Bandung & Sekitarnya
Shubuh : 4:18 | Terbit : 5:35 | Dzuhur : 11:38 | Asar : 14:46 | Magrib : 17:43 | Isya : 18:50 WIB TIM HUMAS: percikaniman yyudhanto
Info Penting!
  • Gabung! Dakwah MAYA di http://www.facebook.com/kajianmpi and http://twitter.com/percikaniman.
Kategori : Tanya Jawab Islam
Siapa yang Boleh TIDAK Puasa?

Posted by homepi on 05 Agustus 2011 | Comment 3 | dibaca : 2663

Siapa yang Boleh TIDAK Puasa?
Bagaimana hukumnya orang yang tidak shaum bukan karena sakit dan uzur tapi meyakini bahwa fidyah dapat melunasi hutang shaum Ramadhan tahun lalu sehingga yang bersangkutan bisa melakukan shaum tahun ini? Bisakah diterangkan lagi siapakah yang mendapat rukhsah menurut keterangan yang shahih?

Pertanyaan ini berkaitan dengan yang membolehkan kita berbuka (membatalkan) shaum. Berdasarkan ayat Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 184 dan beberapa sabda Rasulullah Saw, katagori mereka yang mendapat keringanan atau boleh membatalkan shaum adalah:

a. Sakit, tanpa dirinci jenis penyakitnya. Selama orang yang bersangkutan yakin sedang dalam keadaan sakit, maka silahkan berbuka dan gantilah shaum yang batal tersebut di hari lain selain bulan Ramadhan (qadha).
b. Safar, tanpa merinci berapa batas minimal jarak yang ditempuh dalam perjalanan. Selama orang yang bersangkutan berniat safar, ia diperbolehkan berbuka sebelum berangkat, di tengah perjalan, atau sesampainya di tempat tujuan. Qadha-lah shaum tersebut di hari yang lain.
c. Haid dan nifas. Mereka yang sedang haid dan nifas diharuskan membatalkan shaum dan meng-qadha-nya di hari yang lain.
d. Tidak mampu menyempurnakan shaum karena suatu hal. Para ulama sepakat bahwa yang termasuk dalam kategori ini adalah para lansia yang sudah kepayahan dan jika memaksakan diri untuk shaum bisa berakibat fatal. Batal shaum katagori ini cukup diganti dengan fidyah.

Perlu diketahui bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai hukum batal shaum bagi para penderita sakit keras (kronis) yang menahun, para pekerja kasar, serta wanita hamil dan menyusui. Perbedaan itu terjadi karena tidak ada rincian yang jelas ke kelompok mana mereka dikatagorikan. Apakah mereka setara orang sakit atau yang tidak mampu, hal tersebut masih menjadi perdebatan sehingga wajar kalau terjadi perbedaan dalam mengambil kesimpulan apakah mereka wajib qadha atau fidyah.

Sementara ini, saya pribadi berpendapat bahwa penderita sakit keras yang menahun, wanita hamil dan menyusui setara dengan orang yang tidak mampu sehingga mereka dapat mengganti shaum dengan fidyah. Sementara itu, bagi pekerja kasar yang diprediksi pekerjaannya tersebut akan dilakukan bertahun-tahun, maka shaumnya dapat diganti dengan fidyah. Namun jika pekerjaan yang dilakukannya bersifat temporal, maka sebaiknya shaum di-qadha saja.

Jadi, rukhsah hanya diberikan kepada orang yang sakit, safar, haid dan nifas, serta yang tidak mampu menyempurnakan shaum karena suatu hal. Karena itu, orang yang berkeyakinan seperti yang Anda tanyakan tersebut sebaiknya segera bertobat dan gantilah shaum yang ditinggalkannya dulu semaksimal mungkin meski dilakukan setelah Ramadhan berikutnya. Semoga Allah mengampuni dosa kita semua. Amin. Wallahu a'lam.

 

3 Komentar

 
 
nargani
Pada : Selasa, 24 Juli 2012 / 23:01:03

Bismillaah ... Jazaa Kumullahu Khoiron Katsiiroon... atas pencerahan nya Semoga Allah SWT membalas NYA dengan yg lebih baik

 
nia
Pada : Jumat, 27 Juli 2012 / 10:22:04

jadi kalau wanita hamil bayar fidyah, tidak perlu bayar pauasa qadha lagi?

 
Wida
Pada : Jumat, 19 Juli 2013 / 00:41:34

Ass wr wb, Maaf ust sy mengangkat topik ini kembali karena sy baru mendapatkan informasi yg lebih jelas mengenai topik ini, dimana sy sendiri ketika mengalami ini memilih sesuai pendapat ustad dan sy mohon pendapat dr ust sendiri apakah sy harus mengqadha kembali ? Adapun penjelasannya sy lampirkan di bawah ini. Jazaa kumullah khoir... Adakan wanita hamil dan menyusui boleh membayar fidyah? Wanita hamil dan menyusui jika memasuki bulan Ramadhan dan meninggalkan puasa disebabkan kekhawatiran mereka atas diri mereka sendiri, maka wanita tersebut wajib mengqadha (mengganti) puasa sesuai dengan hitungan hari yang ditinggalkan dan tidak ada kewajiban membayar fidyah, hukum wanita ini sama dengan orang yang sakit dan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan, maka ia wajib mengganti puasa yang ditinggalkan tersebut, hamil dan menyusui diqiyaskan (disamakan) dengan kondisi sakit temporer. Demikian juga jika mereka kahwatir akan sesuatu yang akan menimpa dirinya dan juga janin yang dikandung atau anak yang sedang disusui. Namun, ada permasalahan lain di mana para ulama berbeda pendapat jika mereka tidak berpuasa karena kekahwatiran ke atas sesuatu yang akan terjadi pada janin dan bayinya. Bagi wanita yang seperti ini ada 3 pendapat utama dan 1 pendapat minoritas. Pertama: Mereka wajib mengqadha dan membayar fidyah untuk setiap hari yang ditinggalkan, ini adlaah pendapat dari mayoritas ulama madzhab Syafii, dan Hanbali, dan Mujahid, salah seorang murid Ibnu Abbas,. Sebab mereka termasuk dalam katagori orang yang disebutkan di dalam firman Allah: وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ Ibnu Qudamah mengatakan: Pemahaman ini tidak ada yang menentangnya di kalangan para sahabat, disebabkan mereka ini tidak berpuasa disebabkan oleh jiwa yang lemah (karena adanya janin dan bayi) maka wajib membayar kaffarah (fidyah). Kedua: Mereka wajib mengqadha dan disunnahkan (mustahabb) membayar fidyah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama madzhab Hanafi, Atha bin Abi Rabah, al-Hasan al-Basri, al-Dhahhak, al-Nakhai, Said bin Jubair, al-Zuhri, Rabiah, al-Auzai, al-Tsauri, Abu Ubaid, Abu Tsaur dan dianut oleh minoritas madzhab Syafii. Dasar hukum mereka adalah sabda Nabi SAW: « إنّ اللّه وضع عن المسافر الصّوم وشطر الصّلاة ، وعن الحامل أو المرضع الصّوم أو الصّيام » Artinya: Sesungguhnya Allah memberikan dispensasi kepada musafir (kebolehan) meninggalkan puasa dan meringkas shalat, dan Allah (tidak mewajibkanmembolehkan) wanita yang hamil dan menyusui untuk berpuasa. HR. Abu Dawud, no. 2408, an-NasaI, no. 2275, at-Tirmidzi, no. 715, Ibnu Majah, no. 1667. Ketiga: Wanita yang hamil jika tidak berpuasa ia wajib mengqadha saja tanpa membayar fidyah, adapun wanita yang menyusui dan tidak berpuasa, ia wajib mengqadha dan membayar fidyah. Ini adalah pendapat pengikut Imam Malik bin Anas, al-Laits dan juga sebagian madzhab Syafii. Argumen pendapat ini, yang membedakan wanita yang hamil dan menyusui, sebab wanita yang sedang hamil tidak bisa memisahkan dengan janin yang dikandungnya, maka sama hukumnya dengan orang yang sakit, maka kekhawatiran terjadi keatas dua-duanya, dirinya dan janinnya, namun bagi wanita yang menyusui kekhawatiran hanya ke atas bayinya, dan bayi bisa disusukan kepada orang lain atau diberikan susu yang sudah diperah. Inilah tiga pendapat yang sangat terkenal dan masyhur berkaitan dengan hukum wanita hamil dan menyusui yang meninggalkan puasa. Dan ada pendapat yang keempat: Wanita hamil dan menyusui hanya wajib membayar fidyah dan tidak wajib mengwadha. Ini adalah pendapat Abdullah ibnu Umar bin al-Khattab, Ibnu Abbas dan Said bin Jubair dan tidak ada ulama madzhab yang mengambil pilihan hukum ini. Pendapat yang keempat ini bisa jadi pendapat yang sangat menggembirakan bagi ibu-ibu hamil dan menyusui, tetapi para ulama madzhab tidak memilihnya, sebab alasannya tidak kuat, sebagaimana dimaklumi, hamil dan menyusui adalah kondisi temporer yang terjadi dalam hidup, tidak ada orang yang menyusui selama-lamanya, dan tidak ada pula orang yang mengandung seumur hidupnya. Sehingga wanita yang hamil dan menyusui sama halnya dengan orang yang sakit, setelah melahirkan dan setelah menyusui mereka menjadi wanita normal yang masih mempunyai tanggungan mengganti puasanya yang telah ditinggalkan pada bulan Ramadhan. Namun, akhir-akhir ini pendapat yang keempat ini begitu banyak tersebar dan banyak mendapat dukungan di kalangan masyarakat, terutama dari kalangan ibu-ibu. Penulis menduga, bahwa yang menjadi sebab menyebarnya pendapat yang keempat ini adalah karena tersebarnya buku Fiqh al-Sunnah karya Sayyid Sabiq, di dalam buku ini beliau ketika membahas tentang fidyah puasa, sejak awal pembahasan beliau cenderung memilih pendapat yang keempat, sebab beliau memang di dalam metodologi penulisannya bertujuan meringankan. Tidak hanya itu, beliau juga menukil pendapat Syeikh Muhammad Abduh bahwa orang-orang yang untuk menanggung hidupnya hanya bisa dengan pekerjaan yang sangat berat, seperti yang bekerja di lumbung batu bara dan nara pidana muslim yang menjalani hukuman berat di tahanan mereka bia membayar fidyah. Pendapat yang keempat ini, meninggalkan banyak permasalahan, sebab pekerja keras, jika memang berniat semenjak awal mau berpuasa mereka bisa mengalihkan jam kerjanya di waktu malam, atau jika sistim di tahanan, yang perlu dirubah adalan aturan tahanan tersebut. Atau meniatkan puasa dulu seperti muslim yang lain, dan nanti jika memang benar-benar tidak kuat bisa membatalkan puasanya.

 

Kirim Komentar

 
 
Nama :
E-mail :
Website :
Komentar :
Jawab :
     
   

Buku Khazanah

Cinta & Seks Rumah Tangga Muslim
Cinta & Seks Rumah Tangga Muslim
dr. Untung Sentosa, M.Kes., Aam Amiruddin, M.Si
Rp. 37.500,-
Kode : K0027

Mayoritas masyarakat kita masih memandang seks bukanlah prioritas penting dalam membina rumah tangga. Bahkan tidak sedik ... Baca »

PELUANG
Pusat buku bermutu karya Ust. Dr. Aam Amiruddin
www.khazanahintelektual.com
Tim Pengurus Kematian Percikan Iman | Melayani Sesuai Syariah | Telp.08122-119-189/022-4238445
tpk.percikaniman.org
Kajian Ahad Pagi Bandung @Majelis Percikan Iman
MPI (Majlis Percikan Iman)
Investasi Tiada Batas untuk Akherat yang Abadi
http://wakaf.percikaniman.org
Profil,buku,jadwal,video aktifitas Dr.Aam Amiruddin
Pusat Artikel Islam, Tanya Jawab dan Dakwah
Kontak ZIS telp.022-76888795/081802023030
Pengelola Zakat Infaq Percikan Iman ZISWAF Amany
Kumpulan Software, Program dan Aplikasi Islam
http://software-islam.percikaniman.org/