Benarkah Allah berlaku demikian?


لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ


“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri-negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam; dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS. Ali Imran: 196)

Aku sudah rajin beribadah, shalatku tak pernah ketinggalan, dzikir dan do’a-do’a selalu kupanjatkan setiap malam, namun keburukan yang menimpaku tak pernah lepas dariku, sementara aku melihat orang-orang yang jauh dari agama hidupnya enak, nyaman hingga tak ada beban dalam hidupnya, sampai aku merasa mulai bosan dan mulai menjauh dari perintah-perintah Allah.

Benarkah Allah menyayangi kita dengan cara seperti ini?

Saudaraku yang dirahmati Allah swt, mungkin pernah terbesit dalam hati kita prasangka seperti itu, namun jangan sampai kita menjadi budak syetan yang terhasut oleh rayuannya. Kita harus membedakan antara dua hal.

Pertama, berbagai kewajiban yang diperintahkan Allah swt kepada kita supaya menyelamatkan diri kita dari api neraka dan beruntung dengan menggapai keridhaan dan syurganya.

Kedua, musibah yang menimpa diri kita dalam kehidupan yang kita jalani.

Yang pertama dihadapi dengan senantiasa melakukannya pada setiap kondisi dan setiap waktu, karena yang mengambil manfaat dari ibadah itu adalah manusia itu sendiri Allah swt tidak membutuhkan kita, Dia Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Melakukan kewajiban itu merupakan salah satu sebab keselamatan dari api neraka, dan ini tidak berkaitan dengan musibah. Coba sahabat renungkan bagaimana keadaan lalulintas jika stopan lalulintas mati, keadaan menjadi kacau, macet dan orang-orang menjadi emosi satu sama lain, kemudian jika stopan itu berfungsi akan tetapi masyarakat tidak mematuhi rambu-rambu yang ada apa yang akan terjadi?kecelakaan bukan?

Aturan pemerintah dibuat untuk mengatur segala sesuatunya agar dapat berjalan dengan baik. Dan masyarakat berkewajiban mematuhinya bukan semata untuk kepentingan pemerintah sendiri akan tetapi untuk keselamatan kita sendiri. Begitu pula dengan adanya aturan-aturan yang Allah berikan dan kita wajib melaksanakannya itu semua bukan karena Allah membutuhkannya, akan tetapi demi keselamatan kita sendiri.

Yang kedua musibah, musibah yang ditakdirkan Allah bagi hamba-hambaNya itu tidak terbatas pada keburukan saja, tapi ujian itu juga berupa kebaikan, seperti disebutkan di dalam firman Allah swt,



اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْآ اَنْ يَّقُوْلُوْآ امَنَّا وَ هُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ. وَ لَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَ لَيَعْلَمَنَّ اْلكذِبِيْنَ. العنكبوت


“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (begitu saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi ?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar imannya dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (imannya)”. [QS. Al-‘Ankabuut : 2-3]

Sesungguhnya keberhasilan dalam menghadapi ujian keburukan ini lebih mudah daripada keberhasilan dalam menghadapi ujian kebaikan. Orang yang diberi cobaan dengan kemiskinan misalnya, dia tidak dituntut kecuali bersabar, karena dia tidak memiliki sesuatu untuk diperbuat.

Tetapi lain lagi dengan cobaan model yang kedua, yaitu orang yang diberi cobaan dengan harta. Dengan memiliki harta itu dia memiliki kesempatan untuk melakukan kemaksiatan dan leluasa membelanjakan hartanya, melalaikannya dari kewajiban-kewajiban serta merasa bahwa dia tidak lagi membutuhkan Allah swt, Oleh karena itu keberhasilan dalam ujian ini menjadi sulit diraih kecuali oleh orang yang menjadikan akhirat sebagai focus perhatiannya yang tidak terkontaminasi oleh kepentingan lainnya.

Akan tetapi terkadang meskipun kita memahami tentang hal itu, namun tetap saja terbujuk rayuan syetan sehingga menuruti apa yang dikatakan oleh syetan, pada saat itu terjadi ingatlah, masih ada orang yang lebih tragis cobaannya daripada kita, jika anda hidup seorang diri tiada saudara ataupun istri/suami dan anda tidak memiliki pekerjaan, sehingga anda merasa hidup sangat menderita, lihatlah keluarga yang masih satu Negara dengan anda, yang memiliki istri/suami dan anak-anak yang cukup banyak, akan tetapi sangat kesulitan dalam menjalani hidup, untuk mendapatkan sesuap nasi pun, harus bekerja semalaman, ditambah lagi harus melihat anak-anaknya tumbuh dengan tidak mengenal dunia pendidikan.



كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ


“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (QS.Al Anbiyaa : 35)

Walaupun demikian ketika berbaur dengan orang lain anda akan heran, bagaimana mereka tertawa, bercanda ria dan giat berdakwah, ibadah mereka tidak berubah, bahkan bertambah mendekatkan diri kepada Allah. Sungguh kamu akan kagum bahwa orang-orang semacam mereka itu tidak mendapatkan nafkah atau pakaian kecuali yang melekat di badan mereka. Rasulullah saw telah member kita wasiat agar kita melihat mereka yang berada di bawah kita ketika ditimpa musibah, sehingga dapat meringankan musibah yang kita derita itu.

Sahabatku yang dirahmati Allah swt, ketahuilah Allah swt menimpakan musibah kepada seseorang jika Dia melihatnya telah melakukan sebuah kekhilafan, agar dia mau kembali kepadaNya dan bertambah dekat denganNya hingga Dia mengampuni dosa-dosanya itu. Ketahuilah bahwa seseorang itu diberi cobaan sesuai dengan kadar keimanannya.



رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ


“Ya Tuhan Kami, berilah Kami apa yang telah Engkau janjikan kepada Kami dengan perantaraan Rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan Kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS.Ali Imran : 194)

Dan keindahan Islam adalah setiap musibah yang menimpa seorang muslim, baik itu kegundahan, kegelisahan, bencana, kesusahan, penyakit, dan luka, itu semua berpahala, dan hal itu dapat menghapus dosa-dosanya. Wallahu a’lam bishawab.

—iRm@—

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *