belajar lebah

Ingin Seperti Semut, Laba-laba Ataukah Lebah?

Sahabat Percikan Iman, Allah banyak menyebutkan nama-nama makhluk Nya dalam Al-Qur’an. Termasuk nama-nama binatang, bukan hanya sekedar nama tetapi jika dimaknai maka akan memberikan hikmah dan pelajaran yang mendalam bagi umat beriman.

Sahabatku, benar sekali bahwa tak ada ciptaan tanpa kegunaan dan visi misi didunia. Termasuk keberadaan binatang-binatang ciptaan Allah Swt.


إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”  (QS.2 :26)

Tak ada kesia-siaan dalam penciptaan makhluk. Di dunia binatang, tak hanya sebagai pelengkap rantai makanan saja tetapi perilaku-perilakunya memberikan hikmah pelajaran luar biasa. Jika kita mau mengambil dan menggunakan akal kita.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ .الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran, 3:190-191)

Baiklah marilah kita perhatikan 3 jenis binatang ciptaan Allah yang sering disebut di Al-Qur’an, yakni : semut, laba-laba, dan lebah. Secara umum, mereka termasuk makhluk mungil dan tak bisa terbang. Coba cermati keterangan berikut ini :

SEMUT
Termasuk hewan yang paling tua didunia. Tahukah sobat, bahwa semut termasuk yang paling rajin menumpuk-numpuk makanan. Ia menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mengumpulkan makanan, sedikit demi sedikit tanpa pernah cuti. Semut cenderung menghimpun makanan untuk persediaan bertahun-tahun, meskipun ia tau usianya sendiri tidak lebih dari satu tahun.

Ketamakannya juga luar biasa, sehingga sering kita lihat semut berusaha memikul sesuatu yang jauh lebih besar dari badannya, lebih konyol lagi sesuatu itu (mungkin)  sebenarnya tidak berguna baginya. Mereka tak dapat hidup sendiri-sendiri, mereka menerapkan kedisiplinan dalam koloninya sehingga tak ada istilah libur bagi mereka.

Manusia mana yang berbudaya semut?
Mereka adalah yang senang sekali menumpuk sesuatu yang (mungkin) tidak pernah dinikmatinya.Ia menggali ilmu (dengan sangat banyak) tapi tidak mengolahnya lebih lanjut sehingga jiwanya tetap saja kering dan tak memberikan menfaat ke lingkungan sekitar.

Ia menumpuk-numpuk harta tanpa mengerti makna harta itu sendiri, ia terus merasa fakir. Ia bekerja terus menerus sampai larut malam seperti tidak pernah letih dan lupa menikmati hasil dari pekerjaan tsb. Apalagi untuk bersyukur kepada Allah, seolah tidak ada waktu baginya. Aji mumpung adalah andalan ilmunya, padahal itu hanyalah pancingan syetan agar tak henti mengejar dunia.

LABA-LABA
Lain lagi laba-laba, binatang ini berpolah menakutkan. Sarangnya meskipun lemah, jelas bukan tempat yang aman bagi makhluk lain. Apapun yang terjaring disana pasti akan disergapnya tanpa belas kasihan, cara ia membunuh mangsanya pun cukup mengerikan.

Bukan itu saja, kalau kita perhatikan lebih cermat, jantannya (spiderman) pun seringkali dimangsa oleh spiderwomen. Luar biasa memang laba-laba ini. Bahkan, konon telurnya yang menetas selalu saling berdesakan hingga saling memusnahkan sesamanya.

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba (labah-labah) yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba (labah-labah) kalau mereka mengetahui”. (QS. Al’ankabuut: 41)

Dinamai “Al’Ankabuut” berhubung terdapatnya perkataan Al’Ankabuut yang berarti “laba-laba” (labah-labah) pada ayat 41 surat ini. Dimana Allah mengumpamakan penyembah-penyembah berhala-berhala itu, dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat menjerat mangsanya. Padahal sebenarnya itu bentuk yang lemah, kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur tak kuat menahan.

Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu. Padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syua’ib, kaum Saleh, dan lain-lain. Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Manusia mana yang berbudaya Laba-laba?
Dia tidak pernah berpikir apa, dimana, dan kapan ia makan, tapi yang mereka pikirkan adalah siapa hari ini yang akan mereka makan.

Kebutuhannya tidak hanya makan, tapi lebih karena kenikmatan membunuh dan menyiksa mangsanya.

Manusia seperti ini tidak pernah mengenal artinya kawan, balas budi dan belas kasihan, semuanya dilandaskan kepada kepentingan dirinya.Menikam kawan seiring adalah tradisi nya, seperti membunuh jantannya.

Menangguk di air keruh adalah keahliannya, raja tega adalah gelarnya, intrik dan fitnah adalah atributnya. Benar-benar hamba syetan. Prinsipnya hidup adalah sekali, nikmati sepuas-puasnya, masalah akhirat itu masalah nanti. Semoga kita tidak termasuk didalamnya…

LEBAH
Sahabatku, binatang ini sangat disiplin dengan pembagian waktu dan kerja yang sangat tertib. Dalam bekerja dia menghasilkan “kebaikan manfaat” dengan tempat kerjanya. Menghasilkan pembuahan pada tanaman, karena memindahkan tepung sari ke putik bunga. Dan berusaha tak merusak apa yang sedang ia kunjungi dalam mengambil sari madunya.

Sarangnya dibangun segi-enam yang telah terbukti sangat ekonomis dan kuat dibandingkan bila segi empat atau lima. Sarangnya selalu terjaga dari benda-benda yang tidak berguna. Makanannya pun terpilih dari sari bunga yang kemudian diolah menjadi madu dan lilin yang sangat bermanfaat bagi manusia.

Lebah tidak pernah mengganggu, sengatnya dikeluarkan hanya dalam keadaan darurat saja, karena ia tahu setelah ia mengeluarkan sengat ia pun terancam akan mati. Bahkan sekarang sengatnya pun juga berguna bagi penyembuhan penyakit-penyakit tertentu. Dan uniknya dia suka tinggal di tempat-tempat yang gampang terlihat. Kebersamaannya sangat kuat, sekali terganggu bisa jadi akan muncul persatuan untuk membalasnya

Manusia yang berbudaya lebah :
Pastinya tidak suka mengganggu, apalagi merusak. Tidak makan kecuali yang baik,tidak berbuat kecuali yang menghasilkan. Tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat. Tidak berkorban kecuali untuk kepentingan orang lain, tidak penakut kecuali untuk kebenaran. Tidak menyengat kecuali untuk memberi pelajaran bagi orang zalim. Dan rela mati demi membela agama Allah Swt. Dan memilih hidup dilingkungan-lingkungan yang terjaga.

Lebih detail tentang akhlak yang dapat diteladani dari Lebah ini adalah :

  • Lebah mengisap sari pati bunga. Maksudnya memakan makanan yang baik2, yang halal;
  • Lebah keluarkan madu. Maksudnya, Bicara selalu yang baik-baik, bukan cacian, celaan, atau sumpah serapah.
  • Hinggap dimana saja tidak merusak tangkai bunga. Maksudnya, keberadaan seorang muslim dimana saja sebagai rachmatan lil alamin. Tetapi jika da pengusik agama, maka pengusiknya akan dikejar sampai kemanapun agar pelaku bertobat.

Rasulullah SAW pernah beramanat bahwa seorang mukmin itu hendaklah seperti lebah, terpelihara dari barang haram, mendatangkan manfaat bagi orang lain, terorganisir dengan baik, berani dan siap berjihad melawan maksiat dan musuh-musuh Allah Swt.

Namun realita sekarang, manusia seolah lebih suka berkiblat kapada semut dan laba-laba, ketimbang mencontoh lebah. Memang menjadi minoritas yang berkualitas itu tidak mudah.

Rasulullah SAW mengingatkan “Sabar dari menahan nafsu itu berat, tapi menahan siksaan neraka jauh lebih berat dari pada menahan nafsu”.

Firman Allah Swt

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ ﴿٦٨﴾ ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (qs.An-Nahl: 68-69)

Surat tersebut dinamakan “An-Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah Swt ayat 68 yang artinya: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”. Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat kepada sesama. Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan akhlak yang dicelup dengan Al-Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia. Sedang al-Qur’an pun juga mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman sebelumnya kemudian disempurnakan dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Akhirnya, marilah selalau berdoa untuk bisa menjadi manusia terbaik versi pandangan Allah. Manusia yang bermanfaat bukan hanya untuk dirinya sendiri. Jangan sampai fatal, yakni malah merendahkan diri lebih diri dari binatang.

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa yang memudah kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).

Saudaraku agar kita benar-benar mendapatkan manfaat yang kita berikan kepada orang lain, kita harus ikhlas, karena ikhlas adalah salah satu kunci diterimanya amalan kita.

Related Post

Humas PI

"Menuju Era Dakwah Tanpa Batas" ~~Kantor Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman @Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-8888 506640235 | 08112216667 | info@percikaniman.org

There are 1 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *