ALLAH ITU BAIK

Tersebutlah di sebuah kampung ada seorang pemudah saleh yang giat mengajarkan nilai-nilai agama. Suatu hari, ketika tengah menerangkan tentang hakikat keberadaan serta peran Allah Swt. dalam kehidupan umat manusia, datanglah seorang pemuda atheis yang membantah semua yang dikatakan pemuda saleh. Berbagai dalil ayat dan hadits sudah disampaikan oleh pemudah saleh demi menguatkan argumentasi dakwahnya. Meski demikian, pemuda atheis keukeuh tidak mau mengakui keberadaan Allah Swt. Tidak kehabisan akal, pemuda saleh pun mengajak pemuda atheis melakukan perjalanan untuk membuktikan keberadaan Allah Swt.

Pada hari yang telah ditentukan, pergilah mereka untuk melakukan perjalanan spiritual. Dalam perjalanan tersebut, dibawa serta seekor keledai untuk membawa barang-barang, obor untuk menerangi jalan di malam hari, serta seekor ayam. Sepanjang perjalanan, pemuda saleh senantiasa berusaha menerangkan eksistensi Allah Swt. melalui fenomena alam yang mereka lihat. “Allah itu baik,” kata si pemuda saleh kemudian.

“Jika demikian, baiklah. Kita akan lihat apa yang akan diperbuat Tuhanmu di sisa perjalanan kita,” dengan sinis pemuda atheis tersebut menjawab.

Ketika malam tiba, sampailah mereka di sebuah desa kecil dan mereka pun mencari penginapan untuk bermalam.Namun, tak seorang pun penduduk desa yang mengizinkan kedua pemuda tersebut untuk bermalam di rumah mereka. Dengan terpaksa, pemuda saleh dan pemuda atheis melanjutkan perjalanannya keluar dari desa dan bermalam di alam terbuka.

“Aku berpikir kau akan berkata bahwa Tuhan itu baik,” kata pemuda atheis setelah mereka menemukan lokasi yang cukup nyaman bermalam.

“Ya, begitulah kawan. Allah berkehendak seperti itu karena tempat ini adalah tempat terbaik untuk kita tidur,” pemuda saleh menjawab sambil tersenyum.
Malam itu, mereka memutuskan mendirikan tenda di bawah pohon besar di samping jalan masuk menuju desa yang berbatasan dengan hutan. Pemuda saleh mengikat keledai pada sebatang pohon yang berjarak tidak jauh dari tenda dan pemuda atheis menyalakan obor. Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar kegaduhan. Tak lama kemudian, mereka melihat seorang lelaki setengah baya yang lari tergopoh-gopoh keluar dari hutan.

“Ada singa… Ada singa…”, teriak lelaki setengah baya memberi peringatan kepada kedua pemuda tersebut.

Sontak mereka kaget dan tanpa diperintah mereka langsung memanjat pohon untuk menyelamatkan diri sementara lelaki setengah baya yang memperingatkan mereka terus berlari ke arah desa. Betul saja, tidak beberapa lama kemudian muncullah seekor singa yang terlihat sangat lapar. Demi melihat ada seekor keledai terikat pada sebatang pohon, singa lapar tersebut menerkam sang keledai malang. Dari atas pohon, kedua pemuda tersebut melihat keledai mereka dilahap dengan buas oleh si raja hutan yang kelaparan tersebut. Setelah kenyang, singa tersebut kembali ke dalam hutan.

“Kau masih berpikir bahwa Tuhan itu baik?” tanya pemuda atheis.

“Tentu saja. Memangnya kenapa?” jawab pemuda saleh dengan santun.

“Singa milik Tuhanmu telah memangsa keledai yang membawakan barang-barang kita. Apakah yang seperti masih dianggap baik?”

“Jika singa itu tidak memangsa keledai, kita yang akan dimangsa oleh singa itu,” pemudah saleh itu menjelaskan. “Allah itu baik,” lanjutnya.

Selang beberapa saat kemudian, mereka mendengan suara ayam yang mereka bawa dalam perjalanan. Dari atas pohon, mereka dapat melihat seekor kucing besar menyerang ayam mereka dan mencabiknya. Sebelum pemuda atheis itu berbicara sini, pria saleh berkata, “Tuhan telah menyelamatkan kita dengan perantara ayam itu. Sekali lagi, Allah itu baik.”

Menjelang malam, angin bertiup makin kencang dan akhirnya memadamkan obor yang berfungsi sebagai penerang dan penghangat bagi kedua pemuda tersebut. Sang pemuda atheis langsung mengejek, “Rupanya kebaikan Tuhan bekerja untuk kita sepanjang malam.” Pria beriman diam, tidak berkata apa-apa.

Keesokan harinya, setelah melewati malam dengan berbagai peristiwa dan perdebatan mengenai kebaikan Tuhan, mereka merasa lapar dan hendak membeli makanan di desa. Sesampainya di sana, mereka terperanjat demi melihat pemandangan yang serba kacau. Rumah-rumah yang berantakan, muka-muka yang tertunduk lesu dan para wanita yang menagis tersedu sedan. Dari seorang warga desa yang mereka tanyai, diketahui bahwa pada kemarin malam, segerombolan perampok menyerang penduduk desa dan merampok semua yang ada di desa itu.

Kepada pemuda atheis, pemuda saleh berkata, “Sekarang sudah jelas. Allah  itu sungguh baik. Jika kita bermalam di sini, kita akan dirampok seperti penduduk desa ini.” Pemuda atheis hanya terdiam mendengar penjelasan kawan perjalanannya itu. Pemuda saleh melanjutkan, “Jika angin tidak memadamkan obor yang kita nyalakan, maka gerombolan perampok yang lewat akan melihat kita dan merampok kita juga. Selain itu, jika ayam kita tidak dimangsa oleh kucing, ayam itu juga pasti akan bersuara gaduh yang akhirnya memberitahukan keberadaan kita pada perampok-perampok itu. Sangat jelas bukan bahwa Allah Swt. itu baik? Sungguh baik.”

Merasa bahwa pendapatnya selama ini salah, pemuda atheis memilih diam hingga akhirnya mereka memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Di tengah perjalanan, pemuda atheis berkata, “Baiklah, aku mengaku salah. Aku mengakui bahwa Tuhan itu ada dan Dia selalu menyayangi umat-Nya.”

Senyum mengembang di wajah pemuda saleh. “Alhamdulillah. Mata hatimu telah terbuka, wahai saudaraku. Insya Allah, tidak ada kata terlambat untuk bertobat.” [Muslik]

 

MaPI Januari 2012

 

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *