Bandung & Sekitarnya
Shubuh : 4:30 | Terbit : 5:48 | Dzuhur : 11:44 | Asar : 15:04 | Magrib : 17:42 | Isya : 18:51 WIB TIM HUMAS: percikaniman yyudhanto
Info Penting!
  • Gabung! Dakwah MAYA di http://www.facebook.com/kajianmpi and http://twitter.com/percikaniman.
Buku Khazanah : Dakwah
Membongkar Kesesatan Syiah
Membongkar Kesesatan Syiah Kode : K0045
Kategori : Dakwah
ISBN : 979-3838-13-2
Size : 12 x 18 cm
Jml. Hal : 135
Cetakan : 1
Harga : Rp. 24.500,-
Mereka memiliki Rukum Iman dan Rukun Iskam yang berbeda, begitu pula dengan kitab dan hadistnya.
Saat ini, bermunculan aliran-aliran yang menyimpang dari ajaran Islam yang kaffah. Walaupun ajarannya benar-benar menyimpang dari Al Qur'an dan As Sunnah mereka masih mengaku bahwa ajaran Islam yang mereka bawa adalah "Islam yang sebenarnya". Salah satunya adalah Syiah

Ajaran Syiah sangat menyimpang dari ajaran yang dibawa Rasululloh SAW. Mereka memiliki Rukum Iman dan Rukun Iskam yang berbeda, begitu pula dengan kitab dan hadistnya. Bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama syiah, Al Qur'an mereka pun berbeda dengan Al Qur'an yang diajarkan Rasululloh SAW.
 

71 Komentar

 
 
pencari kebenaran
Pada : Minggu, 07 September 2008 / 02:47:14

Saya membaca artikel Syiah di http://al-shia.com. Disitu dikatakan segala sesuatunya tentang Syiah dari sumber resmi Syiah. Kayaknya perbedaannya gak jauh-jauh amat ama ahlussunah. Sebelum menyesatkan mereka, saya rasa ada baiknya kita lihat sumber Syiah dari pengikutnya sendiri.

 
prima
Pada : Senin, 03 Nopember 2008 / 19:30:18

Saya baca di situs hakekat.com atau hafizifirdaus.com , syiah.net dll sebaliknya di situs Syiah. memang Syiah adalah Agama sendiri diluar Islam. Karena kontraidksi sekali antara agama yang benar dari Allah dan agama buatan manusia di Syiah.

 
modriek
Pada : Rabu, 10 Desember 2008 / 12:04:42

Saya agak sedikit heran mengapa syiah dikatakan sesat, tetapi kesesatannya tak pernah dapat dibuktikan secara kongkrit oleh sunni,meskipun sunni memberikan beberapa bukti, tapi bukti tersebut nisbi, dan pembuktiannya selalu saja klasik,tentang mut'ah, sahabat,karbala,dan beberapa lainnya yang kesemuanya itu dari dulu ke dulu ya itu itu aja. Padahal Imam Bukhari menukil : KALAU DENGAN MENCINTAI HASAN DAN HUSEIN AKU DITUDUH RAFIDI, MAKA SAKSIKANLAH WAHAI JIN DAN MANUSIA MAKA SESUNGGUHNNYA AKU ADALAH RAFIDI. Cobalah cari bukti yang lebih menggigit lagi wahai kaum sunni.

 
nurfaridah
Pada : Sabtu, 31 Januari 2009 / 15:51:21

saya juga takut lihat suami saya ke syiah ajaran kok beda sholatnya boleh di gabung padahal dia tidak berpergian,dan sholatnya pakai tanah karbala yang di padatkan

 
yasir alaydrus
Pada : Selasa, 03 Maret 2009 / 17:52:14

salam

 

sangat disayangkan banyak sekali orang yang mengaku Islam mau di fitnah oleh orang yang mengaku ulama seperti Muhammad Abdu syattar. Kalau orangn mau mengetahui isi rumah tangga orang lain menngapa dia harus bertanya kepada orang yang sama sekali tidak tahu mengenainya bahkan ia memususuhinya. Informasi apa yanng didapat selain keburukan dan kejelekan lawannya yang diutarakan. sebaiknya bertanyalah atau cari lah informasi kepada ahlinya. Jadi siapa yang mau tahu tentang syiah mengapa harus di dapat dari seorang wahabi yangn jelas jelas membenci keluarga Rasulullah saaw. mereka mengaku Islam tapi prakteknya sangat jauh dari Islam . Lihat kelakuan para keluarga kerajaan Saud. berfoya-foya denngan kekayaan mereka yang di dapat dari cara-cara yang bukan Islami. begitu juga ulama mereka sangat mendukung keluarga rezim saud. rezim yang sudah dipegang tengkuknya oleh setan besar Amerika dan setan kecil Israel. apatah lagi yang di dapat selain kebencian kepada Iran dengan syiah. cobalah bermurah hati untuk mempelajari biografi khomeini. atau sejarah hidup keluarga Nabi saaw.

 
ash
Pada : Selasa, 31 Maret 2009 / 08:59:35

SYIAH menghalalkan NIKAH MUT'AH (KAWIN KONTRAK), bahkan menurut Khomeini "kita boleh Mut'ah hanya dgn mas kawin/mahar segenggam makanan, bahkan jg boleh Mut'ah dg perjanjian sampai batas 1x senggama, setelah selesai senggama maka resmi bercerai." Masya Allah...lantas apa bedanya kita Nikah Mut'ah dgn kita menyewa pelacur...???? Bisa dijelaskan hal ini oleh kalian wahai bangsa SYIAH????? Sesungguh nya ALLAH MAHA MELIHAT & MAHA MENGETAHUI.

 
irwan
Pada : Sabtu, 04 April 2009 / 20:37:58

Walah gampang sekali ya menyesatkan.hee sy org sunni sejati,tidak setuju org syiah d sesatkan. temen2 sy banyak yg syiah..kyny pengarang buku ini bener2 sadis.. blum tau syiah tu ky gmn udh di sesatkan... MUI Saja tdk menyesatkan..sy sarankan kpd bpk ust sattar. Baca yg teliiti alqur'an ny .d kaji y!! Bkn d Baca doang.... sy yakin sekali kamu itu wahabi.. yang ngaku2 nempel d Sunni hee pdhl d sunni g begitu.. maulid aj d bid'ah kan.. Sy mau tanya? km ini umat siapa sich? km tau peristiwa nabi isa waktu minta hidangan.. sampai skarang d peringati oleh umat kritiani sbagai hari PASKAH. ini rosul yg membawa al-quran..,yg namany d gandengkan dgn alloh.., nabi yg paling mulia d antara para nabi..skaligus saksi para nabi & rosul skalian sluruh umat dari adam hingga akhir kiamat termasuk saksi antum., ya alloh hancurkan ummat yg membenci rosululloh.. kuburan2 para syuhada d baqi aj km hancurkan..,,,memang nabi tdk mencontohkan.. tp km tau pd zaman rosululloh.. para sahabat pd berebut injakan kakiny. ampe kringatny.dan rosul tdk melarangny.. bahkan mendoakanny.! skali lg km ini umat rosul yg mana sich???belajar lg dah yg bener..

 
Reka Yuda Mahardika
Pada : Senin, 20 April 2009 / 18:00:20

      Hmmm..., di bogor dulu (kalo tak salah istana bogor tahun 2006/2007) ada pertemuan syiah dan sunni seluruh dunia, membahas tentang AMERIKA yang menyerang irak dan ISRAEL. Dengan cantiknya, salah satu ulama sunni berkata, "seandainya Syiah menentang hegemoni Amerika, maka kita semua adalah Syiah. jikalau semua Sunni menentang Israel, maka kita semua Sunni."

 

 

 
gnr
Pada : Kamis, 30 April 2009 / 05:07:42

orang syiah menyesatkan sunni, orang sunni menyesatkan syiah, tidak akan ada habisnya, yang penting kita sekarang berbuatlah yang bermanfaat untuk diri kita dan keluarga serta orang banyak, biarkanlah Allah yang menilai apa yang kita dan orang lain lakukan, supaya umat islam tidak terpuruk seperti saat ini.

 
Wisdom
Pada : Senin, 01 Juni 2009 / 14:50:11

Dengan sgla hormat,

Pertanyaan untuk kaum syiah: Mengapa kalian tidak mengakui 3 khalifah setelah Nabi saw? Mengapa kalian begitu membenci mereka hingga ada ritual mengutuk ketiga khalifah tsb? Yang faktanya mereka adalah para penyeru ajaran Islam dan menjaga kemurniannya. Dan, mengapa kalian begitu membenci istri Nabi saw - Aisyah? Satu lagi, apakah shalat dgn tanah karbala yg dipadatkan diajarkan oleh junjungan kita Nabi saw? Syiah: Janganlah mengkultuskan keluarga dan keturunan Nabi.

Sunni: Apakah kalian membenci Imam Ali dan ahlul bait? Saya rasa tidak.

 

 
emil arief maulana
Pada : Sabtu, 20 Juni 2009 / 23:34:59

saya setuju sekali dengan pernyataan saudara IRWAN.sebelum nya saya minta maaf jika saya salah berkomentar tentang islam pun terbagi dalam beberapa golongan dimana tiap2 golongan ada perbedaan nya satu dgn yg lain nya.seperti di indonesia saja,NU dan muhammadiyah..dulu pernah ada pertemuan antara kedua tokoh dari kedua organisasi tsb.dimana pertemuan tsb diberitakan dan dibesar2kan oleh media lokal dan internasional seperti atau layak nya kedua tokoh/organisasi tsb,seperti pertemuan yg "haram"!! padahal apa salah nya sesama saudara muslim bertemu!itulah salah satu cara2 wahabi,dimana dgn propaganda ingin menyatukan semua unsur2 dan golongan islam,tetapi dasar nya ingin memecah belah ummat dgn embel2 "satu" untuk islam.tak akan bisa hal seperti itu dilakukan!jika seksama kita membaca salah satu surah dalam Al Qur'an,dmn islam memang dan sudah terpecah dalam beberapa golongan!permasalahan nya bukan soal syiah atau sunni..!!! tapi perilaku islam dari kaum "islam"itu sendiri yg harus dibenahi terlebih dahulu!!!bukan hanya ktp nya aja yg islam, tapi kelakuan ummat islam juga harus sesuai dgn ajaran islam itu sendiri.kalau perlu di ktp ga usah ada status islam!karena nanti malaikat di saat kita dalam dunia akhirat, tidak akan nanya tuh ktp kita islam apa bukan!yg ditanya sudah "islam"kah(perbuatan,amal,dan ibadah)kita??....

 
Adnan
Pada : Selasa, 21 Juli 2009 / 14:33:59

Syiah bukanlah Islam melainkan sebuah Firkoh (pemecah belah) Islam. sudah sepantasnya di bumi hanguskan dari muka bumi ini. sebab, kalau tidak apalah jadinya generasi muda di cekoki dengan macam-macam penghinaan kepada Shabiqunallawwalun. Abu Bakar, Umar, usman mereka anggap adalah orang-orang jahat perampas kekholifahan.

wahai Umat Syiah, dimananapun anda berada sadarlah ............, apa bedanya kawin Mut`ah dengan kawin binatang, andai saja Sayidina Ali bin Abi Thalib masih hidup tentu beliau akan menangis karena ulah kalian.

 
Taufik Toharli
Pada : Minggu, 02 Agustus 2009 / 06:36:03

"MULUT ITU BERBISA", Pantas tidak pernah ada kerukunan diantara "kita", egoisme pribadi dan kelompok "dominan", padahal masih banyak yang harus di kerjakan selain itu! ...Subhanallah...

 
azizi
Pada : Senin, 24 Agustus 2009 / 13:30:28

wahai saudaraku ....ingatlah bahwa perbedaan dalam islam itu suatu keniscayaan. dan itu sudah terjadi pada zaman Rosul masih hidup. kita bisa baca sejarah lagi bagaimana Abu Bakar sering berbeda pendapat dengan Umar bin Khattab. selama perbedaan itu bukan masalah Tauhid, itu masih bisa ditoleransi. untuk masalah syiah kita harus leboh jeli lagi, karena Syiah pun terpecah-pecah menjadi puluhan kelompok. jadi ga semua Syiah itu sesat dan menyesatkan. baca dulu sejarah dan firqoh mereka sebelum menghakiminya....

 
Abu Ahmad
Pada : Kamis, 27 Agustus 2009 / 00:04:23

Assalamu alaikum Wr.Wb,

Dahulu saya seorang pengikut Ahlus Sunnah Waljamaah, tapi kini telah beralih ke Mazhab Syiah karena saya menemukan bahwa kebenaran hakiki ada pada Syiah Ali (pengikutnya Imam Ali).

Terus terang, selama ini saya tercekcoki oleh ajaran Ahlus Sunnah bahwa semua sahabat nabi itu baik. Namun setelah saya membaca sejarah yang sebenarnya, saya menemukan dengan pasti bahwa tidak semua sahabat maksum.

Kebenaran ternyata tidak dapat ditutup-tutupi. Coba renungkan mengapa sempat terjadi perang Jamal, perang Shiffin, dan pertentangan antara kaum muslimin ? Jawabnya, karena tidak semua sahabat nabi itu taat sepeninggal beliau.

Contohnya, Abu Bakar merebut hak kekhalifahan dari Imam Ali, padahal dalam banyak kesempatan seperti di Ghadirkum, nabi telah berpesan kepada ratusan ribu umat Islam untuk berada dibawah pimpinan Ali. Akhirnya apa yang kita jumpai sekarang umat berada dalam kesesatan dan perselisihan, karena sejak Nabi wafat sebagian sahabat tidak patuh bahkan memusuhi/membenci Imam Ali dan pengikutnya kelewat batas. Mereka sebenarnya adalah orang-orang munafik.

Banyak hal yang perlu kita diskusikan jika memang kita mau meneliti sejarah. Jangan hanya pandai menghujat.

Sekian, salah khilaf mohon maaf.

Wasalam,

Abu Ahmad

 
Abu Ahmad
Pada : Kamis, 27 Agustus 2009 / 00:12:57

Menjawab pertanyaan wisdom"Mengapa kalian tidak mengakui 3 khalifah setelah Nabi saw ?" kami jawab : Karena Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mewasiatkan jabatan Khalifah kepada 3 khalifah tersebut.

Sekali lagi mereka telah merampas hak Ali dengan berbagai alasan. Saking hausnya pada kekuasaan, sampai-sampai jenazah Rasul terlantar hampir 3 hari tidak dimakamkan. Abu Bakar cs, lebih memperioritaskan perebutan kekuasaan ketimbang mengurus pemakaman Rasul. itu saja sudah menjadi bukti, betapa kekuasaan telah membutakan hati.

 

Abu Ahmad

 
anisa
Pada : Selasa, 08 Desember 2009 / 12:58:39

tuk saudara irwan coba jlaskan riwayat&hadist yang menghruskan muludan? anda ini mengkultuskan nabi atau ALLOH? apakah saudara islam KTP atau apa???

 
ahmad
Pada : Minggu, 20 Desember 2009 / 01:06:10

Penyimpangan Islam yang paling bahaya adalah apa yang dibawa oleh Abdullah bin Saba' (tidak seorang syiahpun mengakui dia sebagai pendiri syiah).

Kalau membaca kitab hadis dari kulaini dan tulisan tulisan Khumaini...betapa bencinya mereka kepada ummat islam. syiah =yahudi =zionis. cara cara taqiyah syiah sungguh seperti musang berbulu domba.

Kalau ada orang ahlusunnah wal jamaah membenci ahlul bait....maka orang ini belum benar islamnya. Tapi mengkultuskan ahlul-bait adalah tindakan yang bahaya...sepeti orang kristen mengkultuskan nabi isa as.

wallahu a'lam......

 
Ahmad
Pada : Senin, 04 Januari 2010 / 14:48:12

alaisallahu bi ahkamil hakimin (Bukankah Allah hakim yang seadil - adilnya). Mengapa kalian saling menyesatkan dan apa yg kalian yakini itulah yang benar? Apa bedanya kalian dengan Yahudi jika berfikir demikian? Biarlah Allah yang menghakimi karena Dialah yang Maha Mengetahui. Jika kita yang menghakimi, itu sangatlah subyektif. Kalian yang gampang menyalahkan tak ubahnya seperti perilaku Jahiliyah. Belajarlah menerima keanekaragaman, karena itulah maksud Allah menjadikan kita khalifah, dan bukan malaikat. Jika Allah berkehendak, mudahlah bagi-Nya menghancurkan kesesatan, namun betapa banyak para rasul-Nya dan orang - orang yang beriman mati terbunuh. Kalian bukanlah Tuhan yang mampu menentukan benar - salah secara mutlak. Sadarlah, kuman di seberang lautan dapat kau lihat, namun gajah di pelupuk matamu tak jua nampak. Istighfarlah kepada Allah atas dosa keangkuhan yang bersemayam di dada.

 
ahmad
Pada : Senin, 04 Januari 2010 / 15:05:57

Orang awam tak pernah tau buah durian yang benar - benar enak. Ada yang mencoba berpendapat dari baunya, namun para pedagang kerap mengoleskan aroma durian pada durian - duriannya. Ada yang mencoba rasa manisnya, namun para pedagang telah menyuntikkan rasa manis ke daging buah. Saat dibeli, mungkin rasa kecewa setelah dibuka buah itu. Jadi, bagaimana ingin mengetahui bahwa buah durian itu benar - benar enak? Yah, harus dicoba dimakan barang satu biji, pasti terasa pasnya di lidah.

Betapa sombongnya kita yang bukan ahli buah durian dapat menentukan ini yang enak dan itu yang tidak enak. Satu - satunya cara untuk tahu rasanya ya dicoba buah itu. Begitu pula sombongnya kita manakala menghakimi bahwa syiah itu sesat, syiah itu sangat membenci sahabat, tapi kita sendiri belum pernah tahu apa yang sebenarnya mereka yakini. 

Saya sendiri sebagai penganut Islam menghadapi segudang pertanyaan yang belum terjawabkan tentang "keanehan" faham Islam setelah saya mendalaminya (Ini sama dengan mulai memakan buah durian), namun saya mencoba menikmati dan mensyukuri atas keislaman saya.

 

 
ahmad
Pada : Senin, 04 Januari 2010 / 15:42:04

Buku Membongkar Kesesatan Syiah karya Syeikh Muhammad Abdul Sattar At-Tunsawi bukankah merupakan buku kepongahan? Syeikh Muhammad Abdul Sattar At-Tunsawi telah menghina dan melecehkan jutaan umat Muslim dari awal adanya Syiah hingga umat Muslim dewasa ini. Mengapa? Karena dari jutaan umat Muslim, dialah yang mampu membongkar kesesatan Syiah. Ngapain aja umat Islam sebelum dia ada dan tau bahwa syiah sesat? Apakah umat muslim bodoh semua terlebih - lebih para penganut Syiah? Bukankah semua orang beragama untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhannya dengan kemampuan akal budi dan keyakinannya? Orang Nasrani merasa tentram dan sreg jiwanya karena akal budi dan keyakinannya mengatakan bahwa hanya melalui Tuhan Yesuslah mereka bisa menuju kepada Allah Bapa di surga. Demikian pula keyakinan yang lainnya. 

Kesesatan syiah sesuai judul buku itu hanyalah bahan kesimpulan Abdul Sattar saja dengan kacamata keyakinannya, tanpa pernah mengaca dari kacamata syiah (yang tak mungkin dilakukannya karena dia benci Syiah) atau kalau mau netral seharusnya berkaca dengan akal budi. Tidaklah mungkin bisa membelah kayu dengan gunting dan tak jugalah mungkin memotong benang dengan gergaji. Sadarlah, apa yang dilakukan Abdul Sattar itulah justru suatu kesalahan karena tidak menempatkan kesimpulannya pada porsi yang sesungguhnya.

 
Nabila
Pada : Senin, 04 Januari 2010 / 16:21:29

Buat Pak Ahmad, Tahukah Bapak Abdullah bin Saba'? Apa sih arti syiah? Coba bapak baca lagi sejarah Islam, tentu disertai dengan akal sehat bapak yang jernih, tanpa keberpihakan. jangan ngekor dunk pak dengan ikut2an ngatain Abdullah bin Saba' pendiri syiah. Awas loh, ekor ngikutin kepala. Ya kalo kepalanya selamat, kalo masuk jurang? emang ekornya bisa melepaskan diri? Cecak dunk kalo gitu.

Kata syiah muncul sejak wafatnya rasulullah saaw. Syiah artinya pengikut. Waktu itu namanya Syiah Imam Ali karena memang Ali lah yang menjadi pemimpin Bani Hasyim, sukunya Rasulullah. Kita tahu kan kalo orang Arab berkabilah - kabilah. Syiah Imam Ali semakin mantap setelah munculnya Syiah Muawiyah dari Bani Umayyah (suku yang sangat memusuhi Bani Hasyim), anak Abu Sufyan yakni orang Qurays Mekkah yang paling akhir masuk Islam karena ketakutan dengan adanya Fathul Makkah. Ibu Muawiyah bernama Hindun Yakni wanita yang membelah dada Almarhum Hamzah r.a, paman Nabi dan memakan hatinya karena sangat bencinya dengan Bani Hasyim dan Islam pada peperangan Uhud. Muawiyah adalah orang yang mengangkat dirinya sebagai raja dan bukan khalifah serta menobatkan anaknya, Yazid sebagai penggantinya seorang pemabuk, pemilik banyak harem, ga pernah shalat, dan yang memerintahkan pembantaian Bani Hasyim di bawah pimpinan Husein, Cucunda Rasulullah, serta yang memamerkan kepala Husein yang diletakkan di baki di seluruh negeri Islam serta mempermalukan wanita2 Bani Hasyim dengan membuka aurat berjalan di belakang kepala Husein. Kami tidak bisa mengikuti Islam yang berkembang jaya di bawah keangkaramurkaan itu. Kami Syiah Imam karena telah jelas antara yang benar dan yang bathil (Q.S. Al-Baqarah) dan Sabda Baginda Rasulullah saaw "Husein dariku dan aku dari Husein" yang bermakna bahwa Islam yang dibawa Husein itulah yang berasal dari Rasulullah. Mohon saudara yang bukan syiah bisa menghargai kami dan biarkan kami melakukan amaliyah sesuai keyakinan kami tanpa saudara mengusik luka yang telah tertoreh sejak awal Islam. Sengaja kami berusaha tawaddu' sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para ahlul baitnya yang mana mereka telah dilecehkan oleh umatnya sendiri. Semoga Allah mengampuni kami yang berusaha mengikuti jejak Sang Nabi.

 
Nabila
Pada : Rabu, 06 Januari 2010 / 08:37:50

Kultus? Apa maksud Pak Ahmad dengan kata itu? Kalau diartikan kultus sebagai Tuhan, maka bagi kami naudzu billahi min dzalik. Nabi dan para imam ahlul bait, bukanlah tuhan atau manifestasi Allah. Mereka bukanlah Isa sebagaimana prasangka orang - orang Nasrani. Mereka hanyalah manusia biasa yang diberi derajat yang tinggi di sisi Allah.

Kalau yang dimaksud Pak Ahmad bahwa kultus itu suci, maka tepat sekali bahwa Nabi dan para imam adalah manusia - manusia suci (maksum) karena risalah yang mereka pikul adalah risalah Ilahi yang harus benar disampaikan dan tidak boleh salah. Jika salah tentu salah pulalah umat yang dibawanya. Maksum berarti lepas dari semua salah dan dosa.

Bagi kami Rasulullah adalah pembawa Wahyu Ilahi yang Maha Tinggi dan para imam adalah orang - orang yang menjaga wahyu ilahi tersebut agar tetap terpelihara kebenarannya. Karena itu Rasul dan para imam pastilah orang - orang yang benar dan mulia dalam membawa dan menjaga wahyu itu.

Sekali lagi tiada Tuhan selain Allah yang Maha Agung dan Kami bersaksi bahwa Muhammad itu Rasulullah, seorang utusan Allah bagi kita semua.

 
syahbuddin
Pada : Jumat, 22 Januari 2010 / 23:06:28

wahai ahmad dan abu ahmad..... saya sarankan anda membaca buku yg berjudul "VIRUS SYI'AH" (Sejarah dan alienisme sekte) oleh DR.Ihsan Ilahi Dzahir, seorang ulama besar pakistan, pakar aliran dan sekte....dan buku tsb mengupas ttg syiah langsung dari buku ulama besar syiah.......ini hanya peringatan.... bagi yang mau berfikir.....

 
Javad Al-Kadzim
Pada : Kamis, 25 Februari 2010 / 11:17:24

Saya tantang orang yang anti sy'iah untuk bermubahalah. Biarlah Alloh yang menjadi hakim pertentangan kita.

 
Javad Al-Kadzim
Pada : Kamis, 25 Februari 2010 / 11:18:29

Saya tantang orang yang anti sy'iah untuk bermubahalah. Biarlah Alloh yang menjadi hakim pertentangan kita. Kalau dihapus maka munafiklah anda.

 
RD.ADE YAYAN HERYANA ST.
Pada : Minggu, 21 Maret 2010 / 08:19:36

Ass,alilkum wr wbr.

Kalau kita memeang muslim sejati,tidak mungkin kita saling menyesatkan sesama saudara cuma karena berbeda pandangan siapa sesungguhnya pengganti nabi setelah Beliau/RASULLULLAH wafat.maka sudah jelas siapa yang menyimpang dari keinginan ALLAH da RASULNYA,lihat kepemimpinan muawiyah,lihat dan baca juga cara kepemimpinan yazid.mereka inilah yang membawa kita umat islam cerai berai spt kita rasakan sekarang,dan sbenarnya yang merusak islam itu umat islam sendiri yang hanya mementingkan hawa nafsunya saja.maka untuk itu kita harus berfikir jernih dalam melempar kata sesat sesama muslim.kenapa kita hanya bisa mengucap kata itu kepada sesama kita umat muslim,kenapa?.dalam kajian kajian ilmiah ini mari kita gunakan bahasa yang sopan dan santun.umat islam pernah melewati masa kelam,itu jangan sampai berulang pada masa kita sekarang ini,biarlah perbedaan itu,yang penting bagaimana kita menyikapinya dengan bahasa yang arif dan bijaksana dalam melantunkan pandangan kita tentang islam(untuk saudaraku muslimin dan mislimat mazhab SUNNI dan SYIAH).semoga ALLAH merahmati kita,curahkan rizki,curahkan ilmu yang baik,tentramkan hati2 kita Amien

 
abi
Pada : Minggu, 30 Mei 2010 / 14:32:21

Para ulama yang menulis tentang kesesatan syiah bukan sekedar tuduhan tanpa bukti, mereka merujuk langsung pada kitab-kitab yg dibuat oleh ulama syiah sendiri salah satu buku rujukan pokok yg dijadikan sumber ajaran syiah adalah AL KAFI.

DR. Musa Al Mushawi, Dr. Ihsan Illahy Dhohir, Mamduh Farhan Al Bukhairi, diantara para ulama yg melakukan metode penulisan seperti dimaksud.

kalo anda mau meneliti dan membuka mata hati, silakan salahsatunya bisa anda buka di situs Hakekat.com, disitu anda bisa lihat referensi penulisannya memang diambil dari kitab-kitab ulama syiah (Rafidhah). kecuali anda tetap ingin melakukan pembelaan tanpa mengetahui hakikat siapa yang sedang anda bela.

 

 

 
kiki
Pada : Selasa, 01 Juni 2010 / 19:35:07

Saya sampai bosan membaca tulisan para anti syiah, mereka selalu mengatakan merujuk pada alkafi,selalu alkafi,seakan ak- an orang syiah tidak memiliki kitab lain selain alkafi.Kemudian saat dijelaskan pada mereka bahwa kitab alkafi tersebut memang memuat hadis-hadis palsu dikalangan syiah mereka katakan itu taqiyah.Kemudian mereka melarang kitab kitab syiah beredar di indonesia,setelah kitab syiah tidak beredar di indonesia mereka mengatakan bahwa kitab kitab syiah itu rahasia,hanya orang orang tertentu saja yang bisa membacanya.Sikap yang aneh buat saya.Mereka juga mengatakan bahwa syiah mempunyai alqur an sendiri saat dijelaskan pada mereka bahwa alqur an syiah sama seperti yang beredar di indonesia sekali lagi mereka mengata kan bahwa itu taqiyah.

 
suradi
Pada : Minggu, 06 Juni 2010 / 17:19:22

Bung, kalau mau tahu artinya Taqiyah, gampangnya begini, Taqiyah itu kebalikannya Munafik, kalau munafik menyembunyikan kejelekan dan menampakkan kebaikan, maka Taqiyah sebaliknya menyembunyikan kebaikan menampakkan kejelekan, contoh: dalam revolusi kemerdekaan seorang pejuang melintasi daerah pendudukan Belanda dan untuk supaya selamat dia memakai baju bergambah ratu wihelmina, itu namanya Taqiyah, sedangkan kalau seorang penghianat republik melintasi daerah republik dengan pakai pakaian bak pejuang dengan merah putih didada, ini namanya munafik !, faham kan? ini adalah hal yang sangat manusiawi dan dikerjakan oleh siapapun mazhab apapun agama apapun

mudah2an bermanfaat

 
budiluhur
Pada : Jumat, 11 Juni 2010 / 07:55:22

to nabila(???).kiki,suradi,jawad al-kadzim (mau niru-niru)musa al-kadzim) komentar klian memunjukkan kalian sama skali tidak pernah tahu syiah yg sbenernya, hanya kata pa' ustadz klian yg ngg lebih tau dari kalian ,emang klian pernah tau kitab 2 rujukan utama syiah ???(HAH) bentuk dan warnanya pun (haqqul yaqin) ngga' tahu, gmana bisa ngaku2 Islam yg sebenarnya.........

 
zain
Pada : Kamis, 08 Juli 2010 / 12:53:32

Sesatkah Syi’ah Rafidhah ?
Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.

a. Tentang Al Qur’an
Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad  (ada) 17.000 ayat.”
Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian…’.”
(Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir).
Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

b. Tentang shahabat Rasulullah
Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta’dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)
Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir)
Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 46)
Adapun shahabat Abu Bakr dan ‘Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah , mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan do’a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk keduanya:

Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah)
(Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib)
Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18)
Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah  lainnya, mereka yakini sebagai pelacur -na’udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)
Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam Malik bin Anas berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi  namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad  ) adalah seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang shalih.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hal. 580)

c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)
Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata: “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata: “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)
Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib  dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah . Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ‘Umar dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17)
Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.

d. Tentang Taqiyyah
Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 80)
Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami: “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196). Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata: “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.” Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)

e. Tentang Raj’ah
Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah, kemudian menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘Alar Riwayatit Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)

f. Tentang Al-Bada’
Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah . Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.
Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah , dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192)

Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah
Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja.
1. Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata: “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)
2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)
3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.
4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)
5. Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)
6. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah , maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah . Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)
Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran…Amin.

 
allahuakbar
Pada : Minggu, 12 Juni 2011 / 16:10:51

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM ASSALAMUALAIKUM WR WB SAUDARAKU, DEMI ALLAH SAYA SEBELUM INI ADALAH SUNNI, SEKARANG SAYA MENGAKUI HAK ALI BIN ABI THALIB SEBAGAI IMAM SETELAH NABI (SYIAH). SAYA NAIK SAKSI BAHWA ALI BIN ABI THALIB ADALAH WALI DAN HUJJAH ALLAH BERSAMA ANAK-ANAKNYA (11 ORANG LAGI) DARI IMAM HASAN, HUSEN HINGGA IMAM MAHDI. SEMOGA SAUDARA SAYA YANG MASIH SUNNI MEMBACA JUGA BUKU-BUKU YANG DITULIS SYIAH, BIAR ADIL. JANGAN HANYA MENGHUKUM DENGAN KACAMATA SUNNI

 
Achmad Ubaidillah
Pada : Sabtu, 15 Oktober 2011 / 13:29:30

Apa yang bisa saya baca dari sampul buku anda??????????? Ada ruang tanya disini, lalu kenapa enggak dijawab ????????????? Kalau pemahaman belum lengkap, jangan terlalu mudah meng kafir kan atau menyesatkan pihak lain, yang notabene sesama Islam juga.Hormatilah pemahaman yang dari dari anda, yakinlah anda tidak lebih baik dari pihak yang anda kafirsesatkan. Sadar atau tidak, anda mengadu domba sesama islam, lalu merasa telah melakukan amar maruf nahi mungkar???

 
ihsan
Pada : Senin, 09 April 2012 / 09:54:48

sungguh naif org2 mengaku syiahjamaah ahlul bait yg ingin memutar balikkan sejarah 14 aba d yg lampau. tdk sadarkah kalian akan jasa Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khatab menegakkan dan menyebar luaskan syiar Islam sesdh wafatnya Rasullullah ? apa ada hadits nabi yg menyuruh me-nyanjung2 Ahlul Bait? pesan Nabi adalah:Ikutilah petu njuk Al-Quran dan Sunnahku,maka kalian tdk sesat se-lama2nya.Jadi jelas bhw pengikut syiah adalah pembangkang dan pemrakarsanya adalah Abdullah bin Saba seorang yahudi dari Yaman.

 
Ahmad
Pada : Selasa, 10 April 2012 / 11:14:46

Mohon agar penulisan Rukun Iskam diganti menjadi Rukun Islam

 
bagus
Pada : Kamis, 30 Agustus 2012 / 02:45:00

geli liat sesama islam saling serang, kalau kawin kontrak menurut syiah boleh ya biarin aja. yg gak setuju gak lakukan. dosa tanggung masing2. tapi malu ditanggung atas nama islam. geli gw. orang makin alim tapi lisannya makin brutal

 
Ali Al Mujtaba
Pada : Kamis, 13 September 2012 / 22:51:24

Ane Ali Al Mujtaba bermubahalah Syiah Ali adalah ajaran Islam yang paling murni berasal dari Rosululloh dan ahlul baytnya yang suci. Yang menyatakan syiah Ali sesat maka dialah yang sesat sedang yang menyatakan syiah Ali kafir maka dialah yang kafir. Jika pernyataan ane ini salah maka ane akan diberi adzab oleh Alloh dengan siksaaan yang sangat pedih mulai detik ini juga sampai akhir hayat ane. Jika hal ini tikdak terjadi maka penghujat syiah dipastikan merupakan musuh Alloh, Rosul, dan ahlul baytnya yang suci!

 
Hasan
Pada : Selasa, 30 Oktober 2012 / 21:01:33

Salam saudara semua sesama muslim.. Saya telah mengikuti dan membaca perdebatan kalian semua, dan harapan saya 1) Marilah kita hindarkan diri dari tuduh menuduh sesama Islam dengan menghormati keyakinan masing-masing 2) Berhentilah saling mencaci. 3) Sunni ayau Syiah masih sama-sama meyakini bahwa Allah adalah Tuhannya dan Muhammad adalah nabinya Jadi, marilah saling menghormati

 
abu umar
Pada : Minggu, 31 Maret 2013 / 02:06:25

syiah mengaku cinta ahlul bait, tp knp mereka mengkafirkan ummu aisyah n muawiyah? Ahlul bait adalah: keluarga Ali, ‘Aqil, Ja’far dan Abbas. Tidak diragukan lagi (menurut Ahlus Sunnah) bahwa istri-istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفاً. وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33) “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka jannah (surga-surga) yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah:100)

 
Awan
Pada : Rabu, 10 April 2013 / 08:53:22

Bingung sunni syiah? lihat dulu video berikut dari syeikh Imran Hosein, kalo udah liat seluruh videonya barulah antum komen sepuasnya.. http:www.youtube.comwatch?v=L2d2m1v305g

 
abdilah
Pada : Selasa, 14 Mei 2013 / 20:33:04

sebenernya kalo semua mau fair maka silahkan buka masing-masing hadist, kitab asal dan perawinya, baru disimpulkan. Kalau dari segi keilmuan da tafsir Al Islam, bukankah Ali adalah gerbang Ilmu, apakah kita tidak tertarik memasuki Islam melalui gerbangnya Ali. Sekalipun dari rumahnya orang syaiah. Biar tidak semaunya sendiri menafsirkan islam. Kalau yang masuk surga hanya satu golongan, lalu rumusan golongan yang paling benar itu bagaimana?....Apakah golongan Wahabi yang keras itu beda golongan jaman Rosul yang penuh toleransi , kasih sayang dengan adanya piagam madinah.....kalo belajar Islam ya harus berani terjun ke sumua golongan biar tahu. tapi kalo takut tidak mampu dan gila ya cukuplah mengikuti imam masing-masing dan jangan mengakafirkan otrang lain. Bagaimana mungkin sesama makmum yang dungu saling mengingatkan..jadi gaduh saja dunia. Siapa itu imam ya pemimpin tertinggi suatu golongan, baik syiah , suni, ahlusunah wal jamaah, Muhamadiyah, NU, Al Irsyad, Wahabi....Pimpinan mereka yang berhak beradu argumen, makmun hanya melihat, memilih dan mengikuti, jangan sok tahu kayak saya ini...perhatian saya pengikut ahlu sunah waljamaah mengakui Ali sebagai panutan, dan mengakuia abu bakar, umar, usman sebagai suatu kenyataan...dan Yazid lawan Husein adalah fakta sejarah

 
karael
Pada : Sabtu, 01 Juni 2013 / 09:30:27

aneh gue sama umat islam semua ngaku paling bener ,,emang sudah ada yang mati terus tau bahwa golongan yang paling bener itu yang mereka ikutiiin ..malu dong sama umat nasrani yang ngetawain ..amaluna amalukum saja,kita itu satu nabi satu allloh yang sama,,yang dah jelas2 yahudi tuh yang harus diperangi ,,,tapi kayakya yang komen disini pecinta produk yahudi makanya pada so paling bener semua,,,kan prilaku seseorang itu seperti apa yang dimakannya,,sorry coy itu kata orang bijak

 
putra butta toa
Pada : Selasa, 18 Juni 2013 / 08:58:47

dari pada bertengkar melulu...biar aku jelasin dehhh...siapa itu syiah... Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri—terutama dari sisi akidah—perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga tidak mungkin disatukan. Apa Itu Syi’ah? Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah 361, karya Azhari dan Tajul Arus 5405, karya az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 131, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali al-Awaji) Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib z lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (al-Fishal fil Milali wal Ahwa wan Nihal, 2113, karya Ibnu Hazm) Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami sejumlah pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (al-Milal wan Nihal, hlm. 147, karya asy-Syihristani) Tampaknya, yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus-menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya. Rafidhah رَافِضَة, diambil dari رَفَضَ – يَرْفُضُ yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna تَرَكَ – يَتْرُكُ, meninggalkan (al-Qamus al-Muhith, hlm. 829). Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan Umar c, berlepas diri dari keduanya, dan mencela sekaligus menghina para sahabat Nabi n. (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 185, karya Abdullah al-Jumaili) Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan Umar c.” (ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hlm. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t) Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 186) Asy-Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari t berkata, “Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib z atas seluruh sahabat Rasulullah n, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar c, serta memandang bolehnya memberontak1 terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar c. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka: رَفَضْتُمُوْنِي؟ “Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1137) Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Majmu’ Fatawa (1336). Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah. Rafidhah sendiri terpecah menjadi beberapa cabang. Namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah al-Itsna ‘Asyariyyah. Siapakah Pencetusnya? Pencetus pertama bagi paham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.2 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Asal ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen).” (Majmu’ Fatawa, 4435) Sesatkah Syi’ah Rafidhah ? Berikut ini akan dipaparkan prinsip (akidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka. a. Tentang Al-Qur’an Di dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini (2634), dari Abu Abdullah (Ja’far ash-Shadiq), ia berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad (ada) 17.000 ayat.” Di dalam Juz 1, hlm. 239—240, dari Abu Abdillah ia berkata, “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihassalam. Mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf tiga kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al-Qur’an kalian…’.” (Dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal Qur’an, hlm. 31—32, karya Ihsan Ilahi Zhahir) Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan. b. Tentang sahabat Rasulullah n Diriwayatkan oleh “imam al-jarh wat ta’dil” mereka (al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hlm. 12—13) dari Abu Ja’far (Muhammad al-Baqir) bahwa ia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata, “Siapakah tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat ke-144. (Dinukil dari asy-Syi’ah al-Imamiyyah al-Itsna ‘Asyariyyah fi Mizanil Islam, hlm. 89) Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.” (al-Kafi, 8248, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlil Bait, hlm. 45, karya Ihsan Ilahi Zhahir) Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir al-Husaini al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3640. (Lihat kitab asy-Syi’ah wa Ahlil Bait, hlm. 46) Adapun sahabat Abu Bakr dan ‘Umar c, dua manusia terbaik setelah Rasulullah n, mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا “Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka….” Yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah c (pen.). (Dinukil dari kitab al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 18, karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib) Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ah al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab z, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan, kesucian, hari barakah, serta hari sukaria. (al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 18) Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah n lainnya, mereka yakini sebagai pelacur—na’udzu billah min dzalik—. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hlm. 57—60) karya ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin ‘Abbas c terhadap ‘Aisyah x, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah….” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hlm. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha) Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, al-Imam Malik bin Anas t berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi n namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad n ) adalah seorang yang jahat. Karena, kalau memang ia orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hlm. 580) c. Tentang imamah (kepemimpinan umat) Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari al-Kulaini dalam al-Kafi (218) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata, “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum, dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata, “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata, “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1174) Imamah ini (menurut mereka, red.) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib z dan keturunannya, sesuai dengan nash wasiat Rasulullah n. Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin, seperti Abu Bakr, ‘Umar, dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia (wilayah) Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 16—17) Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. al-Khumaini (Khomeini) berkata, “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia al-Imam al-Mahdi, sang penguasa zaman—baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam—yang dengan kehendak Allah Yang Mahakuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (al-Washiyyah al-Ilahiyyah, hlm. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1192) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu per satu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini. d. Tentang taqiyyah Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq (kemunafikan), dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1195 dan asy-Syi’ah al-Itsna ‘Asyariyyah, hlm. 80) Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam al-Kafi (2175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar al-A’jami, “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya 910 dari agama ini adalah taqiyyah. Tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1196) Oleh karena itu, al-Imam Malik t ketika ditanya tentang mereka, beliau berkata, “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.” Demikian pula al-Imam asy-Syafi’i t berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 227—28, karya al-Imam adz-Dzahabi t) e. Tentang Raj’ah Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, al-Qummi ketika menafsirkan surat an-Nahl ayat 85, berkata, “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah.” Kemudian dia menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini, ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib z) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘alar Riwayatit Tarikhiyyah, hlm. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali) f. Tentang al-Bada’ Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa al-Bada’ ini terjadi pada Allah l. Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam al-Kafi (1111), meriwayatkan dari Abu Abdillah (ia berkata), “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1252) Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4. Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu al-Khumaini (Khomeini) berkata, “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen.) di masa Rasulullah n, serta lebih utama dari masyarakat Kufah dan Irak di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (al-Washiyyah al-Ilahiyyah, hlm. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hlm. 192) Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah Asy-Syaikh Dr. Ibrahim ar-Ruhaili di dalam kitabnya al-Intishar Lish Shahbi wal Aal (hlm. 100—153) menukilkan sekian banyak perkataan ulama tentang mereka. Namun karena sangat terbatasnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja. 1. Al-Imam ‘Amir asy-Sya’bi t berkata, “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (as-Sunnah, 2549, karya Abdullah bin al-Imam Ahmad) 2. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri t ketika ditanya tentang seseorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar c, beliau berkata, “Ia telah kafir kepada Allah l.” Kemudian ditanya, “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata, “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7253) 3. Al-Imam Malik dan al-Imam Asy-Syafi’i rahimahumallah, telah disebut di atas. 4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal t berkata, “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah g) itu sebagai orang Islam.” (as-Sunnah, 1493, karya al-Khallal) 5. Al-Imam al-Bukhari t berkata, “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi (penganut Jahmiyah, red.) dan Rafidhi (penganut Syiah Rafidhah, red.), atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh, red.). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hlm. 125) 6. Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi t berkata, “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari sahabat Rasulullah n, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita adalah haq dan Al-Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah n. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah (orang-orang zindiq).” (al-Kifayah, hlm. 49, karya al-Khathib al-Baghdadi t) Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran. Amin. Wallahu a’lam bish-shawab. 1 Pandangan ini tentunya bertentangan dengan ajaran Rasulullah n sebagaimana yang terdapat dalam banyak sabda beliau, di antaranya dalam Shahih Muslim, “Kitabul Imarah”. 2 Untuk lebih rincinya tentang Abdullah bin Saba’, lihat al-Kamil fit Tarikh, 3154, karya Ibnul Atsir, al-Bidayah wan Nihayah, 7176, karya Ibnu Katsir, dan Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahudi, karya Abdullah al-Jumaili, 198—164. 3 Menurut mereka, rukun Islam juga ada lima, akan tetapi mereka mengganti dua kalimat syahadat dengan imamah. 4 Secara jujur, ada kemiripan antara prinsip (akidah) mereka dengan prinsip (akidah) Yahudi, sebagaimana yang dinyatakan oleh para ulama. Untuk lebih rincinya, lihat kitab Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, karya Abdullah al-Jumaili. nah udah puas kannnn????

 
putra butta toa
Pada : Selasa, 18 Juni 2013 / 09:06:34

Istilah ahlul bait diambil bedasarkan ayat-ayat Al Quran dan Sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [Al Ahzab (33) : 33] Yang menjadi penekanan di ayat ini adalah “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Jadi benar bahwasanya jelas kata “ahlul bait” diambil dari Al Quran, di ayat ini dikatakan أهل ٱلبيت . Syaikh Abdurrahman Asy Sya’li rahimahullah menafsirkan ayat ini bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala ingin menghilangkan dosa dari ahlul bait artinya adalah Allah Subhanahu wata’ala ingin menghindarkan perbuatan-perbuatan keji agar tidak dilakukan oleh ahlul bait Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian di ayat setelahnya yaitu ayat ke-34, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” [Al Ahzab (33) : 34] Ibnu Katsir Rahimahullah menafsirkan ayat ini bahwasanya beliau berkata “Artinya Allah memerintahkan untuk mengerjakan dengan apa yang diturunkan Allah kepada Rosulnya, yaitu berupa Al Quran dan As Sunnah, di rumah-rumah kalian. Ayat ini menjelaskan mengenai perintah kepada ahlul bait untuk mengamalkan segala sesuatu yang berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah di rumah-rumah mereka dan ayat ini atau perintah ini ditujukan bagi istri-istri Nabi. ” Lebih jelas lagi ahlul bait dijelaskan dalam sebuah hadits yang shahih dalam shahih muslim, Dari Zaid bin Arqom Radliyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam suatu hari pernah berkhutbah, “Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlul baitku”, beliau mengucapkan ini sampai 3 kali. Maka Husain Bin Sibrah (perawi hadis ini) pun bertanya kepada Zaid, “Wahai Zaid siapakah ahlul bait Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam? Bukankah istri-istri beliau juga ahlil baitnya?” Maka Zaid pun menjawab, “Ya, para istri Nabi termasuk ahlul bait Nabi. Akan tetapi yang dimaksud di sini adalah orang yang diharamkan menerima sedekah setelah wafatnya Rosulullah saw.” Lalu Husain pun bertanya, “Siapa mereka yang diharamkan sedekah itu?” Zaid pun menjawab, “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas.” Maka Husain pun kembali bertanya, “Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima zakat?” Maka Zaid pun menjawab, “Ya”. Dari ayat-ayat Al Quran dan Hadits tersebut di atas, maka jelaslah bahwasanya istilah ahlul bait adalah istilah syari’ yang muncul dalam Al Qur’an. Istilah ahlul bait ini dimaknai sebagai keluarga dekat dan istri-istri beliau seperti dari keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas yang merupakan keluarga Bani Hasyim. Dan ini adalah menurut Ahlussunnah wal Jamaah, sedangkan menurut versi Syiah, mereka hanya menganggap bahwasanya ahlul bait itu hanyalah Ali, anaknya (Hasan dan Husain), dan Fatimah. Bahkan orang-orang Syiah secara terangan-terangan mengatakan bahwasanya seluruh pemimpin kaum muslimin selain Ali dan Hasan adalah toghut meskipun mereka menyeru kepada kebenaran. Inilah bahayanya Syiah. Mereka menganggap bahwa khulafaurasyidin adalah para perampas kekuasaan ahlul bait, maka Syiah pun mengkafirkan semua khalifah bahkan semua pemimpin kaum muslimin. Oleh karena itu, tidak perlu lagi bahwa Syiah telah menyimpang dari akidah yang lurus, yaitu akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Oleh karena itu, kita tidak boleh membatasi ahlul bait hanya kepada Ali, Hasan bin Ali, Husain bin Ali dan Fatimah binti Rosulullah saja. Pembatasan seperti ini tidak pernah ada sandarannya dari Al Qur’an maupun As Sunnah. Anggapan atau pembatasan ini muncul dan dibuat dari hawa nafsu orang-orang Syiah. Hal ini dikarenakan mereka punya dendam dan kedengkian terhadap islam dan kedengkian terhadap ahlul bait Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Orang-orang Syiah sejak jaman para sahabat Radliyallaahu ‘anhuma ajmain tidak menginginkan adanya kejayaan islam dalam diri kaum muslimin. Jadi, walaupun mereka menggembor-gemborkan bahwa mereka mencintai ahlul bait, padalah sesungguhnya merekalah yang membenci ahlul bait. Mari kita perhatikan syubhat dari Syiah berikut. Syiah Rafidhah menyatakan bahwasanya Ali dan keturunannya adalah orang-orang yang ma’shum dengan dalil sabda Rasulullah yang berbunyi, “Wahai para manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian suatu hal, kalau kalian mengambilnya maka kalian tidak akan tersesat (yaitu) Kitabullah dan ‘itrahku, Ahli Baitku.”[1] Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menggandengkan penyebutan kitabullah dan Ahlul Bait dengan wawu athof yang dalam kaidah usul fiqih dikatakan bahwa fungsi dari huruf wawu athof adalah berserikatnya dua hal yang digandengkan dalam satu hukum tidak dapat ditiadakan kecuali dengan dalil. Hal ini berarti Ahlul Bait sama dengan kitabullah dalam hal sebagai sumber hukum yang terpelihara dan itu menunjukan bahwa mereka adalah orang-orang yang ma’shum. Inilah kata-kata orang Syiah bahwa ahlul bait sama dengan kitabullah, dan kitabullah tidak pernah salah sehingga ahlul bait pun tidak pernah salah atau ma’shum. Syubhat ini dijawab oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah, beliau menjelaskan, “Bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait di sini adalah para ulama, orang-orang shalih dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dari kalangan mereka (Ahlul Bait)” Begitu juga yang dikatakan oleh Imam Abu Ja’far At-Thahawi rahimahullah, “Al-‘Itrah adalah Ahlul Bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yaitu orang yang paham beragama dan berkomitmen dalam berpegang teguh dengan perintah Nabi.” Juga dari Syaikh Ali Al-Qari rahimahullah yang mengatakan hal yang senada dengan Imam Abu Ja’far, beliau mengatakan, “Sesungguhnya Ahlul Bait itu pada umumnya adalah orang-orang yang paling mengerti tentang shahibul bait (yang dimaksud adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) dan paling tahu hal ihwalnya, maka yang dimaksud dengan Ahlul Bait di sini adalah Ahlul Ilmi (ulama) di kalangan mereka yang mengerti seluk beluk perjalanan hidupnya dan orang-orang yang menempuh jalan hidupnya serta orang-orang yang mengetahui hukum-hukum dan hikmahnya. Dengan ini maka penyebutan Ahlul Bait dapat digandengkan dengan kitabullah sebagaimana firman-Nya: … dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunnah) [Al-Jumuah:2] Syaikh Al-Albani mengatakan: Dan yang semisalnya, firman Allah Ta’ala tentang istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Dan ingatlah apa yang dibacakan dirumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu)…”(Al-Ahzab: 34) Maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari kalangan Ahlul Bait. Mereka itulah yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam hadits ini (hadits ‘itrah). Jadi pemahaman orang-orang Syiah yang menganggap bahwa ahlul bait adalah orang yang ma’shum adalah pemahaman yang keliru. Jadi kesimpulannyam menurut para ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang dimaksud ahlul bait adalah Keluarga Ali bin Abu Thalib (tentunya mencakup Ali itu sendiri) Fatimah (istri Ali) Hasan dan Husain berserta keturunannya Keluarga Aqil (tentunya mencakup Aqil itu sendiri dan anaknya Muslim bin Aqil beserta anak cucunya yang lain) Keluarga Ja’far bin Abu Thalib (tentunya mencakup Ja’far itu sendiri berikut anak-anaknya yang bernama Abdullah, Aus, dan Muhammad) Keluarga Abbas bin Abdul Muthalib (tentunya mencakup Abbas itu sendiri dan sepuluh putranya, yaitu Abdullah, Abdurrahman, Qutsam, Al Harits, Ma’bad, Katsir, Aus, Tamam, dan putra-putri beliau juga termasuk didalamnya) Keluarga Hamzah bin Abdul Muthalib (tentunya mencakup Hamzah itu sendiri dan tiga orang anaknya, yaitu Ya’la, Imaroh, dan umamah ) Semua istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Dan tulisan di bawah ini adalah penjelasan Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan dari buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mencintai ahlul bait sesuai dengan wasiat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya. “Artinya : Sesungguhnya aku mengingatkan kalian dengan ahli baitku”.[2] Sedang yang termasuk keluarga beliau adalah istri-istrinya sebagai ibu kaum mu’minin Shallallahu ‘alaihi wa sallam nna wa ardhaahunna. Dan sungguh Allah telah berfirman tentang mereka setelah menegur mereka. “Artinya : Wahai wanita-wanita nabi ……..”. [Al-Ahzab : 32] Kemudian mengarahkan nasehat-nasehat kepada mereka dan menjanjikan mereka dengan pahala yang besar, Allah berfirman. “Artinya : Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya”. [Al-Ahzab : 33] Pada pokoknya ahlul bait itu adalah saudara-saudara dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang dimaksud disini khususnya adalah yang sholeh diantara mereka. Sedang sudara-saudara dekat yang tidak sholeh seperti pamannya, Abu Lahab maka tidak memiliki hak. Allah berfirman. “Artinya : Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya celaka dia”. [Al-Lahab : 1] Maka sekedar hubungan darah yang dekat dan bernisbat kepada Rasul tanpa keshalehan dalam ber-din (Islam), tidak ada manfaat dari Allah sedikitpun baginya, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya :Hai kaum Quraisy, belilah diri-diri kamu, sebab aku tidak dapat memberi kamu manfaat di hadapan Allah sedikitpun ; ya Abbas paman Rasulullah, aku tidak dapat memberikan manfa’at apapun di hadapan Allah. Ya Shofiyyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat memberi manfaat apapun di hadapan Allah, ya Fatimah anak Muhammad, mintalah dari hartaku semaumu aku tidak dapat memberikan manfaat apapun di hadapan Allah”. [3] Dan saudara-saudara Rasulullah yang sholeh tersebut mempunyai hak atas kita berupa penghormatan, cinta dan penghargaan, namun kita tidak boleh berlebih-lebihan terhadap mereka dengan mendekatkan diri dengan suatu ibadah kepada mereka. Adapaun keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau madlarat selain dari Allah adalah bathil, sebab Allah telah berfirman. “Artinya : Katakanlah (hai Muhammad) : Bahwasanya aku tidak kuasa mendatangkan kemadlaratan dan manfaat bagi kalian”. [Al-Jin : 21]. “Artinya : Katakanlah (hai Muhammad) : Aku tidak memiliki manfaat atau madlarat atas diriku kecuali apa-apa yang tidak dikehendaki oleh Allah , kalaulah aku mengetahui yang ghaib sunguh aku aka perbanyak berbuat baik dan aku tidak akan ditimpa kemadlaratan”. [Al-Araf : 188] Apabila Rasulullah saja demikian, maka bagaimana pula yang lainnya. Jadi, apa yang diyakini sebagian manusia terhadap kerabat Rasul adalah suatu keyakinan yang bathil. [1] (HR. Tirmidzi 2308 dan Thabrani 2680 dan hadits ini shahih dengan syawahidnya [2] Dikeluarkan Muslim 5 Juz 15, hal 180 Nawawy, Ahmad 4366-367 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab As-Sunnah No. 629] [3] Dikeluarkan oleh Bukhary 34771, 22753, Muslim 1 Juz 3 hal 80-81 Nawawy

 
erickindra
Pada : Selasa, 25 Juni 2013 / 10:44:53

Yang paling mendasar dalam islam adalah dua kalimat syahadat dari Rasullullah...,disini akar dan dasarnya...kenapa ditambah dengan imam2 yang lain yang tidak dikatakan rasullullah..,dan siapa yang menambahkan ini?..apa semaunya bisa ditambah tambahin?..apa rasullullah menambahkan itu?..

 
lubis
Pada : Rabu, 26 Juni 2013 / 01:49:11

assalamualaikum saya tidak akan berbicara mengenai sejarah antara sahabat-sahabat nabi (imam-imam muslimin). yang saya tidak habis fikir pada saudara-saudari Syiah, saya ingin bertanya mengenai hal-hal pokok islam : 1. mengapa shalat,azan, rukun iman, rukun islam berbeda dengan ajaran Al-Quran dan Hadist rasulullah SAW? 2. mengapa terdapat RITUAL-RITUAL aneh seperti menyiksa diri sendiri, yang sampai menyiksa bayi yang masih suci hingga terluka dan berlumuran darah?? apakah hal tersebut terdapat dalam firman Allah dan Hadist Rasulullah?? 3. jelaskan menurut Al-Quran Dan hadist Rasulullah SAW mengenai kebenaran kabbalah? 4. apakah ada dalam ajaran syiah menghalalkan darah dan merampas harta kaum selain syiah (kafir)? bukankah kita sebagai umat muslim yang bertaqwa dan beriman kepada Allah adalah yang mengikut pada Al-Quran dan Hadist Rasulullah Muahammad SAW yang sahih? mohon maaf atas segala kesalahan penyampaian dan mohon di jawab dengan kepala dingin untuk syiah. Allahuakbar.. wassalamualaikum..

 
a.muhammad ali fadly
Pada : Sabtu, 29 Juni 2013 / 07:10:26

hhahaha..lucu semua kalian...kya di antara kalian semua itu merasa paling benar...sya orng yg baru belajar agama melihat debat di antara 2 golongan serasa kalian yg bru belajar agama...cman sebatas pengatahuan website...paham yg benar menurut sya apa yg menurut anda benar maka ikutilah itu..tdak usah paksa orang untuk mengikuti paham anda....yakinlah allh swt akan meluruskan paham yg slah...yg coment ini dia yg tdak yakin sma allah dan dirinya sendiri

 
a.muhammad ali fadly
Pada : Sabtu, 29 Juni 2013 / 07:19:56

dan stu lagi sya ini islam..bukan sunni bkan syiah....klo sya mengikut dngan ajaran sunni bukan berarti sya sunni..krna sya mw belajar agama...klo sya melenceng pahamku ke syah bkan berarti sya syah....sya hanya belajar agama... sya ISLAM....sya mencari yg menurut sya paling benar....dan tdak memaksa orng mengikuti sya.....karna sya ISLAM...........dan jika sya salah...insyaallah allah swt meluruskan paham dan jalan ku..melalui umatnya...atau apa yg dia hendaki....bagi yg mw menyesatkan atau mengkafirkan sya silahkan.....hnya allah yg bisa mengkafirkan..........sya terimah segala keritikan

 
Gotok Yunanto
Pada : Sabtu, 29 Juni 2013 / 21:45:06

Dari atas sampai bawah saya baca, rata2 semua bagus bagus pendapatnya,, saya yg org bodoh ini hanya bisanya ya mengakui bodoh aja, tidak pintar seperti ulama dan para pintar, dan para ustazd,, saya hanya bisa merenungi dari kata2 saya sendiri ada dua petani, yang satu giat sekali menuntut ilmu pertanian, tiap hari berpindah2 majelis, toko buku, kampus pertanian dan seminar2, sehingga dia mengetahui buanyak sekali ilmu pertanian, dan petani satunya hanya seadanya memiliki ilmu bertaninya dan sangat sederhana, kemudian dari hari ke hari usianya rajin menanam dan merawat tanamannya dgn segala kesederhanaan ilmunya,, lalu habislah masa usia masing masing kedua petani tersebut,, yg dapat saya renungi,, lebih beruntung siapa diantara keduanya ya, renungan saya yg bodoh ini, pastilah yang bisa memanen hasilnya adalah petani bodoh dan sederhana yg segera berbuat, bukanlah petani yg banyak tahu dalil dan hukum serta ilmu, namun sangat jarang atau bahkan tidak segera berbuat,, al hasil, Syiah dan Sunni hanyalah pemahaman,, biarlah mereka indah dgn pemahamannya masing2, yang penting segera berbuat kebajikan dan bermanfaat bagi sesama, , tdk usah di komenni kasar ya tulisan saya ini, krn ini hanya tulisan org bodoh dan ndeso.

 
a.muhammad ali fadly
Pada : Minggu, 30 Juni 2013 / 08:40:09

gotok yunanto..pesan yg sngat bermanfaat...sya sutujuh dngan pendpatnya....karna egolah yg membentuk satu kelompok..karna kelompoklah yg membentuk satu kesalah pahaman...krna keslah pahaman lah yg membentuk permushan..krna permusuhanlah membentuk fitna dajjal

 
enka
Pada : Senin, 15 Juli 2013 / 04:11:43

buat Abu Ahmad: aku juga orang Syiah tapi gak membenci Sahabat Umar Abu Bakar dan Utsman, tidak ngawur kayak cocote Abu Ahmad

 
eko
Pada : Minggu, 21 Juli 2013 / 14:12:48

Buat tmn2 para pencari kebenaran, cukup kt renungkan dan tolong dipahami secara logika. Asal mula ajaran Syiah dr mana? terus siapa pendirinya! Kalau asal mula dan pendirinya ok, berarti Syiah ok! Tp kalau asal mula dan pendirinya tdk OK, berarti Syiah tdk OK!

 
eko
Pada : Minggu, 21 Juli 2013 / 14:27:08

Buat tmn2 para pencari kebenaran, cukup kt renungkan dan tolong dipahami secara logika. Asal mula ajaran Syiah dr mana? terus siapa pendirinya! Kalau asal mula dan pendirinya ok, berarti Syiah ok! Tp kalau asal mula dan pendirinya tdk OK, berarti Syiah tdk OK! Yg ptg tdk bertentangan dg AL-QURAN dan AL-HADIST

 
ranma
Pada : Kamis, 15 Agustus 2013 / 16:01:01

Kenapa syiah menyakiti diri nya pada hari ashura?? Membentur2kan kepalanya ke tembok sampe berdarah.. Maksudnya apa?? Apa emg ada perintahnya?? *kalo stiap hari adalah perayaan ashura psti umat syiah jadi langka alias hampir punah dgn sndirinya.. Laaahhhh tiap hari ngebenturin palanya ampe bedarah...

 
Ade F Hidayatan
Pada : Jumat, 23 Agustus 2013 / 04:03:02

Barangsiapa yang memukul seseorang satu kali.. maka kelak ia nanti akan melihat anak atau keluarga nya dipukul satu kali oleh seseorang lain nya.. apa yang kau tuduhkan kepada orang lain maka kelak tuduhan itu berbalik kepadamu dan keluargamu sendiri.. apa yang kau lakukan hari ini adalah cermin prilaku keturunanmu nanti.. apa yang kau tanam kan berbuah dikemudian hari..

 
andre
Pada : Rabu, 28 Agustus 2013 / 02:00:08

sebodoh bodohnya kaum tidak lain adalah syiah, sederhana saja alasannya, menganggap sahabat nabi sekelas abu bakar, umar bin kattab dan usman serta istri nabi aisyah sebagai orang sesat sama artinya menganggap rosululah tidak becusgagal dalam berdakwah, menurut kalian siapa manusia paling hebat dalam berdakwah syiar islam selain nabi muhammad SAW.

 
zahra
Pada : Kamis, 19 September 2013 / 07:59:33

Ass...saya gak bgtu faham apa itu syiah atau sunni. Tpi beberapa bulan ini saya sedikit tau tentang syiah dan sunni. Jg knpa ada perbedaan ajaran nya. Mana yg benar dan yg salah hanyalah Allah dan orang2 jaman rasullah lah yg tau... yg penting saat ini kita menyembah Allah SWT. Mau syiah atau sunni tujuan nya kan sama pengen masuk surga..??? Hidup cuma sekali kan..?? Qta jga blm tentu orang paling suci...??

 
zahra
Pada : Kamis, 19 September 2013 / 07:59:36

Ass...saya gak bgtu faham apa itu syiah atau sunni. Tpi beberapa bulan ini saya sedikit tau tentang syiah dan sunni. Jg knpa ada perbedaan ajaran nya. Mana yg benar dan yg salah hanyalah Allah dan orang2 jaman rasullah lah yg tau... yg penting saat ini kita menyembah Allah SWT. Mau syiah atau sunni tujuan nya kan sama pengen masuk surga..??? Hidup cuma sekali kan..?? Qta jga blm tentu orang paling suci...??

 
RAINDRA
Pada : Sabtu, 21 September 2013 / 07:07:01

SAYA GA TAHU BANYAK SOAL SYIAH, KARENA TIDAK ADA HARGANA__ TAPI SAYA TAHU PASTI KALO SYIAH ITU HARUS DIMUSNAHKAN. MEREKA SUKA MENIPU DAN MENEBAR FITNAH___ HANCURKAN KAUM PENGIKUT DAJAL

 
haryono
Pada : Rabu, 25 September 2013 / 04:15:57

semua pada ribut membahas perbedaan pendapat diantara sesama muslim,setan telah merasuki semua golongan.untuk menetapkan awal ramadan dan 1 syawal saja tidak becus padahal peralatan sudah canggih dan modern tapi buktinya? masih saja berselisih.Kalau cara berfikirnya waras tentu tidak akan terjadi perselisihan.Caranya ya dikumpulkan semua golongan dalam satu tempat untuk melihat bulan masing-2 mengirim 2orang dari golongannya kan beres. gini aja pada gak becus kok mau membahas quran dan hadis padahal umat islam sedunia hanya mengerti aturan islam dari buku yang dikarang oleh orang terdahulu.

 
Rei
Pada : Minggu, 13 Oktober 2013 / 13:06:43

Syiah adalah “anak emas” Yahudi. Orang-orang Syiah menggunakan kata “persatuan dan penyatuan” untuk menjelaskan jati dirinya, membongkar identitasnya, dan membuang topeng dari wajahnya. Sudah sekian lama, orang-orang Syiah menebar virus melalui buku-buku yang berhiaskan kebatilan dan kepalsuan.Tentang Allah Taala , mereka berkata bahwa Dia mengalami kondisi al- bada (lupa dan tidak tahu). Tentang Al Quran, mereka berkata bahwa Al Quran telah dirubah. Tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Wallam , mereka berkata bahwa Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu dan anak keturunannya itu lebih baik dari beliau. Tentang para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang merupakan pembela agama ini, mereka berkata bahwa para sahabat adalah orang-orang pengkhianat dan murtad. Padahal, di antara para pembela Islam tersebut terdapat tokoh- tokoh besar, seperti: Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan istri-istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang merupakan Ummahatul Mukminin. Dengan transparan buku ini menjelaskan bahwa Syiah adalah boneka Yahudi, yang dendam dan dengki kepada kaum Muslimin. Sebagaimana tercermin dalam aqidah Syiah tentang Allah Taala , Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salla , para sahabat beliau, dan istri-istri beliau yang merupakan Ummahatul Mukminin. Demikian halnya kebohongan dengan nama taqiyah , adalah slogan seluruh orang-rang Syiah.Mereka mengakuinya sebagai perbuatan yang paling baik dan ibadah kepada Allah yang paling agung. Disertai pula pembahasan tentang aqidah imam-imam mereka, prinsip- prinsip sekte tersebut dan latar belakang konflik antara mereka dengan Ahlus Sunnah. Semua dijelaskan penulis dengan gamblang, berpatokan kepada referensi, terinci, dan tidak menyebutkan sesuatu tentang Syiah, melainkan dari buku- buku dan perkataan mereka sendiri, tentunya dengan daya dan upaya dari Allah Taala semata.

 
taenia_pita
Pada : Senin, 09 Desember 2013 / 03:50:25

setelah baca buku2nya orang syiah...gak salah kalo orang menilai syiah sesat...masak Umi Aisyah dikatakan pelacur....Syiah benar2 agama yg kurang ajar

 
radenmas mono
Pada : Minggu, 12 Januari 2014 / 13:16:40

Kata ustad saya, jadi muslim pingin masuk sorga semua khaan? Caranya gampang: copy paste AKHLAK Rasulullah Saw.. karena itu Firman ALLOH SWT jelas2 menunjuk Rasulullah Saw itu Utama karena AKHLAK nya. Jadi, mau apapun aliran Islam nya, lakukan saka apa yg disuruhdicontohkan Rasil dan tinggalkan apa yg dilarang oleh beliau. $gak nyambung yaah :D

 
obbie
Pada : Selasa, 18 Februari 2014 / 21:51:28

anjrit... syiah sakit jiwa..

 
prima
Pada : Jumat, 21 Februari 2014 / 00:37:01

marilah kita bergandengan tangan jangan pada mencela, katanya kita islam tapi ko perbuatannya tidak arif dan bijaksana seperti rosul, allah memciptakan islam bukan untuk bermusuhan, tp untuk menentramkan manusia

 
Teno hikmatiar
Pada : Kamis, 06 Maret 2014 / 19:08:05

Saya sering baca buku atau artikel tentang kesesatan syiah. Isinya bagus tetapi sarat dengan sebuah kebencian yg mendalam. Akhirnya lama kelamaan berisi tuduhan-tuduhan klasik disertai emosional. Pengrangnya terlihat marah emosi yg tidak terkendali tertuang dalam tulisan. Coba tawarkan solusi damai tanpa harus dgn cara permusuhan dan kebencian. Mungkin akan lebih sejuk begitu ya akhy> semoga

 
Teno hikmatiar
Pada : Kamis, 06 Maret 2014 / 19:14:09

Tuduhan Al-quran yg dipakai syiah tidak sama sampai detik ini tidak pernah bisa dibuktikan. Ya kalau dia fanatik dgn sahabat Nabi Muhammad saw bernama Ali bin Abu Tholib dia sebagai menantu Nabi sekaligus kemenakan Nabi dia juga Ahlul bait Nabi, Ali juga lebih duluan masuk Islam dibandingkan dgn 4 sahabat Nabi apa salahnya. Masak dgn dasar itu dijadikan alasan membenci syiah. Damai sajlah boss

 
somat
Pada : Jumat, 07 Maret 2014 / 22:58:23

Cak.. ojok kakean cangkem... nek gak seneng yo mbideko ae gak usah ngurusi keyakinane wong liyo. gurung karuan awak e peno apik kabeh. wes ngurusi hal seng gak penting.gurung karuan sembayang peno yo podo di terimo. Are Kembang kuning Suroboyo.

 
roni
Pada : Selasa, 01 April 2014 / 04:23:31

assalamualaikum wr.wb langsung aza, bagi anda yang merasa ato meyakini syiah, tolong anda jawab dan jelaskan pertanyaan dari sdr. lubis jika anda menganggap syiah itu sudah sesuai dengan syariat islam.. monggo.... wassalam

 
mochtar
Pada : Rabu, 16 April 2014 / 01:26:00

menarik sekali membaca komentar2 dari teman2 semua, membuka wawasan baru. Tergerak untuk belajar dari semua sudut pandang syiah maupun sunni. Pertanyaan awal dari saya yg sangat awam kepada teman2 yang sudah ahlinya..apakah Rasul SAW itu Syiah ato Sunni?saya harap jawabanya disertai bukti yg syahih, terima kasih

 

Kirim Komentar

 
 
Nama :
E-mail :
Website :
Komentar :
Jawab :
     
   

Buku Khazanah

Cinta & Seks Rumah Tangga Muslim
Cinta & Seks Rumah Tangga Muslim
dr. Untung Sentosa, M.Kes., Aam Amiruddin, M.Si
Rp. 37.500,-
Kode : K0027

Mayoritas masyarakat kita masih memandang seks bukanlah prioritas penting dalam membina rumah tangga. Bahkan tidak sedik ... Baca »

PELUANG
Pusat buku bermutu karya Ust. Dr. Aam Amiruddin
www.khazanahintelektual.com
Tim Pengurus Kematian Percikan Iman | Melayani Sesuai Syariah | Telp.08122-119-189/022-4238445
tpk.percikaniman.org
Kajian Ahad Pagi Bandung @Majelis Percikan Iman
MPI (Majlis Percikan Iman)
Investasi Tiada Batas untuk Akherat yang Abadi
http://wakaf.percikaniman.org
Profil,buku,jadwal,video aktifitas Dr.Aam Amiruddin
Pusat Artikel Islam, Tanya Jawab dan Dakwah
Kontak ZIS telp.022-76888795/081802023030
Pengelola Zakat Infaq Percikan Iman ZISWAF Amany
Kumpulan Software, Program dan Aplikasi Islam
http://software-islam.percikaniman.org/