Semoga Menjadi Mabrur Saudaraku…

Cita-cita dahsyat seorang muslim adalah bisa pergi ke tanah suci. Berbekal kemampuan fisik, ilmu, harta dan kesiapan yang ditinggalkan. Allah SWT berikan kado istimewa bagi pelaku ibadah haji dengan Syurga. Dengan kata lain mendapat predikat haji Mabrur (bukan mardud), dan ini tidak ada kaitan sama sekali dengan titel penambahan haji/hajjah yang ternyata hanya ada di negeri ini.



والْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ


“Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga.” (HR. Bukhari)
Allah gambarkan syurga dengan sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun.



قَالَ اللَّه: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ


“Allah berfirman (yang artinya): Telah Aku siapkan untuk hamba-hambaKu yang shaleh kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terdetik di hati manusia….”(HR. Bukhari Muslim)



فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai Balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS.As Sajdah : 17)

Meraih haji mabrur merupakan idaman setiap orang yang menunaikan ibadah haji. Meski begitu ternyata tidak semua orang bisa mencapainya. Alias hanya menggugurkan kewajiban sajah. Dari beberapa kajian ada beberapa persyaratan agar bisa mencapai mabrur.

Pertama, niat yang ikhlas. Untuk meningkatkan iman, seorang calon haji hendaknya menjauhkan dirinya dari syirik (menyekutukan Allah) yaitu mengaitkan yang bukan Allah SWT menjadi sekutunya.

Hal ini menyebabkan rusak pelaksanaan ibadahnya yang konkret maupun yang abstrak. Ikhlas beribadah, tidak dicampuri dengan niat macam-macam, selain semata-mata memenuhi panggilan Allah untuk mengerjakan rukun Islam yang kelima. Firman Allah dalam Alquran surah Al-An’aam ayat 162 berbunyi:



قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Kedua, menggunakan bekal halal. Para calon haji wajib berusaha semaksimal mungkin agar uang setoran hajinya halal, bersih dari subhat, apalagi haram. Demikian juga uang nafkahnya yang akan dibelanjakan selama dalam perjalanan ibadah haji.

Setiap calon haji selalu mendambakan agar hajinya diterima atau mabrur. Namun, apabila ongkos hajinya itu uang haram, maka pekerjaan hajinya sia-sia dan tidak mabrur.

Hadist Nabi Muhammad saw mensabdakan,
“Apabila seorang jemaah haji berangkat menunaikan ibadah haji dengan harta yang halal dan menginjakkan kakinya di kendaraannya, kemudian ia membaca Talbiah: Labbaik Allahumma Labbaik.” Maka ada suara (jawaban) dari langit: ”Aku terima panggilanmu dan berbahagialah kamu, karena bekalmu halal, kendaraanmu halal, hajimu mabrur tidak mengandung dosa (ma’zur). Dan, apabila seorang jemaah haji berangkat dengan uang haram dan dia menginjakkan kaki di kendaraannya kemudian dia membaca Talbiah, ”Labbaik Allahumma Labbaik.” Maka ada suara (jawaban) dari langit: ”Tidak ada Labbaik dan tidak ada kebahagiaan bagimu karena bekalmu haram, kendaraanmu haram, hajimu penuh dosa tidak diterima (tertolak)”. (HR At-Thabrani).

Apabila calon haji merasa ingin menambah lagi bekal yang ada selama di perjalanan hajinya agar jangan ‘bergeser niatnya’ dan rusak karena tidak halal sebelum sampai tujuan, maka hendaknya dia ingat bahwa perjalanan menuju akhirat lebih panjang daripada perjalanan hajinya.

Bahwa bekal yang sesungguhnya adalah takwa, sementara bekal yang dia bawa di perjalanan hajinya akan ‘berpisah’ dengan dia ketika ajalnya tiba dan tidak mendapat gantinya lagi. Seperti makanan basah yang cepat rusak, yang dibawanya pada waktu berangkat dari rumah dan pada saat dimakan sudah rusak/busuk.

Oleh karena itu hendaknya diusahakan dan diperhatikan agar amal perbuatannya yang merupakan bekal ke akhirat nanti, jangan sampai ‘tidak mendampinginya’ ketika dia pulang ke rahmatullah karena dirusak oleh sifat ria, sum’ah dan kotoran-kotoran hati lainnya.

Kendaraan yang ia tumpangi (mobil, pesawat) hendaklah ia syukuri nikmat Allah yang telah memudahkan dalam perjalanannya dengan kendaraan itu dan meringankan segala beban. Pada saat itu hendaklah dia ingat kendaraan yang akan membawanya ke ‘kampung akhirat kelak’.

Memperbanyak tobat

Untuk meningkatkan iman, seseorang calon haji hendaknya menjauhkan dirinya dari syirik. Karena, syirik menyebabkan rusak pekerjaan ibadahnya yang konkret maupun yang abstrak, sesuai firman Allah:



ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ



Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.(QS. Al-An’am : 88).

Melakukan tobat dari segala perbuatan maksiat dan larangan-larangan agama, adalah dengan total menyesali langsung perbuatan tersebut (tidak ditunda-tunda) serta bertekad tidak mengulangi kembali.

Selain itu harus mengembalikan hak-hak orang lain yang dia pergunakan tanpa izin, melunasi utang-utangnya, minta maaf atau minta dihalalkan segala urusan dan sangkut paut dengan orang lain mengenai urusan dunia dalam masa pergaulan terdahulu.

Para calon haji dianjurkan untuk berwasiat kepada keluarga yang akan ditinggalkan pergi haji, dengan menyertakan saksi dan mewakilkan kepada orang lain yang akan mengurusi atas namanya selama ia tidak dapat menyelesaikan karena menunaikan ibadah haji.

Ketika sebelum berangkat hendaklah :
– Calon haji sangat dituntut untuk memperluas wawasan keagamaannya dengan cara giat menghadiri majelis-majelis taklim, mencari guru pembimbing yang berpengalaman. Diutamakan pembimbing itu adalah ulama yang dapat membantunya tentang ilmu manasik haji serta akhlak yang mulia, mencegahnya apabila calon haji melakukan perbuatan tercela.

– Calon haji wajib mempelajari ilmu manasik haji karena ibadah tidak sah bagi yang tidak paham makna ibadah itu. Bahkan mempelajari manasik haji bagi jemaah haji merupkan fardu ain.

– Calon haji seharusnya menghindari kesalahan dalam melaksanakan yang disyariatkan. Perlu diingat bahwa ibadah haji itu baru dapat diterima apabila mempunyai dua syarat yaitu ikhlas dan menurut tuntunan Nabi Muhammad saw.

Setelah haji menjadi lebih baik

Salah satu tanda diterimanya amal seseorang di sisi Allah adalah diberikan taufik untuk melakukan kebaikan lagi setelah amalan tersebut. Sebaliknya, jika setelah beramal saleh melakukan perbuatan buruk, maka itu adalah tanda bahwa Allah tidak menerima amalannya.
Ibadah haji adalah madrasah.

Selama kurang lebih satu bulan para jamaah haji disibukkan oleh berbagai ibadah dan pendekatan diri kepada Allah. Untuk sementara, mereka terjauhkan dari hiruk pikuk urusan duniawi yang melalaikan. Di samping itu, mereka juga berkesempatan untuk mengambil ilmu agama yang murni dari para ulama tanah suci dan melihat praktik menjalankan agama yang benar.

Logikanya, setiap orang yang menjalankan ibadah haji akan pulang dari tanah suci dalam keadaan yang lebih baik. Namun yang terjadi tidak demikian, apalagi setelah tenggang waktu yang lama dari waktu berhaji. Banyak yang tidak terlihat lagi pengaruh baik haji pada dirinya.
Bertaubat setelah haji, berubah menjadi lebih baik, memiliki hati yang lebih lembut dan bersih, ilmu dan amal yang lebih mantap dan benar, kemudian istiqamah di atas kebaikan itu adalah salah satu tanda haji mabrur.

Orang yang hajinya mabrur menjadikan ibadah haji sebagai titik tolak untuk membuka lembaran baru dalam menggapai ridho Allah Ta’ala. Ia akan semakin mendekat ke akhirat dan menjauhi dunia.

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Haji mabrur adalah pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat.” Ia juga mengatakan, “Tandanya adalah meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan sebelum haji.”

Tidak ada tempat Mabrur bagi yang hanya mengejar titel Haji atau sekedar wisata dan bisnis atau bahkan sebagai simbol media pertobatan semu. Setelah kembali Haji, ya kembali lagi tanpa perubahan. Jauh dari sifat berusaha menjadi lebih baik. Naudzubillah.

Selamat jalan dan semoga menjadi haji mabrur dan kembali ke tanah air dengan lebih baik.

– Kiriman Jamaah MPI Percikan Iman –

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *