Bila Waktu Mundur

“Dan barangsiapa Kami panjangkan umurnya, Kami akan kembalikan ke ciptaan semula. Tidakkah mereka berpikir?” (Q.S. Yaasin 36: 68)

Dalam Tafsir Jami’ul Ahkam al-Qurthuby, Qatadah mengatakan bahwa ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang lanjut usia akan menjadi pikun dan kembali seperti anak-anak. Sufyan menambahkan dalam Tafsir Ad-Durrul Mantsur bahwa pikun akan datang pada umur 80 tahun. So what? Tantangan

Allah: afala ya’qilun, “mengapa mereka tidak berpikir”, belum terpuaskan.

Jika ayat tersebut hanya tentang urusan: siapa yang tua akan pikun, terlalu biasa. Pasti ada sesuatu yang ingin Allah beritahukan kepada kita. Misalnya, sebagaimana halnya manusia menjadi tua dan akhirnya berbalik surut menjadi anak-anak, alam pun demikian. Hal ini sejalan dengan teori baru tentang mundurnya waktu, reverse time.

Dr.Neil Grant, peneliti Natural Philosophy, bersama 30 mahasiswanya mengamati gerakan ganjil pepohonan di Sungai Amazon, Brazil dalam jangka waktu cukup lama. Akhirnya, ia menemukan teori bahwa waktu sebenarnya berjalan mundur. Namun, kita merasakannya seolah-olah maju ke masa depan. Padahal itu hanya persepsi saja. Bagaikan film yang diputar mundur, sang aktor di dalam film berpindah dari frame ke frame, sama sekali tidak menyadari maju atau mundur.

Masa lalu, masa depan, masa sekarang itu semua sudah ada. Subhanallah. Bukankah itu pernyataan Al Quran? Ya’lamu ma baina aidihim wama kholfahum. “Dia tahu apa yang di masa depan dan apa yang di masa lalu mereka.” (Q.S. Al Baqarah 2: 255). Wallahu kholaqokum wama ta’malun, “Allah menciptakan kamu dan perbuatanmu.” (Q.S. As-Shaaffaat 37: 96). Ma ashoba min mushibatin fil ardli wala fi anfusikum illa fi kitabin min qobli an-nabro aha. “Tidaklah Kami timpakan musibah di bumi dan dirimu kecuali sudah ada dalam kitab sebelum Kami wujudkan .” (Q.S. Al Hadid 57: 22). Jadi, semua itu memang sudah lengkap ada sebelumnya. Dan kita jalani maju atau mundur.

Di alam semesta, teori Big Bang juga bercabang. Teori pertama mengatakan bahwa alam akan mengembang terus tak berakhir sampai semuanya gelap gulita, dingin karena jarak antarbenda semakin berjauhan tak terhingga. Menurut teori kedua, pada titik tertentu gaya mengembang kehilangan kekuatan, alam kembali mengerut dan terus mengerut sampai menjadi satu titik padat kembali. Ini disebut The Big Crunch. Dalam masa mengerut tadi, waktu berjalan terbalik. Semua hal yang terjadi pada saat alam mengembang, jadi berbalik, tidak ada yang tumbuh dan menua.

Manusia berjalan mundur, memuda, mengecil, akhirnya kembali ke kandungan, kembali menjadi sperma, dan seterusnya. Matahari berbalik arah. Semua mundur, tetapi manusia tidak merasakannya. Akhirnya, kiamat terjadi ketika semua melebur, kembali ke asal. Waman nu’ammirhu nunakkishu fil khalqi. “Apa pun (manusia dan alam semesta) yang Kami panjangkan umurnya, Kami kembalikan ke kejadian asal.” (Q.S. Yaasin 36: 68).
Shodaqallahul’azim.

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *