Dibalik Permasalahan Manusia

Kebahagiaan adalah dambaan setiap orang. Dari cendikiawan yang seluruh waktunya dicurahkan untuk berfikir dan merenung sampai orang awam yang selalu memeras keringat membanting tulang; dari para raja yang bertahta dalam megahnya singgasana istana, sampai kaum papa yang berteduh digubuk tua; seluruhnya menginginkan agar kebahagiaan menjadi miliknya. Kiranya tak seorang pun yang dalam hidupnya menginginkan penderitaan.

Namun ternyata kebahagiaan yang dicitakan itu tidak mudah untuk diraih, dijalan itu Allah simpan ujian berupa permasalahan-permasalahan hidup yang bisa merintangi jalan menuju kebahagiaan tersebut. Permasalahan yang merintangi hadir dengan berbagai variasi tingkatan. Kadang permasalahan yang hadir mampu dihadapi dengan senyum berseri; namun, kadang-kadang muncul pula permasalahan yang dirasa amat berat berat menghinggapi perjalan hidup ini. Dan, bisa jadi membuat kita berfikir tak akan mungkin bisa diselesaikan saking dirasa sulit sekali.

Setiap permasalahan, pastilah mampu kita selesaikan. Karena Allah membuat setiap permasalahan atau ujian sesuai dengan kemampuan hamba-Nya, sebagaimana firmannya :

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…. “ (TQS. Al-Baqarah : 286)

Tidaklah hadir permasalahan-permasalahan hidup untuk menggapai kebahagiaan itu kecuali pastilah kita mampu untuk menyelesaikannya. Tak ada perkara yang tidak dapat kita selesaikan. Yang ada hanya kesabaran kita untuk mengikuti proses untuk penyelesaian masalah tersebut. Dan, proses penyelesaian masalah tersebutlah yang justru akan membawa kita pada kebahagiaan. Suatu kebahagiaan yang hakiki, karena disandarkan kepada Sang Ilahi Rabbi, Allah swt.
Karenanya, Sekiranya ada yang tidak lulus dari ujian-Nya, sesungguhnya itu lebih disebabkan kesalahan manusia dalam menyikapinya.

Ketidaksabarannyalah yang menggagalkannya mendapatkan kebahagiaan. Ketidakyakinannya bahwa segala permasalahan berasal dari Allah, justru yang menjadikan masalah itu menjadi pelik untuk dihadapi. Padahal, apabila kita berpandangan positif kepada Allah, terus meningkatkan kedekatan kita kepada Allah, meminta pertolongan hanyalah kepada-Nya, insya Allah masalah tersebut lambat laun akan terurai dengan rapi.

Disinilah kiranya kesadaran akan keberadaan Allah akan semakin terasakan. Kesadaran bahwasanya Kekuasaan Allah senantiasa lebih besar bila dibandingkan dengan kesulitan yang dihadapi manusia. Hanya Allah yang memiliki keajaiban pertolongan. Dan keajaiban pertolongan-Nya, hanya didapat oleh mereka yang percaya bahwa Allah berkehendak memberikan pertolongan. Kalau bicara bahasan ini, saya teringat perkataan Ust. Yusuf Mansyur* berkenaan dengan hal ini. Beliau berkata, “bicara Tentang Pertolongan Allah, itu bicara tentang kekuatan iman, itu bicara tentang keajaiban iman.” Firman Allah :
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (TQS. At-Takwir :29)
Lebih jauh beliau menjelaskan, hadirnya permasalahan hidup bagi manusia, akan memberikan nilai-nilai pencerahan bagi manusia, diantaranya :

1.Membangun optimisme, yang akan melahirkan keyakinan hanya kepada Allah tempat segala pengharapan.
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.(TQS. Al-Fatihah : 5)

2.Motivasi, yang akan melahirkan sifat tidak pernah merasa putus asa dari pertolongan Allah
“(kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri “(TQS. Al Hadiid: 23)

3.Menjadikan Allah sebagai wakil atas segala urusan di alam semesta
“Jika mereka sungguh-sungguh ridla dengan apa yang diberikan Allah dan Rasulnya kepada mereka, dan berkata :”Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dahn demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah(tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka) .”(TQS. At-Taubah : 59)

4.Tiada yang tak mungkin bila Allah berkehendak“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya “Jadilah”, maka jadilah ia.”(TQS.an-Nahl : 40)

5.Ketidakberdayaan manusia, akan melahirkan sifat kepasrahan penuh kepada Yang Maha Perkasa
“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak member pertolongan), maka siapakah yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (TQS. Ali Imran : 160)

6.Manusia sangat dhaif, akan melahirkan sifat syukur atas semua kehendak-Nya,
“Dan dia berdoa,” Ya Tuhanku, berilah aku ilahm untuk tetap mensyukuri nikmnat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridlai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.” (TQS. An-Naml: 19)

Saudara, mengejar kebahagiaan di dunia dan akhirat bukanlah jalan mudah dan mengasyikan. Siap-siaplah seandainya beraneka macam permasalahan merintangi perjalanan. Bersabarlah dan Jadikan pertolongan Allah sebagai perbekalan.

Ingat, kita berhak dan bisa mendapatkan pertolongan Allah, asal kita sanggup meyakinkan Allah bahwa kita layak ditolong.
Wallahu a’lam


* Catatan Ceramah Maret 2008

* * *
[Ibnu khaldun aljabari]

Humas PI

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency No.33A Inhoftank Bandung 40235 Telp.022-88885066 | 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *