JALAN MULUS KE SURGA

Adalah harapan yang paling utama dari hidup ini, jika kelak dapat mengisi formulir registrasi sebagai penghuni komplek super mewah tanpa tanding. Akan tetapi, kita semua tahu bahwa untuk bisa memiliki tempat tinggal seperti itu -bahkan untuk sekedar menjadi penghuni komplek biasa saja- diperlukan persyaratan yang harus dipenuhi.

Mulai dari KTP, Kartu Keluarga, slip gaji, dan tentu saja syarat paling penting dari semua itu adalah sang Rupiah. Semua syarat yang dimaksud pastinya harus lengkap dan asli. Satu saja diantara syarat tersebut diketahui palsu, dijamin keinginan masuk komplek tersebut hanya mimpi atau sekurang-kurangnya akan menemui banyak sekali hambatan.

Begitulah gambaran singkat bagaimana manusia akan kembali kelak di akhirat. Setiap manusia hanya akan mengisi dua “komplek” tempat mereka tinggal tanpa batas waktu. Komplek pertama, itulah yang saya gambarkan di atas, yaitu komplek super mewah dan megah. Setiap penghuninya mendapat layanan super lengkap dan memadai tanpa ada celah kekurangan sedikitpun.

Karena dari semua nikmat yang hendak Allah berikan kepada manusia, 99% dilimpahkan di sini. Sedangkan tempat kembali lainnya adalah hotel prodeo yang sempit sesak namun penuh siksa di setiap detiknya. Siksa yang tiada tandingannya. Sungguh sangat mengerikan dan sulit untuk dideskrifsikan. Dan betapa anehnya, karena ternyata justeru lebih banyak manusia memilih bahkan senang berada di sana. Na’udzubillahi tsumma na’udzu billahi min dzalik.

Kalau demikian adanya, lantas sebagai hamba Allah yang menginginkan menjadi bagian dari penghuni komplek dengan lautan nikmat di dalamnya, bagaimana seharusnya kita berbuat?

Tidak berbeda jauh dengan apa yang telah digambarkan di atas, terlebih dahulu kita harus memenuhi syarat-syarat untuk memasukinya. Berdasarkan tinjauan sejumlah dalil-dalil yang ada, dalam konteks tertentu, syarat tersebut bermuara pada 3 hal utama, yaitu Iman, Ilmu, dan amal.

“Ke-3 syarat di atas mutlak untuk dipenuhi dengan seksama. Jika ada dusta dan kepalsuan berada di balik salah satunya, apalagi semuanya, tentu saja akan menggugurkan impian dan hasil dari kerja lainnya.”

Iman yang menjadi syarat pertama, sudah barang tentu mesti dilengkapi keteguhan yang menancap kuat di relung jiwa berhias keta’atan dan kepatuhan. Jika kemudian yang ada malah dusta dan kemunafikan, maka syarat pertama ini menjadi gagal total. Sehingga hotel prodeolah yang akhirnya telah menanti pasti kehadirannya.

Ilmu, yang menjadi syarat kedua, adalah bagian dari upaya untuk menjaga originalitas keberagamaan agar senantiasa berpijak pada landasan yang sebenarnya. Dengan ilmu juga, objektifitas dalam melaksanakan pesan-pesan keagamaan akan senantiasa terpelihara. Mengabaikan ilmu sama artinya dengan menggagalkan atau menghanguskan persyaratan yang harus dipenuhi.

Dengan demikian, jangan sampai diantara kita melewatkan kesempatan untuk mencari ilmu keislaman. Tidak ada alasan untuk tidak berusaha menyediakan waktu untuk mencari ilmu agar bisa memenuhi salah satu persyaratan sebagaimana dimaksud. Tolong diingat! Kebodohan ( akan keilmuan Islam ) hanya akan menjerumuskan kita pada jurang kesengsaraan tiada akhir. Na’udzubillah.

Syarat terakhir adalah amal. Jika iman harus mantap, ilmu harus lurus, maka amal seharusnya sesuai dengan juklak dan juknis yang telah ditetapkan. Kehebatan dan keistimewaan amal bukan diukur dari banyaknya intensitas dan bilangan amal, namun seberapa dekat amal itu berada di garis aturan al-Quran dan al-Hadits.

Logis memang, karena yang menciptakan manusia adalah Allah, yang memerintahkan kita untuk beramal pastinya juga Allah dan sudah seharusnya yang membuat segala peraturan tentang amal itupun adalah Allah. Kreatifitas yang muncul untuk memperkaya amal sehingga memunculkan aturan baru bukanlah hal yang baik bahkan seburuk-buruk kreatifitas dari kreatifitas yang ada.

Jika demikian adanya, maka dipastikan semua persyaratan agar gugur dengan sendirinya. Dan semua harus berakhir di tempat menyeramkan dan mengenaskan. Na’udzu billah min zalik. Rasulullah saw. Bersabda :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ ».رواه البخاري ومسلم , وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ ” مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرِنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (HR.Bukhari dan Muslim ). Dan dalam riwayat Muslim :“Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”.

Hadits ini merupakan sendi-sendi agama. Dimana segala hal menyangkut agama semestinya berada pada jalur yang sesuai sunnah. Namun tidak termasuk dalam konteks larangan hadits ini sesuatu yang bersifat teknis yang tidak bertendensi ritualisme.

Para ulama fiqih membuat batasan itu dalam beberapa qaidah fiqhiyyah seperti maslahah mursalah, saddudz-dzrarai’ dan beberapa qaidah lainnya. Contohnya, pembukuan Al-Quran, mengarang kitab-kitab nahwu, ilmu hitung, faraid dan sebagainya yang prinsif-prinsifnya tetap bersandar pada dalil-dalil umum yang shahih. Wallahu a’lam


Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *