Yang TERLUPA dalam Ramadhan

Pengertian puasa secara umum ialah menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami istri (bagi yang sudah nikah), serta hal-hal yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari, dengan niat semata-mata karena Allah swt.

Umumnya, kita lebih memperhatikan hal yang membatalkan puasa pada makan dan minum serta berhubungan suami istri saja, padahal ada hal lain yang bisa membatalkan puasa, bahkan lebih parah lagi membatalkan ‘pahala’ puasanya, yang kalau kita cermati kebanyakan orang tidak menyadarinya.

Maka pantaslah Nabi saw. pernah bersabda :”Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak dapat pahala apa-apa kecuali lapar saja, dan banyak orang yang shalat tarawih tapi tidak dapat pahala apa-apa kecuali lelah saja”. (H.R. Bukhari)

Boleh jadi orang berpuasa dari makan dan minum, dan dia lulus, namun dia tidak lulus menahan diri dari hal lainnya yang membatalkan pahala puasa.

Saatnya kini, kita tidak hanya memperhatikan puasa tidak hanya sekedar menahan makan dan minum saja, tetapi ada perilaku lain yang mesti kita perhatikan.

6 HAL YANG JANGAN TERLUPAKAN DIBULAN RAMADHAN :

1. Menundukkan pandangan.
Yang dimaksud dengan banyak memandang, yaitu melepaskan pandangan kepada sesuatu dengan sepenuh mata, dan memandang kepada yang tidak halal untuk dipandang. Sementara menundukkan pandangan ialah menahannya dari pandangan-pandangan liar yang tercela dan dibenci oleh Allah swt..

Firman Allah swt. dalam Q.S. An Nuur ayat 30-31 : Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.”
Membiarkan pandangan lepas dan bebas menyebabkan hati menjadi gelap, sebagaimana menahan pandangan menyebabkan hati bercahaya. Bila hati telah bersinar, maka seluruh kebaikan dari segala penjuru akan masuk ke dalamnya. Sebaliknya apabila hati telah gelap, maka berbagai keburukan dan bencana akan masuk ke dalamnya, dari segala penjuru. Na’udzubillah.

2. Menjaga lisan.
Menjaga lisan dalam artian menjaga dari berbicara tak karuan, ngobrol ngale- ngidul, menggunjing, mengadu domba, sumpah palsu, janji palsu, dan dusta.

Firman Allah swt.: Tiadalah suatu perkataan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaf: 18).

Dari Mu’adz, dari Rasulullah saw. bersabda : “Dan tiadalah yang menelungkupkan wajah atau batang hidung manusia ke dalam api neraka, melainkan karena ulah lidahnya. (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim, shahih.)

3. Menjaga pendengaran.
Allah swt. dalam beberapa ayat alquran sering mendampingkan antara pendengaran dan penglihatan. Makanya, dibulan Ramadhan ini, tidak cukup menahan pandangan saja, tetapi kita harus mampu menahan pendengaran dari mendengarkan setiap yang haram atau yang tercela, bahkan yang sia-sia dan tak berarti sekalipun.

4. Menjaga anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa.
Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak menjadikan dari puasanya itu sebagai benteng dari perbuatan jahil, tidak bisa menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan maksiat. Padahal Nabi saw. berpesan :” ”… puasa itu benteng, janganlah kalian berbuat rafats dan janganlah kalian berbuat jahil..”. (H.R. Bukhari)

5. Hendaknya tidak memperbanyak makan.
Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Nafsu ini pula, yang menyebabkan Adam dikeluarkan dari Surga. Dari nafsu perut pula, muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda seperti serakah dan korupsi. Yang akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.
Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan, akan mengakibatkan sebaliknya. Allah swt. berfirman: “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S Al-A’raf: 31).

Dari Miqdam bin Ma’di Karib berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Janganlah manusia memenuhi sebuah tempat yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suap (tiga sampai sembilan), untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, shahih)
Ibnu Abbas ra. berkata, Allah menghalalkan makan dan minum, selama tidak berlebih-lebihan dan tidak ada unsur kesombongan.

6. Setelah berbuka, hendaknya ada perasaan harap dan cemas (roja’ dan khauf).
Sebab ia tidak tahu apakah puasanya diterima, sehingga ia termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah, ataukah ditolak, sehingga ia termasuk orang-orang yang dimurkai.

Akhirnya kita memohon kepada Allah swt., agar menjadikan kita termasuk orang yang diterima puasanya, pahalanya sempurna, mendapat pengampunan, mendapatkan Lailatul Qadar, dan layak memasuki gerbang Ar-Royyan di Surga-Nya. Amin.

@ dari berbagai sumber.
Agus Lukman Muttaqiin, S.Pd.I
Jamaah MPI | fb: sentuhanqalbu_bestfm@yahoo.com

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *