BERBAKTI NAMUN TAK BERARTI

”Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak dapat pahala apa-apa kecuali lapar saja, dan banyak orang yang shalat qiyamu-ramadhan tapi tidak dapat pahala apa-apa kecuali lelah saja”

A.MUQADDIMAH

Mana yang sering kita rasakan setelah kita melakukan aktifitas yang bernilai ibadah ? sakinah (tenang), roja’ (pengharapan) atau khauf (takut) ?. Kita ambil contoh, misalnya: shalat. Ketika kita selesai menunaikan shalat, apakah kita hanya merasa tenang karena sudah menunaikan shalat dan gugur kewajiban ? ataukah hati ini penuh harap agar shalat ini diterima-Nya serta cemas atau takut kalau-kalau shalat ini tidak diterima oleh-Nya?.

Demikian pula dengan ibadah shaum. Setiap hari saat berbuka puasa, terbersitkah dalam hati kita harapan : “Mudah-mudahan Allah menerima shaum kita”, atau kita cemas:“Aku takut shaumku tidak diterima oleh-Nya !”.

B. HARAP DAN CEMAS SETELAH IBADAH SHAUM

Nabi saw. bersabda : “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Barangsiapa mendirikan shalat pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, dari Allah niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Hadits tersebut merupakan penyemangat sekaligus harapan bagi kita, agar setelah shaum dan shalat sunnat tarawih senantiasa berharap (roja’) kepada Allah swt. agar mendapat ampunan atas dosa-dosa yang telah kita lakukan.

Namun, tidak cukup hanya berharap saja, hati kita pun mesti takut (khauf) kalau ternyata ibadah kita dibulan Ramadhan ini tidak dapat apa-apa.

Kita renungkan dua hadits berikut ini :

Sabda Nabi saw. :”Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak dapat pahala apa-apa kecuali lapar saja, dan banyak orang yang shalat qiyamu-ramadhan tapi tidak dapat pahala apa-apa kecuali lelah saja”. (H.R. Bukhari)

Nabi saw. bersabda: “Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun setelah bulan itu habis dan ia tidak mendapat ampunan, maka jika mati ia masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan: Amin!. Aku pun mengatakan: Amin. ” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya) “

C. MENGAPA TIDAK BISA MERAIH MAGHFIRAH (AMPUNAN) ?

Beberapa hal yang sering kita lakukan, hingga (baca:mungkin) bisa menyebabkan tidak mendapat ampunan di bulan maghfirah ini :

1. Lalai dalam melaksanakan shalat
Nabi saw. berpesan agar kita sebagai umatnya shalat diawal waktu. Namun, apa yang sering terjadi dengan shalat kita dibulan Ramadhan ini ?. Shalat Dzuhur sering terlambat karena kecapek-an kerja, shalat Ashar sering terlambat karena tidur siang sehabis Dzuhur, demikian pula Maghrib sering telat karena kekenyangan berbuka, Isa pun terkadang dilakukan waktu tengah malam dirumah, karena capek dan ngantuk akibat “balas-dendam” makan.

2. Sering ketinggalan shalat berjamaah
Yang paling sering melanda kita terutama kaum pria adalah jarang shalat berjamaah di mesjid, terutama waktu shalat Maghrib. Kenapa? Alasannya tentu sepakat, karena berbuka puasa di rumah bersama keluarga. Jadi, shalat pun memilih di rumah saja.

Nabi saw. menganjurkan agar kita senantiasa menyegerakan berbuka puasa saat tiba waktunya, tentu dengan tujuan agar kaum pria menyegerakan pula shalat maghrib secara berjamaah di mesjid.

3. Tidak menjadikan shaum sebagai benteng
Sabda beliau saw. : ”… puasa itu benteng, janganlah kalian berbuat rafats dan janganlah kalian berbuat jahil..”.

Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak menjadikan dari puasanya itu sebagai benteng dari marah, ghibah (gossip), dusta, janji palsu, sumpah palsu, perselisihan dan perbuatan dosa lainnya.

”Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta atau melakukan kedustaan, maka Alloh tidak butuh akan (puasanya yang) meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

Serta, betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak menjadikan dari puasanya itu sebagai benteng dari perbuatan jahil, banyak yang terjebak dengan tradisi ngabuburit sambil nongkrong di mall bahkan sambil berpacaran. Dan kenapa setiap Ramadhan pasti rame dengan membunyikan petasan ?

4.Terlalu sibuk dengan urusan dunia
Nabi saw. lebih menyibukkan dirinya disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, tentu dengan harapan meraih lailatul-qadr, namun bagaimana dengan kita disepuluh hari terakhir ini?. Sibuk bikin kue, sibuk buat mudik, sibuk belanja di mall, pasar dan toko. Makanya jangan aneh, kalau sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan masjid akan mulai jarang pengunjung.

5.Jarang membaca istighfar
Ada baiknya kalau kita akhiri sehabis menunaikan puasa ini dengan beristighfar kepada-Nya. Karena kalau kita renungkan, selesai shalat kita istighfar tiga kali, selesai ibadah haji kita beristighfar, ketika meraih kemenangan kita ditugaskan membaca tahmid dan istighfar (lihat: Q.S. An Nashr).

D.KHATIMAH
Sabda Nabi saw.: ”Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidaklah mendapatkan dari puasanya melainkan hanya dahaga.” [Shahih, H.R. ad-Darimi].

Hadits di atas semoga menambah rasa khauf (takut/cemas) pada diri kita setelah berpuasa. Karena ternyata, pada umumnya orang berpuasa namun tidak dapat apa-apa. Na’udzubillah.

Kita berharap semoga puasa kita menyebabkan turunnya maghfirah dari Yang Maha Pengampun, dan kita berlindung semoga kita tidak termasuk orang yang berbakti namun tak berarti.

Penulis :
Agus Lukman Muttaqin (Jama’ah MPI)
email : pcpersiscikajang@yahoo.com

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *