berbhakti orang tua

Orangtuaku Jalan Syurgaku

Sahabatku, begitu pentingnya bakti kepada orang tua sehingga didalam Al-Qur’an ditempatkan setelah bakti kepada Allah SWT. (QS 17: [23-24]).

Tak bernilai syukur kepada Allah jika tak disertai syukur kepada orang tua (QS 31:14, 46:15). Kita sering kali lupa jasa-jasa mereka sewaktu kecil dulu. Apalagi, jasa seorang ibu yang susah payah mengandung, mempertaruhkan nyawa, melahirkan bersimbah darah, dan menyusui dalam kesulitan. Tak ada kata, yang penting demi kebahagiaan sang anak

Pengorbanan mereka tak akan pernah terbalas walau dengan apa pun. Konon, seorang lelaki bertanya Khalifah Umar Bin Khattab.

“Wahai Amirul Mukminin, ibuku berusia lanjut, akulah yang menjadi kendaraan, menggendong, memapah dan membersihkan kotorannya. Apakah dengan demikian aku sudah berterima kasih atas jasa-jasanya? Beliau menjawab, “Belum!” “Mengapa begitu wahai Amirul Mukminin?” Tanya lelaki itu. Beliau menjawab, “Sebab engkau melakukannya sambil berdoa agar Allah mengambil nyawanya. Sedangkan, ia melakukan itu dahulu sambil berdoa agar Allah memanjangkan umurmu.” (HR Abi Ad-Dunya).

Sahabatku…Setidaknya Kedudukan dan sikap anak terhadap orang tua bisa dikelompokkan menjadi 4 macam.

Pertama, anak yang beruntung. Mereka anak yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup dalam ketaatan kepada Allah dan mendidik mereka hingga menjadi manusia dewasa.

Mereka menyadari bahwa ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua bahkan surga pun berada di telapak kaki ibunya (HR At-Tirmidzi).

Ada pula yang tidak sempat berbakti karena orang tuanya telah tiada pada saat mereka masih kecil atau belum mampu untuk membahagiakan hingga akhir hayatnya.

Kedua, anak yang kurang beruntung. Merekalah anak yang tak sempat melihat wajah ayah atau ibunya. Mereka lahir sebagai yatim atau piatu karena ayah telah tiada dan ibunya wafat di saat melahirkannya atau pergi ke negeri nan jauh.

Mereka tidak sempat merasakan belas kasih sayang orang tua hingga mereka besar dalam pengasuhan kerabat atau panti sosial. Namun, mereka tetap merindukan orang tuanya dan selalu berdoa agar kuburannya dijadikan taman surga dan kelak bertemu di surga.

Ketiga, anak yang tak beruntung. Merekalah anak yang lahir di tengah orang tua yang masih hidup, namun tidak dibesarkan dengan kasih sayang. Mereka diterlantarkan, dibuang, dianiaya hingga ada yang meregang nyawa.

Mereka diperlakukan tidak manusiawi dan tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Begitupun anak yang lahir dari perbuatan zina orang tuanya, dibuang di tempat sampah atau ditinggalkan di jalanan. Hingga dewasa, mereka tak tahu siapa orang tuanya.

Keempat, anak yang tak tahu diuntung. Merekalah anak yang dilahirkan dan dibesarkan dengan kasih sayang dan mengenyam pendidikan yang tinggi. Namun, setelah berjaya, mereka justru melupakan orang tuanya.

Merekalah anak durhaka yang tak tahu diuntung dan tak pandai berterima kasih. Allah akan murka kepada mereka dan mengambil karunia-Nya secara perlahan tapi pasti, dan di akhirat kelak mereka tak mencium aroma surga (HR Al-Hakim). Na’udzibillahi min dzalik.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ »

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”(HR. Muslim)

Dari Abdullah bin ’Umar, ia berkata,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada
murka orang tua.” (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi SAW)

Terakhir, jangan lupa selalu berdoa agar anak-anak kita dimudahkan untuk menjadi Shalih.

اَللهُمَّ اجْعَلْ أَوْلاَدَنَا أَوْلاَدًا صَالِحِيْنَ حَافِظِيْنَ لِلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ فُقَهَا فِى الدِّيْنِ مُبَرَكًا حَيَاتُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ
ALLAAHUMMAJ’AL AULAADANAA AULAADAN SHOOLIHIINA KHAAFI-DZIINA LIL QUR’AANI WASSUNNATI FUQOHAA FIDDIINI MUBAROKAN KHAYAATUHUM FIDDUNYAA WAL AA’KHIROTI

Artinya :
Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak yang sholeh sholehah, orang-orang yang hafal Al-Qur’an dan Sunnah, orang-orang yang faham dalam agama dibarokahi kehidupan mereka didunia dan di akhirat.

Related Post

Humas Percikan Iman

Humas Percikan Iman

Sekretariat Galeri Dakwah Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *