Mengajarkan Shaum Puasa Kepada Buah Hati

Orangtua sering merasa khawatir anaknya akan mengalami gangguan kesehatan atau akan kekurangan gizi karena melaksanakan shaum. Hal ini tidak harus dikhawatirkan karena faktanya shaum mempunyai dampak positif terhadap kesehatan tubuh, seperti sistem pencernaan, pernapasan, sirkulasi darah, serta sistem hormon yang akan bekerja lebih optimal.

Saat puasa, enzim serta hormon yang berhubungan dengan pencernaan beristirahat sekitar 12 jam sehingga sistem pencernaan akan mengalami perbaikan yang menimbulkan dampak positif. Saat berpuasa, tubuh menggunakan zat makanan yang tersimpan dan tertimbun berlebihan dalam tubuh untuk proses metabolisme. Hal ini berdampak positif pada keseimbangan zat-zat dalam tubuh. Tentang kekurangan gizi, hal ini tentu saja tidak akan terjadi jika ibu pintar mengatur makanan untuk buah hati sehingga kebutuhan gizinya tercukupi.

Mengenai rasa lapar yang akan dialami buah hati, pada dasaranya anak mempunyai kemampuan untuk menahan rasa lapar, apalagi jika mereka diberi motivasi yang kuat. Coba saja perhatikan ketika anak sedang ngambek lalu mogok makan. Ia akan tahan tidak makan untuk beberapa waktu.

Ini juga berlaku ketika ia memang tidak mau makan dikarena makanan yang disajikan tidak disukai. Pemenuhan gizi di bulan Ramadhan tidak akan menjadi masalah serius sepanjang orangtua mampu mengatur menu secara baik sebab pada dasarnya (di bulan Ramadhan) kita hanya mengubah jadwal makan. Dibandingkan hari-hari biasa, yang berubah di bulan Ramadhan adalah frekuensi makan dari tiga kali menjadi dua kali dan waktu sarapan menjadi lebih pagi, yaitu makan sahur.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi, sesungguhnya hal tersebut sudah dapat terpenuhi dalam dua kali makan dengan porsi yang lebih banyak. Mungkin akan muncul sedikit kesulitan pada anak-anak berkaitan dengan kebiasaan makan mereka yang porsinya memang lebih kecil (tapi sering).

Dengan membagi porsi menjadi dua kali makan, maka hendaknya volume makanan yang harus diberikan pada anak menjadi lebih besar. Makan sahur adalah waktu makan yang harus benar-benar diperhatikan terlebih pada awal dan akhir Ramadhan, anak-anak biasanya malas bangun karena sedang enak-enaknya tidur. Hal ini jangan dibiarkan karena akan mengakibatkan asupan gizi waktu sahur menjadi lebih sedikit. Meski demikian, memaksa anak untuk menghabiskan makanan pada waktu sahur sangat tidak dianjurkan.

Karenanya, para ibu harus pintar-pintar menyusun menu gizi seimbang yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, dan mineral secara seimbang. Besar porsi disesuaikan dengan pemenuhan gizi. Saat berbuka, sebaiknya anak dibiasakan untuk tidak memakan hidangan buka puasa sekaligus dalam waktu berdekatan. Ajarkan anak untuk makan secara bertahap, didahului dengan tajil dan kemudian shalat Maghrib sebelum akhirnya menyantap hidangan buka shaum.

Para ibu juga hendaknya memperhatikan kondisi anak selama shaum sebab ada juga anak yang begitu semangat berpuasa walaupun badannya lemas.

 

Demi kebaikan anak, orangtua jangan segan meminta anak untuk berbuka jika merasa mual atau mengeluh sakit perut. Secepatnya berilah anak teh manis hangat. Jika ada, berikan terlebih dahulu kue atau biskuit dan setengah jam kemudian berilah makan berat (nasi dan lauk pauk bergizi).

dr. Eddy Fadlyana Sp.AK
Rubrik : Kesehatan MAPI 082010

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *