Pemimpin Bertelinga Bolot

Tahu Pak Bolot? Biasa menyaksikannya di layar kaca? Pak Bolot memang orang paling kocak. Ia selalu tampil membawa lawakan dengan ciri khas yang amat pas, menjadi orang tuli namun suka nimbrung pembicaraan.

Menyaksikan Pak Bolot di layar kaca, tidak pernah membosankan. Ia selalu tampil dengan gaya salah copy ketika diajak bicara, lalu menyahut cerita atau menjawab pertanyaan yang bukan jawabannya. Lain yang dibicarakan, lain juga ceritanya dia. Lain yang ditanya, lain pula jawabannya. Yang mengajak dia bicara, tentu saja gemas sekali, bahkan sangat sering jengkel dan marah. Tidak terkecuali, istri atau anaknya sendiri.

Di layar kaca, Pak Bolot sering tampil sebagai lurah atau hansip. Tentu saja jadi ramai. Bayangkan saja, ada orang datang melapor mau melaporkan sesuatu, Pak Bolot selalu salah copy. Tentu saja suasananya jadi tambah runyam. Siapa nama kamu, tanya Pak Bolot. Markonah, kata si pelapor. O, Rohana, kata Pak Bolot. Dari sini, tentu saja ketegangan sudah mulai. Markonah bilang, bukan Rohana, tapi Markonah. Pak Bolot bilang lagi, apa kambingmu hilang? kapan? di mana? tunggu, saya catat dulu.

Keseringan melihat gaya Pak Bolot yang kocak sebagai lurah atau hansip, membuat saya malah jadi khawatir, jangan-jangan di negeri ini, protoipe pemimpin Bolot cukup banyak juga. Ya, katakanlah Pemimpin Bertelinga Bolot.

Pemimpin bertelinga Bolot, yaitu pemimpin yang selalu salah copy, lalu sesudah itu salah respon dan salah tindakan. Lain yang dimaui, lain yang dia lakukan.

Pemimpin bertelingan Bolot, bisa saja jadi pemimpin rakyat. Ya, seperti dalam lawakan Pak Bolot yang sering jadi lurah atau hansip. Lain yang diteriakkan rakyat, lain yang dia tangkap. Lain aspirasi rakyat lain yang dia fikirkan. Kalau pengertiannya sudah seperti itu, maka kita memang bisa melihat pemimpin bertelinga Bolot bisa ada di mana-mana.

Makanya, kalau mau jadi pemimpin yang baik, syaratnya jangan bertelinga Bolot. Menjadi pemimpin rakyat, harus bisa pasang telinga tajam untuk mendengar suara rakyat. Apa jeritan mereka, apa harapan mereka. Kalau ada rakyat mendirikan bangunan kumuh di tanah yang bukan milik mereka, itu artinya mereka sudah berteriak-teriak, hei Pak Pemimpin yang di atas sana, bukankah kata UUD negeri bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara? mengapa kami dibiarkan seperti ini? mana lapangan kerja yang membuat kami bisa bekerja dan dapat penghasilan? yang dengan penghasilan itu, selain kami bisa memberi makan anak istri, juga bisa punya rumah sederhana, sehingga tidak membangun gubug liar seperti ini ?

Seperti Lurah Bolot yang biasa tampil di televisi, pemimpin bertelinga Bolot, malah mendengar suara yang lain. Yang dia dengar malah suara sebaliknya. Orang-orang itu memang tidak tahu aturan. Tanah bukan miliknya kok diserobot. Malah membangun gubug-gubug liar yang membuat kumuh. Tidak, mereka harus digusur agar tidak diikuti oleh yang lainnya. Salah sendiri, sudah tahu di kota besar tidak gampang cari hidup, tetap juga datang berjubel di kota.

Kalau sudah begini, cerita Pak Bolot di televisi ternyata bukan hanya sekedar lawakan untuk menghibur.

Ya, agaknya Pak Bolot di televisi memang bukan sekedar mau berlucu-lucu ria sebagai orang tuli alias budeg. Pak Bolot ingin menggambarkan sebuah fenomena sosial, bagaimana tidak nyambungnya, dan bagaimana runyamnya urusan, bila yang dipercaya menjadi pemimpin adalah Pemimpin Bertelinga Bolot. Pantas saja kalau negara selalu salah urus.

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *