Tips Nyaman Bergaul & Bersilaturahim

Ukhti yang dirahamati Allah Swt., manusia adalah makhluk sosial. Mereka senantiasa ingin saling berkomunikasi, tidak bisa hidup sendiri, saling membutuhkan, saling memperhatikan, dan tentunya normal bila ada hasrat ingin saling mengenal dan saling menyenangkan satu sama lain. Bahkan dalam Islam, antara sesama mukmin terikat tali ukhuwah Islamiyah; persaudaraan sesama muslim dengan ikatan keimanan yang sama.

Dalam proses interaksi tersebut, kenyamanan akan hadir bila kita berupaya membina komunikasi, silaturahmi, dan tidak ada perbedaan persepsi terhadap arti persaudaraan yang dimaksud. Secara rinci, berikut sejumlah tips yang bisa dijadikan pegangan agar kita nyaman bergaul dengan saudara seakidah.

Jauhi berburuk sangka dan menggunjing.
Allah Swt. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman!Jauhilah bannyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan jangan kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu suka memakan daging saudaramu yang telah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Ttobat dan Penyayang.” (Q.S. Al-Hujuurat [49]: 12)

Menjauhi teman yang buruk akhlaknya.

 

Allah Swt. mengingatkan kita bahwa ada sebagian manusia pada hari kiamat yang menyesali pergaulan dengan temannya yang ternyata hanya membawa keburukan.
Firman-Nya,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلا (٢٧)يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلانًا خَلِيلا (٢٨)لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلإنْسَانِ خَذُولا

“Dan (ingatlah) hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Quran telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. Berkatalah Rasul, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini suatu yang tidak diacuhkan.'” (Q.S. Al-Furqaan [25]: 27-29)

Dalam ayat yang lain, Allah Swt. menerangkan,

الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ

 “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Zukhruf [43]: 67)

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad Saw. bersabda, 

عَنْ اَبِى مُوْسَى رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَثَلُ اْلجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَ اْلجَلِيْسِ السُّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ اْلمِسْكِ وَ كِيْرِ اْلحَدَّادِ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ اْلمِسْكِ اِمَّا تَشْتَرِيْهِ اَوْ تَجِدُ رِيْحَهُ، وَ كِيْرُ اْلحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ اَوْ ثَوْبَكَ اَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيْحًا خَبِيْثَةً

 

Dari Abu Musa RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan perapian tukang besi, tidak boleh tidak akan kamu dapati dari penjual minyak wangi itu, boleh jadi kamu membelinya atau mencium bau harumnya, sedangkan perapian tukang besi (bisa) membakar badanmu atau pakaianmu, atau kamu mencium bau busuknya”. [HR. Bukhari juz 3, ha. 16]

Miliki sifat pemalu seperti Rasulullah Saw.

 

Ketahuilah bahwa Rasulullah Saw. lebih pemalu dari gadis perawan dan apabila beliau tidak menyukai sesuatu hal itu terlihat dari wajahnya. Sifat haya (pemalu) itu termasuk bagian dari iman. Sifat haya dapat menghalangi kita dari sifat berdusta. Contoh sifat pemalu di sini adalah menghormati orangtua dan menjaga diri agar tidak terjerumus pada perbuatan maksiat.

Ucapkan perkataan yang baik.

 

Mari kita perhatikan ayat berikut.

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا

 

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka, janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya,dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 32)

Bertakwa kepada Allah dengan muraqabah kepada-Nya. 

Hal ini dapat membuat kita waspada terhadap kemaksiatan, baik yang kecil maupun yang besar. Dan, Allah telah menjanjikan bagi orang yang meninggalkan dosa-dosa besar bahwa akan dihapuskan dosa-dosa kecilnya dan akan dimasukkan ke dalam tempat yang mulia sebagaimana firman-Nya,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلا كَرِيمًا

 

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (Q.S. An-Nisaa [4]: 31) 

 

Senantiasa berbuat ihsan.

 

Ihsan adalah menyembah Allah seakan-akan kita melihat-Nya dan jika kita tidak melihat-Nya, maka sungguh Dia telah melihat kita. Mengenai hal ini, Allah Swt. menerangkan,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلا خَمْسَةٍ إِلا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْثَرَ إِلا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidakkah engkau perhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mreka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Mujaadilah [58]: 7)

Gemar bersedekah dan memberi hadiah kepada sesama.

 

Perhatikan kedua ayat berikut.

لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

 

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 114)

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Q.S. Saba’ [34]: 39)

Menurut Ibnu Qayyim, “Memberi hadiah serta bersedekah adalah perbuatan yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad Saw. dan kesenangan beliau saat memberi lebih besar dari kesenangan orang yang mengambil pemberian yang diberikan kepadanya. Beliau adalah orang paling dermawan dengan kebaikan, tangan kanan beliau bagaikan angin yang berembus kencang. Apabila ada orang yang membutuhkan datang meminta maka beliau mendahulukannya dari kepentingan pribadinya, mendahulukan mereka dengan makanan, dengan pakaian.”

Nabi Muhammad Saw. memerintahkan umatnya untuk bersedekah, baik dengan harta maupun perkataan. Beliau adalah manusia ciptaan Allah yang paling lapang dadanya, yang paling baik kehidupannya, paling halus hatinya. Dan, sedekah memiliki dampak yang sangat mengagumkan dalam mengasah jiwa lapang dada. Sedekah pahalanya tetap mengalir walaupun yang bersangkutan telah meninggal dunia.

 

Wallahu a’lam

(Teh Sasa Esa Agustiana)

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *