“Sukses”

Sukses, kondisi yang selalu diidam-idamkan semua orang. Untuk mencapainya perlu ketekunan dan kerja keras. Dalam kenyataannya, tidak sedikit dari kita suka merasa minder dengan kemampuan yang dimiliki, sehingga potensi yang ada dibiarkan mati, tidak didayagunakan. Padahal, dengan usaha optimal dan tidak lekas berputus asa, seseorang dapat menggapai keberhasilan.
Konon, dalam sebuah cerita, ketika bayi gajah dilahirkan, para pawang mengikatnya dengan tali pada tiang yang tertancap kuat di tanah. Lama-kelamaan gajah itu pun belajar, ketika tali diletakkan di lehernya, ia tidak bisa pergi kemana-mana. Begitu beranjak dewasa, gajah itu hanya diikat pada tiang kecil yang bisa dengan mudah ia cabut. Tetapi ia tidak pernah berusaha untuk lepas karena telah terkondisi untuk mempercayai bahwa ketika tali sudah diikatkan di lehernya, ia tidak bisa pergi kemana-mana.
Prinsip yang sama sering dipakai oleh banyak orang. Karena menganggap tidak memiliki prestasi penting saat masa muda, mereka pasrah menjadi orang biasa dan tidak pernah berkeinginan untuk mencapai prestasi luar biasa. Mereka tidak sadar, para peraih prestasi besar tidak berbeda dengan kita semua, mereka hanya percaya, keberhasilan atau kegagalan masa silam bukan jaminan yang sebenarnya buat masa depan.
Setiap guru di sekolah menengah selalu memprediksi “siapa saja� murid yang memiliki kemungkinan besar untuk sukses menjadi manajer, direktur, jendral, bahkan presiden. Adapun kriteria penting yang dijadikan acuan, nilai, olah raga, dan popularitas, sehingga jika seorang murid tidak dapat meraih salah satu dari ke 3 kategori tersebut di atas, dimasukkan dalam murid “biasa� dan tidak ada seorang pun yang mengharapkan mereka meraih sesuatu yang besar dalam kehidupan.
Adalah Steven Spielberg, seorang murid sekolah menengah yang mampu mematahkan anggapan itu. Ia seorang anak dengan prestasi biasa, namanya kurang begitu populer, ia pun tidak memiliki kemampuan dalam bidang olah raga yang menonjol. Tak seorang pun menyangka ia akan menjadi orang yang sukeses. Saat ini ia menjadi seorang sutradara ngetop. Segala kejeniusan, kreatifitas, dan kecerdasannya tidak diketahui orang saat ia belajar di sekolah menengah. Baru diketahui kemudian, setelah ia dewasa.
Steven memang tidak meraih sesuatu yang besar saat sekolah menengah, tetapi sedikit orang yang tahu bakatnya di bidang lain: membuat film hiburan dengan kamera super 8 pemberian ibunya saat duduk di sekolah dasar, kadang-kadang ia sering mencuri waktu untuk atifitas filmnya itu. Dengan giat dan tekun ia membuat film tersebut. Hasil kerja kerasnya telah membuahkan hasil, Steven Spielberg telah menjadi sutradara besar sekaligus jutawan yang sangat populer, sebutlah film-film ET, Jurassic Park, Godzila, dll. Semua filmnya laku keras dan selalu menjadi Box Office. Saat ini, empat dari sepuluh film terlaris yang beredar disutradarai oleh Steven Spielberg .
Ada hikmah yang terselip dibalik perjalanan Steven, kerja keras, ketekunan, dan menyingkirkan sikap putus asa merupakan sifat yang perlu ditiru oleh setiap pribadi muslim. Rasulullah saw. adalah suri tauladan terbaik bagi umat, dakwahnya bertahun-tahun dilaluinya dengan tekun, cobaan yang menerpa, ancaman yang melAnda, dan rintangan yang menghadang dihadapinya dengan sikap sabar. Ia tidak lekas berputus asa ketika dakwahnya kurang mendapat sambutan. Selama 10 tahun, ia hanya mampu merekrut kader sebanyak 72 orang. Bayangkanlah jika Anda seorang da’i yang ditugasi mengenalkan Islam di suatu tempat, lalu selama bertahun-tahun Anda hanya mendapatkan beberapa gelintir orang yang mengikuti Anda. Akankah Anda terus berdakwah? Ataukah Anda akan cepat mengepak pakaian dan segera angkat kaki dengan hati gusar?
Ibarat air yang menetes di atas batu, lama kelamaan batu dapat dilubanginya. Begitu pula dalam berusaha. Tujuan penting yang hendak digapai melaui proses satu langkah demi satu langkah. Jika gagal, jangan, ambillah pelajaran darinya.
Manusia adalah makhluk yang berakal, tidaklah heran bila dikatakan al-insaanu hayawaanun nathiqun (manusia adalah hewan yang berakal). Manusia dengan akalnya memiliki sifat malaikat. Tetapi, manusia dengan syahwatnya memiliki sifat binatang. Jika syahwat mengalahkan akalnya, manusia akan lebih bodoh dari binatang. Jika akalnya mengalahkan syahwatnya, manusia akan lebih baik dari malaikat.
Akal yang diberikan Allah, hendaknya didayagunakan seoptimal mungkin. Kita bisa melihat betapa hebatnya seekor lebah, dengan bergotong-royong mereka membuat sarang yang sangat kuat, tahan goncangan. Mereka lakukan dengan kerja keras, tanpa lelah. Tak heran, hasil rancangan lebah tersebut dijadikan referensi bagi pembuatan rumah tahan gempa.
Sukses bagi setiap orang memang bervariasi. Sukses bagi seorang pengasong rokok adalah menjual 5 bungkus rokok sehari. Tapi Toko Grosir rokok dikatakan berhasil jika mampu menjual 5 box rokok. Lain lagi dengan pabrik rokok, dikatakan sukses jika mampu menjual rokok 3 juta batang perhari.
Barangkali, halangan dalam mengapai kesuksesan adalah perasaan gentar saat memandang posisi Anda sekarang dengan cita-cita yang Anda tuju. Terlalu jauh, itu tanggapan Anda. Jika Anda ditantang untuk melompat setinggi 6 meter, Anda akan berkata, “Saya tidak akan mampu meraihnya�, Anda benar. Tidak ada seorang pun yang mampu, Michael Jordan sekalipun. Tapi Anda harus ingat, yang Anda butuhkan papan setinggi 6 meter, paku, dan palu. Dengan alat tersebut, melompat setinggi 6 meter bukan masalah lagi.
Yang penting, kerja keras sangalah diperlukan untuk menggapai kesuksesan. Jika semua pintu terkunci, buatlah jendela. Setiap kesulitan yang menghadang harus dihadapi dengan sabar. “Sesungguhnya dibalik kesusahan ada kemudahan.�

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *