Berkah Pengaturan Gizi Selama Ramadhan

Setiap datang Ramadhan, selalu timbul pertanyaan mengenai apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengatur asupan gizi supaya dapat tetap sehat sehingga tidak mengurangi kekhusukan shaum. Hal ini terkait dengan kontroversi yang timbul yang menyatakan bahwa mengubah dan mengurangi asupan makan akan membawa pengaruh buruk terhadap tubuh.

Sekali lagi ditegaskan di sini bahwa secara ilmiah shaum membawa banyak manfaat. Hal ini diakui oleh ilmuwan-ilmuwan non-muslim yang meniru bahkan menganjurkan pola makan seperti shaum yang mengurangi asupan makanan serta mengatur frekuensi maupun mengatur jenis makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Pembuktian lain menyatakan bahwa asupan makan yang lebih rendah 10-15 % dari kebutuhan tubuh akan menyebabkan beban organ tubuh (yang berhubungan dengan pencernaan, distribusi, pemakaian, dan pembuangan sisa makanan) berkurang sehingga akan memperlambat proses penuaan atau penurunan fungsi organ tersebut. Hal ini akan berefek pada kondisi kesehatan dan harapan hidup yang lebih panjang. Inilah salah satu makna yang terkandung dalam salah satu firman-Nya. 

“…Dan puasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 184)

Pentingnya Makan Sahur

Menimba besarnya manfaat shaum ternyata tidak sesulit dan serepot yang dibayangkan. Shaum yang mewajibkan kita menahan makan dan minum sejak terbit fajar sampai terbenam matahari ini menyebabkan terhentinya asupan makan dan minum sekitar 14 jam (untuk muslim yang tinggal di Indonesia).

Makan sahur sangat besar manfaatnya bagi tubuh yang akan melaksanakan shaum. Makan sahur dengan menu yang kaya akan sumber energi, protein, vitamin, mineral, dan air yang cukup akan membuat tubuh tetap sehat dan bugar sehari penuh karena pada dasarnya asupan yang diperlukan telah tercukupi saat makan sahur. Betul kiranya hadits muttafaq ‘alaih yang menyatakan, “Makan sahurlah kamu karena dalam makan sahur itu terdapat keberkahan.”

Dengan tidak adanya makan siang, tubuh akan berada pada kondisi kelaparan ringan sampai sore. Namun demikian, tubuh akan beradaptasi dengan membebaskan cadangan energi dengan bantuan sistem hormon. Rasullullah Saw. menganjurkan untuk mengakhirkan waktu sahur supaya tubuh lebih bugar selama shaum. Makan utama pada saat sahur dan berbuka juga dianjurkan lengkap zat gizinya. Setelah melaksanakan shalat tarawih, orang yang ingin mempertahankan atau menambah berat badannya dapat mengkonsumsi makanan kecil dalam jumlah terbatas.

Bagaimana Jika Makan Sahur Terlewat?

Ketika shaum, berkah akan selalu menyertai orang yang makan sahur. Pada orang yang makan sahur, pemakaian energi selama puasa lebih utama berasal dari karbohidrat dan lemak sehingga hal tersebut akan mengontrol kadar gula dan lemak darah. Pada orang yang tidak makan sahur, protein akan ikut dipakai untuk memenuhi kebutuhan energi sehingga akan meningkatkan beban hati dan ginjal dalam mengolah dan membuang zat sisanya.

Hal ini akan menurunkan imunitas dan menghambat pertumbuhan pada anak yang terbiasa tidak makan sahur. Selain itu kebutuhan energi yang cepat akan meningkatkan produksi asam keton dari lemak yang bila kadarnya berlebih akan mempengaruhi keasaman darah dan mempengaruhi aktivitas organ tubuh. Karenanya, jangan lewatkan makan sahur.

Konsumsi Suplemen Saat Shaum

Apakah mengkonsumsi suplemen saat shaum memang diperlukan? Pada dasarnnya, kebutuhan suplemen sangat individual. Orang dewasa sehat dengan aktivitas normal dan terpenuhinya pola makan di atas tidak perlu mengkonsumsi suplemen. Namun demikian, banyak kondisi yang menyebebkan kita membutuhkan suplemen. Suplemen dapat berisi vitamin, mineral, tumbuhan herbal, atau pun kombinasinya. Vitamin C diperlukan bila asupan vitamin C dari buah segar kurang atau kondisi tubuh memerlukan asupan vitamin C lebih dari kebutuhan normal.

Multivitamin B yang diperlukan untuk pembentukan energi dan protein sering rusak karena proses pengolahan makanan. Vitamin D dan E diperlukan pada kondisi tertentu. Kalsium diperlukan untuk kondisi tertentu yang tidak dapat dipenuhi dari makanan. Oleh karena itu, berkonsultasilah pada tenaga kesehatan untuk mengetahui kebutuhan suplemen bagi tubuh kita saat shaum. Hal ini diperlukan agar konsumsi suplemen tepat sasaran, tidak membebani kerja organ tubuh, serta tidak mubazir.

Shaum & Libur

Pada bulan Ramadhan, umumnya sekolah atau beberapa instansi lainnya memberi kelonggaran (libur) pada hari pertama shaum. Harus kita ingat di sini bahwa shaum tidak dapat dijadikan alasan untuk malas beraktivitas. Libur yang diberikan bertujuan untuk penyesuaian rutinitas (terutama makan dan minum) agar kekhusyukan ibadah Ramadhan tidak terganggu. Aktivitas ringan sampai sedang (seperti olah raga ringan atau berbagai pekerjaan rumah atau kantor lainnya) dapat tetap dilakukan. Orang yang tetap melakukan aktivitas pada saat shaum akan lebih bugar daripada orang yang melakukan aktivitas sangat ringan atau bahkan tidur siang lebih lama.

Saat shaum, banyak sekali pembelajaran yang kita dapatkan seperti mengendalikan nafsu malas sahur, mengendalikan rasa lapar, dan mengontrol diri agar tidak makan berlebih. Hal tersebut dilatih terus menerus selama sebulan sehingga kebiasaan memilih makan seimbang, mengontrol jumlah, dan disiplin makan diharapkan akan tetap dapat diterapkan di luar Ramadhan. Amin.

Oleh : dr. Nur Fatimah, SpGK, MS

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *