Lepas Batas Ruang dan Waktu

‘Globalisasi Informasi, Dampak dan Tanggung Jawab
Sebuah Makalah Seminar
Universitas Wiyana Mukti
Sabtu, 15 Mei 2004″

Prolog
Sesuatu telah terjadi! Entah gelombang, arus, ataukah aliran dahsyat yang melanda planet ini. Kedatangannya tak terbendung oleh apapun atau siapa pun. Gelombang itu merambat ke setiap sudut di bumi ini tanpa sejengkal pun luput dari pengaruhnya. Arus itu merambat menjangkau setiap benda yang sudah dan yang akan ada. Aliran itu menjangkau detail setiap mikron partikel terkecil sekali pun. Karenanya, jauh jarak tak kan sanggup menjadi penghalang, benua seolah menyatu, dan sekat setiap ruang mencair. Planet ini mengecil! Akan kita ‘namakan’ apa fenomena yang menggejala itu?

Globalisasi
“Ah, kau bermimpi lagi!�

“Ya! Mimpi itu lagi.�

“Mimpi yang sama seperti mimpi malam-malam sebelumnya? Ah yang benar saja. Bagaimana bisa?�

“Sudahlah. Kau tidak harus mempercayai apapun, termasuk mimpi-mimpi yang pernah kuceritakan padamu.�

“Tentu saja, dan aku tidak akan tertarik untuk mambahasnya.
Hey, kau sedang apa? Ah, kamus? Sejak kapan buku yang satu itu menjadi favoritmu?�

“Kenapa? Tidak ada yang aneh dengan kamus kan? Kalau sekarang aku sedang membolak-balik buku ini, bukan berarti kau berhak menatapku dengan curiga seperti itu. Ayolah, aku bukan sedang membaca buku cabul ataupun majalah porno.�

“Apa yang kau cari di sana?�

“Tidak ada. Hanya saja aku ingin tahu secara bahasa arti kata globalisasi.�

“Ck! Kukira apa.�

“Kau tidak ingin tahu artinya menurut KBBI?�

“Apa katanya?�

“Globalisasi diartikan sebagai sebuah proses masuknya ke ruang lingkup dunia. Hhmmm.. Dalam bahasa yang simpel, globalisasi dapat disimpulkan dalam sebuah frase ‘proses mendunia’�

“Terlalu tekstual!�
“Apa maksudmu?�

“Aku lebih tertarik dengan definisi globalisasi menurut Lodge (1993), yaitu: … a process forced by global flows of people, information, trade and capital. It is accelerated by technology, which is driven by only a few hundred multinational corporations and may be harmful to the environment. There in lies the conundrum of whether it is wise to leave globalization in the hands of these few corporations, or might it not make more sense to seek greater involvement from the global community.â€?

“Aha! Teknologi? Ya, teknologi adalah salah satu pendukung penting globalisasi.�

“Ya, tentu saja teknologi.�

Informasi
“Sekarang, coba kita beralih pada arti kata informasi!�

“Kau tidak bermaksud menjadi seorang sastrawan kan? Kau tidak akan mencari arti semua kata kan? Kau…�

“KBBI mendefiniskan informasi sebagai penerangan, keterangan pemberitahuan kabar atau berita tentang sesuatu, keseluruhan makna yang menunjang amanat yang terlihat di dalam bagian-bagian amanat itu.�

“Apapun! Aku tak peduli!�

“Hey, kau harus peduli. Bukankah setiap hari kita mendengar, membaca, melihat, bahkan membuat informasi juga menyampaikannya kepada orang lain? Kau tahu apa yang kau pikirkan?�

“Apa?�

“Kebutuhan pokok manusia bukan hanya sandang, pangan, dan papan. Informasi juga termasuk di dalamnya.�

“Bagaimana jika dua kata tadi kita satukan dalam sebuah frase? Globalisasi Informasi…�

“Wow! Globalisasi informasi? Kau tahu makna yang terkandung dalam frase itu?�

“Tentu saja itu adalah sebuah kesemestian yang tidak bisa dihindari. Dengan globalisasi, informasi mudah tersebar dan dengan kemudahan tersebut sebagian orang menolak karena tidak semua informasi dapat dipertanggungjawabkan.�

Jenis Informasi
“Lalu, mengapa informasi harus disebarkan dan mengapa pula ada sebagian orang apatis menyikapi informasi yang mengglobal?�

“Mengapa? Kau bilang mengapa? Ah tidak. Tak ada yang istimewa dari sebuah informasi kecuali berita, ilmu pengetahuan dan teknologi, gaya hidup dan hiburan, juga agama, ideologi faham dan falsafah. Ya, hanya itu. Tidak lebih.�

“Benarkah hanya itu? Ayolah, informasi tidak akan sedahsyat itu jika di dalamnya tidak terkandung ‘sesuatu’. Coba kita pikirkan sebuah kata yang bisa diasosiasikan dengan kata ‘sesuatu’ yang dimaksud. Dengan berita, manusia bisa mengetahui beragam peristiwa di belahan lain – bahkan di luar – planet yang ditempatinya. Ketika ruang analisa di otaknya menuntut lebih, manusia senantiasa memantau perkembangan peristiwa terbaru setiap detiknya. Tidak berlebihan kiranya apabila setiap komunikasi yang terjadi antarsesama manusia selalu disisipi berita, apapun bentuknya. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia bisa menyalurkkan bermacam ide kraetif ke dalam bentuk yang lebih riil dan berguna, paling tidak bagi dirinya sendiri. Dorongan inilah yang menjadi pemicu manusia untuk menyerap dan menyebarkan temuan terbaru mereka. Dengan gaya hidup dan hiburan manusia bisa mengaktualisasikan eksistensi peradaban generasinya. Tak akan cukup sepuluh jari tangan kita menghitung banyaknya icon gaya hidup dan hiburan manusia saat ini. Jumlahnya yang banyak masih akan terus bertambah seiring pergantian siang dan malam. Dengan agama, ideologi, faham, dan falsafah manusia bisa memenuhi kebutuhan spiritualnya. Sebuah kebutuhan dasar yang terkadang terabaikan. Namun demikian, kebutuhan ini menjadi semakin nyata dengan informasi yang hadir di depan mata setiap harinya. Setiap kita dituntut ambil bagian – paling tidak memberikan penilaian – atas agama, ideologi, faham, dan falsafah yang ada, walaupun sebagian orang acuh terhadapnya. Bukan hanya dalam bentuk doktrin ataupun ritual, namun juga dalam bentuk dukungan, persetujuan, atau legalitas. Satu yang harus dicamkan adalah bahwa manusia tidak akan pernah merasa cukup! Eksplorasi beberapa hal di atas akan terus berkembang tanpa kita ketahui kapan akan mencapai sebuah titik kepuasan puncak.�

“Jadi, apa yang akan kita masukkan untuk mengisi definisi kata ‘sesuatu’ tadi?�

“Bagaimana kalau perilaku? Ya, kata perilaku tampaknya tepat – paling tidak mewakili – untuk mengisi arti kata sesuatu yang kita maksudkan. Informasi akan mempengaruhi perilaku kita, begitu! Atau ada yang berpendapat lain?�

Aku benci bila harus mengakui kebenaran opinimu, untuk saat ini aku harus mengakuinya. Tapi ingat, hanya untuk saat ini!�

“Kau memang angkuh!�

“Kurasa kau sudah mengenalku dengan baik. Sudahlah, sekarang coba kita pikirkan hal lain.�

“Oh, ya. Nasi goreng! Nasi goreng bumbu kornet pedas akan sangat terasa nikmat disajikan dengan jahe susu panas.�

“Otakmu hanya bisa memikirkan makanan rupanya!�

“Ya. Malam seperti ini aku lebih memilih memikirkan makanan daripada yang lain.�

“Apa maksudmu? Ah, sudahlah! Yang aku maksud dengan memikirkan hal lain adalah media informasi.�

Media Informasi
“Oh! Kita masih membicarakan informasi?�

“Ya, dan kau masih tertarik, bukan?�

“Lebih tepatnya terpaksa karena tidak ada hal lain yang dapat kita kerjakan.�

“Apa argumenmu tentang hal itu?�

“Media informasi? Ah, lihatlah! Sarana manakah di sekitar kita yang tidak berpotensi sebagai perantara mempermudah akses informasi? Semua, semuanya telah sedemikian hebatnya mengalirkan informasi dengan spesifikasi masing-masing. TV. Ya, TV begitu populernya di masyarakat kita. Hampir semua rumah memiliki peralatan elektronik yang satu ini, yang tidak memiliki bisa dihitung dengan jari. Aku ingat waktu kecil dulu ketika TV dikenakan iuran. Ah, betapa benda yang satu ini bukan lagi barang yang mewah bukan? Radio. Eksistensinya tak tergantikan oleh kacanggihan sarana informasi yang lainnya. Kepraktisannya membuat sebagian orang lebih menyukai mendengarkannya sambil melakukan kegiatan lain secara bersamaan, misalnya memasak, mencuci mobil, jalan-jalan, bahkan membaca. Parabola. Yang satu ini kurang populer sekarang. Namun demikian keberadaannya sempat menjadi salah satu icon kebanggaan. Surat kabar, majalah, jurnal. Aku sangat menyukai media yang satu ini karena simpel dan padat informasi. Intisari yang tersaji dalam setiap artikelnya mudah diserap, ringan, namun juga memperluas wawasan.�

“Buku, sarana informasi tertua. Orang-orang terkenal berlomba menuangkan informasi – dalam hal ini ilmunya – ke dalam buku. Melalui buku, ide/pemikiran penulis dapat tersampaikan secara terintegrasi. Si ‘tua’ ini tidak mau ketinggalan jaman dengan bertransformasi menjadi e-book. Sungguh praktis!�

“Ya, aku setuju.�

“Internet. Ah, kita sering mengasosiasikan globalisasi dengan sarana yang satu ini. Bagaimana tidak, melalui internet mata kita akan terbuka menatap dunia di luar sana. Dengan internet, segala bentuk aktivitas seperti berkirim surat, bercakap-cakap, transaksi bisnis, juga perbankan dapat dilakukan secara terintegrasi dan praktis. Seperti beberapa turunan intrnet yang sudah mulai akrab dengan kita: e-mail, chatting, e-commers, internet banking.

“Kaset, CD, dan VCD. Umumnya sarana ini dipergunakan dalam penyampaian informasi yang berbentuk hiburan, seperti musik ataupun film. Perkembangan selanjutnya memungkinkan – bukan hanya musik dan film – dokumentasi seminar atau buku dapat di-compile dalam bentuk yang lebih praktis.�

“Telepon/Hand Phone. Tak ada kata lain untuk mengapresiasi peralatan yang satu ini selain ‘mengagumkan’. Pesatnya perkembangan industri perteleponan di negeri ini menandai minat warga negara yang tinggi sebagai penikmat produk ini.�

“Ternyata media informasi yang notabene adalah hasil teknologi tersebar di sekitar kita.�

Masyarakat Informasi Global/Global Small Village
“Lalu apakah yang akan terjadi jika sebuah informasi menjadi salah satu agenda globalisasi?�

“Entahlah. Pesatnya perkembangan teknologi akhir-akhir ini seakan menjadi mata rantai penghubung antara informasi dengan globalisasi yang harus selaras dengan teknologi. Internet adalah salah satu kemajuan teknologi informasi yang paling dominan. Internet dengan berbagai turunannya seakan menjadi jawaban permasalahan komunikasi yang ada saat ini. Dalam sebuah artikel dibahas pula fenomena dunia maya. Di sana dibahas perekonomian atau bisnis yang marak di internet. Kalau karyawan di dunia nyata hanya memiliki jam kerja 8 jam perhari dan itu pun terbatas pada wilayah teritorial tertentu, maka aktivitas perekonomian di dunia maya berlangsung selama satu kali dua puluh empat jam dan tak terbatas daerah, negara, ataupun benua. Dengan demikian, aktivitas dan perputaran uang di sana jauh lebih besar dibandingkan dunia kerja yang nyata. Sempatkah terbayang dalam pikiran kita bahwa saat kita beristirahat di rumah pada malam hari, di sana – di dunia maya – masih banyak aktivitas yang dilakukan. Ah, tanpa disadari ternyata kita tertinggal jauh di belakang!�

“Ah, bukan hanya di internet fenomena informasi global itu menggejala. Lihat saja TV. Kita bisa memantau perkembangan dunia hanya dengan duduk di sofa abu-abu muda kesayangan kita, ditemani keluarga, dan tidak ketinggalan camilan kesukaan kita di atas meja.�

“Yang ingin aku katakan adalah informasi global telah menciptakan sebua komunitas masyarakat informasi global di mana setiap orang dalam masyarakat tersebut dapat dengan mudah mengakses informasi dari manapun. Komunikasi di antara mereka semakin mudah dan tidak terbatas oleh jarak, ruang, dan waktu.�

Sebuah Penyikapan
“Lalu apakah yang harus kita lakukan?�

“Pilihan kita adalah satu, membuka pintu selebar-lebarnya – walaupun tanpa membuka pintu pun informasi global telah masuk ke setiap ruangan rumah kita – dengan beragam muatan positif dan negatifnya, atau dua, kita mati-matian membendung globalisasi informasi dengan risiko tertinggal beberapa langkah dengan ‘orang-orang’ di sekitar kita.�

“Ah, bukankah pilihan tidak selalu dua, tetapi ada tiga, empat, lima, dan seterusnya. Sedikit ‘kreativitas’ akan melahirkan beberapa pilihan jawaban baru yang dapat dijadikan alternatif atas hitam putih jawaban yang tersedia.�

“Ya, informasi bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, positif dan negatif. Tentunya kita selalu menginginkan yang terbaik – dalam hal ini positif – bagi kita dan juga lingkungan di sekitar kita. Sebagai manusia dewasa, kita bisa langsung menghindari muatan negatif – yang jelas ‘terlihat’ – yang terkandung dalam sebuah informasi. Namun demikian, terkadang tanpa kita sadari terdapat beberapa muatan negatif terselubung dalam nilai-nilai positif yang kita konsumsi yang dapat merubah pola pikir kita sedikit ‘bergeser’.

Sebuah ilustrasi ringan, ketika kita membaca atau melihat profil HP seri tebaru dengan sejumlah fitur unggulannya. Kita tertarik dan kemudian membeli HP tersebut padahal fitur yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan yang telah kita miliki sebelumnya. Lebih parah lagi apabila alasan kita adalah gengsi. Ah, bukankah setiap bulannya produsen HP tersebut selalu mengeluarkan seri terbarunya? Lalu sampai kapan gengsi kita akan terpuaskan? Tanpa kita sadari kita telah terjebak dalam budaya konsumerisme.

Lebih jauh kita tak akan dapat membendung segala macam atribut yang ditawarkan negara-negara Barat sebagai pemegang kendali globalisasi di segala bidangnya. Westernisasi! Terkadang orang mengasosiasikan kata yang satu ini dengan modernisasi. Nah, bukankah ini salah satu akibat infromasi global yang telah dirancang negara-negara Barat sehingga menyamarkan kata westernisasi dengan modernisasi. Ah, aku tidak terlalu tertarik menghujat mereka karena bagaimanapun hal itu tidak akan menjadikan keadaan lebih baik dalam sekejap.�

“Lalu bagaimana solusinya?�

“Ah, solusinya? Bukankah kita semua telah mengetahuinya? Edukasi! Dengan edukasi kita bisa menyaring beragam informasi yang kita dapatkan. Ikut ambil bagian dalam perputaran arus informasi global dengan disiplin ilmu yang telah kita dapatkan adalah langkah cerdas untuk menetralisir dominasi Barat.�

Epilog
Beberapa lembar kertas berserakan di kamar itu. Dua orang penghuninya telah lelap dalam dengkur yang teratur. Di atas meja, sebuah buku catatan kuliah terbuka oleh hembusan angin yang menerobos masuk melalu jendela kamar yang belum sempat tertutup. Dalam satu dua lembar kertas buku itu telah tertulis kalimat “Kalau anda ingin menguasai dunia maka kuasailah informasi�. Sebuah catatan mata kuliah yang baru tadi pagi mereka terima dari dosen Strategi Pemasaran.

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *