Menjadi Pemaaf yang Spesial

Apa yang ada di benak seseorang ketika ada orang yang menzalimi dirinya?

Ada tiga pilihan. Pertama, membalas dendam perbuatan zalim tersebut dengan perbuatan yang setimpal, atau bahkan dengan perlakuan yang lebih zalim lagi. Kedua, memaafkan, dengan catatan terkadang masih tersimpabn kebencian dalam hati. Ketiga, membalasnya dengan kebaikan.

Lalu, jika hal itu terjadi pada diri kita. Misalnya, ada orang yang menzalimi diri kita, mana yang akan kita pilih sebagai responsnya?

Sedikit berkontempelasi terhadap firman Allah dalam Surat Fushilat (41) ayat 34. “Kebaikan itu tidak sama dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik sehingga orang yang memusuhimu akan seperti teman yang setia.”

Ada resep ajaib yang tertuang dalam surah ini. Di sana, Allah menjelaskan bahwa kejahatan dan kebaikan itu tidak sama, maka kita dianjurkan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Harapannya, ketika antara kita dan si pelaku kejahatan itu awalnya terdapat permusuhan yang hebat, maka nantinya akan menjadi kawan yang sangat setia.

Mari kita tengok bagaimana sosok Al-Quran berjalan, Nabi Muhammad Saw., mengaplikasikan ayat Allah tersebut dalam kehidupan. Mungkin kita masih ingat bagaimana perilaku beliau terhadap orang yang senantiasa meludahinya setiap kali berangkat ke masjid.

Tatkala si peludah itu tak terlihat batang hidungnya, Nabi mencari informasi hingga akhirnya didapat bahwa si peludah itu sedang sakit. Jadilah Nabi sebagai penjenguk pertama serta membawakannya makanan. Haru dan lantunan dua kalimat syahadat terucap dari bibir sang peludah, reaksi akan agungnya akhlak Sang Nabi.

Atau, mungkin kita masih ingat ketika seorang pengemis Yahudi yang buta kerap kali mencaci beliau. Namun, dengan sabar Nabi tetap menyuapinya setiap hari, bahkan melembutkan makanan yang dibawanya agar mudah dikunyah oleh Si Pengemis. Tentu saja, pengemis itu tidak tahu kalau orang yang meyuapinya merupakan orang yang kerap dihinanya. Hingga suatu saat, ketika Nabi wafat, Abu Bakar menggantikan “ritual” menyuapi pengemis Yahudi tadi.

Karena sudah terbiasa dengan tangan Rasulullah, dia merasakan perbedaan saat tangan orang lain yang memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Saat si pengemis bertanya ke mana orang yang biasa menyuapinya, Abu Bakar menjawab bahwa orang itu telah meninggal, dan dia adalah manusia yang selalu dihinanya, Nabi Muhammad Saw. Pecahlah tangis Si Pengemis. Singkat kata, mengalirlah kalimat syahadat darinya.

Mari, kita simak kembali pertanyaan di muka. Sudahkah Anda menjatuhkan pilihan, mana yang Anda pilih? Pertama, kedua, ataukah yang ketiga? Tanpa bermaksud menuduh dan berburuk sangka, sepertinya kebanyakan di antara kita akan memilih poin pertama, yaitu membalas kezaliman tersebut dengan balasan yang setimpal.

Rasanya, tak akan puas hati ini sebelum kita bisa melakukannya. Atau, beberapa gelintir akan memilih poin kedua, memberi maaf, itu pun dengan berat hati. Lalu, adakah yang memutuskan untuk memilih poin ketiga? Bukan sekadar member maaf, tetapi membalasnya dengan kebaikan.

Ketika ada satu ajaran agama lain yang mengajarkan untuk memberikan pipi kanan ketika pipi kiri kita ditampar dengan dalih demi perdamaian dunia, maka inilah Islam. Ia menganjurkan penganutnya untuk membalas kejahatan dengan kebaikan demi persahabatan dan baiknya hubungan sosial. Dalam pengajaran agama, kita memang diberi hak untuk membalas kejahatan dengan balasan yang setimpal. Namun, memberi maaf lebih diajurkan. Bahkan, ada nilai lebih ketika kita malah membalasnya dengan kebaikan.

Sebelum ke tingkat yang lebih tinggi, tentunya kita harus berkenalan dulu dengan kata “maaf”. Menurut McCullough dkk. (1997), pemaafan merupakan seperangkat motivasi untuk mengubah seseorang untuk tidak membalas dendam dan meredakan dorongan untuk memelihara kebencian terhadap pihak yang menyakiti serta meningkatkan dorongan untuk memperbaiki hubungan dengan pihak yang menyakiti.

Menekan amarah artinya akan menimbulkan reaksi kimia dalam tubuh kita berupa penurunan hormon adrenalin yang merupakan pemicu sikap agresi dalam tubuh. Juga, menekan hormon kortisol yang berperan menimbulkan kecemasan dan stres dalam tubuh kita. Apa jadinya jika aliran darah kita selalu diendapi hormon tersebut secara berlebihan tiap saatnya? Itu akan terjadi ketika kita memelihara dendam dalam hati.

Bukankah itu akan menjadi beban dan luka yang terpelihara? Apalah arti hidup jika kita terus memelihara luka dan menyengaja membuatnya menjadi permanen? Rasa cemas dan kecenderungan agresi menjadi karakter kita.

Menurut Harun Yahya, para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keping-keping darah yang memicu pembekuan darah, menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi. Oleh karenanya, memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Proses memaafkan juga bukan berarti kita mengingkari luka yang ditimbulkan oleh pelaku. Kita tetap mengakui bahwa itu adalah hal yang menyakitkan. Namun, esensinya bagaimana luka tersebut pada awalnya harus kita “balut”. Oleh karena itu, meredakan dan memadamkan kebencian terhadap seseorang yang menyakiti, bila dibalut, apalagi ditambah dengan obat, ibaratnya memberi antibiotik untuk mematikan sumber sakit.

Meredam kebencian juga menjadi proses pemaafan berikutnya. Ketika bisa berpikir dengan jernih, kita akan sadar bahwa memelihara kebencian tak akan berguna. Bahkan, hanya membuat keadaan lebih buruk. Bila tak kunjung bisa meredam, cobalah untuk berempati dan menyelami pikiran si pelaku kejahatan. Cobalah cari seribu alasan logis mengapa dia berbuat demikian sehingga terkadang kita akan menemukan sebuah pemakluman. Atau, bisa jadi ada sebuah sebab yang jika dipikirkan terjadi kepada diri kita, maka kita pun akan melakukan hal yang sama. Bahkan, bukan tidak mungkin bisa lebih buruk. Sehingga, kita bisa introspeksi bahwa diri kita tak lebih baik dari si pelaku.

Terakhir, dan ini yang paling penting, adalah bagaimana kita dengan si pelaku kejahatan bisa menjalin hubungan baik. Pihak yang menyakiti harus tulus menyatakan kepada pihak yang disakiti dengan tidak akan menyakiti hati lagi. Pihak yang disakiti perlu percaya bahwa pihak yang meminta maaf menepati janji yang dibuat. Mereka juga harus berjanji untuk berjalan bersama di masa yang akan datang dan saling membutuhkan satu sama lain.

Ini bisa dilakukan oleh orang yang dizalimi terhadap pelaku dengan membalas kezaliman itu dengan perbuatan yang baik. Dari perbuatan baik itu, akan menyentuh hati nurani si pelaku kejahatan dan memperkuat komitmen dalam persahabatan, menumbuhkan rasa saling setia dan membutuhkan. Seperti apa yang dicontohkan oleh Nabi kita.

Itulah resep ajaib dari Surah Fushilat yang sempat disinggung. Berkali-kali Nabi menerapkan resep ini untuk menunujukkan keluhuran akhlaknya sehingga dengannya beberapa di antara orang yang dekat dengan beliau melantunkan syahadat keislamannya. [Ilyas]

 

Referensi : Majalah MaPI, edisi Mesi 2012

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *