Adzan dan Qamat untuk Shalat Munfarid

Mazhab Behaviorisme yakin kalau pengalaman dan lingkungan akan membentuk perilaku dan kepribadian seseorang, sebagaimana dikatakan J.B.Watson dalam Psychological Care of Infant and Child, hal. 104.

“Give me a dozen healthy infant, wellformed and any own specified world to bring them up in and I’ll guarantee to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select –doctor, lawyer, artist, merchant- and, yes, even begger man and thief. Regardless of his talent, penchants, tendencies, abilities, vocations, and race of his ancestors”.

“Berikan pada saya selusin anak sehat, tegap, dan berikan dunia yang saya atur sendiri untuk memelihara mereka. Saya jamin, saya sanggup mengambil seorang anak sembarangan saja dan mendidiknya untuk menjadi tipe spesialis yang saya pilih; dokter, pengacara, seniman, saudagar, bahkan pengemis dan pencuri, tanpa memperhatikan bakat, kecenderungan, tendensi, kemampuan, pekerjaan dan ras orang tuanya”

Pernyataan ini menggambarkan bahwa kepribadian dan perilaku manusia dapat dibentuk oleh lingkungan dan belajar. Secara psikologis, ini berarti bahwa seluruh perilaku manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh sensory experience (pengalaman inderawi).

Saya mengutip pendapat tokoh behaviorisme bukan berarti sepenuhnya sependapat dengan mereka, namun sekedar ingin menunjukkan bahwa terjadinya kepribadian yang tidak stabil bisa saja terbentuk oleh lingkungan dan pengalaman.

Tampaknya yang membuat Anda banyak diam (jarang bicara atau canda) saat di rumah karena Anda dibesarkan dalam keluarga yang penuh kisruh, emosi, dan pertengkaran. Jadi inilah di antara pencetus mengapa Anda selalu ceria di kantor, namun diam kalau di rumah. Hal ini saya tegaskan karena mengetahui penyebab merupakan cara yang paling baik untuk mengobatinya.

Sesungguhnya tidak semuanya benar apa yang dikatakan mazhab behaviorisme bahwa manusia itu seutuhnya dibentuk oleh lingkungan. Yang membentuk kepribadian manusia bukan hanya sensory experience (pengalaman inderawi). Tapi masih ada faktor lain yang dilupakan kaum behavioris yaitu faktor bawaan manusia itu sendiri, yang dalam bahasa Qur’an disebut fitrah (kecenderungan baik).

Nah, agar kecenderungan baik ini dominan (menjadi perilaku dan kepribadian), manusia harus melakukan riyadhah (latihan). Latihan dan usaha yang sungguh-sungguh akan melahirkan perubahan-perubahan, sebagaimana firman-Nya:

“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..” (QS Arra’du 13:11)

Bertolak dari ayat ini, kalau Anda ingin memiliki kepribadian yang stabil, Anda sendiri yang harus mengusahakannya. Kalau di rumah Anda tidak bisa ceria, cobalah berlatih secara bertahap dengan cara selalu berfikir positif, jauhi prasangka negatif, pupuk jiwa pemaaf, dan kendalikan emosi. Mudah-mudahan secara bertahap Anda bisa ceria di rumah seceria di kantor. Ini hanya bisa dilakukan dengan kerja keras dan usaha yang tidak mengenal lelah. Jadikan ini sebagai lahan ibadah bagi Anda. Wallahu A’lam.

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *