MERAIH Surga Dengan KEIMANAN

Masuk surga adalah impian dan cita-cita tertinggi bagi setiap manusia di dunia. Namun, untuk menuju ke sana, setiap orang harus melalui berbagai ujian dan rintangan. Sebaik-baik bekal yang mesti dibawa adalah takwa. Yaitu, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Itulah yang akan terasa berat dan membuat jalan ke surga menjadi terjal atau sulit dilalui. Hanya orang-orang terpilih dan mendapat hidayah-Nya yang akan berhasil melaluinya.

Setiap orang akan mendapatkan ujian sesuai dengan kadar keimanannya. Semakin tinggi imannya, semakin berat pula ujiannya. Rasulullah Saw. pada permulaan dakwahnya banyak menghadapi celaan, caci-maki, hinaan, bahkan tindakan kasar dan keji dari kaumnya. Namun beliau tetap bersabar. Contohnya adalah ketika pamannya, Abu Thalib, meminta beliau menghentikan dakwahnya.

Saat itu, beliau menjawab, “Wahai pamanku, meskipun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, aku tak akan menghentikan dakwahku, hingga maut menjemput diriku.” Itulah bukti cinta Rasulullah Saw. kepada Allah Swt. sekaligus kepada kaumnya. Sesungguhnya, Rasulullah Saw. sangat menyayangi pamannya itu. Namun, ketika pamannya memerintahkan suatu perkara yang bertentangan dengan perintah Allah Swt., beliau dengan tegas menolak.

Kemudian, setelah Islam berkembang pesat dan mengalami kejayaannya, Rasulullah Saw. tidaklah sombong dan menepuk dada. Beliau juga tetap amanah dan hidup sederhana meski ada kesempatan untuk bermewah-mewah. Beliau tetap tawadu dan memperbanyak amal ibadah. Shalat malam, puasa sunat, memperbanyak dzikir dan istighfar adalah “makanan” sehari-hari. Semua itu tetap beliau lakukan meski sudah dijamin surga! Itulah wujud cinta dan tanda syukur beliau kepada Allah Swt.

Bagaimanakah dengan kita? Sampai di mana usaha kita untuk dapat meraih surga-Nya? Kesibukan dunia ternyata telah banyak melalaikan kita dari-Nya. Shalat yang lima waktu saja sering terlambat, bahkan kadang terlewatkan (na‘udzubillaah). Shalat malam? Jangankan bangun untuk mengambil air wudhu kemudian shalat di pertengahan malam, saat azan subuh pun kadang kita malas untuk bangun. Lebih nikmat berselimut dan memeluk bantal daripada memenuhi panggilan-Nya.

Memang, jalan menuju neraka senantiasa dihampari berbagai hal yang menyenangkan sesuai dengan keinginan hawa nafsu. Di jalan itu, segala keinginan nafsu dapat diempaskan tanpa ada halangan. Tidak diragukan lagi bahwa jiwa manusia cenderung pada perkara yang enak-enak tanpa mengharapkan adanya kesulitan. Juga, cenderung pada segala kenikmatan tanpa mengharapkan adanya penderitaan. Jiwa manusia lebih senang pada kebebasan daripada segala macam keterikatan. Ini adalah fitrah yang disematkan oleh Allah Swt. kepada jiwa manusia.

Seandainya manusia tidak sanggup mengendalikan nafsunya dan terbujuk oleh kemauan nafsu, manusia akan memilih jalan yang mudah yang ujungnya akan berakhir sengsara di akhirat. Beda dengan jalan menuju surga yang senantiasa sulit dan penuh rintangan. Di sana terdapat batasan dan segala macam aturan. Bertolak belakang dengan kehendak nafsu dan mesti sanggup mengendalikan nafsu. Namun, di balik kesulitan yang temporer ini terdapat kenikmatan yang abadi ketika di akhirat nanti.

Iman pada diri seorang muslim laksana gelombang ombak di lautan. Suatu saat ombak itu menggunung tinggi sehingga perahu besar pun lumat terkoyak karenanya. Namun di waktu lain, ombak itu hanya bergerak landai hingga batu kerikil pun tak mampu digerakkannya. Ketika iman dalam keadaan pasang, saat itulah sebenarnya seseorang dalam kondisi terbaiknya. Betapa tidak, dengan keimanan yang tangguh sebagai sebuah manifestasi dari penetapan syahadah dalam dada, dia akan menjadi seorang pemberani dan tiada lagi yang ditakuti selain Allah Swt.

Sebagai seorang muslim, kita selalu menyimpan harapan supaya iman selalu bergelora dan stabil dalam setiap kondisi dan situasi. Sehingga, mampu menuntun setiap langkah untuk setia di jalan-Nya serta bisa menerangi setiap jengkal relung-relung jiwa untuk terhindar dari noda-noda dosa. Tetapi, harapan tetaplah harapan. Harapan tidak jauh beda dengan impian yang terkadang harus berbenturan dengan realita nyata pahitnya kehidupan. Dalam kenyataanya, iman dalam diri kita sering naik turun, tinggi rendah, serta berubah-ubah, bahkan dalam hitungan detik. Hal ini terjadi tidak lepas dari kaitan erat antara iman dan hati (qalbu) yang selalu berbolak balik.

Tidak heran jika kemudian Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Sesungguhnya iman itu diciptakan (diuji) di dalam diri kalian sebagaimana diciptakannya pakaian. Maka, hendaklah kalian meminta kepada Allah agar memperbarui iman di dalam hati kalian.” (H.R. Hakim dan Tabrani).

Naik turunnya iman merupakan tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan-Nya yang tidak bisa berdiri sendiri atau lemah. Namun demikian, hal ini jangan dijadikan alasan sehingga menyebabkan kita hanya berpangku tangan dan tidak mau berusaha untuk menemukan jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi. Hadits tersebut dapat juga ditafsirkan sebagai kritik bahwa kita sebagai hamba Allah Swt. harus berhati-hati sehingga dapat menjaga kestabilan iman.

Untuk menjaga kestabilan iman, paling tidak ada 10 tip yang dapat diikuti.

1. Tilawah Al-Quran dan mentadaburi maknanya dengan hening dan suara yang lembut (tidak tinggi). Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah Swt. sedang berbicara dengan kita.

2. Menyadari keagungan Allah Swt.
dan segala sesuatu berada dalam kekuasaan-Nya. Banyak hal di sekitar kita yang menunjukkan keagungan-Nya. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Allah Swt. Maha Menjaga dan Memperhatikan segala sesuatu. Bahkan, seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.

3. Berusaha menambah pengetahuan
, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudhu yang benar. Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.

4. Menghadiri majlis-majlis zikir
yang mengingat Allah Swt. Malaikat mengelilingi majlis-majlis tersebut.

5. Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah Swt. akan memudahkan jalan bagi orang yang bersedekah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara terus-menerus.

6. Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.

7. Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubur, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan; berakhir di surga atau neraka.

8. Berdoa, menyadari bahwa kita memerlukankan Allah Swt. Doa membuat kita merasa kecil di hadapan Allah.

9. Cinta kita kepada Allah Swt. harus kita tunjukkan dengan perbuatan. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima amal kita dan senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum tidur sebaiknya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita sepanjang hari itu.

10. Menyadari akibat perbuatan dosa dan pelanggaran.
Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan dan menurun dengan melakukan perbuatan buruk. [Ali]

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *