Shaleh Sosial Syarat Shaleh Individu

Seorang ahli tata negara pernah berkata bahwa baik-buruknya sebuah negara ditentukan oleh baik-buruknya keluarga dalam negara tersebut. Kita pun kemudian bertanya, “Apakah kemudian yang menentukan baik dan buruknya sebuah keluarga?” dan jawabannya tidak lain adalah setiap individu dalam keluarga tersebut. Dari sudut pandang agama, kita pun dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa keshalehan individu akan menentukan keshalehan sebuah keluarga, yang pada gilirannya, akan turut pula menentukan keshalehan suatu negara.

Menanggapi banyaknya musibah yang melanda negeri ini, sebagian orang mulai gamang bertanya, apakah ini adalah azab yang diturunkan oleh Allah karena penduduk Indonesia yang mayoritas adalah Muslim masih suka berbuat dosa dan jauh dari keshalehan? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, marilah terlebih dahulu kita berkaca. Apakah kita sudah layak disebut sebagai warga negara yang shaleh yang karena keshalehan tersebut Allah memberikan karunia tak terhingga kepada negara kita dan menghindarkan negara ini dari berbagai bencana? Untuk mengetahui apakah kita sudah termasuk manusia shaleh atau belum, paling tidak ada tujuh kriteria orang shaleh yang harus kita praktikkan dalam keseharian. Ketujuh kriteria tersebut adalah:

Pertama, salimul aqidah yang artinya keimanan yang lurus atau kokoh.
Akidah atau keimanan kepada Allah merupakan fondasi bangunan keislaman. Apabila fondasi keimanan ini kuat, insya Allah, amaliah keseharian pun akan istiqamah (konsisten), tahan uji, dan handal.

Kedua, muraqabatullah atau merasakan Allah sangat dekat untuk senantiasa mengawasi seluruh ucap dan gerak tubuh kita.

Ketiga, senantiasa berdzikir kepada Allah atau dzikrullah sebagai ekspresi kerinduan kepada-Nya. Perhatikan dua keterangan berikut.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلا خَمْسَةٍ إِلا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْثَرَ إِلا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Mujaadilah [58]: 7)

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 152)

Keempat, meninggalkan syirik.
Mengenai hal ini akan dijabarkan lebih rinci pada tulisan selanjutnya.

Kelima, rajin membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Quran karena ia adalah pedoman hidup umat Islam. Segala pemikiran serta tindak-tanduk kita hendaknya senantiasa disesuaikan dengan yang disebutkan dalam Al-Quran. Kedua hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam keterangan berikut.

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Q.S. An-Nisaa’ [4]: 48)

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Q.S. Shaad [38]: 29)

Keenam, shahihul ibadah yang artinya benar dan tekun dalam beribadah.
Para ahli membagi ibadah dalam dua bagian, yaitu ibadah ‘ammah dan ibadah khashshah. Ibadah ‘ammah adalah seluruh ucapan dan perbuatan (baik tampak maupun tidak tampak) yang diridhai dan dicintai oleh Allah Swt., seperti mencari ilmu, mencari nafkah, hormat kepada orangtua, ramah pada tetangga, dan lain-lain. Sedangkan ibadah khashshah adalah ibadah yang teknik pelaksanaannya ditentukan atau diatur secara detil oleh Rasulullah Saw., seperti ibadah shalat, haji, shaum, dan lain-lain.

Ketujuh, akhlaqul karimah yang artinya berakhlak mulia dan santun kepada orang lain.
Secara umum, akhlaqul karimah ini terdiri atas tidak menghina dan dzalim (aniaya) kepada orang lain, menghindari prasangka buruk, bersikap ramah kepada sesama manusia, berbicara santun dan menghargai orang lain, mendoakan yang terbaik untuk orang lain, berusaha meringankan beban orang lain, serta berusaha mencintai orang lain dengan tulus tanpa meminta imbalan.

Ketika secara individu kita sudah bisa dikategorikan sebagai manusia shaleh, maka tuntutan selanjutnya adalah mengajak orang lain untuk mengikuti jejak keshalehan kita.

Bukankah Rasul pernah bersabda agar kita menyampaikan kebenaran meski hanya satu ayat? Berawal dari keluarga terdekat, hendaknya kita senantiasa mengajak orang pada kebaikan hingga akhirnya hal tersebut juga kita lakukan pada lingkungan sosial bahkan lebih jauh lagi pada lingkup negara.

Nah, kalau jikalau termyata musibah masih kerap terjadi di negeri ini, mungkin karena kita masih kurang bersungguh-sungguh mengajak orang lain agar menjadi shaleh.

Bisa jadi, kita sudah berpuas diri ketika secara individu kita telah dikategorikan sebagai manusia shaleh, namun tidak peduli dengan kualitas keshalehan orang-orang lain di sekitar kita.

Bisa jadi, merupakan media penyaringan dari Allah swt untuk melihat mana keshalehan yang sebenarnya. Ngaku shaleh tapi tidak peduli saudara yang sedang terkena musibah, termasuk shalehkah dia?

Mulai sekarang, marilah kita bersama-sama menjadi orang shaleh karena bagaimanapun juga, keshalehan harus turut ditularkan kepada orang lain. Insya Allah. [Muslik]

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *