Bandung & Sekitarnya
Shubuh : 4:07 | Terbit : 5:27 | Dzuhur : 11:34 | Asar : 14:44 | Magrib : 17:43 | Isya : 18:52 WIB TIM HUMAS: percikaniman yyudhanto
Info Penting!
  • Gabung! Dakwah MAYA di http://www.facebook.com/kajianmpi and http://twitter.com/percikaniman.
Buku Khazanah : Dakwah
Membongkar Kesesatan Syiah
Membongkar Kesesatan Syiah Kode : K0045
Kategori : Dakwah
ISBN : 979-3838-13-2
Size : 12 x 18 cm
Jml. Hal : 135
Cetakan : 1
Harga : Rp. 24.500,-
Mereka memiliki Rukum Iman dan Rukun Iskam yang berbeda, begitu pula dengan kitab dan hadistnya.
Saat ini, bermunculan aliran-aliran yang menyimpang dari ajaran Islam yang kaffah. Walaupun ajarannya benar-benar menyimpang dari Al Qur'an dan As Sunnah mereka masih mengaku bahwa ajaran Islam yang mereka bawa adalah "Islam yang sebenarnya". Salah satunya adalah Syiah

Ajaran Syiah sangat menyimpang dari ajaran yang dibawa Rasululloh SAW. Mereka memiliki Rukum Iman dan Rukun Iskam yang berbeda, begitu pula dengan kitab dan hadistnya. Bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama syiah, Al Qur'an mereka pun berbeda dengan Al Qur'an yang diajarkan Rasululloh SAW.
 

80 Komentar

 
 
pencari kebenaran
Pada : Minggu, 07 September 2008 / 02:47:14

Saya membaca artikel Syiah di http://al-shia.com. Disitu dikatakan segala sesuatunya tentang Syiah dari sumber resmi Syiah. Kayaknya perbedaannya gak jauh-jauh amat ama ahlussunah. Sebelum menyesatkan mereka, saya rasa ada baiknya kita lihat sumber Syiah dari pengikutnya sendiri.

 
prima
Pada : Senin, 03 Nopember 2008 / 19:30:18

Saya baca di situs hakekat.com atau hafizifirdaus.com , syiah.net dll sebaliknya di situs Syiah. memang Syiah adalah Agama sendiri diluar Islam. Karena kontraidksi sekali antara agama yang benar dari Allah dan agama buatan manusia di Syiah.

 
modriek
Pada : Rabu, 10 Desember 2008 / 12:04:42

Saya agak sedikit heran mengapa syiah dikatakan sesat, tetapi kesesatannya tak pernah dapat dibuktikan secara kongkrit oleh sunni,meskipun sunni memberikan beberapa bukti, tapi bukti tersebut nisbi, dan pembuktiannya selalu saja klasik,tentang mut'ah, sahabat,karbala,dan beberapa lainnya yang kesemuanya itu dari dulu ke dulu ya itu itu aja. Padahal Imam Bukhari menukil : KALAU DENGAN MENCINTAI HASAN DAN HUSEIN AKU DITUDUH RAFIDI, MAKA SAKSIKANLAH WAHAI JIN DAN MANUSIA MAKA SESUNGGUHNNYA AKU ADALAH RAFIDI. Cobalah cari bukti yang lebih menggigit lagi wahai kaum sunni.

 
nurfaridah
Pada : Sabtu, 31 Januari 2009 / 15:51:21

saya juga takut lihat suami saya ke syiah ajaran kok beda sholatnya boleh di gabung padahal dia tidak berpergian,dan sholatnya pakai tanah karbala yang di padatkan

 
yasir alaydrus
Pada : Selasa, 03 Maret 2009 / 17:52:14

salam

 

sangat disayangkan banyak sekali orang yang mengaku Islam mau di fitnah oleh orang yang mengaku ulama seperti Muhammad Abdu syattar. Kalau orangn mau mengetahui isi rumah tangga orang lain menngapa dia harus bertanya kepada orang yang sama sekali tidak tahu mengenainya bahkan ia memususuhinya. Informasi apa yanng didapat selain keburukan dan kejelekan lawannya yang diutarakan. sebaiknya bertanyalah atau cari lah informasi kepada ahlinya. Jadi siapa yang mau tahu tentang syiah mengapa harus di dapat dari seorang wahabi yangn jelas jelas membenci keluarga Rasulullah saaw. mereka mengaku Islam tapi prakteknya sangat jauh dari Islam . Lihat kelakuan para keluarga kerajaan Saud. berfoya-foya denngan kekayaan mereka yang di dapat dari cara-cara yang bukan Islami. begitu juga ulama mereka sangat mendukung keluarga rezim saud. rezim yang sudah dipegang tengkuknya oleh setan besar Amerika dan setan kecil Israel. apatah lagi yang di dapat selain kebencian kepada Iran dengan syiah. cobalah bermurah hati untuk mempelajari biografi khomeini. atau sejarah hidup keluarga Nabi saaw.

 
ash
Pada : Selasa, 31 Maret 2009 / 08:59:35

SYIAH menghalalkan NIKAH MUT'AH (KAWIN KONTRAK), bahkan menurut Khomeini "kita boleh Mut'ah hanya dgn mas kawin/mahar segenggam makanan, bahkan jg boleh Mut'ah dg perjanjian sampai batas 1x senggama, setelah selesai senggama maka resmi bercerai." Masya Allah...lantas apa bedanya kita Nikah Mut'ah dgn kita menyewa pelacur...???? Bisa dijelaskan hal ini oleh kalian wahai bangsa SYIAH????? Sesungguh nya ALLAH MAHA MELIHAT & MAHA MENGETAHUI.

 
irwan
Pada : Sabtu, 04 April 2009 / 20:37:58

Walah gampang sekali ya menyesatkan.hee sy org sunni sejati,tidak setuju org syiah d sesatkan. temen2 sy banyak yg syiah..kyny pengarang buku ini bener2 sadis.. blum tau syiah tu ky gmn udh di sesatkan... MUI Saja tdk menyesatkan..sy sarankan kpd bpk ust sattar. Baca yg teliiti alqur'an ny .d kaji y!! Bkn d Baca doang.... sy yakin sekali kamu itu wahabi.. yang ngaku2 nempel d Sunni hee pdhl d sunni g begitu.. maulid aj d bid'ah kan.. Sy mau tanya? km ini umat siapa sich? km tau peristiwa nabi isa waktu minta hidangan.. sampai skarang d peringati oleh umat kritiani sbagai hari PASKAH. ini rosul yg membawa al-quran..,yg namany d gandengkan dgn alloh.., nabi yg paling mulia d antara para nabi..skaligus saksi para nabi & rosul skalian sluruh umat dari adam hingga akhir kiamat termasuk saksi antum., ya alloh hancurkan ummat yg membenci rosululloh.. kuburan2 para syuhada d baqi aj km hancurkan..,,,memang nabi tdk mencontohkan.. tp km tau pd zaman rosululloh.. para sahabat pd berebut injakan kakiny. ampe kringatny.dan rosul tdk melarangny.. bahkan mendoakanny.! skali lg km ini umat rosul yg mana sich???belajar lg dah yg bener..

 
Reka Yuda Mahardika
Pada : Senin, 20 April 2009 / 18:00:20

      Hmmm..., di bogor dulu (kalo tak salah istana bogor tahun 2006/2007) ada pertemuan syiah dan sunni seluruh dunia, membahas tentang AMERIKA yang menyerang irak dan ISRAEL. Dengan cantiknya, salah satu ulama sunni berkata, "seandainya Syiah menentang hegemoni Amerika, maka kita semua adalah Syiah. jikalau semua Sunni menentang Israel, maka kita semua Sunni."

 

 

 
gnr
Pada : Kamis, 30 April 2009 / 05:07:42

orang syiah menyesatkan sunni, orang sunni menyesatkan syiah, tidak akan ada habisnya, yang penting kita sekarang berbuatlah yang bermanfaat untuk diri kita dan keluarga serta orang banyak, biarkanlah Allah yang menilai apa yang kita dan orang lain lakukan, supaya umat islam tidak terpuruk seperti saat ini.

 
Wisdom
Pada : Senin, 01 Juni 2009 / 14:50:11

Dengan sgla hormat,

Pertanyaan untuk kaum syiah: Mengapa kalian tidak mengakui 3 khalifah setelah Nabi saw? Mengapa kalian begitu membenci mereka hingga ada ritual mengutuk ketiga khalifah tsb? Yang faktanya mereka adalah para penyeru ajaran Islam dan menjaga kemurniannya. Dan, mengapa kalian begitu membenci istri Nabi saw - Aisyah? Satu lagi, apakah shalat dgn tanah karbala yg dipadatkan diajarkan oleh junjungan kita Nabi saw? Syiah: Janganlah mengkultuskan keluarga dan keturunan Nabi.

Sunni: Apakah kalian membenci Imam Ali dan ahlul bait? Saya rasa tidak.

 

 
emil arief maulana
Pada : Sabtu, 20 Juni 2009 / 23:34:59

saya setuju sekali dengan pernyataan saudara IRWAN.sebelum nya saya minta maaf jika saya salah berkomentar tentang islam pun terbagi dalam beberapa golongan dimana tiap2 golongan ada perbedaan nya satu dgn yg lain nya.seperti di indonesia saja,NU dan muhammadiyah..dulu pernah ada pertemuan antara kedua tokoh dari kedua organisasi tsb.dimana pertemuan tsb diberitakan dan dibesar2kan oleh media lokal dan internasional seperti atau layak nya kedua tokoh/organisasi tsb,seperti pertemuan yg "haram"!! padahal apa salah nya sesama saudara muslim bertemu!itulah salah satu cara2 wahabi,dimana dgn propaganda ingin menyatukan semua unsur2 dan golongan islam,tetapi dasar nya ingin memecah belah ummat dgn embel2 "satu" untuk islam.tak akan bisa hal seperti itu dilakukan!jika seksama kita membaca salah satu surah dalam Al Qur'an,dmn islam memang dan sudah terpecah dalam beberapa golongan!permasalahan nya bukan soal syiah atau sunni..!!! tapi perilaku islam dari kaum "islam"itu sendiri yg harus dibenahi terlebih dahulu!!!bukan hanya ktp nya aja yg islam, tapi kelakuan ummat islam juga harus sesuai dgn ajaran islam itu sendiri.kalau perlu di ktp ga usah ada status islam!karena nanti malaikat di saat kita dalam dunia akhirat, tidak akan nanya tuh ktp kita islam apa bukan!yg ditanya sudah "islam"kah(perbuatan,amal,dan ibadah)kita??....

 
Adnan
Pada : Selasa, 21 Juli 2009 / 14:33:59

Syiah bukanlah Islam melainkan sebuah Firkoh (pemecah belah) Islam. sudah sepantasnya di bumi hanguskan dari muka bumi ini. sebab, kalau tidak apalah jadinya generasi muda di cekoki dengan macam-macam penghinaan kepada Shabiqunallawwalun. Abu Bakar, Umar, usman mereka anggap adalah orang-orang jahat perampas kekholifahan.

wahai Umat Syiah, dimananapun anda berada sadarlah ............, apa bedanya kawin Mut`ah dengan kawin binatang, andai saja Sayidina Ali bin Abi Thalib masih hidup tentu beliau akan menangis karena ulah kalian.

 
Taufik Toharli
Pada : Minggu, 02 Agustus 2009 / 06:36:03

"MULUT ITU BERBISA", Pantas tidak pernah ada kerukunan diantara "kita", egoisme pribadi dan kelompok "dominan", padahal masih banyak yang harus di kerjakan selain itu! ...Subhanallah...

 
azizi
Pada : Senin, 24 Agustus 2009 / 13:30:28

wahai saudaraku ....ingatlah bahwa perbedaan dalam islam itu suatu keniscayaan. dan itu sudah terjadi pada zaman Rosul masih hidup. kita bisa baca sejarah lagi bagaimana Abu Bakar sering berbeda pendapat dengan Umar bin Khattab. selama perbedaan itu bukan masalah Tauhid, itu masih bisa ditoleransi. untuk masalah syiah kita harus leboh jeli lagi, karena Syiah pun terpecah-pecah menjadi puluhan kelompok. jadi ga semua Syiah itu sesat dan menyesatkan. baca dulu sejarah dan firqoh mereka sebelum menghakiminya....

 
Abu Ahmad
Pada : Kamis, 27 Agustus 2009 / 00:04:23

Assalamu alaikum Wr.Wb,

Dahulu saya seorang pengikut Ahlus Sunnah Waljamaah, tapi kini telah beralih ke Mazhab Syiah karena saya menemukan bahwa kebenaran hakiki ada pada Syiah Ali (pengikutnya Imam Ali).

Terus terang, selama ini saya tercekcoki oleh ajaran Ahlus Sunnah bahwa semua sahabat nabi itu baik. Namun setelah saya membaca sejarah yang sebenarnya, saya menemukan dengan pasti bahwa tidak semua sahabat maksum.

Kebenaran ternyata tidak dapat ditutup-tutupi. Coba renungkan mengapa sempat terjadi perang Jamal, perang Shiffin, dan pertentangan antara kaum muslimin ? Jawabnya, karena tidak semua sahabat nabi itu taat sepeninggal beliau.

Contohnya, Abu Bakar merebut hak kekhalifahan dari Imam Ali, padahal dalam banyak kesempatan seperti di Ghadirkum, nabi telah berpesan kepada ratusan ribu umat Islam untuk berada dibawah pimpinan Ali. Akhirnya apa yang kita jumpai sekarang umat berada dalam kesesatan dan perselisihan, karena sejak Nabi wafat sebagian sahabat tidak patuh bahkan memusuhi/membenci Imam Ali dan pengikutnya kelewat batas. Mereka sebenarnya adalah orang-orang munafik.

Banyak hal yang perlu kita diskusikan jika memang kita mau meneliti sejarah. Jangan hanya pandai menghujat.

Sekian, salah khilaf mohon maaf.

Wasalam,

Abu Ahmad

 
Abu Ahmad
Pada : Kamis, 27 Agustus 2009 / 00:12:57

Menjawab pertanyaan wisdom"Mengapa kalian tidak mengakui 3 khalifah setelah Nabi saw ?" kami jawab : Karena Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mewasiatkan jabatan Khalifah kepada 3 khalifah tersebut.

Sekali lagi mereka telah merampas hak Ali dengan berbagai alasan. Saking hausnya pada kekuasaan, sampai-sampai jenazah Rasul terlantar hampir 3 hari tidak dimakamkan. Abu Bakar cs, lebih memperioritaskan perebutan kekuasaan ketimbang mengurus pemakaman Rasul. itu saja sudah menjadi bukti, betapa kekuasaan telah membutakan hati.

 

Abu Ahmad

 
anisa
Pada : Selasa, 08 Desember 2009 / 12:58:39

tuk saudara irwan coba jlaskan riwayat&hadist yang menghruskan muludan? anda ini mengkultuskan nabi atau ALLOH? apakah saudara islam KTP atau apa???

 
ahmad
Pada : Minggu, 20 Desember 2009 / 01:06:10

Penyimpangan Islam yang paling bahaya adalah apa yang dibawa oleh Abdullah bin Saba' (tidak seorang syiahpun mengakui dia sebagai pendiri syiah).

Kalau membaca kitab hadis dari kulaini dan tulisan tulisan Khumaini...betapa bencinya mereka kepada ummat islam. syiah =yahudi =zionis. cara cara taqiyah syiah sungguh seperti musang berbulu domba.

Kalau ada orang ahlusunnah wal jamaah membenci ahlul bait....maka orang ini belum benar islamnya. Tapi mengkultuskan ahlul-bait adalah tindakan yang bahaya...sepeti orang kristen mengkultuskan nabi isa as.

wallahu a'lam......

 
Ahmad
Pada : Senin, 04 Januari 2010 / 14:48:12

alaisallahu bi ahkamil hakimin (Bukankah Allah hakim yang seadil - adilnya). Mengapa kalian saling menyesatkan dan apa yg kalian yakini itulah yang benar? Apa bedanya kalian dengan Yahudi jika berfikir demikian? Biarlah Allah yang menghakimi karena Dialah yang Maha Mengetahui. Jika kita yang menghakimi, itu sangatlah subyektif. Kalian yang gampang menyalahkan tak ubahnya seperti perilaku Jahiliyah. Belajarlah menerima keanekaragaman, karena itulah maksud Allah menjadikan kita khalifah, dan bukan malaikat. Jika Allah berkehendak, mudahlah bagi-Nya menghancurkan kesesatan, namun betapa banyak para rasul-Nya dan orang - orang yang beriman mati terbunuh. Kalian bukanlah Tuhan yang mampu menentukan benar - salah secara mutlak. Sadarlah, kuman di seberang lautan dapat kau lihat, namun gajah di pelupuk matamu tak jua nampak. Istighfarlah kepada Allah atas dosa keangkuhan yang bersemayam di dada.

 
ahmad
Pada : Senin, 04 Januari 2010 / 15:05:57

Orang awam tak pernah tau buah durian yang benar - benar enak. Ada yang mencoba berpendapat dari baunya, namun para pedagang kerap mengoleskan aroma durian pada durian - duriannya. Ada yang mencoba rasa manisnya, namun para pedagang telah menyuntikkan rasa manis ke daging buah. Saat dibeli, mungkin rasa kecewa setelah dibuka buah itu. Jadi, bagaimana ingin mengetahui bahwa buah durian itu benar - benar enak? Yah, harus dicoba dimakan barang satu biji, pasti terasa pasnya di lidah.

Betapa sombongnya kita yang bukan ahli buah durian dapat menentukan ini yang enak dan itu yang tidak enak. Satu - satunya cara untuk tahu rasanya ya dicoba buah itu. Begitu pula sombongnya kita manakala menghakimi bahwa syiah itu sesat, syiah itu sangat membenci sahabat, tapi kita sendiri belum pernah tahu apa yang sebenarnya mereka yakini. 

Saya sendiri sebagai penganut Islam menghadapi segudang pertanyaan yang belum terjawabkan tentang "keanehan" faham Islam setelah saya mendalaminya (Ini sama dengan mulai memakan buah durian), namun saya mencoba menikmati dan mensyukuri atas keislaman saya.

 

 
ahmad
Pada : Senin, 04 Januari 2010 / 15:42:04

Buku Membongkar Kesesatan Syiah karya Syeikh Muhammad Abdul Sattar At-Tunsawi bukankah merupakan buku kepongahan? Syeikh Muhammad Abdul Sattar At-Tunsawi telah menghina dan melecehkan jutaan umat Muslim dari awal adanya Syiah hingga umat Muslim dewasa ini. Mengapa? Karena dari jutaan umat Muslim, dialah yang mampu membongkar kesesatan Syiah. Ngapain aja umat Islam sebelum dia ada dan tau bahwa syiah sesat? Apakah umat muslim bodoh semua terlebih - lebih para penganut Syiah? Bukankah semua orang beragama untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhannya dengan kemampuan akal budi dan keyakinannya? Orang Nasrani merasa tentram dan sreg jiwanya karena akal budi dan keyakinannya mengatakan bahwa hanya melalui Tuhan Yesuslah mereka bisa menuju kepada Allah Bapa di surga. Demikian pula keyakinan yang lainnya. 

Kesesatan syiah sesuai judul buku itu hanyalah bahan kesimpulan Abdul Sattar saja dengan kacamata keyakinannya, tanpa pernah mengaca dari kacamata syiah (yang tak mungkin dilakukannya karena dia benci Syiah) atau kalau mau netral seharusnya berkaca dengan akal budi. Tidaklah mungkin bisa membelah kayu dengan gunting dan tak jugalah mungkin memotong benang dengan gergaji. Sadarlah, apa yang dilakukan Abdul Sattar itulah justru suatu kesalahan karena tidak menempatkan kesimpulannya pada porsi yang sesungguhnya.

 
Nabila
Pada : Senin, 04 Januari 2010 / 16:21:29

Buat Pak Ahmad, Tahukah Bapak Abdullah bin Saba'? Apa sih arti syiah? Coba bapak baca lagi sejarah Islam, tentu disertai dengan akal sehat bapak yang jernih, tanpa keberpihakan. jangan ngekor dunk pak dengan ikut2an ngatain Abdullah bin Saba' pendiri syiah. Awas loh, ekor ngikutin kepala. Ya kalo kepalanya selamat, kalo masuk jurang? emang ekornya bisa melepaskan diri? Cecak dunk kalo gitu.

Kata syiah muncul sejak wafatnya rasulullah saaw. Syiah artinya pengikut. Waktu itu namanya Syiah Imam Ali karena memang Ali lah yang menjadi pemimpin Bani Hasyim, sukunya Rasulullah. Kita tahu kan kalo orang Arab berkabilah - kabilah. Syiah Imam Ali semakin mantap setelah munculnya Syiah Muawiyah dari Bani Umayyah (suku yang sangat memusuhi Bani Hasyim), anak Abu Sufyan yakni orang Qurays Mekkah yang paling akhir masuk Islam karena ketakutan dengan adanya Fathul Makkah. Ibu Muawiyah bernama Hindun Yakni wanita yang membelah dada Almarhum Hamzah r.a, paman Nabi dan memakan hatinya karena sangat bencinya dengan Bani Hasyim dan Islam pada peperangan Uhud. Muawiyah adalah orang yang mengangkat dirinya sebagai raja dan bukan khalifah serta menobatkan anaknya, Yazid sebagai penggantinya seorang pemabuk, pemilik banyak harem, ga pernah shalat, dan yang memerintahkan pembantaian Bani Hasyim di bawah pimpinan Husein, Cucunda Rasulullah, serta yang memamerkan kepala Husein yang diletakkan di baki di seluruh negeri Islam serta mempermalukan wanita2 Bani Hasyim dengan membuka aurat berjalan di belakang kepala Husein. Kami tidak bisa mengikuti Islam yang berkembang jaya di bawah keangkaramurkaan itu. Kami Syiah Imam karena telah jelas antara yang benar dan yang bathil (Q.S. Al-Baqarah) dan Sabda Baginda Rasulullah saaw "Husein dariku dan aku dari Husein" yang bermakna bahwa Islam yang dibawa Husein itulah yang berasal dari Rasulullah. Mohon saudara yang bukan syiah bisa menghargai kami dan biarkan kami melakukan amaliyah sesuai keyakinan kami tanpa saudara mengusik luka yang telah tertoreh sejak awal Islam. Sengaja kami berusaha tawaddu' sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para ahlul baitnya yang mana mereka telah dilecehkan oleh umatnya sendiri. Semoga Allah mengampuni kami yang berusaha mengikuti jejak Sang Nabi.

 
Nabila
Pada : Rabu, 06 Januari 2010 / 08:37:50

Kultus? Apa maksud Pak Ahmad dengan kata itu? Kalau diartikan kultus sebagai Tuhan, maka bagi kami naudzu billahi min dzalik. Nabi dan para imam ahlul bait, bukanlah tuhan atau manifestasi Allah. Mereka bukanlah Isa sebagaimana prasangka orang - orang Nasrani. Mereka hanyalah manusia biasa yang diberi derajat yang tinggi di sisi Allah.

Kalau yang dimaksud Pak Ahmad bahwa kultus itu suci, maka tepat sekali bahwa Nabi dan para imam adalah manusia - manusia suci (maksum) karena risalah yang mereka pikul adalah risalah Ilahi yang harus benar disampaikan dan tidak boleh salah. Jika salah tentu salah pulalah umat yang dibawanya. Maksum berarti lepas dari semua salah dan dosa.

Bagi kami Rasulullah adalah pembawa Wahyu Ilahi yang Maha Tinggi dan para imam adalah orang - orang yang menjaga wahyu ilahi tersebut agar tetap terpelihara kebenarannya. Karena itu Rasul dan para imam pastilah orang - orang yang benar dan mulia dalam membawa dan menjaga wahyu itu.

Sekali lagi tiada Tuhan selain Allah yang Maha Agung dan Kami bersaksi bahwa Muhammad itu Rasulullah, seorang utusan Allah bagi kita semua.

 
syahbuddin
Pada : Jumat, 22 Januari 2010 / 23:06:28

wahai ahmad dan abu ahmad..... saya sarankan anda membaca buku yg berjudul "VIRUS SYI'AH" (Sejarah dan alienisme sekte) oleh DR.Ihsan Ilahi Dzahir, seorang ulama besar pakistan, pakar aliran dan sekte....dan buku tsb mengupas ttg syiah langsung dari buku ulama besar syiah.......ini hanya peringatan.... bagi yang mau berfikir.....

 
Javad Al-Kadzim
Pada : Kamis, 25 Februari 2010 / 11:17:24

Saya tantang orang yang anti sy'iah untuk bermubahalah. Biarlah Alloh yang menjadi hakim pertentangan kita.

 
Javad Al-Kadzim
Pada : Kamis, 25 Februari 2010 / 11:18:29

Saya tantang orang yang anti sy'iah untuk bermubahalah. Biarlah Alloh yang menjadi hakim pertentangan kita. Kalau dihapus maka munafiklah anda.

 
RD.ADE YAYAN HERYANA ST.
Pada : Minggu, 21 Maret 2010 / 08:19:36

Ass,alilkum wr wbr.

Kalau kita memeang muslim sejati,tidak mungkin kita saling menyesatkan sesama saudara cuma karena berbeda pandangan siapa sesungguhnya pengganti nabi setelah Beliau/RASULLULLAH wafat.maka sudah jelas siapa yang menyimpang dari keinginan ALLAH da RASULNYA,lihat kepemimpinan muawiyah,lihat dan baca juga cara kepemimpinan yazid.mereka inilah yang membawa kita umat islam cerai berai spt kita rasakan sekarang,dan sbenarnya yang merusak islam itu umat islam sendiri yang hanya mementingkan hawa nafsunya saja.maka untuk itu kita harus berfikir jernih dalam melempar kata sesat sesama muslim.kenapa kita hanya bisa mengucap kata itu kepada sesama kita umat muslim,kenapa?.dalam kajian kajian ilmiah ini mari kita gunakan bahasa yang sopan dan santun.umat islam pernah melewati masa kelam,itu jangan sampai berulang pada masa kita sekarang ini,biarlah perbedaan itu,yang penting bagaimana kita menyikapinya dengan bahasa yang arif dan bijaksana dalam melantunkan pandangan kita tentang islam(untuk saudaraku muslimin dan mislimat mazhab SUNNI dan SYIAH).semoga ALLAH merahmati kita,curahkan rizki,curahkan ilmu yang baik,tentramkan hati2 kita Amien

 
abi
Pada : Minggu, 30 Mei 2010 / 14:32:21

Para ulama yang menulis tentang kesesatan syiah bukan sekedar tuduhan tanpa bukti, mereka merujuk langsung pada kitab-kitab yg dibuat oleh ulama syiah sendiri salah satu buku rujukan pokok yg dijadikan sumber ajaran syiah adalah AL KAFI.

DR. Musa Al Mushawi, Dr. Ihsan Illahy Dhohir, Mamduh Farhan Al Bukhairi, diantara para ulama yg melakukan metode penulisan seperti dimaksud.

kalo anda mau meneliti dan membuka mata hati, silakan salahsatunya bisa anda buka di situs Hakekat.com, disitu anda bisa lihat referensi penulisannya memang diambil dari kitab-kitab ulama syiah (Rafidhah). kecuali anda tetap ingin melakukan pembelaan tanpa mengetahui hakikat siapa yang sedang anda bela.

 

 

 
kiki
Pada : Selasa, 01 Juni 2010 / 19:35:07

Saya sampai bosan membaca tulisan para anti syiah, mereka selalu mengatakan merujuk pada alkafi,selalu alkafi,seakan ak- an orang syiah tidak memiliki kitab lain selain alkafi.Kemudian saat dijelaskan pada mereka bahwa kitab alkafi tersebut memang memuat hadis-hadis palsu dikalangan syiah mereka katakan itu taqiyah.Kemudian mereka melarang kitab kitab syiah beredar di indonesia,setelah kitab syiah tidak beredar di indonesia mereka mengatakan bahwa kitab kitab syiah itu rahasia,hanya orang orang tertentu saja yang bisa membacanya.Sikap yang aneh buat saya.Mereka juga mengatakan bahwa syiah mempunyai alqur an sendiri saat dijelaskan pada mereka bahwa alqur an syiah sama seperti yang beredar di indonesia sekali lagi mereka mengata kan bahwa itu taqiyah.

 
suradi
Pada : Minggu, 06 Juni 2010 / 17:19:22

Bung, kalau mau tahu artinya Taqiyah, gampangnya begini, Taqiyah itu kebalikannya Munafik, kalau munafik menyembunyikan kejelekan dan menampakkan kebaikan, maka Taqiyah sebaliknya menyembunyikan kebaikan menampakkan kejelekan, contoh: dalam revolusi kemerdekaan seorang pejuang melintasi daerah pendudukan Belanda dan untuk supaya selamat dia memakai baju bergambah ratu wihelmina, itu namanya Taqiyah, sedangkan kalau seorang penghianat republik melintasi daerah republik dengan pakai pakaian bak pejuang dengan merah putih didada, ini namanya munafik !, faham kan? ini adalah hal yang sangat manusiawi dan dikerjakan oleh siapapun mazhab apapun agama apapun

mudah2an bermanfaat

 
budiluhur
Pada : Jumat, 11 Juni 2010 / 07:55:22

to nabila(???).kiki,suradi,jawad al-kadzim (mau niru-niru)musa al-kadzim) komentar klian memunjukkan kalian sama skali tidak pernah tahu syiah yg sbenernya, hanya kata pa' ustadz klian yg ngg lebih tau dari kalian ,emang klian pernah tau kitab 2 rujukan utama syiah ???(HAH) bentuk dan warnanya pun (haqqul yaqin) ngga' tahu, gmana bisa ngaku2 Islam yg sebenarnya.........

 
zain
Pada : Kamis, 08 Juli 2010 / 12:53:32

Sesatkah Syi’ah Rafidhah ?
Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.

a. Tentang Al Qur’an
Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad  (ada) 17.000 ayat.”
Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian…’.”
(Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir).
Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

b. Tentang shahabat Rasulullah
Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta’dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)
Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir)
Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 46)
Adapun shahabat Abu Bakr dan ‘Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah , mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan do’a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk keduanya:

Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah)
(Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib)
Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18)
Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah  lainnya, mereka yakini sebagai pelacur -na’udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)
Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam Malik bin Anas berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi  namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad  ) adalah seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang shalih.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hal. 580)

c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)
Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata: “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata: “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)
Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib  dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah . Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ‘Umar dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17)
Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.

d. Tentang Taqiyyah
Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 80)
Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami: “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196). Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata: “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.” Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)

e. Tentang Raj’ah
Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah, kemudian menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘Alar Riwayatit Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)

f. Tentang Al-Bada’
Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah . Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.
Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah , dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192)

Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah
Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja.
1. Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata: “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)
2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)
3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.
4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)
5. Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)
6. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah , maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah . Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)
Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran…Amin.

 
allahuakbar
Pada : Minggu, 12 Juni 2011 / 16:10:51

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM ASSALAMUALAIKUM WR WB SAUDARAKU, DEMI ALLAH SAYA SEBELUM INI ADALAH SUNNI, SEKARANG SAYA MENGAKUI HAK ALI BIN ABI THALIB SEBAGAI IMAM SETELAH NABI (SYIAH). SAYA NAIK SAKSI BAHWA ALI BIN ABI THALIB ADALAH WALI DAN HUJJAH ALLAH BERSAMA ANAK-ANAKNYA (11 ORANG LAGI) DARI IMAM HASAN, HUSEN HINGGA IMAM MAHDI. SEMOGA SAUDARA SAYA YANG MASIH SUNNI MEMBACA JUGA BUKU-BUKU YANG DITULIS SYIAH, BIAR ADIL. JANGAN HANYA MENGHUKUM DENGAN KACAMATA SUNNI

 
Achmad Ubaidillah
Pada : Sabtu, 15 Oktober 2011 / 13:29:30

Apa yang bisa saya baca dari sampul buku anda??????????? Ada ruang tanya disini, lalu kenapa enggak dijawab ????????????? Kalau pemahaman belum lengkap, jangan terlalu mudah meng kafir kan atau menyesatkan pihak lain, yang notabene sesama Islam juga.Hormatilah pemahaman yang dari dari anda, yakinlah anda tidak lebih baik dari pihak yang anda kafirsesatkan. Sadar atau tidak, anda mengadu domba sesama islam, lalu merasa telah melakukan amar maruf nahi mungkar???

 
ihsan
Pada : Senin, 09 April 2012 / 09:54:48

sungguh naif org2 mengaku syiahjamaah ahlul bait yg ingin memutar balikkan sejarah 14 aba d yg lampau. tdk sadarkah kalian akan jasa Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khatab menegakkan dan menyebar luaskan syiar Islam sesdh wafatnya Rasullullah ? apa ada hadits nabi yg menyuruh me-nyanjung2 Ahlul Bait? pesan Nabi adalah:Ikutilah petu njuk Al-Quran dan Sunnahku,maka kalian tdk sesat se-lama2nya.Jadi jelas bhw pengikut syiah adalah pembangkang dan pemrakarsanya adalah Abdullah bin Saba seorang yahudi dari Yaman.

 
Ahmad
Pada : Selasa, 10 April 2012 / 11:14:46

Mohon agar penulisan Rukun Iskam diganti menjadi Rukun Islam

 
bagus
Pada : Kamis, 30 Agustus 2012 / 02:45:00

geli liat sesama islam saling serang, kalau kawin kontrak menurut syiah boleh ya biarin aja. yg gak setuju gak lakukan. dosa tanggung masing2. tapi malu ditanggung atas nama islam. geli gw. orang makin alim tapi lisannya makin brutal

 
Ali Al Mujtaba
Pada : Kamis, 13 September 2012 / 22:51:24

Ane Ali Al Mujtaba bermubahalah Syiah Ali adalah ajaran Islam yang paling murni berasal dari Rosululloh dan ahlul baytnya yang suci. Yang menyatakan syiah Ali sesat maka dialah yang sesat sedang yang menyatakan syiah Ali kafir maka dialah yang kafir. Jika pernyataan ane ini salah maka ane akan diberi adzab oleh Alloh dengan siksaaan yang sangat pedih mulai detik ini juga sampai akhir hayat ane. Jika hal ini tikdak terjadi maka penghujat syiah dipastikan merupakan musuh Alloh, Rosul, dan ahlul baytnya yang suci!

 
Hasan
Pada : Selasa, 30 Oktober 2012 / 21:01:33

Salam saudara semua sesama muslim.. Saya telah mengikuti dan membaca perdebatan kalian semua, dan harapan saya 1) Marilah kita hindarkan diri dari tuduh menuduh sesama Islam dengan menghormati keyakinan masing-masing 2) Berhentilah saling mencaci. 3) Sunni ayau Syiah masih sama-sama meyakini bahwa Allah adalah Tuhannya dan Muhammad adalah nabinya Jadi, marilah saling menghormati

 
abu umar
Pada : Minggu, 31 Maret 2013 / 02:06:25

syiah mengaku cinta ahlul bait, tp knp mereka mengkafirkan ummu aisyah n muawiyah? Ahlul bait adalah: keluarga Ali, ‘Aqil, Ja’far dan Abbas. Tidak diragukan lagi (menurut Ahlus Sunnah) bahwa istri-istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفاً. وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33) “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka jannah (surga-surga) yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah:100)

 
Awan
Pada : Rabu, 10 April 2013 / 08:53:22

Bingung sunni syiah? lihat dulu video berikut dari syeikh Imran Hosein, kalo udah liat seluruh videonya barulah antum komen sepuasnya.. http:www.youtube.comwatch?v=L2d2m1v305g

 
abdilah
Pada : Selasa, 14 Mei 2013 / 20:33:04

sebenernya kalo semua mau fair maka silahkan buka masing-masing hadist, kitab asal dan perawinya, baru disimpulkan. Kalau dari segi keilmuan da tafsir Al Islam, bukankah Ali adalah gerbang Ilmu, apakah kita tidak tertarik memasuki Islam melalui gerbangnya Ali. Sekalipun dari rumahnya orang syaiah. Biar tidak semaunya sendiri menafsirkan islam. Kalau yang masuk surga hanya satu golongan, lalu rumusan golongan yang paling benar itu bagaimana?....Apakah golongan Wahabi yang keras itu beda golongan jaman Rosul yang penuh toleransi , kasih sayang dengan adanya piagam madinah.....kalo belajar Islam ya harus berani terjun ke sumua golongan biar tahu. tapi kalo takut tidak mampu dan gila ya cukuplah mengikuti imam masing-masing dan jangan mengakafirkan otrang lain. Bagaimana mungkin sesama makmum yang dungu saling mengingatkan..jadi gaduh saja dunia. Siapa itu imam ya pemimpin tertinggi suatu golongan, baik syiah , suni, ahlusunah wal jamaah, Muhamadiyah, NU, Al Irsyad, Wahabi....Pimpinan mereka yang berhak beradu argumen, makmun hanya melihat, memilih dan mengikuti, jangan sok tahu kayak saya ini...perhatian saya pengikut ahlu sunah waljamaah mengakui Ali sebagai panutan, dan mengakuia abu bakar, umar, usman sebagai suatu kenyataan...dan Yazid lawan Husein adalah fakta sejarah

 
karael
Pada : Sabtu, 01 Juni 2013 / 09:30:27

aneh gue sama umat islam semua ngaku paling bener ,,emang sudah ada yang mati terus tau bahwa golongan yang paling bener itu yang mereka ikutiiin ..malu dong sama umat nasrani yang ngetawain ..amaluna amalukum saja,kita itu satu nabi satu allloh yang sama,,yang dah jelas2 yahudi tuh yang harus diperangi ,,,tapi kayakya yang komen disini pecinta produk yahudi makanya pada so paling bener semua,,,kan prilaku seseorang itu seperti apa yang dimakannya,,sorry coy itu kata orang bijak

 
putra butta toa
Pada : Selasa, 18 Juni 2013 / 08:58:47

dari pada bertengkar melulu...biar aku jelasin dehhh...siapa itu syiah... Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri—terutama dari sisi akidah—perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga tidak mungkin disatukan. Apa Itu Syi’ah? Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah 361, karya Azhari dan Tajul Arus 5405, karya az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 131, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali al-Awaji) Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib z lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (al-Fishal fil Milali wal Ahwa wan Nihal, 2113, karya Ibnu Hazm) Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami sejumlah pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (al-Milal wan Nihal, hlm. 147, karya asy-Syihristani) Tampaknya, yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus-menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya. Rafidhah رَافِضَة, diambil dari رَفَضَ – يَرْفُضُ yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna تَرَكَ – يَتْرُكُ, meninggalkan (al-Qamus al-Muhith, hlm. 829). Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan Umar c, berlepas diri dari keduanya, dan mencela sekaligus menghina para sahabat Nabi n. (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 185, karya Abdullah al-Jumaili) Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan Umar c.” (ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hlm. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t) Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 186) Asy-Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari t berkata, “Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib z atas seluruh sahabat Rasulullah n, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar c, serta memandang bolehnya memberontak1 terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar c. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka: رَفَضْتُمُوْنِي؟ “Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1137) Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Majmu’ Fatawa (1336). Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah. Rafidhah sendiri terpecah menjadi beberapa cabang. Namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah al-Itsna ‘Asyariyyah. Siapakah Pencetusnya? Pencetus pertama bagi paham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.2 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Asal ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen).” (Majmu’ Fatawa, 4435) Sesatkah Syi’ah Rafidhah ? Berikut ini akan dipaparkan prinsip (akidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka. a. Tentang Al-Qur’an Di dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini (2634), dari Abu Abdullah (Ja’far ash-Shadiq), ia berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad (ada) 17.000 ayat.” Di dalam Juz 1, hlm. 239—240, dari Abu Abdillah ia berkata, “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihassalam. Mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf tiga kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al-Qur’an kalian…’.” (Dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal Qur’an, hlm. 31—32, karya Ihsan Ilahi Zhahir) Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan. b. Tentang sahabat Rasulullah n Diriwayatkan oleh “imam al-jarh wat ta’dil” mereka (al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hlm. 12—13) dari Abu Ja’far (Muhammad al-Baqir) bahwa ia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata, “Siapakah tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat ke-144. (Dinukil dari asy-Syi’ah al-Imamiyyah al-Itsna ‘Asyariyyah fi Mizanil Islam, hlm. 89) Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.” (al-Kafi, 8248, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlil Bait, hlm. 45, karya Ihsan Ilahi Zhahir) Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir al-Husaini al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3640. (Lihat kitab asy-Syi’ah wa Ahlil Bait, hlm. 46) Adapun sahabat Abu Bakr dan ‘Umar c, dua manusia terbaik setelah Rasulullah n, mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا “Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka….” Yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah c (pen.). (Dinukil dari kitab al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 18, karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib) Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ah al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab z, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan, kesucian, hari barakah, serta hari sukaria. (al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 18) Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah n lainnya, mereka yakini sebagai pelacur—na’udzu billah min dzalik—. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hlm. 57—60) karya ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin ‘Abbas c terhadap ‘Aisyah x, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah….” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hlm. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha) Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, al-Imam Malik bin Anas t berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi n namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad n ) adalah seorang yang jahat. Karena, kalau memang ia orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hlm. 580) c. Tentang imamah (kepemimpinan umat) Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari al-Kulaini dalam al-Kafi (218) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata, “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum, dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata, “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata, “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1174) Imamah ini (menurut mereka, red.) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib z dan keturunannya, sesuai dengan nash wasiat Rasulullah n. Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin, seperti Abu Bakr, ‘Umar, dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia (wilayah) Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 16—17) Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. al-Khumaini (Khomeini) berkata, “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia al-Imam al-Mahdi, sang penguasa zaman—baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam—yang dengan kehendak Allah Yang Mahakuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (al-Washiyyah al-Ilahiyyah, hlm. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1192) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu per satu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini. d. Tentang taqiyyah Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq (kemunafikan), dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1195 dan asy-Syi’ah al-Itsna ‘Asyariyyah, hlm. 80) Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam al-Kafi (2175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar al-A’jami, “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya 910 dari agama ini adalah taqiyyah. Tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1196) Oleh karena itu, al-Imam Malik t ketika ditanya tentang mereka, beliau berkata, “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.” Demikian pula al-Imam asy-Syafi’i t berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 227—28, karya al-Imam adz-Dzahabi t) e. Tentang Raj’ah Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, al-Qummi ketika menafsirkan surat an-Nahl ayat 85, berkata, “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah.” Kemudian dia menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini, ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib z) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘alar Riwayatit Tarikhiyyah, hlm. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali) f. Tentang al-Bada’ Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa al-Bada’ ini terjadi pada Allah l. Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam al-Kafi (1111), meriwayatkan dari Abu Abdillah (ia berkata), “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1252) Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4. Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu al-Khumaini (Khomeini) berkata, “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen.) di masa Rasulullah n, serta lebih utama dari masyarakat Kufah dan Irak di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (al-Washiyyah al-Ilahiyyah, hlm. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hlm. 192) Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah Asy-Syaikh Dr. Ibrahim ar-Ruhaili di dalam kitabnya al-Intishar Lish Shahbi wal Aal (hlm. 100—153) menukilkan sekian banyak perkataan ulama tentang mereka. Namun karena sangat terbatasnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja. 1. Al-Imam ‘Amir asy-Sya’bi t berkata, “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (as-Sunnah, 2549, karya Abdullah bin al-Imam Ahmad) 2. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri t ketika ditanya tentang seseorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar c, beliau berkata, “Ia telah kafir kepada Allah l.” Kemudian ditanya, “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata, “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7253) 3. Al-Imam Malik dan al-Imam Asy-Syafi’i rahimahumallah, telah disebut di atas. 4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal t berkata, “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah g) itu sebagai orang Islam.” (as-Sunnah, 1493, karya al-Khallal) 5. Al-Imam al-Bukhari t berkata, “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi (penganut Jahmiyah, red.) dan Rafidhi (penganut Syiah Rafidhah, red.), atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh, red.). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hlm. 125) 6. Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi t berkata, “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari sahabat Rasulullah n, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita adalah haq dan Al-Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah n. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah (orang-orang zindiq).” (al-Kifayah, hlm. 49, karya al-Khathib al-Baghdadi t) Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran. Amin. Wallahu a’lam bish-shawab. 1 Pandangan ini tentunya bertentangan dengan ajaran Rasulullah n sebagaimana yang terdapat dalam banyak sabda beliau, di antaranya dalam Shahih Muslim, “Kitabul Imarah”. 2 Untuk lebih rincinya tentang Abdullah bin Saba’, lihat al-Kamil fit Tarikh, 3154, karya Ibnul Atsir, al-Bidayah wan Nihayah, 7176, karya Ibnu Katsir, dan Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahudi, karya Abdullah al-Jumaili, 198—164. 3 Menurut mereka, rukun Islam juga ada lima, akan tetapi mereka mengganti dua kalimat syahadat dengan imamah. 4 Secara jujur, ada kemiripan antara prinsip (akidah) mereka dengan prinsip (akidah) Yahudi, sebagaimana yang dinyatakan oleh para ulama. Untuk lebih rincinya, lihat kitab Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, karya Abdullah al-Jumaili. nah udah puas kannnn????

 
putra butta toa
Pada : Selasa, 18 Juni 2013 / 09:06:34

Istilah ahlul bait diambil bedasarkan ayat-ayat Al Quran dan Sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [Al Ahzab (33) : 33] Yang menjadi penekanan di ayat ini adalah “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Jadi benar bahwasanya jelas kata “ahlul bait” diambil dari Al Quran, di ayat ini dikatakan أهل ٱلبيت . Syaikh Abdurrahman Asy Sya’li rahimahullah menafsirkan ayat ini bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala ingin menghilangkan dosa dari ahlul bait artinya adalah Allah Subhanahu wata’ala ingin menghindarkan perbuatan-perbuatan keji agar tidak dilakukan oleh ahlul bait Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian di ayat setelahnya yaitu ayat ke-34, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” [Al Ahzab (33) : 34] Ibnu Katsir Rahimahullah menafsirkan ayat ini bahwasanya beliau berkata “Artinya Allah memerintahkan untuk mengerjakan dengan apa yang diturunkan Allah kepada Rosulnya, yaitu berupa Al Quran dan As Sunnah, di rumah-rumah kalian. Ayat ini menjelaskan mengenai perintah kepada ahlul bait untuk mengamalkan segala sesuatu yang berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah di rumah-rumah mereka dan ayat ini atau perintah ini ditujukan bagi istri-istri Nabi. ” Lebih jelas lagi ahlul bait dijelaskan dalam sebuah hadits yang shahih dalam shahih muslim, Dari Zaid bin Arqom Radliyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam suatu hari pernah berkhutbah, “Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlul baitku”, beliau mengucapkan ini sampai 3 kali. Maka Husain Bin Sibrah (perawi hadis ini) pun bertanya kepada Zaid, “Wahai Zaid siapakah ahlul bait Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam? Bukankah istri-istri beliau juga ahlil baitnya?” Maka Zaid pun menjawab, “Ya, para istri Nabi termasuk ahlul bait Nabi. Akan tetapi yang dimaksud di sini adalah orang yang diharamkan menerima sedekah setelah wafatnya Rosulullah saw.” Lalu Husain pun bertanya, “Siapa mereka yang diharamkan sedekah itu?” Zaid pun menjawab, “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas.” Maka Husain pun kembali bertanya, “Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima zakat?” Maka Zaid pun menjawab, “Ya”. Dari ayat-ayat Al Quran dan Hadits tersebut di atas, maka jelaslah bahwasanya istilah ahlul bait adalah istilah syari’ yang muncul dalam Al Qur’an. Istilah ahlul bait ini dimaknai sebagai keluarga dekat dan istri-istri beliau seperti dari keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas yang merupakan keluarga Bani Hasyim. Dan ini adalah menurut Ahlussunnah wal Jamaah, sedangkan menurut versi Syiah, mereka hanya menganggap bahwasanya ahlul bait itu hanyalah Ali, anaknya (Hasan dan Husain), dan Fatimah. Bahkan orang-orang Syiah secara terangan-terangan mengatakan bahwasanya seluruh pemimpin kaum muslimin selain Ali dan Hasan adalah toghut meskipun mereka menyeru kepada kebenaran. Inilah bahayanya Syiah. Mereka menganggap bahwa khulafaurasyidin adalah para perampas kekuasaan ahlul bait, maka Syiah pun mengkafirkan semua khalifah bahkan semua pemimpin kaum muslimin. Oleh karena itu, tidak perlu lagi bahwa Syiah telah menyimpang dari akidah yang lurus, yaitu akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Oleh karena itu, kita tidak boleh membatasi ahlul bait hanya kepada Ali, Hasan bin Ali, Husain bin Ali dan Fatimah binti Rosulullah saja. Pembatasan seperti ini tidak pernah ada sandarannya dari Al Qur’an maupun As Sunnah. Anggapan atau pembatasan ini muncul dan dibuat dari hawa nafsu orang-orang Syiah. Hal ini dikarenakan mereka punya dendam dan kedengkian terhadap islam dan kedengkian terhadap ahlul bait Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Orang-orang Syiah sejak jaman para sahabat Radliyallaahu ‘anhuma ajmain tidak menginginkan adanya kejayaan islam dalam diri kaum muslimin. Jadi, walaupun mereka menggembor-gemborkan bahwa mereka mencintai ahlul bait, padalah sesungguhnya merekalah yang membenci ahlul bait. Mari kita perhatikan syubhat dari Syiah berikut. Syiah Rafidhah menyatakan bahwasanya Ali dan keturunannya adalah orang-orang yang ma’shum dengan dalil sabda Rasulullah yang berbunyi, “Wahai para manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian suatu hal, kalau kalian mengambilnya maka kalian tidak akan tersesat (yaitu) Kitabullah dan ‘itrahku, Ahli Baitku.”[1] Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menggandengkan penyebutan kitabullah dan Ahlul Bait dengan wawu athof yang dalam kaidah usul fiqih dikatakan bahwa fungsi dari huruf wawu athof adalah berserikatnya dua hal yang digandengkan dalam satu hukum tidak dapat ditiadakan kecuali dengan dalil. Hal ini berarti Ahlul Bait sama dengan kitabullah dalam hal sebagai sumber hukum yang terpelihara dan itu menunjukan bahwa mereka adalah orang-orang yang ma’shum. Inilah kata-kata orang Syiah bahwa ahlul bait sama dengan kitabullah, dan kitabullah tidak pernah salah sehingga ahlul bait pun tidak pernah salah atau ma’shum. Syubhat ini dijawab oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah, beliau menjelaskan, “Bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait di sini adalah para ulama, orang-orang shalih dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dari kalangan mereka (Ahlul Bait)” Begitu juga yang dikatakan oleh Imam Abu Ja’far At-Thahawi rahimahullah, “Al-‘Itrah adalah Ahlul Bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yaitu orang yang paham beragama dan berkomitmen dalam berpegang teguh dengan perintah Nabi.” Juga dari Syaikh Ali Al-Qari rahimahullah yang mengatakan hal yang senada dengan Imam Abu Ja’far, beliau mengatakan, “Sesungguhnya Ahlul Bait itu pada umumnya adalah orang-orang yang paling mengerti tentang shahibul bait (yang dimaksud adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) dan paling tahu hal ihwalnya, maka yang dimaksud dengan Ahlul Bait di sini adalah Ahlul Ilmi (ulama) di kalangan mereka yang mengerti seluk beluk perjalanan hidupnya dan orang-orang yang menempuh jalan hidupnya serta orang-orang yang mengetahui hukum-hukum dan hikmahnya. Dengan ini maka penyebutan Ahlul Bait dapat digandengkan dengan kitabullah sebagaimana firman-Nya: … dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunnah) [Al-Jumuah:2] Syaikh Al-Albani mengatakan: Dan yang semisalnya, firman Allah Ta’ala tentang istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Dan ingatlah apa yang dibacakan dirumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu)…”(Al-Ahzab: 34) Maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari kalangan Ahlul Bait. Mereka itulah yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam hadits ini (hadits ‘itrah). Jadi pemahaman orang-orang Syiah yang menganggap bahwa ahlul bait adalah orang yang ma’shum adalah pemahaman yang keliru. Jadi kesimpulannyam menurut para ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang dimaksud ahlul bait adalah Keluarga Ali bin Abu Thalib (tentunya mencakup Ali itu sendiri) Fatimah (istri Ali) Hasan dan Husain berserta keturunannya Keluarga Aqil (tentunya mencakup Aqil itu sendiri dan anaknya Muslim bin Aqil beserta anak cucunya yang lain) Keluarga Ja’far bin Abu Thalib (tentunya mencakup Ja’far itu sendiri berikut anak-anaknya yang bernama Abdullah, Aus, dan Muhammad) Keluarga Abbas bin Abdul Muthalib (tentunya mencakup Abbas itu sendiri dan sepuluh putranya, yaitu Abdullah, Abdurrahman, Qutsam, Al Harits, Ma’bad, Katsir, Aus, Tamam, dan putra-putri beliau juga termasuk didalamnya) Keluarga Hamzah bin Abdul Muthalib (tentunya mencakup Hamzah itu sendiri dan tiga orang anaknya, yaitu Ya’la, Imaroh, dan umamah ) Semua istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Dan tulisan di bawah ini adalah penjelasan Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan dari buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mencintai ahlul bait sesuai dengan wasiat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya. “Artinya : Sesungguhnya aku mengingatkan kalian dengan ahli baitku”.[2] Sedang yang termasuk keluarga beliau adalah istri-istrinya sebagai ibu kaum mu’minin Shallallahu ‘alaihi wa sallam nna wa ardhaahunna. Dan sungguh Allah telah berfirman tentang mereka setelah menegur mereka. “Artinya : Wahai wanita-wanita nabi ……..”. [Al-Ahzab : 32] Kemudian mengarahkan nasehat-nasehat kepada mereka dan menjanjikan mereka dengan pahala yang besar, Allah berfirman. “Artinya : Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya”. [Al-Ahzab : 33] Pada pokoknya ahlul bait itu adalah saudara-saudara dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang dimaksud disini khususnya adalah yang sholeh diantara mereka. Sedang sudara-saudara dekat yang tidak sholeh seperti pamannya, Abu Lahab maka tidak memiliki hak. Allah berfirman. “Artinya : Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya celaka dia”. [Al-Lahab : 1] Maka sekedar hubungan darah yang dekat dan bernisbat kepada Rasul tanpa keshalehan dalam ber-din (Islam), tidak ada manfaat dari Allah sedikitpun baginya, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya :Hai kaum Quraisy, belilah diri-diri kamu, sebab aku tidak dapat memberi kamu manfaat di hadapan Allah sedikitpun ; ya Abbas paman Rasulullah, aku tidak dapat memberikan manfa’at apapun di hadapan Allah. Ya Shofiyyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat memberi manfaat apapun di hadapan Allah, ya Fatimah anak Muhammad, mintalah dari hartaku semaumu aku tidak dapat memberikan manfaat apapun di hadapan Allah”. [3] Dan saudara-saudara Rasulullah yang sholeh tersebut mempunyai hak atas kita berupa penghormatan, cinta dan penghargaan, namun kita tidak boleh berlebih-lebihan terhadap mereka dengan mendekatkan diri dengan suatu ibadah kepada mereka. Adapaun keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau madlarat selain dari Allah adalah bathil, sebab Allah telah berfirman. “Artinya : Katakanlah (hai Muhammad) : Bahwasanya aku tidak kuasa mendatangkan kemadlaratan dan manfaat bagi kalian”. [Al-Jin : 21]. “Artinya : Katakanlah (hai Muhammad) : Aku tidak memiliki manfaat atau madlarat atas diriku kecuali apa-apa yang tidak dikehendaki oleh Allah , kalaulah aku mengetahui yang ghaib sunguh aku aka perbanyak berbuat baik dan aku tidak akan ditimpa kemadlaratan”. [Al-Araf : 188] Apabila Rasulullah saja demikian, maka bagaimana pula yang lainnya. Jadi, apa yang diyakini sebagian manusia terhadap kerabat Rasul adalah suatu keyakinan yang bathil. [1] (HR. Tirmidzi 2308 dan Thabrani 2680 dan hadits ini shahih dengan syawahidnya [2] Dikeluarkan Muslim 5 Juz 15, hal 180 Nawawy, Ahmad 4366-367 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab As-Sunnah No. 629] [3] Dikeluarkan oleh Bukhary 34771, 22753, Muslim 1 Juz 3 hal 80-81 Nawawy

 
erickindra
Pada : Selasa, 25 Juni 2013 / 10:44:53

Yang paling mendasar dalam islam adalah dua kalimat syahadat dari Rasullullah...,disini akar dan dasarnya...kenapa ditambah dengan imam2 yang lain yang tidak dikatakan rasullullah..,dan siapa yang menambahkan ini?..apa semaunya bisa ditambah tambahin?..apa rasullullah menambahkan itu?..

 
lubis
Pada : Rabu, 26 Juni 2013 / 01:49:11

assalamualaikum saya tidak akan berbicara mengenai sejarah antara sahabat-sahabat nabi (imam-imam muslimin). yang saya tidak habis fikir pada saudara-saudari Syiah, saya ingin bertanya mengenai hal-hal pokok islam : 1. mengapa shalat,azan, rukun iman, rukun islam berbeda dengan ajaran Al-Quran dan Hadist rasulullah SAW? 2. mengapa terdapat RITUAL-RITUAL aneh seperti menyiksa diri sendiri, yang sampai menyiksa bayi yang masih suci hingga terluka dan berlumuran darah?? apakah hal tersebut terdapat dalam firman Allah dan Hadist Rasulullah?? 3. jelaskan menurut Al-Quran Dan hadist Rasulullah SAW mengenai kebenaran kabbalah? 4. apakah ada dalam ajaran syiah menghalalkan darah dan merampas harta kaum selain syiah (kafir)? bukankah kita sebagai umat muslim yang bertaqwa dan beriman kepada Allah adalah yang mengikut pada Al-Quran dan Hadist Rasulullah Muahammad SAW yang sahih? mohon maaf atas segala kesalahan penyampaian dan mohon di jawab dengan kepala dingin untuk syiah. Allahuakbar.. wassalamualaikum..

 
a.muhammad ali fadly
Pada : Sabtu, 29 Juni 2013 / 07:10:26

hhahaha..lucu semua kalian...kya di antara kalian semua itu merasa paling benar...sya orng yg baru belajar agama melihat debat di antara 2 golongan serasa kalian yg bru belajar agama...cman sebatas pengatahuan website...paham yg benar menurut sya apa yg menurut anda benar maka ikutilah itu..tdak usah paksa orang untuk mengikuti paham anda....yakinlah allh swt akan meluruskan paham yg slah...yg coment ini dia yg tdak yakin sma allah dan dirinya sendiri

 
a.muhammad ali fadly
Pada : Sabtu, 29 Juni 2013 / 07:19:56

dan stu lagi sya ini islam..bukan sunni bkan syiah....klo sya mengikut dngan ajaran sunni bukan berarti sya sunni..krna sya mw belajar agama...klo sya melenceng pahamku ke syah bkan berarti sya syah....sya hanya belajar agama... sya ISLAM....sya mencari yg menurut sya paling benar....dan tdak memaksa orng mengikuti sya.....karna sya ISLAM...........dan jika sya salah...insyaallah allah swt meluruskan paham dan jalan ku..melalui umatnya...atau apa yg dia hendaki....bagi yg mw menyesatkan atau mengkafirkan sya silahkan.....hnya allah yg bisa mengkafirkan..........sya terimah segala keritikan

 
Gotok Yunanto
Pada : Sabtu, 29 Juni 2013 / 21:45:06

Dari atas sampai bawah saya baca, rata2 semua bagus bagus pendapatnya,, saya yg org bodoh ini hanya bisanya ya mengakui bodoh aja, tidak pintar seperti ulama dan para pintar, dan para ustazd,, saya hanya bisa merenungi dari kata2 saya sendiri ada dua petani, yang satu giat sekali menuntut ilmu pertanian, tiap hari berpindah2 majelis, toko buku, kampus pertanian dan seminar2, sehingga dia mengetahui buanyak sekali ilmu pertanian, dan petani satunya hanya seadanya memiliki ilmu bertaninya dan sangat sederhana, kemudian dari hari ke hari usianya rajin menanam dan merawat tanamannya dgn segala kesederhanaan ilmunya,, lalu habislah masa usia masing masing kedua petani tersebut,, yg dapat saya renungi,, lebih beruntung siapa diantara keduanya ya, renungan saya yg bodoh ini, pastilah yang bisa memanen hasilnya adalah petani bodoh dan sederhana yg segera berbuat, bukanlah petani yg banyak tahu dalil dan hukum serta ilmu, namun sangat jarang atau bahkan tidak segera berbuat,, al hasil, Syiah dan Sunni hanyalah pemahaman,, biarlah mereka indah dgn pemahamannya masing2, yang penting segera berbuat kebajikan dan bermanfaat bagi sesama, , tdk usah di komenni kasar ya tulisan saya ini, krn ini hanya tulisan org bodoh dan ndeso.

 
a.muhammad ali fadly
Pada : Minggu, 30 Juni 2013 / 08:40:09

gotok yunanto..pesan yg sngat bermanfaat...sya sutujuh dngan pendpatnya....karna egolah yg membentuk satu kelompok..karna kelompoklah yg membentuk satu kesalah pahaman...krna keslah pahaman lah yg membentuk permushan..krna permusuhanlah membentuk fitna dajjal

 
enka
Pada : Senin, 15 Juli 2013 / 04:11:43

buat Abu Ahmad: aku juga orang Syiah tapi gak membenci Sahabat Umar Abu Bakar dan Utsman, tidak ngawur kayak cocote Abu Ahmad

 
eko
Pada : Minggu, 21 Juli 2013 / 14:12:48

Buat tmn2 para pencari kebenaran, cukup kt renungkan dan tolong dipahami secara logika. Asal mula ajaran Syiah dr mana? terus siapa pendirinya! Kalau asal mula dan pendirinya ok, berarti Syiah ok! Tp kalau asal mula dan pendirinya tdk OK, berarti Syiah tdk OK!

 
eko
Pada : Minggu, 21 Juli 2013 / 14:27:08

Buat tmn2 para pencari kebenaran, cukup kt renungkan dan tolong dipahami secara logika. Asal mula ajaran Syiah dr mana? terus siapa pendirinya! Kalau asal mula dan pendirinya ok, berarti Syiah ok! Tp kalau asal mula dan pendirinya tdk OK, berarti Syiah tdk OK! Yg ptg tdk bertentangan dg AL-QURAN dan AL-HADIST

 
ranma
Pada : Kamis, 15 Agustus 2013 / 16:01:01

Kenapa syiah menyakiti diri nya pada hari ashura?? Membentur2kan kepalanya ke tembok sampe berdarah.. Maksudnya apa?? Apa emg ada perintahnya?? *kalo stiap hari adalah perayaan ashura psti umat syiah jadi langka alias hampir punah dgn sndirinya.. Laaahhhh tiap hari ngebenturin palanya ampe bedarah...

 
Ade F Hidayatan
Pada : Jumat, 23 Agustus 2013 / 04:03:02

Barangsiapa yang memukul seseorang satu kali.. maka kelak ia nanti akan melihat anak atau keluarga nya dipukul satu kali oleh seseorang lain nya.. apa yang kau tuduhkan kepada orang lain maka kelak tuduhan itu berbalik kepadamu dan keluargamu sendiri.. apa yang kau lakukan hari ini adalah cermin prilaku keturunanmu nanti.. apa yang kau tanam kan berbuah dikemudian hari..

 
andre
Pada : Rabu, 28 Agustus 2013 / 02:00:08

sebodoh bodohnya kaum tidak lain adalah syiah, sederhana saja alasannya, menganggap sahabat nabi sekelas abu bakar, umar bin kattab dan usman serta istri nabi aisyah sebagai orang sesat sama artinya menganggap rosululah tidak becusgagal dalam berdakwah, menurut kalian siapa manusia paling hebat dalam berdakwah syiar islam selain nabi muhammad SAW.

 
zahra
Pada : Kamis, 19 September 2013 / 07:59:33

Ass...saya gak bgtu faham apa itu syiah atau sunni. Tpi beberapa bulan ini saya sedikit tau tentang syiah dan sunni. Jg knpa ada perbedaan ajaran nya. Mana yg benar dan yg salah hanyalah Allah dan orang2 jaman rasullah lah yg tau... yg penting saat ini kita menyembah Allah SWT. Mau syiah atau sunni tujuan nya kan sama pengen masuk surga..??? Hidup cuma sekali kan..?? Qta jga blm tentu orang paling suci...??

 
zahra
Pada : Kamis, 19 September 2013 / 07:59:36

Ass...saya gak bgtu faham apa itu syiah atau sunni. Tpi beberapa bulan ini saya sedikit tau tentang syiah dan sunni. Jg knpa ada perbedaan ajaran nya. Mana yg benar dan yg salah hanyalah Allah dan orang2 jaman rasullah lah yg tau... yg penting saat ini kita menyembah Allah SWT. Mau syiah atau sunni tujuan nya kan sama pengen masuk surga..??? Hidup cuma sekali kan..?? Qta jga blm tentu orang paling suci...??

 
RAINDRA
Pada : Sabtu, 21 September 2013 / 07:07:01

SAYA GA TAHU BANYAK SOAL SYIAH, KARENA TIDAK ADA HARGANA__ TAPI SAYA TAHU PASTI KALO SYIAH ITU HARUS DIMUSNAHKAN. MEREKA SUKA MENIPU DAN MENEBAR FITNAH___ HANCURKAN KAUM PENGIKUT DAJAL

 
haryono
Pada : Rabu, 25 September 2013 / 04:15:57

semua pada ribut membahas perbedaan pendapat diantara sesama muslim,setan telah merasuki semua golongan.untuk menetapkan awal ramadan dan 1 syawal saja tidak becus padahal peralatan sudah canggih dan modern tapi buktinya? masih saja berselisih.Kalau cara berfikirnya waras tentu tidak akan terjadi perselisihan.Caranya ya dikumpulkan semua golongan dalam satu tempat untuk melihat bulan masing-2 mengirim 2orang dari golongannya kan beres. gini aja pada gak becus kok mau membahas quran dan hadis padahal umat islam sedunia hanya mengerti aturan islam dari buku yang dikarang oleh orang terdahulu.

 
Rei
Pada : Minggu, 13 Oktober 2013 / 13:06:43

Syiah adalah “anak emas” Yahudi. Orang-orang Syiah menggunakan kata “persatuan dan penyatuan” untuk menjelaskan jati dirinya, membongkar identitasnya, dan membuang topeng dari wajahnya. Sudah sekian lama, orang-orang Syiah menebar virus melalui buku-buku yang berhiaskan kebatilan dan kepalsuan.Tentang Allah Taala , mereka berkata bahwa Dia mengalami kondisi al- bada (lupa dan tidak tahu). Tentang Al Quran, mereka berkata bahwa Al Quran telah dirubah. Tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Wallam , mereka berkata bahwa Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu dan anak keturunannya itu lebih baik dari beliau. Tentang para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang merupakan pembela agama ini, mereka berkata bahwa para sahabat adalah orang-orang pengkhianat dan murtad. Padahal, di antara para pembela Islam tersebut terdapat tokoh- tokoh besar, seperti: Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan istri-istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang merupakan Ummahatul Mukminin. Dengan transparan buku ini menjelaskan bahwa Syiah adalah boneka Yahudi, yang dendam dan dengki kepada kaum Muslimin. Sebagaimana tercermin dalam aqidah Syiah tentang Allah Taala , Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salla , para sahabat beliau, dan istri-istri beliau yang merupakan Ummahatul Mukminin. Demikian halnya kebohongan dengan nama taqiyah , adalah slogan seluruh orang-rang Syiah.Mereka mengakuinya sebagai perbuatan yang paling baik dan ibadah kepada Allah yang paling agung. Disertai pula pembahasan tentang aqidah imam-imam mereka, prinsip- prinsip sekte tersebut dan latar belakang konflik antara mereka dengan Ahlus Sunnah. Semua dijelaskan penulis dengan gamblang, berpatokan kepada referensi, terinci, dan tidak menyebutkan sesuatu tentang Syiah, melainkan dari buku- buku dan perkataan mereka sendiri, tentunya dengan daya dan upaya dari Allah Taala semata.

 
taenia_pita
Pada : Senin, 09 Desember 2013 / 03:50:25

setelah baca buku2nya orang syiah...gak salah kalo orang menilai syiah sesat...masak Umi Aisyah dikatakan pelacur....Syiah benar2 agama yg kurang ajar

 
radenmas mono
Pada : Minggu, 12 Januari 2014 / 13:16:40

Kata ustad saya, jadi muslim pingin masuk sorga semua khaan? Caranya gampang: copy paste AKHLAK Rasulullah Saw.. karena itu Firman ALLOH SWT jelas2 menunjuk Rasulullah Saw itu Utama karena AKHLAK nya. Jadi, mau apapun aliran Islam nya, lakukan saka apa yg disuruhdicontohkan Rasil dan tinggalkan apa yg dilarang oleh beliau. $gak nyambung yaah :D

 
obbie
Pada : Selasa, 18 Februari 2014 / 21:51:28

anjrit... syiah sakit jiwa..

 
prima
Pada : Jumat, 21 Februari 2014 / 00:37:01

marilah kita bergandengan tangan jangan pada mencela, katanya kita islam tapi ko perbuatannya tidak arif dan bijaksana seperti rosul, allah memciptakan islam bukan untuk bermusuhan, tp untuk menentramkan manusia

 
Teno hikmatiar
Pada : Kamis, 06 Maret 2014 / 19:08:05

Saya sering baca buku atau artikel tentang kesesatan syiah. Isinya bagus tetapi sarat dengan sebuah kebencian yg mendalam. Akhirnya lama kelamaan berisi tuduhan-tuduhan klasik disertai emosional. Pengrangnya terlihat marah emosi yg tidak terkendali tertuang dalam tulisan. Coba tawarkan solusi damai tanpa harus dgn cara permusuhan dan kebencian. Mungkin akan lebih sejuk begitu ya akhy> semoga

 
Teno hikmatiar
Pada : Kamis, 06 Maret 2014 / 19:14:09

Tuduhan Al-quran yg dipakai syiah tidak sama sampai detik ini tidak pernah bisa dibuktikan. Ya kalau dia fanatik dgn sahabat Nabi Muhammad saw bernama Ali bin Abu Tholib dia sebagai menantu Nabi sekaligus kemenakan Nabi dia juga Ahlul bait Nabi, Ali juga lebih duluan masuk Islam dibandingkan dgn 4 sahabat Nabi apa salahnya. Masak dgn dasar itu dijadikan alasan membenci syiah. Damai sajlah boss

 
somat
Pada : Jumat, 07 Maret 2014 / 22:58:23

Cak.. ojok kakean cangkem... nek gak seneng yo mbideko ae gak usah ngurusi keyakinane wong liyo. gurung karuan awak e peno apik kabeh. wes ngurusi hal seng gak penting.gurung karuan sembayang peno yo podo di terimo. Are Kembang kuning Suroboyo.

 
roni
Pada : Selasa, 01 April 2014 / 04:23:31

assalamualaikum wr.wb langsung aza, bagi anda yang merasa ato meyakini syiah, tolong anda jawab dan jelaskan pertanyaan dari sdr. lubis jika anda menganggap syiah itu sudah sesuai dengan syariat islam.. monggo.... wassalam

 
mochtar
Pada : Rabu, 16 April 2014 / 01:26:00

menarik sekali membaca komentar2 dari teman2 semua, membuka wawasan baru. Tergerak untuk belajar dari semua sudut pandang syiah maupun sunni. Pertanyaan awal dari saya yg sangat awam kepada teman2 yang sudah ahlinya..apakah Rasul SAW itu Syiah ato Sunni?saya harap jawabanya disertai bukti yg syahih, terima kasih

 
tere
Pada : Rabu, 23 April 2014 / 13:57:14

Mungkin sering kita alami ketika hendak mendaftar di suatu situs atau forum tertentu, pada saat mengisikan data religion, lalu memilih muslim lantas kita akan dihadapkan pada pilihan apakah kita termasuk muslim sunni atau muslim syiah.. Rasanya sebagian besar agan-agan sekalian sudah tau harus memilih muslim yang mana. Tapi ane pikir tidak sedikit juga agan-agan yang bingung dengan pilihan itu karena tidak tau perbedaan diantara keduanya.. Nah jadi disini ane ingin coba berbagi sedikit ilmu dengan harapan dapat menambah pengetahuan agan-agan sekalian, jadi klo suatu saat ada orang nanya kita bisa jawab.. Apa perbedaan antara Sunni dan Syiah? Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Sunni dengan Syiah dianggap sekedar dalam masalahperbedaan Furu’iyah (cabang-cabang agama), seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki. Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan? Oleh karena itu, disaat Sunni bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah. Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah. Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui. Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah. Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i. Rukun Iman syiah berbeda dengan rukun Iman sunni, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitabhadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an sunni. Apabila ada dari ulama syiah yang mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.Sehingga kerapkali ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah adalah satu agama tersendiri. Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Sunni dan Syiah Ahlussunnah : Rukun Islam sunni ada 5: a) Syahadatain b) As-Sholah c) As-Shoum d) Az-Zakah e) Al-Haj Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 tapi berbeda: a) As-Sholah b) As-Shoum c) Az-Zakah d) Al-Haj e) Al wilayah Ahlussunnah : Rukun Iman sunni ada 6: a) Iman kepada Allah b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya c) Iman kepada Kitab-kitab Nya d) Iman kepada Rasul Nya e) Iman kepada Yaumil Akhirhari kiamat f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah. Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5: a) At-Tauhid b) An Nubuwwah c) Al Imamah d) Al Adlu e) Al Ma’ad Ahlussunnah : Dua kalimat syahadat Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam syiah. Ahlussunnah : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat. Syiah : Percaya kepada dua belas imam-imam syiah, termasuk rukun iman. Karenanya orang yang tidak beriman kepada dua belas imam syiah dianggap sesat Ahlussunnah : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah : a) Abu Bakar b) Umar c) Utsman d) Ali Syiah : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Ahlussunnah : Para sahabat adalah golongan yang mulia dan tidak boleh dicaci Syiah : Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah. Ahlussunnah : Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati. Beliau adalah Ummul Mu’minin. Syiah : Siti Aisyah difitnah dan dikafirkan. Ahlussunnah : Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah : a) Bukhari b) Muslim c) Abu Daud d) Turmudzi e) Ibnu Majah f) An Nasa’i (kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana). Syiah : Kitab-kitab Syiah ada empat : a) Al Kaafi b) Al Istibshor c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih d) Att Tahdziib (Kitab-kitab tersebut tidak beredar). Ahlussunnah : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya. Syiah : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah. Ahlussunnah : Mut’ah (nikah kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram. Syiah : Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal Ahlussunnah : Khamerarak tidak suci. Syiah : Khamerarak suci. Ahlussunnah : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci. Syiah : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan. Ahlussunnah : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah. Syiah : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat. Ahlussunnah : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah. Syiah : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sahbatal shalatnya. Ahlussunnah : Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i. Syiah : Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun. Jadi seringkali kaum syiah shalat tiga kali sehari. Ahlussunnah : Shalat Dhuha disunnahkan. Syiah : Shalat Dhuha tidak dibenarkan. Demikian telah dituliskan beberapa perbedaan antara aqidah Sunni dan aqidah Syiah. Harapannya semoga agan dapat memahami benar-benar perbedaan tersebut dan jadi tergerak untuk mempelajari lebih jauh lagi. Selanjutnya agan sendiri yang mengambil keputusan dan sikap. Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokokdasar agama)

 
venamd
Pada : Minggu, 27 April 2014 / 10:57:19

Syiah itu bukan islam. Ngaku2nya aja Islam untuk memecah umat islam. Rukun Islamnya Beda, Rukun Imannya beda,Tauhidnya melenceng, syahadatnya beda menjadikan Imam Ali sehadat ketiga Imam mereka lebih hebat dari nabi muhammad saw Tauhidnya melenceng jauh.... Imam2nya udah kayak Tuhan kehebatannya Mereka gak percaya Al-Quran, katanya Al-Quran yg sekarang udah diubah sama sahabat nabi Jadi mereka punya Kitab suci sendiri dan Kitab Hadis Sendiri. Pokoknya yg inti2nya, dan dasar2 nya beda. Jadi jelas skali faktanya bahwa mereka BUKAN ISLAM.

 
a
Pada : Senin, 19 Mei 2014 / 10:19:06

Pendapat Tentang Kafirnya Sekte Syiah Kami tidak menghakimi. Tugas kami hanya menyampaikan keterangan dan menunjukkan bukti. Dan ternyata didapati, yang berpendapat bahwa Syi’ah itu kafir adalah para Imam-Imam Besar Islam, seperti: Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Bukhari dan lain-lain. Berikut ini beberapa pendapat dan fatwa para ulama Islam mengenai golongan Syi’ah Rafidhah yang disebut dengan Itsna Asy’ariyah dan Ja’fariyah. Pertama: Imam Malik Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata, bahwa Imam Malik berkata: ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺍﺳﻢ ﺃﻭ ﻗﺎﻝ : ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ “Orang yang mencela shahabat-shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam.” (As Sunnah, milik al-Khalal: 2557) Ibnu katsir berkata saat menafsirkan firman Allah Ta’ala: ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣَﻌَﻪُ ﺃَﺷِﺪَّﺍﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺭُﺣَﻤَﺎﺀُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺗَﺮَﺍﻫُﻢْ ﺭُﻛَّﻌًﺎ ﺳُﺠَّﺪًﺍ ﻳَﺒْﺘَﻐُﻮﻥَ ﻓَﻀْﻠًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭِﺿْﻮَﺍﻧًﺎ ﺳِﻴﻤَﺎﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﺛَﺮِ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻮْﺭَﺍﺓِ ﻭَﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﻧْﺠِﻴﻞِ ﻛَﺰَﺭْﻉٍ ﺃَﺧْﺮَﺝَ ﺷَﻄْﺄَﻩُ ﻓَﺂَﺯَﺭَﻩُ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻠَﻆَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺳُﻮﻗِﻪِ ﻳُﻌْﺠِﺐُ ﺍﻟﺰُّﺭَّﺍﻉَ ﻟِﻴَﻐِﻴﻆَ ﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓً ﻭَﺃَﺟْﺮًﺍ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ ‏[ﺍﻟﻔﺘﺢ29 ] “ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang- orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” Beliau berkata: “Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik –rahmat Allah terlimpah kepadanya-, beliau mengambil kesimpulan tentang kekafiran Rafidhah yang membenci para shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Beliau berkata: “Karena mereka ini membenci para shahabat, dan barangsiapa membenci para shahabat, maka ia telah kafir berdasarkan ayat ini.” Pendapat ini disepakati oleh segolongan ulama radhiyallahu ‘anhum.” (Tafsir Ibnu Katsir: 4219)[i] Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: ﻟﻘﺪ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻲ ﻣﻘﺎﻟﺘﻪ ﻭﺃﺻﺎﺏ ﻓﻲ ﺗﺄﻭﻳﻠﻪ ﻓﻤﻦ ﻧﻘﺺ ﻭﺍﺣﺪﺍً ﻣﻨﻬﻢ ﺃﻭ ﻃﻌﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺘﻪ ﻓﻘﺪ ﺭﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻭﺃﺑﻄﻞ ﺷﺮﺍﺋﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ “Sungguh sangat bagus ucapan Imam Malik itu dan benar penafsirannya. Siapa pun yang menghina seorang dari mereka (sahabat Nabi) atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan alam semesta dan membatalkan syari’at kaum Muslimin.” (Tafsir al-Qurthubi: 16297) Kedua: Imam Ahmad Banyak riwayat telah datang darinya dalam mengafirkan golongan Syi’ah Rafidhah. Di antaranya: Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan ‘Aisyah?” Beliau menjawab, ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ “Aku tidak melihatnya di atas Islam.” Al-Khalal berkata lagi: Abdul Malik bin Abdul Hamid memberitakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: ﻣﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺧﺎﻑ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾ “Barang siapa mencela (sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) maka aku khawatir ia menjadi kafir seperti halnya orang-orang Rafidhah.” Kemudian beliau berkata: ﻣﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻻ ﻧﺄﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﺪ ﻣﺮﻕ ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ “Barangsiapa mencela Shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka kami khawatir ia telah keluar dari Islam (tanpa disadari).” (Al-Sunnah, Al-Khalal: 2557-558) Al-Khalal berkata: Abdullah bin Ahmad bin Hambal menyampaikan kepadaku, katanya: “Saya bertanya kepada ayahku perihal seseorang yang mencela salah seorang dari Shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka beliau menjawab: ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ “Aku tidak melihatnya di atas Islam”.” (Al- Sunnah, Al-Khalal: 2558. Bacalah: Manaakib al Imam Ahmad, oleh Ibnu Al-Jauzi, hal. 214) Tersebut dalam kitab As Sunnah karya Imam Ahmad, mengenai pendapat beliau tentang golongan Rafidhah: ﻫﻢ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺘﺒﺮﺃﻭﻥ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻳﺴﺒﻮﻧﻬﻢ ﻭﻳﻨﺘﻘﺼﻮﻧﻬﻢ ﻭﻳﻜﻔﺮﻭﻥ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺇﻻ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﻋﻠﻲ ﻭﻋﻤﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺩ ﻭﺳﻠﻤﺎﻥ ﻭﻟﻴﺴﺖ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻣﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ “Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari shahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya kecuali hanya empat orang saja yang tiada mereka kafirkan, yaitu: Ali, Ammar, Miqdad dan Salman. Golongan Rafidhah ini sama sekali bukan Islam.” (Al-Sunnah, milik Imam Ahmad: 82) Ibnu Abdil Qawiy berkata: “Adalah imam Ahmad mengafirkan orang yang berlepas diri dari mereka (yakni para sahabat) dan orang yang mencela ‘Aisyah Ummul Mukminin serta menuduhnya dengan sesuatu yang Allah telah membebaskan darinya, seraya beliau membaca: ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻌُﻮﺩُﻭﺍ ﻟِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ “Allah menasehati kamu, agar kamu jangan mengulang hal seperti itu untuk selama- lamanya, jika kamu benar-benar beriman.” (QS. Al-Nuur: 17. Dinukil dari Kitab Maa Dhahaba Ilaihi al-Imam Ahmad: 21) Ketiga: Imam Al Bukhari (wafat tahun 256 H) Beliau berkata: ﻣﺎ ﺃﺑﺎﻟﻲ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ ، ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ “Bagi saya sama saja, apakah aku shalat di belakang seorang Jahmi (beraliran Jahmiyah) atau seorang Rafidzi (beraliran Syi’ah Rafidhah), atau aku shalat dibelakang Imam Yahudi atau Nashrani. Dan (seorang muslim) tidak boleh memberi salam kepada mereka, mengunjungi mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi dan memakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125) Keempat: Abdurrahman bin Mahdi Imam al-Bukhari berkata: Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Keduanya adalah agama tersendiri, yakni Jahmiyah dan Rafidhah (Syi’ah).” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125) Kelima: Al-Faryabi Al-Khalal meriwayatkan, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Harb bin Ismail al- Kirmani, ia berkata: “Musa bin Harun bin Zayyad menceritakan kepada kami, ia berkata: “Saya mendengar al-Faryabi dan seseorang yang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakar. Jawabnya: “Dia Kafir.” Lalu ia berkata: “Apakah orang semacam itu boleh dishalatkan jenazahnya?” Jawabnya: “Tidak.” Dan aku bertanya pula kepadanya: “Apa yang dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga telah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah?” Jawabnya: “Jangan kamu sentuh (Jenazahnya) dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan kayu sampai kamu menurunkan ke liang lahatnya.” (al-Sunnah, milik al-Khalal: 2566) Keenam: Ahmad bin Yunus Kunyahnya adalah Ibnu Abdillah. Ia dinisbatan kepada datuknya, yaitu salah seorang Imam (tokoh) As-Sunnah. Beliau termasuk penduduk Kufah, tempat tumbuhnya golongan Rafidhah. Beliau menceritakan perihal Rafidhah dengan berbagai macam alirannya. Ahmad bin Hambal telah berkata kepada seseorang: “Pergilah anda kepada Ahmad bin Yunus, karena dialah seorang Syeikhul Islam.” Para ahli Kutubus Sittah telah meriwayatkan Hadits dari beliau. Abu Hatim berkata: “Beliau adalah orang kepercayaan lagi kuat hafalannya”. Al-Nasaai berkata: “Dia adalah orang kepercayaan.” Ibnu Sa’ad berkata: “Dia adalah seorang kepercayaan lagi jujur, seorang Ahli Sunnah wal Jama’ah.” Ibnu Hajar menjelaskan, bahwa Ibnu Yunus telah berkata: “Saya pernah datang kepada Hammad bin Zaid, saya minta kepada beliau supaya mendiktekan kepadaku sesuatu hal tentang kelebihan Utsman. Jawabnya: “Anda ini siapa?” Saya jawab: “Seseorang dari negeri Kufah.” Lalu ia berkata: “Seorang Kufah menanyakan tentang kelebihan- kelebihan Utsman. Demi Allah, aku tidak akan menyampaikannya kepada Anda, kalau Anda tidak mau duduk sedangkan aku tetap berdiri!” Beliau wafat tahun 227 H. (Tahdzibut Tahdzib, 1:50, Taqribut Tahdzib, 1:29). Beliau (Ahmad bin Yunus) rahimahullah berkata, ﻟﻮ ﺃﻥ ﻳﻬﻮﺩﻳﺎً ﺫﺑﺢ ﺷﺎﺓ ، ﻭﺫﺑﺢ ﺭﺍﻓﻀﻲ ﻷﻛﻠﺖ ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩﻱ ، ﻭﻟﻢ ﺁﻛﻞ ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ ﻷﻧﻪ ﻣﺮﺗﺪ ﻋﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ “Seandainya saja seorang Yahudi menyembelih seekor kambing dan seorang Rafidhi (Syi’i) juga menyembelih seekor kambing, niscaya saya hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan aku tidak mau makan sembelihan si Rafidhi. Karena dia telah murtad dari Islam.” (Al-Sharim al- Maslul, Ibnu Taimiyah: 57) Ketujuh: Al-Qadhi Abu Ya’la Beliau berkata, “Adapun Rafidhah, maka hukum terhadap mereka . . . sesungguhnya mengafirkan para sahabat atau menganggapnya fasik, yang berarti mesti masuk neraka, maka orang semacam ini adalah kafir.” (Al Mu’tamad, hal. 267) . . sesungguhnya mengafirkan para sahabat atau menganggapnya fasik, yang berarti mesti masuk neraka, maka orang semacam ini adalah kafir. . . Sementara Rafidhah (Syi’ah) sebagaimana terbukti di dalam pokok-pokok ajaran mereka adalah orang-orang yang mengkafirkan sebagian besar Shahabat Nabi. Silahkan baca kembali tulisan yang telah kami posthing: Kitab Syi’ah Melaknat dan Mengafirkan Abu Bakar, Umar dan ‘Aisyah Kedelapan: Ibnu Hazam al-Zahiri Beliau berkata: “Pendapat mereka (Yakni Nashrani) yang menuduh bahwa golongan Rafidhah (Syi’ah) merubah Al-Qur’an, maka sesungguhnya golongan Syi’ah Rafidhah bukan termasuk bagian kaum muslimin. Karena golongan ini muncul pertama kalinya setelah dua puluh lima tahun dari wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Syi’ah Rafidhah adalah golongan yang mengikuti langkah- langkah Yahudi dan Nashrani dalam melakukan kebohongan dan kekafiran.” (Al-fashl fi al-Milal wa al-Nihal: 2213)[ii] Beliau berkata: “Salah satu pendapat golongan Syi’ah Imamiyah, baik yang dahulu maupun sekarang ialah Al-Qur’an itu sesungguhnya telah diubah.” Kemudian beliau berkata: “Orang yang berpendapat, bahwa Al Qur’an ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan men-dustakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.(Al Fashl: 540) Beliau berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan semua kelompok umat Islam Ahlus Sunnah, Mu’tazilah, Murji’ah, Zaidiyah, bahwa adalah wajib berpegang kepada Al Qur’an yang biasa kita baca ini ” Dan hanya golongan Syi’ah ekstrim sajalah yang menyalahi sikap ini. Dengan sikapnya itu mereka menjadi kafir lagi musyrik, menurut pendapat semua penganut Islam. Dan pendapat kita sama sekali tidak sama dengan mereka (Syi’ah). Pendapat kita hanyalah sejalan dengan sesama pemeluk agama kita.” (Al Ihkam Fii Ushuuli Ahkaam: 196) Beliau berkata pula: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah menyembunyikan satu kata pun atau satu huruf pun dari syariat Ilahi. Saya tidak melihat adanya keistimewaan pada manusia tertentu, baik anak perempuannya atau keponakan laki-lakinya atau istrinya atau shahabatnya, untuk mengetahui sesuatu syariat yang disembunyikan oleh Nabi terhadap bangsa kulit putih, atau bangsa kulit hitam atau penggembala kambing. Tidak ada sesuatu pun rahasia, perlambang ataupun kata sandi di luar apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah kepada umat manusia. Sekiranya Nabi menyembunyikan sesuatu yang harus disampaikan kepada manusia, berarti beliau tidak menjalankan tugasnya. Barang siapa beranggapan semacam ini, berarti ia kafir. (Al Fashl, 2:274-275) Orang yang berkeyakinan semacam ini dikafirkan oleh Ibnu Hazm. Dan keyakinan semacam ini dipegang oleh Syi’ah Itsna Asy’ariyah. Pendapat ini dikuatkan oleh guru-guru beliau pada masanya dan para ulama sebelumnya. 4 IMAM MADZHAB sikap Abu Hanifah terhadap sekte ini: ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ ﺃﻥ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺃﺣﺪ ﺍﻟﻮﺟﻬﻴﻦ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﺤﺎﻭﻱ ﻓﻲ ﻋﻘﻴﺪﺗﻪ ﻛﻔﺮ ﺳﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ، ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ 2590 ‏) . ﻭﻗﺪ ﺫﻛﺮ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﺃﻥ ﺳﺐ ﺍﻟﺸﻴﺨﻴﻦ ﻛﻔﺮ ﻭﻛﺬﺍ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﺇﻣﺎﻣﺘﻬﻤﺎ . ﻭﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﻳﻮﺳﻒ ﺻﺎﺣﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻳﻘﻮﻝ : ﻻ ﺃﺻﻠﻲ ﺧﻠﻒ ﺟﻬﻨﻤﻲ ﻭﻻ ﺭﺍﻓﻀﻲ ﻭﻻ ﻗﺪﺭﻱ . ﺍﻧﻈﺮ ﺷﺮﺡ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺍﻟﻼﻟﻜﺎﺋﻲ 4 733 Imam As-Subki menyebutkan bahwa madzhab Abu Hanifah dan salah satu pendapat syafi’I dan yang lahir dari Ath-Thahawi dalam akidahnya adalah kekufuran orang yang mencela Abu Bakar. (Fatawa As-Subki 2590) Dan Imam As-Subki juga menyebutkan bahwa mencela asy-syaikhani (Abu Bakar dan Umar)adalah kekufuran, demikian pula jika mengingkari kepemimpinan mereka berdua. “ Dan Abu Yusuf, sahabat Abu Hanifah berkata, “Aku tidak shalat di belakang penganut jahmiyyah dan tidak pula syiah rafidhah dan juga qadariyyah (pengingkar takdir). “ lihat Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah karya Imam Al-Lalika’i. Pernyataan Imam Abu Hanifah rahimahullah ﺃَﺻْﻞُ ﻋَﻘِﻴﺪَﺓِ ﺍﻟﺸِّﻴﻌَﺔِ : ﺗَﻀْﻠِﻴﻞُ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ، ﺭِﺿْﻮَﺍﻥُ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢِ Landasan akidah Syi’ah adalah menyesatkan para sahabat ridhwanullah ‘alaihim. Pernyataan ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Hanifah rahimahullah . Pernyataan Imam Malik bin Anas rahimahullah Kemudian al-Imam Malik berkata: “Barang siapa yang ada pada hatinya kedengkian (benci ataupun marah-pen) terhadap para sahabat Muhammad ‘ alaihissalam maka ayat ini (surat al- fath ayat 29-pen) telah mengenainya.” (as- Sunnah karya al-Khallal no. 765 versi al- Maktabah asy-Syamilah) Pernyataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah ﻟَﻢْ ﺃَﺭَ ﺃَﺣَﺪﺍً ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟْﺄَﻫْﻮَﺍﺀِ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺑِﺎﻟﺰُّﻭﺭِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺍﻓِﻀَﺔِ Aku belum pernah melihat suatu kaum yang paling berani bersaksi dengan kedustaan melebihi Rafidhah. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’. Pernyataan Imam Ahmad rahimahullah Siapakah Rafidhah itu? Al-Imam Ahmad menjawab: ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸْﺘُﻢُ ﻭَﻳَﺴُﺐُّ ﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺣِﻤَﻬُﻤَﺎ ﺍﻟﻠﻪ Orang yang mencela Abu Bakar dan Umar rahimahumallah. (as-Sunnah karya al-khallal: 787) ﻣَﻦْ ﺷَﺘَﻢَ ﺃَﺧَﺎﻑُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻜُﻔْﺮَ ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟﺮَّﻭَﺍﻓِﺾِ ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻣَﻦْ ﺷَﺘَﻢَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟَﺎ ﻧَﺄْﻣَﻦُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻗَﺪْ ﻣَﺮَﻕَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ Barang siapa yang mencela (sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka aku aku mengkhawatirkan kekafiran padanya seperti kalangan Rafidhah. Kemudian berkata lagi: Barang siapa yang mencela sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kita khawatirkan ia telah keluar dari agama. (as- Sunnah karya al-Khallal: 790) Pernah disampaikan kepada al-Imam Ahmad tentang orang yang mencela Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu , maka beliau menjawab: ﻫﺬﻩ ﺯَﻧْﺪَﻗَﺔ Ini adalah zindiq. (as-Sunnah karya al-Khallal: 791) Kemudian al-Khallal mendengar langsung dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal: “Aku bertanya kepada ayahku tentang orang yang mencela salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau (al-Imam Ahmad) menjawab: ﻣَﺎ ﺃَﺭَﺍﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ Aku memandangnya tidak di atas Islam. (as- Sunnah karya al-Khallal: 792) Al-Imam Ahmad mengatakan: ﻣَﻦْ ﺗﻨﻘﺺ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﻨْﻄَﻮِﻱ ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻠِﻴَّﺔ ، ﻭَﻟَﻪُ ﺧَﺒِﻴﺌَﺔُ ﺳُﻮﺀٍ ، ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺼَﺪَ ﺇِﻟَﻰ ﺧَﻴْﺮِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ، ﻭَﻫُﻢْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ Barang siapa yang merendahkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidaklah ia akan terguling kecuali di atas musibah (kesulitan dan kesempitan). Dan ada padanya sesuatu keburukan yang tersembunyi, yaitu ketika yang ia tuju (dengan celaanya itu- pen) adalah orang-orang terbaik, yaitu mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (as-Sunnah karya al-Khallal: 763) PARA ULAMA’ AHLUSSUNNAH termasuk ke 4 imam mazhab Islam yang diakui ummat Islam di dunia . INILAH Sikap Ulama Islam terhadap Agama Syi’ah : 1.) Imam ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’iy rahimahulllâh (W. 62 H) Beliau berkata, ﻟﻘﺪ ﻏﻠﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺸﻴﻌﺔ ﻓﻲ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻛﻤﺎ ﻏﻠﺖ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻓﻲ ﻋﻴﺴﻰ ﺑﻦ ﻣﺮﻳﻢ “Sungguh kaum Syi’ah ini telah berlaku ekstrem terhadap ‘Ali radhiyallâhu ‘anhû sebagaimana kaum Nashara berlaku ekstrem terhadap Isa bin Maryam.” –. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2548] 2.) Imam ‘Amr bin Syarâhîl Asy-Sya’by Al-Kûfy rahimahulllâh (W. 105 H) Beliau bertutur, ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻗﻮﻣﺎً ﺃﺣﻤﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻌﺔ “Saya tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih dungu daripada kaum Syi’ah.” –. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2549, Al-Khallâl dalam As- Sunnah 1497, dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh 71461] Beliau juga bertutur, ﻧﻈﺮﺕ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻭﻛﻠﻤﺖ ﺃﻫﻠﻬﺎ ﻓﻠﻢ ﺃﺭ ﻗﻮﻣﺎً ﺃﻗﻞ ﻋﻘﻮﻻً ﻣﻦ ﺍﻟﺨﺸﺒﻴﺔ “Saya melihat kepada pemikiran-pemikiran sesat ini, dan Saya telah berbicara dengan penganutnya. Saya tidak melihat bahwa ada suatu kaum yang akalnya lebih pendek daripada kaum (Syi’ah) Al-Khasyabiyah.” –. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2548] 3.) Imam Thalhah bin Musharrif rahimahulllâh (W. 112 H) Beliau berkata, ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻻ ﺗﻨﻜﺢ ﻧﺴﺎﺅﻫﻢ، ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ، ﻷﻧﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﺭﺩﺓ “(Kaum Syi’ah) Rafidhah tidak boleh menikahi kaum perempuan mereka dan tidak boleh memakan daging-daging sembelihannya karena mereka adalah kaum murtad.” –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al- Ibânah Ash-Shughrâ` hal. 161] 4.) Imam Abu Hanîfah Muhammad bin An- Nu’mân rahimahulllâh (W. 150 H) Beliau berucap, ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﺗﻔﻀﻞ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﻠﻴﺎً ﻭﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻻ ﺗﻨﺘﻘﺺ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ “Al-Jamâ’ah adalah (berarti) engkau mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ali, dan Ustman, serta janganlah engkau mencela seorang pun shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. –. [Al-Intiqâ` Fî Fadhâ`il Ats-Tsalâtsah Al- A`immah Al-Fuqahâ` hal. 163] 5.) Imam Mis’ar bin Kidâm rahimahulllâh (W. 155 H) Imam Al-Lâlakâ`iy meriwayatkan bahwa Mis’ar bin Kidâm dijumpai seorang lelaki dari kaum Rafidhah, kemudian orang tersebut membicarakan sesuatu dengannya, tetapi kemudian Mis’ar berkata, ﺗﻨﺢ ﻋﻨﻲ ﻓﺈﻧﻚ ﺷﻴﻄﺎﻥ “Menyingkirlah dariku. Sesungguhnya engkau adalah syaithan.” –. [Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wal Jamâ’ah 81457] 6.) Imam Sufyân bin Abdillah Ats-Tsaury rahimahulllâh (W. 161 H) Muhammad bin Yusuf Al-Firyâby menyebut bahwa beliau mendengar Sufyân ditanya oleh seorang lelaki tentang pencela Abu Bakr dan Umar, Sufyân pun menjawab, ﻛﺎﻓﺮ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ “(Pencela itu) adalah kafir kepada Allah Yang Maha Agung.” Orang tersebut bertanya, “(Bolehkah) Kami menshalatinya?” (Sufyân) menjawab, ﻻ، ﻭﻻ ﻛﺮﺍﻣﺔ “Tidak. Tiada kemuliaan baginya.” Kemudian beliau ditanya, “Lâ Ilâha Illallâh. Bagaimana kami berbuat terhadap jenazahnya ?” Beliau menjawab, ﻻ ﺗﻤﺴﻮﻩ ﺑﺄﻳﺪﻳﻜﻢ، ﺍﺭﻓﻌﻮﻩ ﺑﺎﻟﺨﺸﺐ ﺣﺘﻰ ﺗﻮﺍﺭﻭﻩ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ “Janganlah kalian menyentuhnya dengan tangan-tangan kalian. Angkatlah (jenazah itu) dengan kayu hingga kalian menutup kuburnya.” –. [Disebutkan oleh Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lâm An-Nubalâ` 7253] 7.) Imam Malik bin Anas rahimahulllâh (W. 179 H) Beliau bertutur, ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺳﻬﻢ، ﺃﻭﻗﺎﻝ ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ “Orang yang mencela shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki saham atau bagian apapun dalam keislaman.” –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah hal. 162 dan Al-Khatsûl dalam As-Sunnah 1493] Asyhab bin Abdul Aziz menyebutkan bahwa Imam Malik ditanya tentang Syi’ah Rafidhah maka Imam Malik menjawab, ﻻ ﺗﻜﻠﻤﻬﻢ ﻭﻻ ﺗﺮﻭ ﻋﻨﻬﻢ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﻜﺬﺑﻮﻥ “Janganlah kalian meriwayatkan hadits dari mereka. Sesungguhnya mereka itu sering berdusta.” –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al- Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj As-Sunnah karya Ibnu Taimiyah 161] 8.) Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim rahimahulllâh (W.182 H) Beliau berkata, ﻻ ﺃﺻﻠﻲ ﺧﻠﻒ ﺟﻬﻤﻲ، ﻭﻻ ﺭﺍﻓﻀﻲ، ﻭﻻ ﻗﺪﺭﻱ “Saya tidak mengerjakan shalat di belakang seorang Jahmy (penganut Jahmiyah), Râfidhy (penganut paham Syi’ah Rafidhah), dan Qadary (penganut paham Qadariyah).” –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 4733] 9.) Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahulllâh (W. 198 H) Beliau berucap, ﻫﻤﺎ ﻣﻠﺘﺎﻥ : ﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ “Ada dua agama (yang bukan Islam, -pent.), yaitu Jahmiyah dan Rafidhah.” –. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dalam Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal.125] 10.) Imam Muhammad bin Idris Asy-Syâfi’iy rahimahulllâh (W. 204 H) Beliau berkata, ﻟﻢ ﺃﺭ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ، ﺃﻛﺬﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﻯ، ﻭﻻ ﺃﺷﻬﺪ ﺑﺎﻟﺰﻭﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ “Saya tidak pernah melihat seorang pun penganut hawa nafsu yang lebih dusta dalam pengakuan dan lebih banyak bersaksi palsu melebihi Kaum Rafidhah.” –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al- Ibânah Al-Kubrâ` 2545 dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 81457] 11.) Imam Yazîd bin Harun rahimahulllâh (W. 206 H) Beliau berkata, ﻳﻜﺘﺐ ﻋﻦ ﻛﻞ ﺻﺎﺣﺐ ﺑﺪﻋﺔ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺩﺍﻋﻴﺔ ﺇﻻ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﻜﺬﺑﻮﻥ “Boleh mencatat (hadits) dari setiap penganut bid’ah yang menyeru kepada bid’ahnya, kecuali (Syi’ah) Rafidhah karena mereka sering berdusta.” –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al- Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj As-Sunnah 160 karya Ibnu Taimiyah] 12.) Imam Muhammad bin Yusuf Al-Firyaby rahimahulllâh (W. 212 H) Beliau berkata, ﻣﺎ ﺃﺭﻯ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ ﺇﻻ ﺯﻧﺎﺩﻗﺔ “Saya tidak memandang kaum Rafidhah dan kaum Jahmiyah, kecuali sebagai orang-orang zindiq.” –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 81457] 13.) Imam Al-Humaidy, Abdullah bin Az-Zubair rahimahulllâh (W. 219 H) Setelah menyebutkan kewajiban mendoakan rahmat bagi para shahabat, beliau berkata, ﻓﻠﻢ ﻧﺆﻣﺮ ﺇﻻ ﺑﺎﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻟﻬﻢ، ﻓﻤﻦ ﻳﺴﺒﻬﻢ، ﺃﻭ ﻳﻨﺘﻘﺼﻬﻢ ﺃﻭ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻨﻬﻢ، ﻓﻠﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺊ ﺣﻖ “Kita tidaklah diperintah, kecuali memohonkan ampunan bagi (para shahabat). Siapa saja yang mencerca mereka atau merendahkan mereka atau salah seorang di antara mereka, dia tidaklah berada di atas sunnah dan tidak ada hak apapun baginya dalam fâ`i.” –. [Ushûl As-Sunnah hal.43] 14.) Imam Al-Qâsim bin As-Sallam rahimahulllâh (W. 224 H) Beliau berkata, ﻋﺎﺷﺮﺕ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﻛﻠﻤﺖ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﻼﻡ، ﻭﻛﺬﺍ، ﻓﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺃﻭﺳﺦ ﻭﺳﺨﺎً، ﻭﻻ ﺃﻗﺬﺭ ﻗﺬﺭﺍً، ﻭﻻ ﺃﺿﻌﻒ ﺣﺠﺔ، ﻭﻻ ﺃﺣﻤﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ … “Saya telah hidup dengan seluruh manusia. Saya telah berbicara dengan ahli kalam dan … demikian. Saya tidak melihat ada yang lebih kotor, lebih menjijikkan, argumennya lebih lemah, dan lebih dungu daripada kaum Rafidhah ….” –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As- Sunnah 1499] 15.) Imam Ahmad bin Yunus rahimahulllâh (W. 227 H) Beliau berkata, ﺇﻧﺎ ﻻ ﻧﺄﻛﻞ ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺭﺟﻞ ﺭﺍﻓﻀﻲ، ﻓﺈﻧﻪ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﺮﺗﺪ “Sesungguhnya kami tidaklah memakan sembelihan seorang Syi’ah Rafidhah karena dia, menurut Saya, adalah murtad.” –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8459] 16.) Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulllâh (W. 241 H) Banyak riwayat dari beliau tentang celaan terhadap kaum Rafidhah. Di antaranya adalah : Beliau ditanya tentang seorang lelaki yang mencela seorang shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam maka beliau menjawab, ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ “Saya tidak memandang bahwa dia di atas (agama) Islam.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1493] Beliau juga ditanya tentang pencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah maka beliau menjawab, “Saya tidak memandang bahwa dia di atas (agama) Islam.” –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As- Sunnah 1493] Beliau ditanya pula tentang orang yang bertetangga dengan (Syi’ah) Rafidhah yang memberi salam kepada orang itu. Beliau menjawab. ﻻ، ﻭﺇﺫﺍ ﺳﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻻ ﻳﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ “Tidak (dijawab). Bila (orang Syi’ah) itu memberi salam kepada (orang) itu, janganlah dia menjawab (salam) tersebut.” –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As- Sunnah 1494] 17.) Imam Al-Bukhâry, Muhammad bin Ismail rahimahulllâh (W. 256 H) Beliau berkata, ﻣﺎ ﺃﺑﺎﻟﻲ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ، ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ، ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ، ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ، ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ، ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ، ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ “Saya tidak peduli. Baik Saya melaksanakan shalat di belakang Jahmy dan Rafidhy maupun Saya mengerjakan shalat di belakang orang- orang Yahudi dan Nashara, (ketidakbolehannya sama saja). (Seseorang) tidak boleh menjenguk mereka, menikahi mereka, dan bersaksi untuk mereka.” –. [Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal. 125] 18.) Imam Abu Zur’ah Ar-Râzy, Ubaidullah bin Abdil Karim rahimahulllâh (W. 264 H) Beliau berkata, “Apabila engkau melihat seorang lelaki yang merendahkan seorang shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Hal itu karena, di sisi Kami, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah benar dan Al-Qur`an adalah benar. Sesungguhnya, penyampai Al-Qur`an ini dan hadits-hadits adalah para shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Orang Syi’ah yang mencela shahabat) hanya ingin mempercacat saksi-saksi Kita untuk menghasilkan Al-Kitab dan Sunnah, Celaan terhadap (kaum pencela itu) adalah lebih pantas dan mereka adalah para zindiq.” –. [Diriwayatkan oleh Al-Khâtib dalam Al- Kifâyah hal. 49] 19.) Imam Abu Hâtim Ar-Râzy, Muhammad bin Idris rahimahulllâh (W. 277 H) Ibnu Abi Hâtim bertanya kepada ayahnya, Abu Hâtim, dan kepada Abu Zur’ah tentang madzhab dan aqidah Ahlus Sunnah maka Abu Hâtim dan Abu Zur’ah menyebut pendapat yang disepakati oleh para ulama itu di berbagai negeri. Di antara perkataan mereka berdua adalah bahwa kaum Jahmiyah adalah kafir, sedang kaum Rafidhah telah menolak keislaman. –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh 1178] 20.) Imam Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al- Barbahary rahimahulllâh (W. 329 H) Beliau berkata, ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻛﻠﻬﺎ ﺭﺩﻳﺔ، ﺗﺪﻋﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻴﻒ، ﻭﺃﺭﺩﺅﻫﺎ ﻭﺃﻛﻔﺮﻫﺎ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ، ﻭﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ، ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﺮﻳﺪﻭﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻌﻄﻴﻞ ﻭﺍﻟﺰﻧﺪﻗﺔ “Ketahuilah bahwa seluruh pemikiran sesat adalah menghancurkan, mengajak kepada kudeta. Yang paling hancur dan paling kafir di antara mereka adalah kaum Rafidhah, Mu’tazilah, Jahmiyah. Sesungguhnya mereka menghendaki manusia untuk melakukan ta’thîl dan kezindiqan.” –. [Syarh As-Sunnah hal. 54] 21.) Imam Umar bin Syâhin rahimahulllâh (W. 385 H) Beliau berkata, “Sesungguhnya, sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali ‘alaihimus salâm, serta sesungguhnya seluruh shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang pilihan lagi baik. Sesungguhnya Saya beragama kepada Allah dengan mencintai mereka semua, dan sesungguhnya Saya berlepas diri dari siapa saja yang mencela, melaknat, dan menyesatkan mereka, menganggap mereka berkhianat, serta mengafirkan mereka …, dan sesungguhnya Saya berlepas diri dari semua bid’ah berupa Qadariyah, Murji’ah, Rafidhah, Nawâshib, dan Mu’tazilah.” –. [Al-Lathîf Li Syarh Madzâhib Ahlis Sunnah hal. 251-252] 22.) Imam Ibnu Baththah rahimahulllâh (W. 387 H) Beliau bertutur, “Adapun (Syi’ah) Rafidhah, mereka adalah manusia yang paling banyak berselisih, berbeda, dan saling mencela. Setiap di antara mereka memilih madzhab tersendiri untuk dirinya, melaknat penyelisihnya, dan mengafirkan orang yang tidak mengikutinya. Seluruh dari mereka menyatakan bahwa tidak (sah) melaksanakan shalat, puasa, jihad, Jum’at, dua Id, nikah, talak, tidak pula jual-beli, kecuali dengan imam, sedang barangsiapa yang tidak memiliki imam, tiada agamanya baginya, dan barangsiapa yang tidak mengetahui imamnya, tiada agama baginya …. Andaikata bukan karena pengutamaan penjagaan ilmu, yang perkaranya telah Allah tinggikan dan kedudukannya telah Allah muliakan, dan penyucian ilmu terhadap percampuran najis-najis penganut kesesatan serta keburukan pendapat-pendapat dan madzhab mereka, yang kulit-kulit merinding menyebutkannya, jiwa merintih mendengarkannya, dan orang-orang yang berakal membersihkan ucapan dan pendengaran mereka dari ucapan-ucapan bid’ah tersebut, tentulah Saya akan menyebutkan (kesesatan Rafidhah) yang akan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran.” –. [Al-Ibânah Al-Kubrâ` hal. 556] 23.) Imam Al-Qahthâny rahimahulllâh (W. 387 H) Beliau menuturkan kesesatan Rafidhah dalam Nûniyah-nya, ﺇﻥ ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾَ ﺷﺮُّﻣﻦ ﻭﻃﻲﺀَ ﺍﻟﺤَﺼَﻰ … ﻣﻦ ﻛﻞِّ ﺇﻧﺲٍ ﻧﺎﻃﻖٍ ﺃﻭ ﺟﺎﻥِ ﻣﺪﺣﻮﺍ ﺍﻟﻨّﺒﻲَ ﻭﺧﻮﻧﻮﺍ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ … ﻭﺭﻣﻮُﻫﻢُ ﺑﺎﻟﻈﻠﻢِ ﻭﺍﻟﻌﺪﻭﺍﻥِ ﺣﺒّﻮﺍ ﻗﺮﺍﺑﺘﻪَ ﻭﺳﺒَّﻮﺍ ﺻﺤﺒﻪ … ﺟﺪﻻﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﺘﻘﻀﺎﻥِ Sesungguhnya orang-orang Rafidhah adalah sejelek-jelek makhluk yang pernah menapak bebatuan Dari seluruh manusia yang berbicara dan seluruh jin Mereka memuji Nabi, tetapi menganggap para shahabatnya berkhianat Dan mereka menuduh para shahabat dengan kezhaliman dan permusuhan Mereka (mengaku) mencintai kerabat Nabi, tetapi mencela para shahabat beliau Dua perdebatan yang bertentangan di sisi Allah –. [Nûniyah Al-Qahthâny hal. 21] 24.) Imam Abul Qâsim Ismail bin Muhammad Al- Ashbahâny rahimahulllâh (W. 535 H) Beliau berucap, “Orang-orang Khawarij dan Rafidhah, madzhabnya telah mencapai pengafiran shahabat dan orang-orang Qadariyah yang mengafirkan kaum muslimin yang menyelisihi mereka. Kami tidak berpendapat bahwa boleh melaksanakan shalat di belakang mereka, dan kami tidak berpendapat akan kebolehan hukum para qadhi dan pengadilan mereka. Juga bahwa, siapa saja di antara mereka yang membolehkan kudeta dan menghalalkan darah, tidak diterima persaksian dari mereka.” –. [Al-Hujjah Fî Bayân Al-Mahajjah 2551] 25.) Imam Abu Bakr bin Al-‘Araby rahimahulllâh (W. 543 H) Beliau bertutur, “Tidaklah keridhaan orang-orang Yahudi dan Nashara kepada pengikut Musa dan Isa sama seperti keridhaan orang-orang Rafidhah kepada para shahabat Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Yakni, (kaum Rafidhah) menghukumi (para shahahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) bahwa para (shahabat) bersepakat di atas kekafiran dan kebatilan.” –. [Al-‘Awâshim Min Al-Qawâshim hal. 192] 26.) Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulllâh (W. 728 H) Beliau menyatakan, “… dan cukuplah Allah sebagai Yang Maha Mengetahui bahwa, dalam seluruh kelompok yang bernisbah kepada Islam, tiada yang (membawa) bid’ah dan kesesatan yang lebih jelek daripada (kaum Rafidhah) tersebut, serta tiada yang lebih jahil, lebih pendusta, lebih zhalim, dan lebih dekat kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga tiada yang lebih jauh dari hakikat keimanan daripada (kaum Rafidhah) itu.” –. [Minhâj As-Sunnah 1160] Beliau berkata pula, “(Kaum Rafidhah) membantu orang-orang Yahudi, orang-orang Nashara, dan kaum musyrikin terhadap ahlul bait Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan umat beliau yang beriman sebagaimana mereka telah membantu kaum musyrikin dari kalangan At- Turk dan Tartar akan perbuatan mereka di Baghdad dan selainnya terhadap ahlul bait Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan Ma’din Ar- Risâlah, keturunan Al-‘Abbâs dan ahlul bait yang lain, berupa pembunuhan, penawanan, dan perusakan negeri-negeri. Kejelekan dan bahaya (orang-orang Rafidhah) terhadap umat Islam takkan mampu dihitung oleh orang yang fasih berbicara.” –. [Majmu’ Al-Fatâwâ 25309] Sumber : Disadur dan diringkas dari Al-Intishâr Li Ash- Shahbi Wa Al-Âl Min Iftirâ`ât As-Samâwy Adh- Dhâl hal. 90-110 Penyataan Ulama Kredibelitas Tentang Kesesatan Syiah : Sebagai bahan bandingan, apakah memang benar Syiah itu Islam ?. ada banyak pernyataan Imam imam besar Islam yang menyatakan Syiah itu sesat, bahkan kafir, dan juga pernyataan mereka menolak ucapan ulama ulama [kaliber Indonesia] yang disebutkan diatas : 1. AL-IMAM ‘AMIR ASY-SYA’BI berkata, “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (as-Sunnah, 2549, karya Abdullah bin al- Imam Ahmad) 2. AL-IMAM SUFYAN ATS-TSAURI ketika ditanya tentang seseorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar c, beliau berkata, “Ia telah kafir kepada Allah l.” Kemudian ditanya, “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata, “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7253) 3. AL-IMAM MALIK dan AL-IMAM ASY-SYAFI`I rahimahumallah, telah disebut di atas. 4. AL-IMAM AHMAD BIN HANBAL berkata, “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah g) itu sebagai orang Islam.” (as- Sunnah, 1493, karya al-Khallal) 5. AL-IMAM AL-BUKHARI berkata, “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi (penganut Jahmiyah, red.) dan Rafidhi (penganut Syiah Rafidhah, red.), atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh, red.). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hlm. 125) 6. AL-IMAM ABU ZUR’AH AR-RAZI berkata, “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari sahabat Rasulullah n, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita adalah haq dan Al-Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah n. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al-Qur’an dan As- Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah (orang-orang zindiq).” (al- Kifayah, hlm. 49, karya al- Khathib al-Baghdadi t) 7. IMAM MALIK AL KHALAL meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam” ( Al Khalal As Sunnah, 2-557 ) 8. IBNU KATSIR berkata, dalam kaitannya dengan firman Allah surat Al Fath ayat 29, yang artinya : “ Muhammad itu adalah Rasul (utusan Allah). Orang-orang yang bersama dengan dia (Mukminin) sangat keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keridhaanNya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, karena bekas sujud. Itulah contoh (sifat) mereka dalam Taurat. Dan contoh mereka dalam Injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya (yang kecil lemah), lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang-orang yang menanamnya. (Begitu pula orang-orang Islam, pada mula- mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat), supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar untuk orang- orang yang beriman dan beramal salih diantara mereka”.Beliau berkata : Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik, beliau mengambil kesimpulan bahwa golongan Rofidhoh (Syiah), yaitu orang-orang yang membenci para sahabat Nabi SAW, adalah Kafir. Beliau berkata : “Karena mereka ini membenci para sahabat, maka dia adalah Kafir berdasarkan ayat ini”. Pendapat tersebut disepakati oleh sejumlah Ulama. (Tafsir Ibin Katsir, 4-219 ) 9. IMAM AL QURTHUBI berkata : “Sesungguhnya ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya juga benar, siapapun yang menghina seorang sahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin”. (Tafsir Al Qurthubi, 16-297) 10. IMAM AHMAD AL KHALAL meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya berpendapat bahwa dia bukan orang Islam”. ( Al Khalal As Sunnah, 2-557). 11. Beliau Al Khalal juga berkata : Abdul Malik bin Abdul Hamid menceritakan kepadaku, katanya: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata : “Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka kami khawatir dia keluar dari Islam, tanpa disadari”. 12. (Al Khalal As Sunnah, 2-558). Beliau Al Khalal juga berkata : “ Abdullah bin Ahmad bin Hambal bercerita pada kami, katanya : “Saya bertanya kepada ayahku perihal seorang yang mencela salah seorang dari sahabat Nabi SAW. Maka beliau menjawab : “Saya berpendapat ia bukan orang Islam”. (Al Khalal As Sunnah, 2-558) 13. Dalam kitab AS SUNNAH karya IMAM AHMAD halaman 82, disebutkan mengenai pendapat beliau tentang golongan Rofidhoh (Syiah) :“Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari sahabat Muhammad SAW dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya, kecuali hanya empat orang saja yang tidak mereka kafirkan, yaitu Ali, Ammar, Migdad dan Salman. Golongan Rofidhoh (Syiah) ini sama sekali bukan Islam.” 14. AL-FARIYABI AL KHALAL meriwayatkan, katanya : “Telah menceritakan kepadaku Harb bin Ismail Al Karmani, katanya : “Musa bin Harun bin Zayyad menceritakan kepada kami : “Saya mendengar Al Faryaabi dan seseorang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakar. Jawabnya : “Dia kafir”. Lalu ia berkata : “Apakah orang semacam itu boleh disholatkan jenazahnya ?”. Jawabnya : “Tidak”. Dan aku bertanya pula kepadanya : “Mengenai apa yang dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga telah mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh?”. Jawabnya : “Janganlah kamu sentuh jenazahnya dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan kayu sampai kamu turunkan ke liang lahatnya”. (Al Khalal As Sunnah, 6-566) Diantara para Imam dan para Ulama yang telah mengeluarkan fatwa-fatwa tersebut adalah : IMAM MALIK ﺍﺍﻻﻣﺎﻡ ﻣﺎﻟﻚ ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻋﻦ ﺍﺑﻰ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﻤﺮﻭﺯﻯ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ : ﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ : ﺍﻟﺬﻯ ﻳﺸﺘﻢ ﺍﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺍﺳﻢ ﺍﻭ ﻗﺎﻝ ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻰ ﺍﻻﺳﻼﻡ . ( ﺍﻟﺨﻼﻝ ﺍﻟﺴﻦ : ۲،٥٥٧ ) Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam” ( Al Khalal As Sunnah, 2-557 ) IMAM AHMAD ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﺣﻤﺪ ﺍﺑﻦ ﺣﻤﺒﻞ ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻋﻦ ﺍﺑﻰ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﻤﺮﻭﺯﻯ ﻗﺎﻝ : ﺳﺄﻟﺖ ﺍﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻤﻦ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﺎﺋﺸﺔ ؟ ﻗﺎﻝ : ﻣﺎﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺳﻼﻡ ( ﺍﻟﺨﻼﻝ ﺍﻟﺴﻨﺔ : ۲، ٥٥٧ ) Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya berpendapat bahwa dia bukan orang Islam”. ( Al Khalal As Sunnah, 2-557). AL BUKHORI ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ ﻗﺎﻝ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﻣﺎﺃﺑﺎﻟﻰ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻰ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻰ ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ ( ﺧﻠﻖ ﺃﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ :١٢٥ ) Iman Bukhori berkata : “Bagi saya sama saja, apakah aku sholat dibelakang Imam yang beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka. (Imam Bukhori Kholgul Afail, halaman 125). AL FARYABI ﺍﻟﻔﺮﻳﺎﺑﻰ ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻗﺎﻝ : ﺃﺧﺒﺮﻧﻰ ﺣﺮﺏ ﺑﻦ ﺍﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺍﻟﻜﺮﻣﺎﻧﻰ ﻗﺎﻝ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﻮﺳﻰ ﺑﻦ ﻫﺎﺭﻭﻥ ﺑﻦ ﺯﻳﺎﺩ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﻔﺮﻳﺎﺑﻰ ﻭﺭﺟﻞ ﻳﺴﺄﻟﻪ ﻋﻤﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺑﺎﺑﻜﺮ ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻓﺮ، ﻗﺎﻝ : ﻓﻴﺼﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ، ﻗﺎﻝ : ﻻ . ﻭﺳﺄﻟﺘﻪ ﻛﻴﻒ ﻳﺼﻨﻊ ﺑﻪ ﻭﻫﻮ ﻳﻘﻮﻝ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻗﺎﻝ : ﻻ ﺗﻤﺴﻮﻩ ﺑﺄﻳﺪﻳﻜﻢ، ﺍﺭﻓﻌﻮﻩ ﺑﺎﻟﺨﺸﺐ ﺣﺘﻰ ﺗﻮﺍﺭﻭﻩ ﻓﻰ ﺣﻔﺮﺗﻪ . ( ﺍﻟﺨﻼﻝ ﺍﻟﺴﻨﺔ : ۲،٥٦٦ ) Al Khalal meriwayatkan, katanya : “Telah menceritakan kepadaku Harb bin Ismail Al Karmani, katanya : “Musa bin Harun bin Zayyad menceritakan kepada kami : “Saya mendengar Al Faryaabi dan seseorang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakar. Jawabnya : “Dia kafir”. Lalu ia berkata : “Apakah orang semacam itu boleh disholatkan jenazahnya ?”. Jawabnya : “Tidak”. Dan aku bertanya pula kepadanya : “Mengenai apa yang dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga telah mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh?”. Jawabnya : “Janganlah kamu sentuh jenazahnya dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan kayu sampai kamu turunkan ke liang lahatnya”. (Al Khalal As Sunnah, 6-566). AHMAD BIN YUNUS Beliau berkata : “Sekiranya seorang Yahudi menyembelih seekor binatang dan seorang Rofidhi (Syiah) juga menyembelih seekor binatang, niscaya saya hanya memakan sembelihan si Yahudi dan aku tidak mau makan sembelihan si Rofidhi (Syiah), sebab dia telah murtad dari Islam”. (Ash Shariim Al Maslul, halaman 570). ABU ZUR’AH AR ROZI ﺃﺑﻮ ﺯﺭﻋﺔ ﺍﻟﺮﺍﺯﻯ ﺍﺫﺍ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﻨﺘﻘﺺ ﺃﺣﺪﺍ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺯﻧﺪﻳﻖ، ﻷﻥ ﻣﺆﺩﻯ ﻗﻮﻟﻪ ﺍﻟﻰ ﺍﺑﻄﺎﻝ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ . ( ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ : ٤٩ ) Beliau berkata : “Bila anda melihat seorang merendahkan (mencela) salah seorang sahabat Rasulullah SAW, maka ketahuilah bahwa dia adalah ZINDIIG. Karena ucapannya itu berakibat membatalkan Al-Qur’an dan As Sunnah”. (Al Kifayah, halaman 49). ABDUL QODIR AL BAGHDADI Beliau berkata : “Golongan Jarudiyah, Hisyamiyah, Jahmiyah dan Imamiyah adalah golongan yang mengikuti hawa nafsu yang telah mengkafirkan sahabat-sahabat terbaik Nabi, maka menurut kami mereka adalah kafir. Menurut kami mereka tidak boleh di sholatkan dan tidak sah berma’mum sholat di belakang mereka”. (Al Fargu Bainal Firaq, halaman 357). Beliau selanjutnya berkata : “Mengkafirkan mereka adalah suatu hal yang wajib, sebab mereka menyatakan Allah bersifat Al Bada’ IBNU HAZM Beliau berkata : “Salah satu pendapat golongan Syiah Imamiyah, baik yang dahulu maupun sekarang ialah, bahwa Al-Qur’an sesungguhnya sudah diubah”. Kemudian beliau berkata : ”Orang yang berpendapat bahwa Al-Qur’an yang ada ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan mendustakan Rasulullah SAW”. (Al Fashl, 5-40). ABU HAMID AL GHOZALI Imam Ghozali berkata : “Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar Rodhialloh Anhuma, maka berarti ia telah menentang dan membinasakan Ijma kaum Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan surga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka serta kelebihan mereka dari manusia-manusia lain”. Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir, maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang yang mendustakan satu kata saja dari ucapan beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang tersebut adalah kafir”. (Fadhoihul Batiniyyah, halaman 149). AL QODHI IYADH Beliau berkata : “Kita telah menetapkan kekafiran orang-orang Syiah yang telah berlebihan dalam keyakinan mereka, bahwa para Imam mereka lebih mulia dari pada para Nabi”. Beliau juga berkata : “Kami juga mengkafirkan siapa saja yang mengingkari Al-Qur’an, walaupun hanya satu huruf atau menyatakan ada ayat-ayat yang diubah atau ditambah di dalamnya, sebagaimana golongan Batiniyah (Syiah) dan Syiah Ismailiyah”. (Ar Risalah, halaman 325). AL FAKHRUR ROZI Ar Rozi menyebutkan, bahwa sahabat-sahabatnya dari golongan Asyairoh mengkafirkan golongan Rofidhoh (Syiah) karena tiga alasan : Pertama: Karena mengkafirkan para pemuka kaum Muslimin (para sahabat Nabi). Setiap orang yang mengkafirkan seorang Muslimin, maka dia yang kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW, yang artinya : “Barangsiapa berkata kepada saudaranya, hai kafir, maka sesungguhnya salah seorang dari keduanya lebih patut sebagai orang kafir”. Dengan demikian mereka (golongan Syiah) otomatis menjadi kafir. Kedua: “Mereka telah mengkafirkan satu umat (kaum) yang telah ditegaskan oleh Rasulullah sebagai orang-orang terpuji dan memperoleh kehormatan (para sahabat Nabi)”. Ketiga: Umat Islam telah Ijma’ menghukum kafir siapa saja yang mengkafirkan para tokoh dari kalangan sahabat. (Nihaayatul Uguul, Al Warogoh, halaman 212). IBNU TAIMIYAH Beliau berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa Al-Qur’an telah dikurangi ayat-ayatnya atau ada yang disembunyikan, atau beranggapan bahwa Al-Qur’an mempunyai penafsiran-penafsiran batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya. Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang kekafiran orang semacam ini” Barangsiapa beranggapan para sahabat Nabi itu murtad setelah wafatnya Rasulullah, kecuali tidak lebih dari sepuluh orang, atau mayoritas dari mereka sebagai orang fasik, maka tidak diragukan lagi, bahwa orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan penegasan Al- Qur’an yang terdapat di dalam berbagai ayat mengenai keridhoan dan pujian Allah kepada mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini, adakah orang yang meragukannya? Sebab kekafiran orang semacam ini sudah jelas…. (Ash Sharim AL Maslul, halaman 586-587). SYAH ABDUL AZIZ DAHLAWI Sesudah mempelajari sampai tuntas mazhab Itsna Asyariyah dari sumber-sumber mereka yang terpercaya, beliau berkata : “Seseorang yang menyimak aqidah mereka yang busuk dan apa yang terkandung didalamnya, niscaya ia tahu bahwa mereka ini sama sekali tidak berhak sebagai orang Islam dan tampak jelaslah baginya kekafiran mereka”. (Mukhtashor At Tuhfah Al Itsna Asyariyah, halaman 300). MUHAMMAD BIN ALI ASY SYAUKANI Perbuatan yang mereka (Syiah) lakukan mencakup empat dosa besar, masing-masing dari dosa besar ini merupakan kekafiran yang terang- terangan. Pertama : Menentang Allah. Kedua : Menentang Rasulullah. Ketiga : Menentang Syariat Islam yang suci dan upaya mereka untuk melenyapkannya. Keempat : Mengkafirkan para sahabat yang diridhoi oleh Allah, yang didalam Al-Qur’an telah dijelaskan sifat-sifatnya, bahwa mereka orang yang paling keras kepada golongan Kuffar, Allah SWT menjadikan golongan Kuffar sangat benci kepada mereka. Allah meridhoi mereka dan disamping telah menjadi ketetapan hukum didalam syariat Islam yang suci, bahwa barangsiapa mengkafirkan seorang muslim, maka dia telah kafir, sebagaimana tersebut di dalam Bukhori, Muslim dan lain-lainnya. (Asy Syaukani, Natsrul Jauhar Ala Hadiitsi Abi Dzar, Al Warogoh, hal 15-16) PARA ULAMA SEBELAH TIMUR SUNGAI JAIHUN Al Alusi (seorang penulis tafsir) berkata : “Sebagian besar ulama disebelah timur sungai ini menyatakan kekafiran golongan Itsna Asyariyah dan menetapkan halalnya darah mereka, harta mereka dan menjadikan wanita mereka menjadi budak, sebab mereka ini mencela sahabat Nabi SAW, terutama Abu Bakar dan Umar, yang menjadi telinga dan mata Rasulullah SAW, mengingkari kekhilafahan Abu Bakar, menuduh Aisyah Ummul Mukminin berbuat zina, padahal Allah sendiri menyatakan kesuciannya, melebihkan Ali r.a. dari rasul-rasul Ulul Azmi. Sebagian mereka melebihkannya dari Rasulullah SAW dan mengingkari terpeliharanya Al-Qur’an dari kekurangan dan tambahan”. (Nahjus Salaamah, halaman 29-30). Demikian telah kami sampaikan fatwa-fatwa dari para Imam dan para Ulama yang dengan tegas mengkafirkan golongan Syiah yang telah mencaci maki dan mengkafirkan para sahabat serta menuduh Ummul mukminin Aisyah berbuat serong, dan berkeyakinan bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang ini tidak orisinil lagi (Mukharrof). Serta mendudukkan imam-imam mereka lebih tinggi (Afdhol) dari para Rasul. Semoga fatwa-fatwa tersebut dapat membantu pembaca dalam mengambil sikap tegas terhadap golongan Syiah. “Yaa Allah tunjukkanlah pada kami bahwa yang benar itu benar dan jadikanlah kami sebagai pengikutnya, dan tunjukkanlah pada kami bahwa yang batil itu batil dan jadikanlah kami sebagai orang yang menjauhinya.” Sumber : albayyinat.net KH. HASYIM ASY`ARI dalam kitabnya “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’” memberi peringatan kepada warga nahdliyyin agar tidak mengikuti paham Syi’ah. Menurutnya, madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah bukan madzhab sah. Madzhab yang sah untuk diikuti adalah Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Beliau mengatakan: “Di zaman akhir ini tidak ada madzhab yang memenuhi persyaratan kecuali empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Adapun madzhab yang lain seperti madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti” (Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, hlm: 9).

 
ari sudono
Pada : Senin, 16 Juni 2014 / 22:52:09

@a makasih infonya

 
dedi sandila
Pada : Jumat, 27 Juni 2014 / 12:18:11

http:www.syiahindonesia.com201405fatwa-ulama-tentang-kafirnya-syiah.html

 
dedi sandila
Pada : Jumat, 27 Juni 2014 / 12:19:30

http:www.arrahmah.comnews20140627lpas-beserta-warga-dan-polisi-bubarkan-pengajian-sesat-syiah.html

 
a
Pada : Jumat, 04 Juli 2014 / 09:45:41

Berpegang Teguh kepada Sunnah Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ رَضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدَّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ Abu Najih, Al ‘Irbad bin Sariyah ra. ia berkata: Artinya : “Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. Kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat” Rasulullah bersabda, “Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya siapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru (perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan)), kepada hal-hal yang baru itu adalah bidah dan sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (4608), At-Tirmidziy (2676) dan Ibnu Majah (44,43)) Dari Abu Said Al-Khudri ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam : Artinya : Jangan kalian mencaci makimenghina para shahabatku, karena seandainya salah seorang diantara kalian berinfaq emas sebanyak gunung Uhud tak akan dapat menyamai derajat salah seorang diantara mereka, bahkan separuhnyapun tidak. (Hadits Shahih Riwayat : Bukhari 4:195, Muslim 7:188, Ahmad 3:11, Abu Dawud 4658 dan Tirmidzi 3952). Pendapat Tentang Kafirnya Sekte Syiah Pernyataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah tentang syiah ﻟَﻢْ ﺃَﺭَ ﺃَﺣَﺪﺍً ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟْﺄَﻫْﻮَﺍﺀِ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺑِﺎﻟﺰُّﻭﺭِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺍﻓِﻀَﺔِ “Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksibersumpah palsu (berdusta) dari Syi’ah Rafidhah. (Adabus Syafi’i, ms. 187, al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1468 dan Sunan al-Kubra, 10208. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2486) - Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek! (terbodoh)”. (al-Manaqib, karya al-Baihaqiy, 1468. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2486) - Al-Buwaitiy (murid Imam Syafi’i) bertanya kepada Imam Syafi’i, “Bolehkah aku shalat di belakang orang Syiah?” Imam Syafi’i berkata, “Jangan shalat di belakang orang Syi’ah, orang Qadariyyah, dan orang Murji’ah” Lalu Al-Buwaitiy bertanya tentang sifat-sifat mereka, Lalu Imam Syafi’i menyifatkan, “Siapasaja yang mengatakan Abu Bakr dan Umar bukan imam, maka dia Syi’ah”. (Siyar A’lam Al-Nubala 1031) Imam-imam Madzhab Syafiiyah ,Imam Malik,Imam Daud Adz-Dzhahiri, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Ishaq bin Rahuwiyah rahimahumullah mewajibkan orang yang shalat dibelakang imam yang bermadzhab syiah rafidhah untuk mengulangi shalatnya. (lihat : Ushuluddin 342) - asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, kerana Allah menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami”. (Surah al-Hasyr, 59: 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bahagian fa’i).” (at-Thabaqat, 2117. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2487) - Imam as-Subki Rahimahullah berkata, ‘Aku melihat di dalam al-Muhith dari kitab-kitab Hanafiah, dari Muhammad (bin Idris as-Syafi’i) bahwa tidak boleh shalat di belakang Rafidhah.’ (Fatawa as-Subki (II576), lihat juga Ushulud Din (342)) ABU HAMID AL GHOZALI Imam Ghozali berkata : “Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar Rodhialloh Anhuma, maka berarti ia telah menentang dan membinasakan Ijma kaum Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan surga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka serta kelebihan mereka dari manusia-manusia lain”. Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir, maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang yang mendustakan satu kata saja dari ucapan beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang tersebut adalah kafir”. (Fadhoihul Batiniyyah, halaman 149). Imam Abu Bakr bin Al-‘Arabi rahimahulllâh (W. 543 H) Beliau bertutur, “Tidaklah keridhaan orang-orang Yahudi dan Nashara kepada pengikut Musa dan Isa sama seperti keridhaan orang-orang Rafidhah kepada para shahabat Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Yakni, (kaum Rafidhah) menghukumi (para shahahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) bahwa para (shahabat) bersepakat di atas kekafiran dan kebatilan.” –. [Al-‘Awâshim Min Al-Qawâshim hal. 192] Imam Al Bukhari (wafat tahun 256 H) Beliau berkata: ما أبالي صليت خلف الجهمي والرافضي ، أم صليت خلف اليهود والنصارى ولا يسلم عليهم ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم Bagi saya sama saja, apakah aku shalat di belakang seorang Jahmi (beraliran Jahmiyah) atau seorang Rafidzi (b eraliran Syiah Rafidhah), atau aku shalat dibelakang Imam Yahudi atau Nashrani. Dan (seorang muslim) tidak boleh memberi salam kepada mereka, mengunjungi mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi dan memakan sembelihan mereka. (Khalqu Afal al-Ibad: 125) Imam Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al- Barbahari rahimahulllâh (W. 329 H) Beliau berkata, ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻛﻠﻬﺎ ﺭﺩﻳﺔ، ﺗﺪﻋﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻴﻒ، ﻭﺃﺭﺩﺅﻫﺎ ﻭﺃﻛﻔﺮﻫﺎ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ، ﻭﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ، ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﺮﻳﺪﻭﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻌﻄﻴﻞ ﻭﺍﻟﺰﻧﺪﻗﺔ “Ketahuilah bahwa seluruh pemikiran sesat adalah menghancurkan, mengajak kepada kudeta. Yang paling hancur dan paling kafir di antara mereka adalah kaum Rafidhah, Mu’tazilah, Jahmiyah. Sesungguhnya mereka menghendaki manusia untuk melakukan ta’thîl dan kezindiqan.” –. [Syarh As-Sunnah hal. 54] Imam Sufyân bin Abdillah Ats-Tsauri rahimahulllâh (W. 161 H) Muhammad bin Yusuf Al-Firyâby menyebut bahwa beliau mendengar Sufyân ditanya oleh seorang lelaki tentang pencela Abu Bakr dan Umar, Sufyân pun menjawab, ﻛﺎﻓﺮ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ “(Pencela itu) adalah kafir kepada Allah Yang Maha Agung.” Orang tersebut bertanya, “(Bolehkah) Kami menshalatinya?” (Sufyân) menjawab, ﻻ، ﻭﻻ ﻛﺮﺍﻣﺔ “Tidak. Tiada kemuliaan baginya.” Kemudian beliau ditanya, “Lâ Ilâha Illallâh. Bagaimana kami berbuat terhadap jenazahnya ?” Beliau menjawab, ﻻ ﺗﻤﺴﻮﻩ ﺑﺄﻳﺪﻳﻜﻢ، ﺍﺭﻓﻌﻮﻩ ﺑﺎﻟﺨﺸﺐ ﺣﺘﻰ ﺗﻮﺍﺭﻭﻩ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ “Janganlah kalian menyentuhnya dengan tangan-tangan kalian. Angkatlah (jenazah itu) dengan kayu hingga kalian menutup kuburnya.” –. [Disebutkan oleh Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lâm An-Nubalâ` 7253] Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- (w 774) berkata, “Akan tetapi mereka itu (orang-orang syi’ah rafidhah) adalah kelompok yang sesat, golongan yang rendah, mereka berpegang kepada dalil-dalil yang mutasyabih (samar) dan meninggalkan perkara-perkara yang muhkamah (jelas) disisi para ulama Islam.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 5251) Imam Ibnu Baththah rahimahulllâh (W. 387 H) Beliau bertutur, “Adapun (Syi’ah) Rafidhah, mereka adalah manusia yang paling banyak berselisih, berbeda, dan saling mencela. Setiap di antara mereka memilih madzhab tersendiri untuk dirinya, melaknat penyelisihnya, dan mengafirkan orang yang tidak mengikutinya. Seluruh dari mereka menyatakan bahwa tidak (sah) melaksanakan shalat, puasa, jihad, Jum’at, dua Id, nikah, talak, tidak pula jual-beli, kecuali dengan imam, sedang barangsiapa yang tidak memiliki imam, tiada agamanya baginya, dan barangsiapa yang tidak mengetahui imamnya, tiada agama baginya …. Andaikata bukan karena pengutamaan penjagaan ilmu, yang perkaranya telah Allah tinggikan dan kedudukannya telah Allah muliakan, dan penyucian ilmu terhadap percampuran najis-najis penganut kesesatan serta keburukan pendapat-pendapat dan madzhab mereka, yang kulit-kulit merinding menyebutkannya, jiwa merintih mendengarkannya, dan orang-orang yang berakal membersihkan ucapan dan pendengaran mereka dari ucapan-ucapan bid’ah tersebut, tentulah Saya akan menyebutkan (kesesatan Rafidhah) yang akan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran.” –. [Al-Ibânah Al-Kubrâ` hal. 556] IBNU HAZM Beliau berkata : “Salah satu pendapat golongan Syiah Imamiyah, baik yang dahulu maupun sekarang ialah, bahwa Al-Qur’an sesungguhnya sudah diubah”. Kemudian beliau berkata : ”Orang yang berpendapat bahwa Al-Qur’an yang ada ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan mendustakan Rasulullah SAW”. (Al Fashl, 5-40). Pandangan Ibnu Hazm rahimahullah, Beliau berkata: وأما قولهم ( يعني النصارى ) في دعوى الروافض تبديل القرآن فإن الروافض ليسوا من المسلمين ، إنما هي فرقة حدث أولها بعد موت رسول الله صلى الله عليه وسلم بخمس وعشرين سنة .. وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر “Pendapat mereka (Yakni Nashrani) yang menuduh bahwa golongan Rafidhah (Syi’ah) merubah Al-Qur’an, maka sesungguhnya golongan Syi’ah Rafidhah bukan termasuk bagian kaum muslimin. Karena golongan ini muncul pertama kalinya setelah dua puluh lima tahun dari wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Syi’ah Rafidhah adalah golongan yang mengikuti langkah-langkah Yahudi dan Nashrani dalam melakukan kebohongan dan kekafiran.” (Al-fahl fi al-Milal wa al-Nihal: 2213) Beliau rahimahullah berkata lagi: ولا خلاف بين أحد من الفرق المنتمية إلى المسلمين من أهل السنة ، والمعتزلة والخوارج والمرجئة والزيدية في وجوب الأخذ بما في القرآن المتلو عندنا أهل .. وإنما خالف في ذلك قوم من غلاة الروافض وهم كفار بذلك مشركون عند جميع أهل الإسلام وليس كلامنا مع هؤلاء وإنما كلامنا مع ملتنا “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan semua kelompok umat Islam Ahlus Sunnah, Mu’tazilah, Murji’ah, Zaidiyah, bahwa adalah wajib berpegang kepada Al-Qur’an yang biasa kita baca ini. . . . Dan hanya golongan Syi’ah ekstrim sajalah yang menyalahi sikap ini. Dengan sikapnya itu mereka menjadi kafir lagi musyrik, menurut pendapat semua penganut Islam. Dan pendapat kita sama sekali tidak sama dengan mereka (Syi’ah). Pendapat kita hanyalah sejalan dengan sesama pemeluk agama kita.” (Al-Ihkam Fii Ushuuli Ahkaam: 196) Beliau berkata pula: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah menyembunyikan satu kata pun atau satu huruf pun dari syariat Ilahi. Saya tidak melihat adanya keistimewaan pada manusia tertentu, baik anak perempuannya atau keponakan laki-lakinya atau istrinya atau shahabatnya, untuk mengetahui sesuatu syariat yang disembunyikan oleh Nabi terhadap bangsa kulit putih, atau bangsa kulit hitam atau penggembala kambing. Tidak ada sesuatu pun rahasia, perlambang ataupun kata sandi di luar apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah kepada umat manusia. Sekiranya Nabi menyembunyikan sesuatu yang harus disampaikan kepada manusia, berarti beliau tidak menjalankan tugasnya. Barang siapa beranggapan semacam ini, berarti ia kafir. (Al Fashl: 2274-275)

 
Annisa
Pada : Kamis, 17 Juli 2014 / 16:10:14

Kalo kata guru agama saya di sekolah sih ya, jangan sekali kali kita mengatakan seseorang itu sesat karena tidak ada yang tau kalau kita sudah di jalan yang benar atau belum. Jadi jalani saja apa yang sudah kita percayai tanpa perlu menilai orang lain sesat

 
ammar yasser
Pada : Senin, 13 Oktober 2014 / 01:12:19

semestinya anda malu menamai website ini dengan nama percikan iman dan semestinya anda namai dgn percikan kedunguan,karena otak2 wahabi lah yg mencuci otak2 orang2 awam seperti kalian sehingga kalian tidak punya pilihan lain selain menyesatkan dan mengkafirkan syiah yg kalian tidak tau pasti tentang ajarannya. carilah di negara2 syiah seluruhnya bahwa al quran yg dibawa syiah sama dengan al quran yg ada di tangan ahlussunnah skrg!!! dan perbedaan yg ada di dlm syiah dan ahlussunnah tidaklah jauh namun para kelompok wahabi takfiri dan sebagian ahlussunnah selalu bersikeras untuk mengkafirkan syiah dengan segala cara dan taktik. dan janganlah mencukupkan diri mengkaji ajaran syiah dengan hanya membuka sumber2 yg ada di kitab kalian saja!!! dan ketahuilah bahwa dalil2 milik syiah selalu lebih kuat dari dalil2 milik ahlussunnah!!! dan kalian akan rasakan itu ketika kalian membuka sumber2 syiah ahlulbait.

 

Kirim Komentar

 
 
Nama :
E-mail :
Website :
Komentar :
Jawab :
     
   

Buku Khazanah

Cinta & Seks Rumah Tangga Muslim
Cinta & Seks Rumah Tangga Muslim
dr. Untung Sentosa, M.Kes., Aam Amiruddin, M.Si
Rp. 37.500,-
Kode : K0027

Mayoritas masyarakat kita masih memandang seks bukanlah prioritas penting dalam membina rumah tangga. Bahkan tidak sedik ... Baca »

PELUANG
Pusat buku bermutu karya Ust. Dr. Aam Amiruddin
www.khazanahintelektual.com
Tim Pengurus Kematian Percikan Iman | Melayani Sesuai Syariah | Telp.08122-119-189/022-4238445
tpk.percikaniman.org
Kajian Ahad Pagi Bandung @Majelis Percikan Iman
MPI (Majlis Percikan Iman)
Investasi Tiada Batas untuk Akherat yang Abadi
http://wakaf.percikaniman.org
Profil,buku,jadwal,video aktifitas Dr.Aam Amiruddin
Pusat Artikel Islam, Tanya Jawab dan Dakwah
Kontak ZIS telp.022-76888795/081802023030
Pengelola Zakat Infaq Percikan Iman ZISWAF Amany
Kumpulan Software, Program dan Aplikasi Islam
http://software-islam.percikaniman.org/