logo-percikan-iman-sementara

JANGAN REMEHKAN DOSA KECIL

Dalam menjalani hidup, kita pasti pernah melakukan kesalahan. Setiap melakukan kesalahan tersebut, berarti kita telah melakukan perbuatan dosa yang tidak disukai oleh Allah Swt. Menurut istilah fukaha (ahli hukum Islam), dosa adalah dampak dari pelanggaran ajaran agama yang dilakukan dengan sengaja, sadar, dan tidak ada paksaan. Dapat dikatakan bahwa dosa adalah buah dari tidak menjalankan perintah Allah dan tidak menjauhi larangan-Nya.

Islam membagi dosa dalam 2  kelompok; besar dan kecil. Dosa besar adalah suatu pelanggaran terhadap perintah dan larangan-Nya. Pelanggaran tersebut menimbulkan kerugian dan kerusakan terhadap orang lain dan bersifat besar serta yang hanya dapat dihapus dengan taubatan nasuha. Taubatan nasuha adalah tobat yang sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya kepada Allah Swt. dan berjanji tidak mengulangi kesalahan yang sama. Khusus di negara yang memiliki syariat Islam, dosa besar dikenai hukum hudud atau qishash

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw. menyebutkan tujuh dosa yang termasuk ke dalam kategori dosa besar, yaitu (1) menyekutukan Allah (syirik), (2) melakukan sihir, (3) membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah Swt. kecuali dengan cara yang hak, (4) memakan harta riba, (5) makan harta anak yatim, (6) keluar dari medan perang karena takut kepada musuh, dan (7) menuduh zina kepada wanita mukminat yang telah bersuami.

Sedangkan, dosa kecil ialah dosa yang tidak ditentukan hukumannya ketika di dunia dan tidak diberi ancaman azab keras di akhirat. Selain itu, dosa kecil dapat dihapus dengan cara-cara berikut ini, yaitu memperbanyak istighfar dan dzikir kepada Allah Swt., melakukan ibadah wajib dan sunat, bersedekah, serta menunaikan amalan dan kebajikan.

Contoh nyata dosa kecil adalah zina mata dan zina hati. Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan terhadap anak-anak Adam bagian dari zina yang bisa jadi dia mengalaminya dan hal itu tidaklah mustahil. Zina mata adalah pandagan, zina lisan adalah perkataan di mana diri ini menginginkan dan menyukai, serta kemaluan membenarkan itu semua atau mendustainya.” (H.R. Bukhari)

Hadits tersebut menyebutkan mukadimah (pembuka atau tahap awal) zina. Orang yang melakukannya berarti telah mendekati zina. Bagi orang yang memandang wanita yang bukan mahramnya, bersalaman, atau menyentuh; di dunia tidak ada hukumannya, juga tidak dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya. Dosa semacam inilah yang dikategorikan sebagai dosa kecil.

Meski kecil, kita tidak boleh menyepelekan kelompok dosa yang satu ini. Dosa kecil yang dilakukan berulang-ulang sebaiknya kita hindari karena akan terangkum menjadi satu dosa yang besar.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhasrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (H.R. Bukhari)

Ya, dosa kecil yang terus ditumpuk akan menimbulkan kegelapan hati. Kegelapan itu akan benar-benar nyata dalam hati seperti halnya melihat dan merasakan gelapnya malam. Sesungguhnya, ketaatan itu cahaya dan dosa itu kegelapan. Semakin banyak dosa yang dilakukan, akan semakin gelap hati seseorang. Akibatnya, orang yang terus menerus melakukan dosa, pasti akan jatuh ke dalam kekafiran kerena hatinya sudah terhijab (tertutup) oleh kemaksiatan, dan kebenaran (al-haq) tidak mungkin lagi dapat menyentuh hati.

Bila hati telah sepenuhnya tertutup noda, tidak akan ada petunjuk yang dapat menembus gelapnya dan si empunya hati tidak akan mendapat manfaat dari peringatan-peringatan yang terdapat di dalam Al-Quran. Seharusnya kita merasa khawatir akan kehilangan nikmat hidayah ini, sehingga tidak boleh meremehkan dosa kecil.

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa dosa kecil tidak selamanya kecil. Dalam kondisi tertentu, dosa kecil akan menjadi dosa besar. Apa sajakah indikasinya?

Pertama, dosa kecil yang dilakukan terus-menerus.

Hal ini terjadi karena pengaruh kerasnya jiwa dan adanya bercak di dalam hati.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Allah Swt. berfirman, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imran [3]: 135)

Ibu Abbas pernah berkata, “Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan dengan terus menerus dan tidak ada dosa besar apabila disertai dengan istighfar.”

Kedua, menganggap remeh dosa kecil.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Berhati-hatilah kalian terhadap dosa kecil, sebab jika berkumpul dalam diri seseorang, ia (dosa kecil itu) akan membinasakannya.” (H.R. Ahmad dan Thabrani dalam Al-Ausath)

Ketiga, bergembira dengan dosa.

Orang yang bangga dengan dosa berarti sudah begitu lupa dengan bahaya dosa. Sehingga, malah senang tatkala dapat melampiaskan keinginannya yang terlarang. Perasaan senang terhadap suatu kemaksiatan menunjukkan adanya keinginan untuk melakukannya serta tidak adanya keinginan untuk bertobat. Jika kealpaan dan kelalaian semacam ini telah begitu parah, akan menyeret kita untuk melakukannya secara terus menerus, merasa tenang dengan perbuatan salah, dan bertekad untuk terus melakukannya.

Kondisi ini adalah jenis lain dari dosa yang jauh lebih berbahaya daripada dosa yang dilakukan sebelumnya. Allah berfirman, “Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka, cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 206)

Keempat, membongkar dan menceritakan dosa yang telah ditutupi oleh Allah Swt.

Seseorang yang melakukan dosa kecil dan telah ditutupi oleh Allah Swt. terkadang malah menampakkan dan menceritakannya. Maka, dosanya justru menjadi berlipat karena telah tergabung beberapa dosa. Dia telah mengundang orang untuk mendengarkan dosa yang dikerjakannya dan bisa jadi akan memancing orang lain untuk ikut melakukannya.

Dosa yang tadinya kecil, dengan sebab ini, bisa berubah menjadi lebih besar. Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلا خَمْسَةٍ إِلا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْثَرَ إِلا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, ‘Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?’ Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan, neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 7)

Kelima, terang-terangan dalam berbuat maksiat.

 Rasulullah Saw. bersabda, “Semua umatku akan diampuni dosanya kecuali orang yang mujaharah (terang-terangan dalam berbuat dosa) dan yang termasuk mujaharah adalah seorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, hingga pagi hari Allah telah menutupi dosa tersebut, tetapi kemudian dia berkata, ‘Wahai fulan, semalam saya berbuat ini dan berbuat itu.’ Padahal, Allah telah menutupi dosa tersebut semalaman, tapi di pagi hari dia buka tutup Allah tersebut.” (H.R. Bukhari Muslim)

Keenam, yang melakukan perbuatan dosa itu adalah orang yang menjadi teladan.

Yang demikian adalah apabila dia melakukan dosa itu dengan sengaja, disertai kesombongan, atau dengan mempertentangkan antara nash yang satu dengan yang lain; maka dosa kecilnya bisa berubah menjadi besar. Akan tetapi, lain halnya jika melakukannya karena kesalahan dalam ijtihad, marah, atau yang semisalnya; maka tentunya hal itu dimaafkan. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang memberi contoh di dalam Islam dengan contoh yang jelek, dia akan mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya setelah dia tanpa dikurangi dosa tersebut sedikit pun.” (H.R. Muslim)

Jadi, sudah sewajarnya kita lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini agar jangan sampai berbuat dosa kecil yang berakhir menjadi dosa besar. Naudzubillaahi min dzaalik (Ali)

 

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *