MATINYA LAUT MATI

“Kaum Luth telah mendustakan peringatan itu. Sungguh Kami kirim pada mereka badai batu, kecuali keluarga Luth, yang Kami selamatkan di waktu sahur.” (Q.S Al-Qamar [54]: 33-34)

Kalau kita naik mobil dari Amman – ibukota Jordania – ke Jerusalem, di tengah perjalanan atau lebih tepatnya di KM 37 ada sebuah persimpangan. Jika belok ke kiri, kita akan menemui jalan yang terus menurun sepanjang 10 km. Dan, sampailah kita pada tempat paling rendah di muka bumi, minus 423 m di bawah permukaan laut. Di sini, terbentang danau yang saking luasnya disebut laut dan dinamakan Bahrul Mayyit atau Laut Mati.

Disebut demikian karena di danau ini tidak ada kehidupan sama sekali akibat kadar garam yang sangat pekat, yakni 33,7% atau hampir 10 kali lebih asin dari air laut lain. Hal ini juga yang membuat orang bisa terapung walau tidak pandai berenang. Posisinya sebagai tempat terendah di bumi menyebabkan sinar ultra violet matahari harus menembus lapisan udara hampir setengah kilometer sebelum sampai ke kulit kita. Maka, berjemur di sini lebih aman dibandingkan pantai-pantai lain.

Apalagi lumpurnya mengandung mineral magnesium chlorida, sodium, potassium, dan lain-lain yang baik untuk kesehatan kulit. Pantas kiranya jika sejak ribuan tahun lalu, Laut Mati menjadi favorit tempat beristirahat para raja sekelas Herodes dan Cleopatra. 

Daerah ini juga menjadi pentas sejarah beberapa Nabi, seperti Musa, Daud, dan Luth. Di ujung selatan danau, ada perbukitan dengan bebatuan kapur. Salah satunya dipercaya sebagai istri Nabi Luth yang dikutuk menjadi batu karena menolak meninggalkan kota Sodom yang merupakan pusat kaum homoseksual.

Tapi sayang, volume Laut Mati ini menyusut 30 cm setiap tahun akibat penguapan air. Hal ini diperparah dengan berkurangnya pasokan air dari sungai Jordan yang mengalirkan air dari danau Galilea. Memang, air sungai Jordan banyak dimanfaatkan penduduk setempat untuk keperluan pertanian, industri, dan rumah tangga.

Para ahli memperkirakan bahwa Laut Mati akan kering pada 2050. Setelah itu, kita hanya akan melihat lahan gersang yang pernah menjadi lokasi Laut Mati yang sudah mati. Namun tetap, Laut Mati akan menjadi peringatan tentang murka Allah pada perilaku homoseksual. Wallahu a’lam.

Related Post

Humas PI

“Menuju Era Dakwah Tanpa Batas” ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *