalah kecaman-kecaman kosong tanpa ada aksi untuk menghentikan penindasan terhadap rakyat Palestina.

Karena itulah, kita sebgai saudara seiman rakyat Palestina harus mengambil langkah nyata demi menunjukkan rasa peduli kepada mereka. Sekecil apa pun aksi solidaritas yang kita laksanakan, tentu akan sangat berarti bagi rakyat Palestina. Kisah nenek dan sapinya tersebut di atas semoga dapat menjadi semangat untuk selalu berusaha membantu rakyat Palestina. Dan kita doakan bersama semoga penderitaan rakyat Palestina segera berakhir. Amin. (Ayat Priyatna Mukhlis)




Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *